
Drrt Drrrt
Sela membuka ponselnya yang baru saja menerima pesan masuk.
"Claudia" gumam Sela membaca nama pengirim pesan tersebut.
Semua ini belum berakhir
"Sial" umpat Sela mencengkraman erat ponselnya. Sela bangkit dan keluar dari kamarnya dengan tergesa-gesa. Ia harus menemui Claudia, semua ini harus cepat di akhiri sebelum Claudia kembali menghancurkan keluarganya.
"Lo mau kemana? " tanya Jeri yang baru saja tiba di rumah nya. Sela menatap Jeri sebentar kemudian melanjutkan langkahnya.
"Kalo lo mau nyari istri lo, dia gak di rumah. Cari dia ke kampusnya" teriak Sela sebelum melajukan mobilnya.
"Kampus? " ulang Jeri. Sejujurnya ia tak tahu dimana kampus Istri nya, bodoh memang kampus istri nya sendiri ia tak tahu.
Jeri mengeluarkan ponselnya kemudian menghubungi Risma.
"Halo Jer, ada apa? " tanya Risma ketika sambungan telfon terhubung.
"Eum, itu gue, mau.. " ucap Jeri sedikit ragu, antara malu dan ingin tahu.
"Apaan, lo mau apa? gue lagi buru buru nih"
desak Risma.
"Ii-iya, gue mau nanya Kampus lo dimana? "
"What? kampus gue? buat apa? " bukannya menjawab Risma malah nanya balik.
"Udah buruan kasi tahu gue, lo bilang lagi buru buru" desak Jeri menghindari banyak pertanyaan dari Risma.
"Ok ok gue kirim di whatsapp ajah yah" balas Risma yang memang ia lagi buru buru.
"Ok" Jeri memutuskan sambungan telfon nya dan tak lama kemudian pesan dari Risma pun tiba.
Jeri menatap ponselnya tersenyum lebar kemudian berjalan cepat menuju mobil nya.
"Istri ku tunggu akuu!! " teriak Jeri girang.
Jeri melajukan mobilnya menuju kampus Clara sesuai dengan alamat yang di berikan Risma.
__ADS_1
Jeri pun tiba di kampus dimana Clara menyelesaikan studi nya. Bingung ingin mencari Clara kemana Jeri tak tahu kelas Clara dimana, jangankan kelas jurusan Clara saja ia tak tahu.Merasa pusing ia Jeri pun memutuskan untuk menelusuri koridor kampus saja.
Jeri menyipitkan mata nya ketika menangkap sosok Clara yang tengah duduk bersama seseorang lelaki di salah satu bangku taman.
Clara tengah tertawa lepas bercanda ria bersama Pram.
"Hahaha lo si bego" ujar Clara menoyor jidat Pram gemas, sementara si empunya hanya nyengir bebek.
Rasa nyeri menyerang relung hati Jeri, menyaksikan ke mesraan sangat istri dengan pria yang entah siapa ia tak tahu. Jeri mengepal jari nya ketika melihat sang pria mengusap bibir istrinya. Ingin rasanya Jeri menghampiri dan menarik Clara pergi bersamanya, menghalangi tangan pria itu untuk tidak menyentuh istri nya.
"Lo itu gak pernah berubah yah, dari dulu masih aja kek anak kecil" cibir Pram menghapus sisa es krim di pinggir bibir Clara.
"Ih sok perhatian lu, sama Risma ajah lu gak berani. " Dengus Clara sembari mengambil tisu dari dalam tas nya kemudian membersihkan sendiri bibirnya yang masih belepotan.
Tak tahan lagi Jeri memilih untuk pergi, hati nya terlalu sakit untuk melihat pemandangan buruk itu. Disamping itu ia juga merasa sangat tak berguna, jika bersama dengan nya Clara tak pernah tertawa lepas seperti itu.
"Lo lebih bahagia tanpa gue Ra" batin Jeri.
Jeri melajukan mobil nya meninggalkan kampus Clara dengan hati yang hancur.
Sementara Clara tengah tertawa meledek Pram yang tengah galau.
