ISTRI KU

ISTRI KU
34


__ADS_3

Jeri melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi, Ardi yang ikut dengan nya meneliti setiap isi mobil Jeri.


"Pelankan mobil nya, tapi jangan di rem" ujar Ardi tiba-tiba.


"Maksud lo!? " Jeri tak mengerti, namun tetap melakukan apa yang di minta Ardi. Mobil pun sudah berjalan pelan dan akhirnya tak bergerak.


Rendy dan Roni yang mengikuti dari belakang turut berhenti, keluar dari mobilnya melihat apa yang terjadi pada Jeri dan Ardi.


"Kenapa berhenti? " tanya Rendy.


"Mobil ini sudah di rusaki, mereka menjebak kita. Periksa mobil lo. " Titah Ardi pada Rendy.


Rendy dan Roni bergegas memeriksa mobil Rendy dan semuanya aman.


"Semuanya aman, gue rasa mereka hanya ingin mencelakai kalian berdua. " Tutur Roni.


"Sial! " umpat Jeri menendang mobil nya.


"Apa Clara masih menggunakan anting dan Gelang tangan nya? " tanya Ardi, ia ingat semua barang pemberian nya pada Clara terpasang alat pelacak. Ardi selalu berjaga jaga untuk keselamatan keluarganya, termasuk kekasihnya.


"Seingat gue dia masih make semua aksesoris itu, emang kenapa? " tanya Jeri bingung.


"Bagus" desis Ardi mulai sibuk dengan ponselnya. Ia mulai melacak anting Clara.


"Gila, lo ngeri juga yah semua di pasangin pelacak" kagum Rendy. Ardi tak menjawab ia hanya fokus pada kegiatan nya.


"Mereka di sana" ujarnya menemukan lokasi adik nya.


"Kota ini tak jauh dari sini. hanya butuh waktu 8 jam" ucap Roni.


"Ayo, gabung ke mobil gue ajah" ajak Rendy yang langsung di angguki oleh ketiganya.


Mereka pun bergegas menuju tempat tujuan, dimana mereka menyekap Clara.


Selang waktu berlalu akhir nya mereka tiba di sebuah rumah yang cukup besar, berada di dalam hutan membuat mereka tak terlihat dari perkotaan.


Jeri bergegas keluar dari mobil dan berlari memasuki rumah itu.


"Clara!!! " teriak Jeri menelusuri rumah besar itu.


Jeri mematung, melihat tubuh lemah sang istri tergeletak di lantai, sebuah pistol tertodong tepat di kepala Clara.


"Akhirnya kalian datang juga" ucap Sela tersenyum sinis.

__ADS_1


"Clara" panggil Ardi yang baru saja menyusul Jeri. Langkah nya terhenti ketika melihat kondisi Clara, jauh lebih terkejut melihat seorang wanita yang tak jauh pautan umurnya dengan Clara yang sedang memegang pistol.


"Apa lo yang melakukan semua ini? " tanya Ardi dingin tanpa mengalihkan pandangan nya dari Clara.


"Tentu saja, siapa lagi bukan aku" sahut Sela tersenyum bangga.


"Apa motif Lo melakukan semua ini!! " teriak Jeri.


"Dendam... " Sela menjeda ucapannya, menoleh pada Clara kemudian menatap Ardi dan Jeri bergantian.


"Keluarga busuk kalian lah yang melakukan ini terlebih dahulu!!! " lanjut Sela setengah teriak.


"Apa yang keluarga kami lakukan? "


"Apa? " ulang Sela berdecih.


"Seharusnya kami yang bertanya, apa salah keluarga ku pada kalian sehingga kalian tega menghancurkan kami!!! "


Jeri melotot, ia tidak mengerti dengan alur ucapan Sela. Ardi yang sedari tadi diam mencerna sedikit demi sedikit.


Rendy dan Roni perlahan beringsut mendekati Clara tanpa sepengetahuan Sela.


