
Clara tiba di danau sesuai petunjuk yang dikatakan Claudia, Clara datang seorang diri.
"Akhirnya lo datang juga"
Clara berbalik, menatap Sela yang tengah bersender di pohon dekat tepi danau.
"Sela,lo baik baik aj-" panggil Clara berjalan mendekati Sela.
"Jangan mendekat" serga Sela menghentikan Langkah Clara, menatap bingung ke arah Sela.
"Lo kenapa? "
"Diam!!! " bentak Sela semakin membuat Clara bingung dengan perubahan sikap Sela.
"Lo fikir gue udah berubah? jadi sepupu lo? " Cibir Sela tertawa sinis.
"Maksud lo? " tanya Clara menerka nerka.
"Yah, gue berpura-pura mempercayainya" balas Sela tersenyum miring.
"Gak, gue gak percaya. Lo lagi sandiwara kan!! " Sangga Clara cepat.
"Lo gak percaya? " tanya Sela mengeluarkan pistolnya.
"Hei, gue yakin lo di paksa oleh Claudia kan. Tenang gue akan menyelamatkan lo" bujuk Clara mencoba mendekati Sela.
"Jangan mendekat! gue gak sudi dekat sama lo" teriak Sela.
Clara menatap dalam manik mata Sela yang terlihat memerah dan gelisah.
Sementara disisi lain Jeri, Seno dan Ardi yang kehilangan jejak Clara bingung ingin mencari kemana.
"Sial" Jeri memukul stir mobil kesal kehilangan jejak Clara. Keadaan jalanan yang macet membuat jejak Clara begitu cepat terhapuskan, mereka sangat khawatir jika Claudia mencelakai kedua wanita itu.
"Kemana gadis itu" dengus Ardi menghentikan mobil nya. Ada 2 jalur mereka harus memilih salah satu nya, dan mereka bingung jalur mana yang di lewati Clara.
Jeri, Ardi dan Seno mendesah kesal, Clara nekat pergi sendiri menghadapi Claudia yang tak memiliki hati itu.
"Eh tunggu"
Seno membuka pesan masuk di ponselnya.
"Dari Sela" ujarnya
"Apapun yang kalian lihat, tetap fokus selamat kan Clara, danau. " ucap Seno membaca isi pesan dari Sela.
"Danau? " ulang Ardi bingung.
"Seperti nya Claudia masih mengincar Clara" ujar Seno.
"Danau.... " ulang Jeri mencoba memecahkan petunjuk yang di berikan Sela.
__ADS_1
"Yang itu bang, Clara pasti lewat sini" pekik Jeri ketika teringat dengan Danau yang pernah di berikan nya untuk Clara.
"Lo yakin? " tanya Seno.
"Iya gue yakin. Danau yang sering gue kunjungi bareng Clara. Gue yakin Claudia memancing Clara ke sana. " Ujar Jeri
Ardi yang mengemudi pun melajukan mobil menuju jalur yang di tunjuk Jeri tadi.
"Buru bang, ntar keburu mereka kenapa kenapa" desak Jeri tak sabaran.
"Ini udah laju ini"
"Clara!! " panggil Jeri dan cepat cepat turun dari mobil. Tak tahu apa yang terjadi ketika mereka tiba di danau, mereka telah melihat Sela tengah menodongkan pistol pada Clara. Sementara Clara hanya diam menatap Sela.
Merasa namanya di panggil menoleh dan terlihat begitu panik.
"Jangan mendekat!!! " teriak Clara, ia tak mau jika mereka menyakiti orang orang yang di sayangi.
Jeri menghentikan langkahnya begitu juga dengan Ardi dan Seno.
"Ah, gue fikir kalian akan terlambat" decak Sela menyeringai.
"Maksud lo apa? " tanya Jeri bingung, ia berfikir jika Sela telah berubah ternyata ia salah.
"Turunkan senjata lo dek" bujur Ardi.
"Hahahaha, Adek? lo fikir gue adek lo? " balas Sela tertawa lepas.