"Jadi kapan lo mau terus terang sama Risma? " tanya Clara pada Pram yang terlihat tidak percaya diri. Ia menghela nafas berat, takut jika Risma tidak merasakan seperti yang ia SL rasakan. Takut jika cinta nya bertepuk sebelah tangan.
"kalo dia ngehindarin gue gimana? "
"Nanti kalo dia benci gue gimana? "
"Nant-"
"Ah kebanyakan mikir lu" potong Clara bosen denger keluhan Pram yang tak percaya diri.
"Gue hanya takut kalo dia gak mau bertemu sama gue lagi Ra" lirih Pram.
Clara menatap sahabat nya serius, memegang pundak Pram dengan kedua tangannya.
"Lihat gue" titah Clara tegas, Pram pun mengikuti nya.
"Yakinkan diri lo, apapun yang terjadi urusan belakangan. Jika lo bener bener Cinta ama Risma, maka perjuangkan" ucap Clara meyakinkan.
"Tapi gima-"
__ADS_1
"Gak ada tapi tapian, lo harus berani. " Potong Clara.
"Oke, akan gue coba" balas Pram mencoba memberanikan diri. Sudah sejak lama ia memendam rasa ini, rasa cinta terhadap sahabat nya sendiri. Susah payah Pram mencoba menutupi dari kedua sahabat nya ini, namun Clara yang terlalu peka mengetahui nya.
"Gue tunggu kabar dari lo" ucap Clara kemudian beranjak pergi.
...***...
"Maaf nona, anda tidak boleh masuk" cegat seorang penjaga yang berdiri di depan pintu masuk rumah Claudia, rumah yang dahulunya istana bagi Sela.
"Saya ingin bertemu dengan Bos kalian" balas Sela dingin.
"Maaf Nona anda tidak boleh" tahan penjaga itu ketika Sela terus mencoba menerobos.
"Apa kau lupa siapa aku!! " bentak Sela kehabisan kesabaran. Penjaga itu menggeleng, sebenarnya ia sedikit ngeri mengingat siapa Sela. Wanita sadis yang bisa melakukan apa saja sesuai keingiyhati nya.
"Maaf Nona ini perintah, saya harus mematuhinya. " ujar penjaga itu lagi sedikit gemetar, mantan bos nya ini sudah mengeluarkan senjatanya.
"Enyah lah jika kau masih ingin hidup" ujar Sela memompa sejata api nya. Perlahan akhirnya penjaga itu pun memberi jalan untuk Sela.
Masuk meuju kamar Claudia, Sela tidak perlu ribet mencari keberadaan sang ibu angkat. Ia tahu jika Claudia lebih suka mengurung diri dikamar di banding kan duduk di luar atau sekedar memanaskan tubuh pada sinar matahari pagi.
"Akhirnya kau datang juga" ujar Claudia yang berdiri di balkon kamarnya. Perlahan ia berbalik menatap Sela yang sudah menatapnya tajam.
"Aku sudah memberi mu peringatan untuk tidak mengacaukan keluarga ku lagi, dengan balasan tidak memperpanjang kasus mu dan menghindari mu dari buronan polisi!! " ujar Sela dengan nada dingin. Matanya mengkilap menatap Claudia dengan tatapan kebencian.
"Oh dear, jangan terlalu naif. Kamu berkata seolah mengampuni ku sayang" balas Claudia tersenyum miring.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya!!! " teriak Sela penuh emosi. Tak tahan lagi dengan permainan Claudia, ia tak ingin keluarga nya kembali terancam oleh serangga sepeynya.
"Ingin melenyapkan semua keluarga mu, dan hanya akan menyisakan dirimu sendiri. sama seperti ku.Hahaha" balas Claudia tertawa keras.
"Kau gila. " hardik Sela.
"Jangan lupa, kau lebih gila dari pada aku. Membunuh keluarga mu sendiri" Balas Claudia memancing emosi Sela yang sudah tak terkontrol lagi. Secepat kilat Sela berjalan mendekati Claudia dengan menodongkan pistolnya.
"aku akan membunuh mu!! " teriak Sela sembari memompa pistolnya dan menembak Claudia.
Bug!!
Dorr!!
__ADS_1
...🍀🍀🍀TBC 🍀🍀🍀...
yuk mari mampir😘😘😘