ISTRI KU

ISTRI KU
21


__ADS_3

Clara sibuk mempersiapkan hidangan diatas meja, menyusun piring dan juga gelas.


2 pasang mata terus memperhatikan gerak gerik Clara. Sela mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, kemudian berjalan mendekati Clara yang sedang memanaskan sop.


"Eh biar gue bantu" Sela meraih mangkok yang sudah terisi sup panas, dengan Cepat Sela menjatuhkan bungkusan kecil kedalam saku baju tidur Clara yang sedikit terbuka.


Clara yang tak ambil pusing, ia membiarkan Sela membawa sup itu ke meja makan.


"Silakan makan" ujar Clara menyodorkan sepiring nasi pada jeri yang sudah menduduki bangkunya.


"Terimakasih" balas Jeri tersenyum canggung.


"Wah makanannya enak banget yah" puji Sela.


"Makan saja, gak usah bersuara" tegur Clara kesal, ia memilih tidak makan, selera makannya tiba-tiba hilang ketika melihat Jeri menggandeng Sela masuk kerumah.


"Lo gak mak... " ucapan Jeri terhenti ketika tiba-tiba Sela mual.


"Uweeeeekk uweeekkk" Sela berlari ke wastafel yang langsung di susul Jeri dan Clara.


"Kamu kenapa Sela? " tanya Clara yang mulai panik melihat kondisi Sela.


"Aku, gak ta... " ucap Sela terputus dan jatuh pingsan, untungnya jeri dengan gersit menangkap tubuh Sela.


"Hei, Sela!!! bangun!! Sela!! " panggil Jeri menepuk nepuk pipi Sela.


"Dia pingsan, cepat panggilkan dokter" Pekik Jeri sembari mengangkat tubuh Sela ke sofa ruang TV.


Clara panik, entah apa yang mau ia lakukan.


"Cepat, telfon dokter!!!! " pekik Jeri yang melihat Clara hanya mondar mandir.


Clara berlari menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya, Belum sampai ke anak tangga, Clara terhenti mendengar teriakan Jeri lagi.


"Hei, itu ponsel ku ada disana, ambil itu ajah, cepat!!! " Pekik Jeri sembari berusaha menyadarkan Sela.


"Ii.. Iya" Clara berbalik meraih ponsel Jeri yang terletak diatas meja makan.


Clara berjalan cepat keruang TV, menyodorkan ponsel itu pada Jeri.


"Ini" Jeri meraih ponsel cepat, kemudian menelfon dokter yang biasa menangani Sela.


Selang beberapa menit dokter pun datang, kemudian memeriksa kondisi Sela.


Clara gelisa duduk di sofa merenungkan apa yang membuat Sela tiba-tiba seperti ini. Tidak mungkin Sela sakit karena makanan yang dia masak.


"Bagaimana Dok? " tanya Jeri membuyarkan lamunan Clara. Dokter cantik itu tersenyum, terlihat wajahnya tak asing bagi Clara namun ia tak tahu siapa dokter ini.


"Untung anda cepat menghubungi saya, Jika tidak mungkin nona Sela harus di operasi" tutur dokter Jihan.


Jeri dan Clara mengerut bingung, apa maksud dokter ini.


"Apa yang terjadi Dok? " tanya Jeri


"Nona Sela seperti nya keracunan, apakah anda tahu makanan apa yang terakhir kali dimakan nona Sela? " tanya Jihan pada Jeri.


"Dia baru saja memakan masakan ku dok" Sahut Clara.


"Tidak mungkin dia keracunan karma masakan ku." Jelas Clara lagi


"Sebaiknya periksa makanannya, atau mungkin ada makanan yang tidak bisa di makan oleh nona Sela" Jelas Jihan lagi menatap Clara sembari tersenyum miring.

__ADS_1


Clara tertegun, "tatapan itu seperti... " tanya Clara dalam hati.


