
Clara tiba di rumah, wanita ini merasa sangat lelah menghadapi pelajaran yang sudah lama ia tinggalkan, terlebih lagi ia menempuh semester 5.
"Kok sepi" batin Clara, ia tidak menemukan Sela yang biasanya selalu menyambutnya.
Tanpa ambil pusing Clara memutuskan untuk langsung ke kamarnya saja dan membersihkan diri.
Clara memeriksa ponselnya, perasaan tak enak menyelimuti hatinya.
"Sudah jam 8" gumam Clara memerhatikan jam dinding. Ia kini duduk di ruang tamu menunggu saudaranya pulang, biasanya ia bersama Sela menunggu Ardi pulang atau hanya sekedar menonton TV bersama.
"Dek, tumben sendirian" sapa Ardi ketika melihat Clara duduk sendiri di sofa.
Clara pun menoleh cepat dan menghampiri Ardi.
"Sejak gue pulang Sela gak ada di rumah, gue pikir dia ke kantor bareng lu" jelas Clara membuat Ardi bingung.
"Hari ini Sela gak kekantor dek, lu tahu sendiri tu anak ke kantor hanya di saat yang penting doang. " Balas Ardi santai.
"Lah, kemana dia?? " tanya Clara mulai panik.
"Coba lu telfon, mana tahu dia kerumah temennya, atau bareng tunangannya. " Usul Ardi mencoba menenangkan adiknya.
Clara pun meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Sela, sedari ia tak terpikir akan hal itu.
"Gak di angkat" ucap Clara semakin khawatir.
"Coba Seno" usul Ardi lagi.
"Halo, Sen. Sela bareng lu gak? " tanya Clara to the poin saat panggilan terhubung.
"Gak Ra, kenapa? " tanya Seno di seberang sana mulai khawatir.
"Sejak gue pulang kuliah, Sela gak ada di rumah dan sampai sekarang belum pulang"
"Astaga, Lo dimana? gue kesana sekarang" balas Seno khawatir.
"Ok, gue tun lo di rumah. " balas Clara kemudiam memutuskan panggilan.
Clara semakin khawatir, begitu juga dengan Ardi. "Gimana ini kak, kalo Sela kenapa napa gimana? "
"Lu tenang dulu dek, Sela pasti baik baik aja. " bujuk Ardi berusaha menenangkan Clara yang terus mondar mandir khawatir.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Seno dan juga Jeri tiba di rumah Clara.
"Gimana, udah ada kabar dari Sela? " tanya Seno panik. Ia takut terjadi sesuatu pada tunangannya.
Jeri yang sedari tadi tiba berbarengan dengan Seno hanya diam dan tak melirik sedikit pun pada Clara.
Tringgg~
Clara menatap ponselnya dan membuka pesan masuk. Mereka menunggu Clara yang sedang menatap ponselnya.
"Ada apa? " tanya Ardi menatap Clara yang terlihat fokus pada ponselnya.
"Sial" umpat Ardi ketika melihat isi pesan yang diterima Clara. Seno merebut ponsel itu tak sabaran, Clara dan Ardi yang diam saja.
"Sialan!! " Umpat Seno menggeram.
Terlihat di dalam foto yang dikirim Claudia, terlihat Sela terikat dengan tubuh penuh dengan luka.
Drrtt Drttt
Ponsel Clara berdering menandakan ada yang menelponnya.
Segera ia meraih ponsel itu dan menempelkan ke telinganya.
"Oooow simpan energi mu gadis malang, sekarang ikuti permainan ku"
"Sialan kau!!, lepaskan Sela!!! " titah Clara dengan suara meninggi.
"Datanglah ke danau tempat kau biasa bermain, aku rasa kau pasti ingat dimana itu. ingat datang sendiri. " Peringat Claudia kemudian memutuskan sambungan telfon.
"Sialan!!!! " teriak Clara membanting ponselnya ke lantai.
Tak berfikir jernih lagi, Clara meraih kunci mobil dan berlari keluar.
"Lo mau kemana? " cegat Jeri.
"Bukan urusan lo" balas Clara dingin menepis tangan Jeri yang memegang lengannya.
"Lo itu istri gue dan keselamatan lo itu penting bagi gue!!! " Teriak Jeri lebih keras kembali menarik lengan Clara.
"Lo fikir itu penting sekarang??, Sela dalam bahaya, dan jika gue terlambat maka dia akan membunuh Sela!!! " teriak Clara.
__ADS_1
"Dek lo tenang, kita selamatkan Sela bareng bareng. " Bujuk Ardi.
"Enggak Kak," sanggah Clara cepat mengingat peringatan yang Claudia katakan.
"Kenapa? dia itu tunangan gue dan gue juga akan bantu lo" sahut Seno.
"Jika kalian ikut maka Sela akan lebih tersakiti" lirih Clara mendorong Jeri agar menjauh dari nya, Clara berlari sembari meraih kembali ponselnya yang telah di banting nya. Untung saja ponselnya hanya retak sedikit.
...***...
Sela perlahan membuka matanya, tubuh lemah yang dipenuhi luka bekas cambukan kini mulai terasa sangat perih.
"Awh" ringis Sela merasakan sakit di pergelangan tangan dan kakinya.
"Aisss, kenapa sakit sekali" gerutunya.
Sela memerhatikan dirinya, bibirnya terangkat tersenyum kecut. Inilah yang dirasakan Clara ketika ia perlakukan ia dengan hal yang sama, fikir Sela.
"Ini minumlah" ucap seseorang menyodorkan segelas air putih. Sela menatap seorang pria yang kini berdiri di hadapannya.
"Cih, kenapa? lo merasa kasian sama gue? " decak Sela dalam kepedihan.
"Udah minum ajah, sebelum yang lain melihatnya" ujar Andre anak buah kesayangan Sela.
Dulu Andre di pungut oleh Sela ketika ia di keroyok masal oleh preman di kota nya, dengan sigap Sela menyuruh anak buahnya untuk menyelamatkan Andre dan menjadikannya sebagai anak buah.
"Lo gak liat? " ucap Sela menggoyangkan kedua tangannya.
Perlahan Andre membantu Sela untuk minum. "Makasih " balas Sela. Andre mengangguk dan berlalu pergi. Sejujurnya ia tak tahan melihat perlakuan Claudia terhadap Sela. Walau bagaimana pun ia bergabung dengan Claudia itu karena Sela.
"Buka pintu nya! " teriak seseorang.
Sela tersenyum kecut ketika telinga nya menangkap suara itu. Tanpa rasa takut Sela menatap Claudia yang kini telah berjongkok di hadapannya.
"Bagaimana, apa kau menyukai hadiah ku tadi malam? " tanya Claudia dengan seringaian nya.
"Cih, wanita tua seperti mu tak layak untuk kejam seperti ini" cibir Sela.
"Ya kau benar, tapi mau bagaimana lagi, anjing peliharaan ku kini sudah liar" bisik Claudia membuat Sela semakin terpancing emosi.
"Ayo bawa dia" titah Claudia pada anak buah nya, kemudian keluar terlebih dulu dari dalam gudang.
__ADS_1
...TBC...