
"Sayang" panggil Claudia pada Sela yang baru saja memasuki rumah nya. Tatapan mata Sela datar menatap lurus pada Claudia.
"Jangan sentuh aku! " tepis Sela ketika Claudia meraih tangannya.
"Kamu kenapa sayang? "
"Cuih.. kenapa kamu lakukan semua ini?. " Tanya Sela dingin.
"Maksud kamu apa Sela? momy gak ngerti. "
"Kenapa kamu membuat ku menghancurkan keluarga ku sendiri!!!!! " teriak Sela. Awalnya Claudia kaget, namun dengan cepat ia merubah kembali ekspresi nya menjadi dingin.
"Karna mereka terlebih dahulu menghancurkan keluarga ku! " balas Claudia dengan nada dingin. Sela menatapnya tajam, tak seharusnya Claudia menggunakan nya. Ia yang tak tahu apa pun malah di seret ke dalam lika liku yang serumit ini.
"Apa salah ku!!, kenapa kau tega memperalat anak kecil seperti ku dan merubah ku menjadi kejam seperti ini!!! "
"Salah kan keluarga mu, yang terlebih dulu menghancurkan keluarga ku. Salah mu adalah menjadi anak dari mereka" balas Claudia lagi.
"Keluarga mu pergi karena kesalahan mereka sendiri yang terjebak oleh jeratan nya sendiri. "
"Cukup!!!! " bantah Claudia tak terima jika Suaminya yang disalahkan.
"Memang itu kenyataan nya, suami mu lah yang jahat, yang ingin menghancurkan keluarga ku. " Ujar Sela lagi.
Setelah bertemu dengan Ardi, Sela memutuskan untuk menyelidiki kembali kasus dari keluarga Claudia dan juga kasus kematian keluarga Ardi. Sama persis, seperti kecelakaan yang terjadi pada Ramlan dan Maria, Sela masih belum bisa mempercayai nya.
"Menyerah lah, sebelum polisi mengejar mu. " Sela berbalik meninggalkan Claudia berdiri menatapnya penuh emosi.
"Aku tak akan menyerah sebelum mereka semua lenyap! " balas Claudia yanti masih bisa terdengar oleh Sela yang masih berada di ambang pintu. Ia berhenti dan berbalik.
"Apa itu artinya kau juga akan membunuh ku? "
"Ya jika kau menghalangi ku" balas Claudia dingin.
"Baiklah" Sela kembali melanjutkan langkah nya meninggalkan Claudia.
"Sial!!!! " umpat Claudia kesal, semua rencana nya hancur. Ia harus turun tangan untuk menghancurkan keluarga Yuda dan juga Adam yang sedari dulu ikut campur.
...****...
"Hei, belum tidur? " tanya Jeri berjalan mendekati ranjang Clara dan merapikan selimut nya. Setelah kejadian itu, Clara langsung di larikan kerumah sakit. Tubuhnya mengalami kekurangan cairan sama seperti waktu di danau.
__ADS_1
Clara tak merespon, tatapan nya kosong menatap langit langit ruang inap nya.
"Pergi dan jangan masuk lagi. " Ujar Clara singkat namun menusuk kedalam relung hati Jeri.
Jeri mengangguk kemudian berbalik keluar dari kamar Clara. Hati nya bagaikan di remas mendengar ucapan dari wanita yang sangat di cintainya. Mungkin ini merupakan karma baginya yang mencoba untuk menghapus rasa di hati nya untuk Clara.
Jeri duduk di kursi tunggu di luar. Menyenderkan tubuhnya lemas pada dinding.
"Semua ini terlalu rumit untuk nya, jadi Lo harus sabar menunggu. beri dia waktu. " Ujar Rendy yang kasihan melihat wajah sedih Jeri duduk sendirian.
"Gue gak tahu Ren, gue juga banyak menyakitinya"
"Gue yakin kok, Clara akan menerima lo lagi. " Ucap Rendy menyakinkan sahabat nya.
"Terimakasih" balas Jeri pelan.
Sementara Clara meringkuk menahan sesak di hatinya, Ia msih sulit menerima semua ini. tak sanggup mengingat atas apa yang telah terjadi.