"Kalau begitu saya pamit dulu tuan" ujar Jihan menunduk hormat, kemudian berlalu pergi.


"Engghhh" renguh Sela yang perlahan membuka matanya, memperhatikan sekeliling nya.


Melihat Sela mulai siuman Jeri pun mendekati Sela "kamu suda sadar? "


Bukannya menjawab Sela malah menatap Clara tajam.


"Loh kan yang berusaha buat racuni gue!!! " hardik Sela mencoba bangkit dari sofa. Clara melongo, bingung dengan tuduhan Sela, ia tak pernah sedikit pun berniat untuk melukai Sela.


"Lo gila?? gue gak pernah berniat buruk pada siapapun! " balas Clara menyangkal tuduhan itu.


"Lo pasti mau bunuh gue kan!!! biar Jeri jadi milik lo" Teriak Sela berapi api sembari mendorong bahu Clara.


"Cukup Sela!! jangan salahin Clara gitu dong, kalo makanan itu beracun gue pasti kena juga!!. " Bentak Jeri sedikit meninggikan suaranya, berdiri didepan Sela melindungi Clara dari amukan kasar Sela.


"Sayang, bisa saja kan, cuma makanan aku yang di kasih" ujar Sela bersikukuh menuduh Clara. Sementara Clara tak habis fikir dengan Sela yang terus menuduhnya. Sela mendorong tubuh Jeri agar ia bisa menggapai Clara.


"Lo fikir gue gila? " ujar Clara geleng-geleng dengan sikap Sela yang kini memaksa memeriksa tubuhnya.


"Sela!!, Sela Cukup!!!!!! " bentak Jeri tak tahan dengan sikap Sela.


"Ini, lihat ini sayang, aku benarkan dia mau mencelakai aku lagi" Sela memberikan sebuah plastik kecil yang berisi bubuk halus yang berwarna kehitaman.


Clara kaget, melihat apa yang di dapat Sela di saku bajunya.


"Itu bukan punya gue Jer, gue gak tahu sejak kapan benda itu ada di situ. " Jelas Clara pada Jeri yang terdiam seribu bahasa menatap plastik kecil yang didapati Sela.


"Gue gak nyangka yah" lirih Jeri pelan. Clara menggeleng mendekati Jeri berusaha untuk meyakinkan nya.


"Itu fitnah Jer, loh harus percaya sama gue! " ucap Clara meyakinkan,namun Jeri terlanjur kecewa,racun itu ada di saku Clara.


"Gue gak lakuin itu Jer!!!! lo harus percaya sama gue"


"Percaya lo bilang?? kejadian ini sering terjadi!!,Lo nyuruh gue untuk percaya sama lo???. " Ujar Jeri penuh emosi, tak habis fikir dengan apa yang telah dilakukan Clara.


"Gue fikir dengan hilang nya ingatan, lo bakal berubah." Ujar Jeri dengan nada dingin.


"Tapi nyatanya nggak!!, lo masih aja menjadi Clara yang penuh dengan ambisi!! " Teriak Jeri pada wajah Clara.


Clara mulai meneteskan air matanya, menggeleng memohon pada Jeri agar mempercayainya. Clara tak bisa berbuat apa apa, ia tak punya bukti yang kuat, sialnya racun itu ada didalam saku baju nya.


"Jer!!!! dengerin gue dulu!!! " teriak Clara menarik lengan Jeri yang langsung ditepis nya. Jeri berjalan cepat menarik Sela yang tersenyum menang menyaksikan perdebatan hebat antara suami istri ini.


"Jer!!!! Jeri!!!!. " Panggil Clara pada Jeri yang telah menghilang di balik pintu, perlahan Clara merosot ke lantai dengan butiran air mata membasahi pipinya.


"Gue gak pernah lakuin itu Jer!... " Lirih Clara berharap Jeri mendengar nya.


Clara menangis seorang diri, hatinya hancur, suaminya sendiri tak mau mempercayai nya.


