
"Loh udah masuk kerja? " tanya Tina kaget menatap Clara yang baru saja memasuki ruang ganti. Ia belum sempat menjenguk Clara karna masih sibuk dengan Cafe.
"Gue dah sembuh. " Balas Clara, kemudian bergegas mengganti pakaiannya.
Seperti biasa nya Clara bekerja dengan giat, Clara adalah pelayan yang rajin namun sayang terlalu ceroboh. Sering kali di marahi Tomo karena ia sering memecah kan gelas atau pun piring.
"Ra, lo kan bagian depan. Kenapa malah disini? " tanya Tina yang sedari tadi memperhatikan Clara yang terus berkutat di bagian belakang.
Clara nyengir, ia takut jika ia berkeliaran di bagian depan,nanti Jeri akan melihat nya dan membuat masalah dengan nya.
Tina menghela nafas berat, kasian melihat Clara yang terus bersembunyi dari masa lalu dan mungkin saja itu masa depan Clara.
Tina menghampiri Clara yang fokus mencuci piring.
"Ra, mau sampai kapan kamu kek gini? bersembunyi dari masalah lo. "
Clara terdiam, ucapan Tina ada benarnya juga. Sampai kapan ia bisa kabur dan kabur dari masalah ini.
"Ra, semua akan baik baik ajah jika lo berani menghadapi semua ini. Coba lo fikirin lagi yah" lanjut Tina.
Tina menepuk bahu Clara kemudian melanjutkan pekerjaannya.
Jam pulang pun telah tiba, Clara berjalan pelan keluar dari cafe. Manik matanya menangkap sosok Jeri yang sedang duduk di depan mobilnya. Clara menghela nafas berat, kemudian menunduk melanjutkan langkahnya melewati Jeri.
Jeri yang melihat Clara berjalan di depannya langsung berdiri kemudian ia bergegas menghampiri Clara.
"Ra." panggil Jeri.
Clara yang jalan menunduk mengangkat kepalanya, tatapan datar tertuju pada Jeri.
"Beri gue waktu untuk bicara sama lo" pinta Jeri.
"Gue sibuk, gak ada waktu untuk bicara sama lo" balas Clara dingin.
Jeri meraih tangan Clara yang langsung di tepisnya. Tak begitu mudah, genggaman Jeri tak bisa di lepaskan. Clara menatap Jeri tajam.
"Lepasin Gue!! "
"Gak, gue gak akan lepasin sebelum lo mau bicara sama gue. "
__ADS_1
Clara terus berontak melepaskan tangannya dari cengkraman Jeri.
"Lepasin!!! "
"Lepasin!!!! " teriak Clara lagi.
"Hei, lepasin dia! "
Clara dan Jeri menoleh pada Diego yang baru saja keluar dari mobilnya dan berlari menghampiri Clara dan Jeri. Menarik Clara dan menyembunyikan dibelakang tubuh nya.
"Siapa lo? " tanya Diego menatap Jeri tajam.
"Bukan urasan lo" balas Jeri datar mencoba menarik Clara dari balik tubuh Diego.
"Gue gak akan biarin lo sakitin Dia! "
"Minggir lah, dan jangan ikut campur. " Ucap Jeri yang mulai geram dengan Diego.
"Dia pacar gue! "
Clara yang berada di belakang Diego menatap lelaki itu dari belakang. Ia tak habis fikir jika Diego bakal ngomong seperti itu.
"Minggir" ucap Jeri dingin. Diego tak bergeming ia tak takut dengan tatapan Jeri. Clara masih nyaman diam di balik tubuh Diego.
"Dia istri gue!! " Lirih Jeri dingin, ekspresi datar menghiasi wajah nya.
"Hahahaha, gak usah mimpi deh lo! "
"Dia bohong! " sanggah Clara cepat.
"Lo dengar kan? " ujar Diego tersenyum remeh.
"Gue gak pernah tanda tangani surat cerai itu. "
Clara melotot, hal itu tidak mungkin. Sudah 1 tahun mereka berpisah.
Diego menoleh menatap wajah Clara yang sudah mulai panik.
"Lo masi istri gue. " Ujar Jeri sembari menarik Lengan Clara.
__ADS_1
Diego terdiam, tak bisa berkata kata lagi. ia tak percaya jika Clara sudah menikah.
"Dia suami lo? " tanya Diego, Clara menggeleng cepat.
"Gue udah cerai. "
"Belum, selama surat itu belum di tanda tangani lo masih istri gue. " Balas Jeri tersenyum menang.
"Mari pulang" ajak Jeri menarik lengan Clara yang tak dapat melawan.
Diam seribu bahasa, Clara tak ingin berbicara dengan Jeri menatap pun ia enggan.
"Lah kemana?, apartemen gue gak lewat sini" ujar Clara melihat mencak mencak.
"Kita balik ke Jakarta, lo tidur ajah perjalanan kita masih jauh." Jelas Jeri tetap fokus menatap jalanan.
"Eh gue gak ada bilang mau ikut sama lo. " Balas Clara sinis.
"Lo itu istri gue, dan lo harus ikut sama gue".
" Gak!! gue gak mau."
"Lo harus ikut, karna gue suami lo. "
"Suami?, suami yang lebih mempercayai wanita lain ketimbang istri nya sendiri? itu yang lo sebut suami!!!!. " Ujar Clara penuh emosi, ia sudah tidak tahan lagi. Ia tak ingin kembali ke kehidupan pahit itu.
Citttt cittttt
Jeri memberhentikan mobil nya mendadak, ia menatap Clara tajam membuat Clara sedikit takut.
"Gue tahu kalo gue salah, karna itu gue mau menebus nya" balas Jeri dingin.
"Gue gak butuh, lo cukup biarin gue hidup seperti yang gue mau dan jangan muncul di kehidupan gue lagi. itu dah cukup" teriak Clara.
Jeri terdiam, hati nya sakit mendengar ucapan Clara. Sebenci itu kah Clara pada nya?, Jeri memaling kan wajah nya berusaha menahan air mata yang mulai ingin berjatuhan.
Clara menhempaskan tubuhnya ke jok mobil, melawan Jeri yang keras kepala sama saja membuang tenaga. Jeri tetap melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.
...🍀🍀🍀TBC🍀🍀🍀...
__ADS_1