"Diam di situ!! "


Rendy dan Roni terperanjat dan kembali ke posisi awal. Sela benar-benar nekat, menembakkan peluru ke atas sebagai peringatan pada mereka.


"Sela! " panggil Ardi lembut. Tanpa ia senga ia melihat tanda lahir di bagian bahu Sela yang terbuka.


Sela mengernyit, ia baru ingat tentang kehadiran pria asing ini. Sedari tadi Sela tak ambil pusing, Sela tak tahu dari mana pria itu mengetahui namanya.


"Apa Claudia yang membuat mu seperti ini? " lirih Ardi.


Mendengar nama mamanya di sebut, emosi Sela semakin memuncak.


"Jangan sesekali kau menyebut nama mama gue!!!! " bentak Sela.


"Dia bukan mama mu! "


Dorr!


Sebuah peluru melesat mengenai bahu Ardi.


"Sialan kau!! " bentak Sela.

__ADS_1


"Sudah gue katakan jangan katakan apapun tentang mama gue!! "


"Aw" rintis Ardi menahan perih yang mulai menjalani bahunya.


Jeri tak bergeming, ia masih diam membiarkan Ardi menghadapi Sela, bukan maksud tidak ingin membantu tapi Jeri merasa masalah ini ada kaitan nya dengan Ardi.


Clara yang sudah hilang kesadaran tergeletak di belakang Sela, tubuhnya terlihat sangat pucat.


Ardi berjalan mendekati Sela yang masih menodongkan senjatanya. Tanpa rasa takut kini Ardi berdiri tepat di depan Sela dengan ujung pistol menunjuk ke dada Ardi.


"Bunuh Gue dek, Bunuh kakak kandung mu sendiri. Gue akan sangat senang mati di tangan adik yang selama ini gue cari. " Ucap Ardi tersenyum.


Sontak Jeri dan kedua temannya membelalakkan matanya mendengar ucapan Ardi barusan.


Sela mendadak kaku, fikiran nya kalut.


"Lo, Lo lo fikir gue akan percaya dengan ucapan Lo! " ujar Sela gugup. Entah mengapa ia merasa ucapan Ardi tidak mengandung kebohongan. Matanya menelusup menatap jauh kedalam mata pria yang kini menatapnya lembut.


"Tatap gue, dan cari kebohongan didalamnya. Gue gak bohong, lo adek gue yang 15 tahun lalu hilang di larikan Claudia. " Jelas Ardi.


"Jangan berusaha menipu gue!! " ucap Sela tajam.


"Lo tanya sama Claudia, dan lihat dimana dia. mengapa dia tidak melindungi lo yang dalam bahaya seperti ini. "


Sela mengakui ucapan Ardi kali ini, Claudia tak pernah menanyakan keadaannya, yang ia tahu hanya lancar atau tidaknya rencana mereka.


"Stop!!!! " teriak Sela menutup telinganya. Senjata yang di genggamnya kini telah jatuh ke lantai.


"Lo itu hanya alat, untuk membalaskan dendamnya dek. Maafin gue yang terlambat menemukan lo. " Lirih Ardi memeluk tubuh Sela.


"Tak akan semudah itu lo bisa menipu gue!!" teriak Sela mendorong tubuh Ardi.


"Jika itu benar, Kenapa lo baru hadir dengan keadaan gue yang seperti ini, huh!!!! "


"Kenapa gak dari dulu lo cari gue, orang tua gue!!! " teriak Sela histeris.


"Kenapa!!!!!! " teriak Sela histeris melempar semua barang yang ada kesegala arah.


"Mama papa berusaha buat nyari lo, tapi Claudia membunuh mereka sama seperti lo membunuh papa Ramlan dan Mama Maria" Jelas Ardi yang semakin membuat Sela gemetar.


"Diam!!!!!!! "


"Hentikan omong kosong lo!!, gue gak akan percaya sama omongan lo! " teriak Sela memutuskan untuk pergi.

__ADS_1


...🍀🍀🍀TBC🍀🍀🍀...


__ADS_2