Clara meremas dadanya yang mulai terasa sesak.


Drrtt Drrrt


Clara melirik ponselnya yang berdering berulang kali, Clara mencoba mengabaikan panggilan dari no yang tak ia kenal.


Hatinya masih terguncang, ia butuh waktu sendiri.


Drrrt Drrrt

__ADS_1


Ponselnya kembali berdering, dengan terpaksa Clara meraih ponselnya.


Clara yang masih menangis mengangkat panggilan dari no yang tidak dikenal itu.


"Halo nona Clara hikss hikss"


Deg~


Clara tertegun mendengar suara yang sudah mulai terisak disebrang sana. Bi Ina, ART rumah orang tuanya mulai terisak disebrang sana. Cepat cepat Clara menghapus air matanya, sejenak melupakan kepedihannya dan mulai fokus dengan bi Ina yang mulai tak terkendali kan.


"Bi Ina?? ada apa bi, bibi kenapa nangis? " tanya Clara dengan suara seraknya.


"Non, Orang tua nona kecelakaan!! " sambung bi Ina yang berusaha menahan tangisnya.


Bagai disambar petir, seketika tubuh Clara membeku mendengar kabar tentang orang tuanya.


"Tuan dan Nyonya telah tiada non.... " Ucap bi Ina yang semakin terisak.


Tubuh Clara melemah, ponsel yang tadi di genggamnya terlepas dari genggamannya.


"Mama... Papa... " Lirih Clara, air mata yang sempat terhenti perlahan kembali mengaliri pipi Clara yang memang sudah basah.


"Mama!!!!!!!!. Papa!!!! "teriak Clara histeris. Tak bisa di ungkap dengan kata kata bagaimana perasaan Clara saat ini. Semua masalah datang bersamaan pada dirinya. Semua orang yang di sayangnya memilih pergi.


" Ara salah apa?? Ara salah apa, kenapa kalian meninggalkan Ara disaat Ara butuh kalian. "Rancau Clara.


" Mama jahat!!!! mama jahat!!!! "


"Papa!!!!! siapa yang bakal jagain Ara kalau papa juga pergi!!!! papa jahat!!!! "


"Mama.. Papa... " Panggil Clara lemah kemudian terkulai lemas.


"Ara!!!!!! " pekik Risma yang baru saja tiba di apartemen Clara dan Jeri. Melihat pintu apartemen terbuka Risma memilih untuk masuk saja.


Sangat mengejutkan, Risma mendapati Clara terbaring di lantai.


"Ara bangun Ra, Lo kenapa?? " Risma menepuk-nepuk pipi Clara, namun tak ada pergerakan dari Clara. Risma menoleh pada ponsel Clara.


"Non,,, Nona Clara!!! " teriak seseorang dari ponsel Clara. Diraihnya ponsel Clara yang masih terhubung dengan sebuah panggilan.


"Halo" panggil Risma.


"Halo, dimana nona Clara? apa dia baik baik saja? " tanya bi Ina panik.


"Halo ini bi Ina?? saya Risma bi, temannya Clara" balas Risma.


"Non, mana nona Clara. hiksss hikss"


"Bi Ina kenapa nangis?? ini si Clara lagi pingsan" jelas Risma yang mulai bingung dengan situasi ini.


"Ya Allah hikss non Clara pasti syok, nyonya dan tuan kecelakaan non, hikss" jelas bi Ina terisak.


Risma kaget, sontak langsung menoleh pada Clara yang ada di pangkuannya.


"Baiklah bi saya akan bawa Clara pulang" ujar Risma kemudian memutuskan sambungannya.


Risma membawa Clara kedalam mobil, berniat membawanya ke kediaman orang tuanya. Di perjalanan Risma berusaha menghubungi Jeri, namun tak di jawab oleh Jeri.


...TBC...


Makasih readers ki, tinggalin jejak kalian yah😘😘

__ADS_1


Vote + like yah😘😘


__ADS_2