
"Kak Sela!!! "
Merasa namanya di panggil Sela pun berbalik.
"Eh, Jihan" sapa Sela tersenyum.
"Hai Micle" sapa Jihan menoel noel pipi balita yang ada di gerobak bayi.
"Kakak dari mana? "
"ini bawa Micle jalan jalan, kamu? " Sela balik nanya.
"Barusan pulang kerja" jawab Jihan jujur.
"Kamu dah kerja, dimana? " tanya Sela.
"Itu kak, di perusahaan itu"
"Wah hati hati lo, CEO nya garang itu" ujar Sela dengan nada bercanda.
"Kakak kenal?, teman teman juga pada bilang kalo bosnya pemarah" bisik Jihan.
"Pernah dekat" ucap Sela nyengir.
"Kakak mau langsung pulang atau mau mampir ke apart aku? " ajak Jihan.
"Aduh, bentar lagi Seno pulang, kakak harus buru buru balek"
"Alah si kutu kupret itu tinggalin ajah tuuu" cibir Jihan, meledeki abang sepupunya.
"Dasar durhaka nanti kamu"
"Lah bang Seno juga tu kek gitu sama aku" balas Jihan nyengir.
"Yaudah deh aku duluan yah Kak" pamit Jihan berlalu pergi setelah menciumi pipi si kecil.
"Jer, anterin mama ke supermarket yuk" ajak Rani pada Jeri yang sedari tadi duduk menonton tv.
"Papa ajah mah" jawab Jeri malas.
"Papa kamu lagi ada meeting Jer" jawab Rani memelas. Akhirnya dengan terpaksa Jeri mengantar mamanya ke supermarket.
"Sini Jeri aja" ujar Jeri mengambil alih troli yang semula di dorong oleh Rani, merasa tak tega mungkin meskipun dalam keadaan terpaksa.
Brukk!!
"Aduh maaf tante" sesal Jihan memungut barang barang yang di rak jatuh ke lantai, termasuk barang belanjaan nya.
"Eh gak papa" balas Rani turut membantu Jihan memungut barangnya.
"Loh" ucap Jihan kaget menunjuk Jeri yang menatapnya datar.
__ADS_1
"Kamu kenal anak saya? "
"Gak sih tante, hanya bertemu beberapa kali" jawab Jihan nyengir.
"Oh yah, dimana? "tanya Rani tampak antusias.
" di.-"
"Udah mah ayuk buruan" desak Jeri memotong ucapan Jihan semba mendorong troli.
"Aduh, saya pergi dulu" pamit Rani tak enak hati, kemudian menyusul Jeri.
"Huu dasar cowo datar, sedatar ubin. " cibir Jihan menjulurkan lidah yang padahal tak Terlihat oleh Jeri.
"Kamu ini gak sopan tahu gak sih" dumel Rani.
"Gak penting mah" balas Jeri acuh.
Jihan tiba di apartemen nya yang sudah ada Laras menunggu nya.
"Lo dari mana aja sih Ji? "
"Abis belanja ini" jawab Jihan mengangkat 2 kantong plastik yang di Tenteng nya.
"Eh lo tahu gak, lagi lagi gue ketemu sama cowo itu" ucap Jihan antusias.
"Serius?? ketemu diamana? "
"Jodoh kali" ujar Laras asal.
"Gue juga ketemu dia di kantor lo"
"Seriusan? "
"Iya lo, kemarin awal gue masuk kerja gue ketemu dia di lift. " jelas Jihan lagi.
"Siapa nama nya? " tanya Laras semakin penasaran.
"Nah itu dia, gue gak tahu namanya" desah Jihan menghempas kan punggunynya ke senderan sofa.
"Lu terlihat antusias banget sama tu cowo" ujar Laras menatap Jihan intens.
"Entahlah" jawab jihan mengangkat bahu acuh "Gue merasa penasaran dengan Cowo ini"
"Hati-hati, ntar lo jatuh hati" goda Laras.
"Gak papa kali, dia kan tanpan" balas Jihan kini memeluk bantal sofa dan mulai memejamkan matanya.
"Dasar kebo! " pekik Laras.
"Halo tante, Om" sapa Sela menyalami Rani dan Adam bergantian di ikuti oleh Seno.
__ADS_1
"Micle" panggil Jeri menuruni tangga cepat, kemudian menggendong bayi laki-laki mungil itu.
"Hati-hati" peringat Seno yang langsung mendapat Pelototan dari Jeri.
Mereka semua duduk di ruang keluarga dengan Jeri terus bermain dengan Micle, bayi yang sangat mirip dengan aunty nya Clara. Jika Micle perempuan, sangat pas menjadi Clara ke dua.
"Makanya buruan nikah, biar punya anak" sindir Sela.
Jeri yang awalnya ketawa ketawa bersama Micle mendadak menjadi diam. perkataan Sela mengingatkannya pada almarhum istri nya.
"Jer, lupain Clara, Lo harus tetap hidup bahagia Jer" ujar Seno.
"Kebahagiaan gue cuma bersama Clara" balas Jeri memindahkan Micle kepangkuan Sela, kemudian berlalu pergi.
Andai Clara masih hidup mungkin mereka sudah memiliki anak yang lucu lucu.
Jeri menaiki mobilnya dan melajukan menuju danau, tempat dimana ia bisa menenangkan dirinya. Mengingat semua kenangannya bersama sang istri.
"Apa kamu bahagia disana? " tanya Jeri tanpa jawab dari siapapun.
"Aku merindukan mu" lirih Jeri menunduk, air matanya kini berlomba-lomba jatuh menetes membasahi tanah. Jeri menatap jauh ke dalam danau, ia kini duduk di bangku dimana Clara pernah ia tinggal kan.
Jihan menatap Jeri dari jauh, niat hati ingin menghampiri namun terhenti ketika gadis itu melihat kondisi Jeri yang begitu rapuh.
Entah hal apa yang membuat Jihan begitu penasaran dengan pria itu. Melihat ekspresi datar nya membuat jantung Jihan berdebar.
Ke esokan harinya Jihan sengaja menunggu Jeri di pintu lift dimana ia pernah bertemu. Sudah lama menunggu namun Jeri tak kunjung muncul.
"Hei Jihan" sapa Roni. Jihan tersenyum membalas sapaan Roni.
"Sedang menunggu siapa? "
"Ah, tidak ada. Aku baru saja ke luar lift" ujar Jihan asal.
"tapi aku melihat mu hanya berdiri saja sedari tadi"
"Ah iya, aku... " Jihan mencoba berfikir mencari alasan yang pas.
"Aku? " tanya Roni menunggu jawaban Jihan.
"Sedang mencari inspirasi" jawab Jihan kembali tak masuk akal.
"Inspirasi? "
"Ah sudah lah aku masih banyak pekerjaan" ucap Jihan kabur.
Roni tercengang, menatap aneh dengan sikap karyawan baru nya itu.
"Lucu juga" ujar Roni kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan kerja Jeri.
...🍀🍀🍀TBC🍀🍀🍀...
__ADS_1