"Mama, Papa kenapa Ara yang jalani kehidupan yang seperti ini. " Teriak nya dalam hati, air matanya terus mengalir.
"Araaaa" Risma berlari mendekati Clara kemudian memeluknya. Clara yang diam dalm tangisnya semakin terisak dalam pelukan Risma.
"maafin gue yang udah ninggalin lo, andai aja kalo gue gak ninggalin lo waktu itu, semua ini tak akan terjadi. ini semua salah gue" Sesal Risma ikut menangis.
" Bukan salah lo berdua, tapi salah gue"
Clara dan Risma kaget, mendengar penuturan Sela yang ntah sejak kapan masuk ke ruang inap Clara. Cepat cepat Clara menghapus jejak air mata yang sedari tadi mengalir sangat deras.
"Jangan Ris. " Cegat Clara ketika Risma hendak menghampiri Sela dengan emosi yang memuncak. Sela hanya menunduk ia benar-benar menyesal.
"Gue udah maafi lo kok" lirih Clara. Sela menegakkan kepalanya menatap Clara yang tersenyum ke arah nya.
Clara telah mendengar dari cerita Ardi, jadi dalam situasi ini Clara tak bisa menyalahkan Sela.
"Tapi.. "
"Ini semua bukan sepenuhnya kesalahan lo kok, tapi tetap aja lo gak boleh jahat seperti itu meski pun orang menyakiti lo." jelas Clara panjang lebar, ujung bibir Sela terangkat membentuk sebuah senyuman.
Risma diam seribu bahasa, ia yang tak tahu apapun menjadi bingung dengan situasinya.
"Ehm permisi, gue mau nanya. Kok lo maafin dia? bukannya dia yang bunuh nyokap bokap lo? " tanya Risma bingung.
__ADS_1
"Dia kakak sepupu gue" jawab Clara.
Risma melotot, "What?? jadi dia sodara lo? dan tega ngebunuh nyokap lo?? " pekik Risma menunjuk Sela tak habis fikir.
"Aduhhh cerita nya panjang Rismaaaaaa. "
Terjadilah Clara menceritakan semua nya pada Risma.
...***...
Satu bulan pun berlalu, Clara sudah keluar dari rumah sakit 2 minggu yang lalu. Kehidupan nya sudah kembali normal, Sela dan Ardi memilih untuk tinggal bersama Clara di jakarta.
Mulai berdamai dengan waktu dan situasi.
Kehidupan Clara seperti biasanya, kini ia di bimbing oleh Ardi untuk mengelolah perusahaan papanya, sementara Sela yang telah mahir diberi oleh ardi satu anak cabang perusahaan nya untuk di kembangkan.
"Dek"
merasa namanya di panggil, Clara pun berbalik dan melempar tatapan bertanya pada Sela.
"Itu di bawah ada yang ingin jumpai lo" jelas Sela.
Clara menaik alisnya bingung.
"Siapa? "
"Itu suami lo" ujar Sela.
Clara menatap acuh dan kembali dengan aktifitasnya yaitu membaca novel. Sela menghembuskan nafasnya gusar, berjalan mendekati Clara yang menelungkup di atas ranjang.
"Lo gak boleh gitu, gue tahu kok hati lo masih untuk nya"
"Apaan sih, urus ajah mantan lo itu" balas Clara ketus.
"Apaan sih, gue gak pernah suka sama dia. Nih lihat Seno dah ngasih cincin. "
Seno adalah kekasih Sela yang selama ini membantu Sela dalam hal apapun, terlalu mencintai Sela membuat nya memberikan semua yang Sela ingin kan.
"Au ah" Clara menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut.
Jika seseorang menyakiti mu jangan sesekali kamu membalasnya, karna membalas dalam kejahatan itu bukanlah sesuatu yang baik. Kejahatan yang mereka lakukan belum tentu murni kesalahan mereka, belum tentu niat tulus dari hati mereka.
__ADS_1
Jangan segan segan memaafkan seseorang meski telah menyakitimu. Allah saja murah hati dan pemaaf kenapa kita terlalu sombong dan angkuh hanya untuk memaafkan seseorang.