
"Clara pergi dulu yah mah,,, pah." Ucap Clara menyalim kedua orang tua nya. Clara sangat enggan untuk meninggalkan kedua orang tuanya.Namun keadaan telah memerintahkannya untuk pergi.
"Sering sering kunjungi mama yah saya,jadi lah istri yang baik" petuah Maria.
"Ia mah,Ara bakal jadi istri yang baik kok"
"Jeri sama Clara berangkat dulu yah ma pa" pamit Jeri yang juga menyalim kedua mertuanya itu.
Mereka pun bergegas memasuki mobil dan melaju menuju apartemen Jeri.Sesekali Clara menoleh ke belakang melihat rumah nya dan orang tuanya yang masih berdiri sembari melambaikan tangan padanya.
Menempuh perjalanan selama 30 menit akhirnya mereka tiba di apartemen Jeri.
Clara mematung sembari memegang tas ransel dan kopernya. Matanya meneliti setiap inci ruangan nan luas ini.
"Lo bisa tidur di situ" Ucap Jeri menunjuk sebuah kamar yang bersebelahan dengan kamarnya. Kemudian berlalu masuk kedalam kamarnya.
"Dasar gak peka" Dumel Clara menyeret kopernya menuju kamar yang ditunjuk Jeri.
Clara menatap setiap sudut kamarnya, Ia sedikit lega melihat kondisi kamarnya.
"Lumayan bersih, gue gak perlu capek capek membersihkan kamar ini. Sedikit rombakan akan menjadi lebih baik" Gumam Clara yang mulai membongkar kopernya.Ia langsung menyusun semua barang barangnya dan menata ulang letak perabotan nya.
Sementara Jeri langsung bergelut manja bersama berkas berkas yang telah 2 hari ia tinggalkan. Sesekali Jeri menatap ponselnya. Berharap Sela akan menghubungi nya. biasanya Sela akan menghubungi jam siang seperti ini.
" Kemana gadis itu? " Gumam jeri meraih ponselnya dan membuka aplikasi Whatsapp.
Ingin sekali Jeri menghubungi Sela terlebih dahulu namun diurungkan nya ketika melihat Sela baru saja off.
"Dia online tapi tidak sempat menghubungi ku" Jeri kembali menyimpan ponselnya. Hatinya kesal pada Sela, bukannya rindu Jeri tak pernah merasakan rindu yang terlalu dalam pada Sela. Hanya saja hubungan mereka yang membuat Jeri mewajibkan untuk selalu menghubungi nya.
Jeri memutuskan kembali bergelut manja dengan berkas berkas yang sedari tadi menurutnya tidak berkurang.
Kruyuk~
Jeri memegang perutnya yang keroncongan. Sejak tiba di apartemen Jeri belum mengonsumsi apapun. Ia juga teringat dengan Clara yang berstatus sebagai istri nya. Apapun yang terjadi pada Clara merupakan tanggung jawabnya.
"Apa dia sudah tidur? " Jeri menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 10 malam. Jeri membuka laci meja kerjanya kemudian mengambil map yang berwarna merah.
jeri membawa map tersebut bersamanya, ia berencana ingin melanjutkan di luar.
Jeri berhenti tepat dipintu kamar Clara yang berada disebelah kamarnya. Tangan jeri terangkat untuk mengetuk pintu.
Tuk tuk tuk!
__ADS_1
Jeri mengernyit tak mendengar sahutan dari dalam. "Apa dia sudah tidur? " batin Jeri kembali mengetuk pintu.
Tuk tuk tuk!!!
Masih tak ada terdengar pergerakan. Jeri tak sabaran, ia meraih ganggang pintu kemudian memutarnya.
Ceklek!
Jeri menghembuskan nafas melihat Clara yang tengah tertidur di karpet. Clara menyandar pada kaki ranjangnya dengan mata terpejam. Pakaian yang di lipatnya masih tersusun dilantai.
Jeri mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar yang tak pernah ia pakai sebelumnya. Kamar itu hanyak akan dihuni bila mama dan papanya datang dan menginap disini.
Ruang kamar telah tertata ulang, lebih terlihat rapi dan luas. Puas menelusuri isi kamar dengan matanya Jeri kembali menatap pada Clara yang sedang tidur duduk.
Jeri jongkok dihadapan Clara, menatap lekat wajah gadis yang kini telah Sah menjadi istrinya. "Lo masih aja sama " Gumam Jeri.
Bugh!
Jeri terjungkal kebelakang. Tiba tiba Clara mendorong tubuh Jeri, ia kaget melihat Jeri yang begitu dekat dengannya.
"Nga ngapain lo disini? " tanya Clara gugup dan langsung berdiri.
"Lo bisa gak sih, gak pake kekerasan" sungut Jeri mengelus bokongnya.
