
"Mau kemana? " tanya Jihan menahan lengan Jeri yang hendak berdiri.
"Gue mau ke toilet, lo mau ikut? " balas Jeri datar, bukan apa apa Jihan tak ingin duduk sendiri di meja besar ini.
Acara masih terus berlanjut, terlihat Penyanyi terkenal untuk memeriahkan acara.
Ke gembiraan terlihat di wajah kedua pengantin, Pram tak henti hentinya mengucap syukur dan berterimakasih kepada Clara yang pernah membantu dan menyadarkan perasaanya terhadap Risma.
"Terimakasih" ucap Pram menatap Risma yang kini telah Sah menjadi istrinya, Risma pun tersenyum membalas tatapan sang suami.
"Maaf jika aku terlalu lama menyadarinya" balas Risma mengusap punggung tangan Pram.
"Eh ingat, ini masih banyak tamu" serga Jeri yang sudah berdiri di depan pengantin baru itu.
"Gangguin aja sihh" sungut Risma kesal.
"Ini kado dari gue, semoga suka" ucap Jeri menyondorkan kotak hadiah pada Risma.
"Wahhhh makasihhh, gak nyangka bakalan dapat hadiah dari si duda" pekik Risma.
"Apaan sih" sungut Jeri kesal.
"Eh Jihan mana? " tanya Pram yang sedari tadi hanya nyengir menyaksikan perdebatan istrinya dengan Jeri.
"Tuh di meja" jawab Jeri santai.
"Kok lu tinggalin sih, kemana-mana tu harus bawa pasangan" serga Risma mendorong Jeri turun dari altar.
"Gak ada urusan" balas Jeri.
"Noh liat gandengan lo" tunjuk Pram pada meja tempat Jihan menonton penampilan penyanyi. Jeri mengernyit, tanpa ia sadari berjalan cepat menghampiri meja dimana ia meninggalkan gadis itu sendiri.
"Hei" sapa seorang pria. Jihan pun menoleh dan tersenyum membalas sapaan pria itu.
"Boleh saya duduk di sini? " tanya Tedi yang langsung di angguki oleh Jihan, untuk apa melarang nya toh meja ini sangat luas, fikir Jihan.
"Datang sendiri? " tanya Tedi lagi.
"Ehm... "
"Kau mau pulang atau tidak? " tanya Jeri dingin mengalihkan perhatian Jihan. Pria itu menatap Tedi tak suka
"Yah" balas Jihan Cepat kemudian meraih tasnya yang tergeletak di atas meja, Jihan tersenyum tak enak pada Tedi yang bengong ketika kedatangan Jeri.
"Maaf aku harus pergi" pamit Jihan berlari mengejar Jeri yang sudah pergi duluan.
"Rasain, cemburu kan lo" cibir Risma tertawa menang menyaksikan tingkah Jeri.
__ADS_1
"Hahaha, gue yakin dia bakalan jatuh cinta pada Jihan" ucap Pram di sela tawanya, Risma pun mengangguki ucapan sang suami.
"Eh pengantin jangan ngejek orang mulu" serga Rani yang baru saja menaiki altar untuk memberikan ucapan selamat pada Risma dan Pram.
"Eh tante, Om" sapa Risma dan Pram berbarengan, mereka mengalami keduanya secara bergantian.
"Selamat yah sayang"
"Makasih tante"
"Untuk kamu, jangan pernah sakiti hati istri kamu" petuah Rani pada Pram.
"Siap tanteee" balas Pram hormat ala ala tentara.
"Kok cepat banget pulangnya? " tanya Jihan, acara masih setengah berjalan tapi si bos dinginnya ini malah pulang.
"Bisa gak sih gak banyak tanya" bentak Jeri menatap gadis itu tajam, Jihan langsung menunduk takut, tak tahu apa kesalahan nya. Gadis itu hanya bertanya tapi respon bosnya terlalu berlebihan.
Jeri mengusap wajahnya gusar, pria itu menenangkan hatinya yang entah mengapa begitu marah.
Jeri masuk kedalam mobil, tak lama kemudian di ikuti oleh Jihan.
Keheningan kembali melanda situasi di dalam mobil mereka. Jihan menatap ke luar jendela, pemandangan jalanan lebih menarik perhatiannya.