"Sayang, gue yakin ini bukan diri lo" ujar Seno berjalan mendekati Sela.
"Jangan mendekat!!! " teriak Sela histeris membuat Seno kembali menghentikan langkah nya. Ia yakin jika Sela terpaksa melakukan semua ini, terlihat dari sorot mata nya yang memerah.
Sela terlihat begitu gelisah, matanya sesekali melirik ke semak samping tubuhnya. tangannya yang menggenggam erat pistol kini mulai gemetar.
"Sela!, lo itu saudara nya Clara!! kenapa lo kembali ingin membunuh nya. "Teriak Jeri mengalihkan perhatian Sela, dan Seno terus beringsut mendekati nya.
Clara melotot, manik matanya menangkap seseorang tengah tengah mengintai Sela. Ia mengerti sekarang, Sela terpaksa melakukan semua ini untuk melindungi nya.
" Awas!!!!!!!! " teriak Clara
Dor! Dor!!
Jeri tersungkur ke tanah, dengan kaku berbalik melihat ke belakang.
"Clara!! " teriak Sela histeris.
Dor! Dor!
Sela melepaskan pelurunya ke arah semak yang ia tahu anak buah Claudia memantau dari sana. Di luar kendali mereka melepaskan peluru sebelum ia melakukannya.
Dua orang anak buah Claudia tumbang.
__ADS_1
"Clara! " panggil Jeri tak percaya, perlahan beringsut mendekati tubuh Clara yang tergeletak di tanah.
Clara tersenyum menatap Jeri yang sudah memangku kepalanya di atas paha.
"Maaaf, jika gue gak berbakti sama lo" ujar Clara menahan sakit di dada nya. 2 peluru berhasil menembus punggung nya.
"Sttt diam, lo harus bertahan yah, gue akan bawa lo ke rumah sakit" ucap Jeri yang di balas gelengan oleh Clara.
Memastikan semua anak buah Claudia telah tewas, Sela mendekat pada Jeri dan Clara begitu juga dengan yang lainnya.
"Dek lo harus bertahan yah" mohon Sela yang sudah mulai terisak.
"Gue gak kuat" lirih Clara.
" Gak, lo harus bertahan!! " serba Jeri mencoba menutupi bekas tembakan pada tubuh Clara.
"Percuma Jer, lo harus janji sama gue. Lo harus jaga diri lo" ujar Clara berusaha menahan sakit yang di deritanya. Darah sudah membanjiri baju nya.
Dor!! Dor!!
Sela yang melihat pergerakan Claudia langsung menembak Claudia cepat. Sekejap mata, Claudia terkapar di tanah.
"akhhh" lirih Clara semakin melemah dan tak bergerak lagi.
"Sayang, sayang" panggil Jeri menepuk nepuk pipi Clara.
"Hei, jangan bercanda. " Panggil Jeri lagi.
"Clara!!!!!!!!!!! " teriak Jeri keras memeluk tubuh sang istri.
"Hikhs hikss" tangis Sela pecah melihat kondisi sang adik, sementara Ardi menutup wajahnya menahan tangis.
"sayang" ujar Seno merengkuh tubuh kekasihnya kedalam pelukan nya.
"Clara sen, selamatkan dia" raung Sela memohon.
"Gak, Clara pasti selamat" ujar Jeri menggendong tubuh Clara dan membawanya menuju mobil.
Secepat mungkin Jeri mengendarai mobil mencari rumah sakit terdekat.
Jeri pun tiba di salah satu rumah sakit yang lumayan jauh dari danau.
"Dokter!! Dokter!! tolong istri saya" teriak Jeri pada sembari membawa Clara masuk ke UGD.
Seorang dokter datang dan langsung menangani Clara.
"Maaf Pak, silakan tunggu di luar" cegat Suster kemudian menutup pintu.
"Selamat kan istri saya Sus" mohon Jeri.
...🍀🍀🍀TBC🍀🍀🍀...
__ADS_1