"Maaf, maaf.. sakit tahu" sungut Jeri menerima uluran tangan Clara.
"Lo sih, ngagetin gue. Ngapain coba masuk kamar gue sembarangan" Ucap Clara membela diri.
"Gue lapar" Ucap Jeri datar.
"Lapar? " Beo Clara.
"Gue laper, masak sana. " Perintah Jeri datar, kemudian berlalu meninggalkan Clara dengan tampang bengongnya.
"Hubungan dia lapar sama gue apa coba? " gerutu Clara sebal namun tetap mengikuti Jeri menuju dapur.
Clara memeriksa isi kulkas, yang berisi sayuran dan buah-buahan. Clara mencoba memeriksa lemari berharap menemukan beras, dan benar saja didalam lemari terdapat 1 karung beras yang sama sekali belum terbuka segelnya.
Jeri tak pernah masak sendiri, jika malas keluar jeri akan memesan makanan di restoran.
Butuh waktu 35 menit bagi Clara untuk menyulap beras dan sayuran menjadi sebuah nasi goreng yang tersaji rapi di meja makan.
Setelah selesai menyajikan masakannya, Clara memanggil Jeri yang tengah duduk menonton TV.
__ADS_1
"Lo jadi makan tidak? "tanya Clara dengan nada cuek, mendengar pertanyaaan Clara Jeri pun menoleh. Kemudian mengikuti Clara menuju ruang makan, wangi masakan Clara sebenarnya sejak tadi mengusiknya.
"Didapur lo hanya ada sayur dan beras. Jadi makanlah apa adanya dan nikmati rasa yang ada" Jelas Clara menyodorkan sepiring nasi goreng dengan hiasan sayur mayur diatasnya.
Dengan tampang sok datarnya Jeri menerima nasi goreng yang memiliki aroma yang sangat enak di organ penciuman nya. Tampilan yang terlihat sangat menggiurkan membuat Jeri semakin lapar, namun tak di perlihatkan nya.
"Terimakasih" Ucap Jeri dingin.
Satu suap masuk kedalam mulut jeri. Clara yang memperhatikan Jeri menyuap nasi goreng kedalam mulutnya menunya bagaiamana reaksi Jeri.
Mata Jeri berbinar, rasa nasi goreng nya sangat pas di lidah Jeri.
"Bagaimana? " Desak Clara. Seketika membuat Jeri merubah ekspresi nya menjadi datar.
"Biasa saja, gue laper jadi lumayanlah. " Ungkap Jeri membuat Clara menekuk wajahnya sebal. Ia sudah berusaha keras memasak semuanya. Namun dianggap biasa saja. Clara memilih memfokuskan dirinya pada nasi goreng dan mereka pun makan dalam diam.
"Ekhem" Jeri menatap Clara intens.
"Kenapa? " Clara membalas tatapan Jeri.
"Gue mau ngomong sama lo"
"Yah ngomong ajah" Balas Clara sembari meraih piring bekas makan Jeri.
"Soal pernikahan kita ini" ucap Jeri To the point. Clara menghentikan kegiatannya sejenak, kemudian kembali melanjutkan nya.
"Kenapa dengan pernikahan ini? " Tanya Clara sebisa mungkin terlihat biasa saja.
"Loh tahu kan gue sudah punya pacar, dan gue pernah bilang sama lo. Semuanya tak akan berubah kecuali status kita" Jelas Jeri panjang lebar. Clara berdiri didepan Jeri, Jarak mereka sekitar 1,5 meter. Jeri melirik Clara yang tengah menatapnya datar.
"Lo tenang aja, gue gak akan pernah ganggu hubungan lo. Bukan hanya itu, gue gak akan pernah campuri urusan lo. Dan gue harap begitu juga sebaliknya" Jelas Clara datar kemudian berlalu meninggalkan Jeri yang masih duduk di meja makan.
Clara menutup pintu kamarnya tak lupa langsung menguncinya. Clara menyandarkan tubuhnya pada pintu, entah mengapa Ia merasakan sesuatu yang lain dihatinya. Clara memegang kepalanya, kemudian berjalan sepoyongan menuju ranjang.
Bagaikan dihantam oleh beban yang sangat berat Clara memegangi pelipisnya yang mulai terasa berdenyut.
"Awh sakit sekali" Ringis Clara terduduk diranjang. Rasa yang sudah lama tak ia rasakan kembali dirasakannya. Clara berlari menuju lemari, mencari kopernya. Ia teringat tentang obat yang pernah ia konsumsi.
"Ada apa dengan kepala gue, sudah lama gue gak merasakan ini." Clara menghela nafas lega ketika merasakan rasa sakitnya mulai memudar.
Kilasan kilasan masa lalu selalu membuat nya merasakan sakit, dan entah kenpa malam ini ia merasakan sakit itu lagi.
...TBC...
__ADS_1