"Eh kita mau kemana? " tanya Jihan pelan, takut di bentak Jeri lagi.
Jeri memarkirkan mobilnya, keluar dari mobil tanpa mengucapkan apapun pada Jihan.
Jihan keluar dari mobil menatap pria yang kini berdiri menatap jauh ke tengah danau.
Perlahan Jihan mendekat, gadis itu berdiri di samping Jeri.
"Di sini, Istri ku berlari memeluk ku, demi nyawaku dia rela mengorbankan dirinya sendiri. " Ucap Jeri kembali teringat akan kejadian dimana Istrinya menyelamatkan hidupnya.
"Dia, gadisku yang mengalami hal rumit dan dengan sialnya aku malah membencinya, bersikap kasar padanya" lanjut Jeri menengadahkan wajah nya agar air mata yang sudah bertumpuk tak mengalir deras.
Jihan hanya diam, gadis itu memilih untuk diam dan mendengarkan curahan isi hati bos nya. Sebenarnya ia turut merasakan sakit yang di rasakan Jeri ketika melihat pria itu mencoba untuk menahan air matanya.
Diam, setelah mencurahkan semuanya tak ada di antara mereka yang bersuara. Pria itu berusaha mengontrol dirinya.
"Jangan menatap ku seperti itu" serga Jeri membuat Jihan mengalihkan pandangannya.
"Maaf" lirih Jihan.
"Kenapa kau minta maaf"
"Karena aku salah menilai mu" balas Jihan lagi menatap Jeri yang juga tengah menatapnya.
__ADS_1
"Apapun yang kau fikir kan, semua itu tak salah. Memang begitu adanya. "Tutur Jeri kembali menatap Danau.
" Aku lelaki yang hidup dalam penyesalan, bukan aku tak ingin bangkit, tapi semangat ku tak pernah bangkit" lanjut Jeri lagi. Gadis itu hanya tersenyum getir, di dalam hatinya berharap bisa membangkitkan kembali semangat hidup sang bos.
Cukup lama mereka duduk tepian danau, hingga kini sudah hampir malam.
"Apa kau tak ingin pulang? " tanya Jeri bangkit dari duduknya.
"Eh yah, iya tentu saja aku ingin pulang" jawab Jihan gagap.
Menjalani perjalanan 30 menit akhirnya mereka tiba di gedung apartemen elit tempat tinggal Jihan.
"Terimakasih" ucap Jihan tersenyum manis, namun tak bertahan lama senyum itu berubah menjadi cibiran kekesalan.
"Dasar Es batu" sungut Jihan menatap Jeri yang kini telah melaju tanpa menyahut ucapannya tadi.
Masih dalam keadaan kesal Jihan berjalan memasuki lift dengan bibir yang masih mengerucut.
"Cieeee"
"Apaan? " balas Jeri ketus pada mamanya.
"Dasar anak durhaka" cibir Rani mengalihkan pandangannya dari ponsel ke putranya.
"Mama sih ngejek mulu" balas Jeri berjalan menuju dapur, di tuangkan nya air yang sudah di tersaji di atas meja. Kemudian di teguknya segelas penuh.
"Gimana kencannya? " tanya Rani menghampiri putranya.
"Siapa yang kencan"
"Lah gandengan ke pesta" ucap Rani penuh selidik.
"Si Seno yang minta tolong jemput adik nya" sela Jeri berlalu meninggalkan mamanya yang tersenyum.
"Benarkah? sampe ke pesta kok masih gandengan" goda Rani mengikuti Jeri ke kamarnya. Ia benar-benar penasaran dengan perasaan putranya.
"Au ah mau mandi" balas Jeri menutup pintunya. Pria itu baru sadar, mengapa juga ia bersikap seperti itu. Tak ambil pusing Jeri memilih mengabaikan hal itu.
"Semoga rencana kalian berhasil" gumam Rani penuh harap dengan rencana Risma dan Sela.
...🍀🍀🍀TBC🍀🍀🍀...
Halo reader makasih banyak yah udah mampir. Jangan lupa jejak kakinya biar aku mudah untuk mampir ke cerita kalian. Love you semuanya❤❤❤❤❤
Jangan lupa vote nya, likenya dan komen yang membangun supaya aku semangat nulisnya.
Saranghae ❤
__ADS_1