
Siang pun menjelang, Clara bersantai diruang TV, Berselonjoran membaca Novel.
Ting tong!!
Sontak Clara menoleh pada pintu kamar Jeri, ia merasa tak mengundang siapapun.
Clara pun beranjak dari duduk nya untuk membukakan pintu.
Klik!
Clara memperhatikan seorang wanita yang kemarin ia temui dimall berdiri membelakanginya.
"Siapa yah? " Tanya Clara datar, pura-pura tidak mengenalnya. Perlahan wanita itu pun berbalik menghadap Clara, sembari tersenyum miring.
Tanpa permisi, Sela menyelonong masuk kedalam melewati nya. Clara menghembuskan nafas kasar berbalik kemudian menarik lengang Sela kuat sehingga sedikit terpental kebelakang.
"Lo kalo bertamu yang sopan dong! " Bentak Clara menatap Sela tak suka.
"Berani sekali lo nyentuh gue!! " Sela menghempaskan cengkraman Clara. Baru saja Sela ingin mengangkat tangannya untuk menampar Clara, Cepat cepat ia menarik tangan Clara seola ia sedang dijambak.
"Hikss, Gue salah apa sama lo,Gue hanya mau bertemu Jeri" teriak Sela terisak dengan air mata palsunya, Clara menautkan keningnya bingung dengan perubahan sikap Sela. Ia yang tak mengerti dengan tingkah Sela mencoba menarik tangannya namun di tahan oleh Sela.
"Apa yang lo lakukan?? " tanya Clara menarik tangannya.
"Akh sakit" pekik Sela merintih lebih keras.
"Ada apa ini?? " Suara baritone Jeri mengalun tegas dari tangga.Rahang Jeri mengeras ketika melihat Sela sedang disiksa oleh Clara.
Cepat cepat Jeri menuruni tangga, kemudian menarik Sela dan menyembunyikan di balik tubuh kekar nya.
"Loh apa apaan sih Clara!! " Bentak Jeri.
"Gue gak ngapa-ngapain " ujar Clara menatap Jeri datar ia tidak melakukan apapun, tapi Jeri malah menatap nya tajam.
"Lo masih mau mengelak??? Jelas jelas gue lihat sendiri!!! " Balas Jeri meninggikan suaranya. Clara mengepalkan kedua tangannya, sungguh ia ingin sekali berteriak mengatakan kalau kekasihnya itu adalah wanita ular.
"Ternyata lo masih sama, Gak pernah berubah!! " Ucap Jeri tepat di wajah Clara, kemudian Jeri berlalu sembari menarik Sela ikut bersamanya, keluar dari apartemen.
"Geu gak mela-" ucap Clara mencoba menjelaskan, namun Jeri tak mendengar kan.
"Gue gak mau dengar apapun lagi dari lo" potong Jeri kemudian menarik Sela pergi keluar dari apartemen nya.
Tatapan tajam Jeri seakan menusuk hatinya. Clara memegang dadanya, seolah diremas kuat, nafas Clara mulai tersengal. Ia tak tahu apa yang sedang merasuki hati nya.
"Hiks hiks.. Ma..... Pa.... ini kah yang terbaik yang kalian maksud? "
"Dunia Ara udah jadi neraka mah, pah" Lirihnya.
Clara mengusap lembut pipinya, menghalau butiran bening yang terus mengalir.
Drttt Drttt
Telfon Clara bergetar.
"Mama" baca Clara melihat nama mamanya terpampang jelas dilayar ponselnya. Clara menggeser tombol hijau kemudian menempel kan ke telinganya.
"Assalamu'alaikum mama" Sapa Clara berusaha menormalkan suaranya.
"Waalaikumsalam, Sayang apa kabar?? "
__ADS_1
"Baik mah, mama apa kabar? papa apa kabar? " balas Clara.
"Baik sayang, gimana apa kamu bahagia sayang? "
"Tentu mah, Ara bahagia banget." Jawab Clara sembari menghapus air matanya yang mencoba kembali mengalir.
"Jeri mana? "
Deg!
Clara terdiam, ia harus menjawab apa.
"Jeri, kerja mah"
"Kok kerja, kan hari minggu" Terdengar suara mamanya yang sedikit penasaran.
"Mama tahulah gimana sibuknya seorang CEO. banyak meeting dadakan" Kila Clara mencoba meyakinkan mamanya.
"Sayang, kamu baik baik yah disana, jangan pernah membantah suami kamu. menurut lah dengan nya" petuah Maria pada putrinya. Clara tersenyum getir, menuruti suami yang lebih memilih wanita lain dari pada istrinya sendiri.
"Iya mah" Balas Clara lembut.
"Yah sudah mama tutup dulu yah, Assalamu'alaikum" Ucap Maria pamit.
"Waalaikumsalam, Ma" balas Clara.
Clara menggenggam erat ponselnya. Menangis dalam diam, ia tak tahu lagi harus bagaimana. Entah bagaimana perasaan kedua orang tua nya jika mengetahui pernikahan nya tidaklah seperti yang di harapkan.
...****...
Di sebuah restoran mewahJeri dan Sela tengah makan siang. Tidak seperti melahap masakan Clara, Jeri terlihat sangat tidak bersemangat. Nafsu makan Jeri menghilang, yang ia lakukan hanya memutar mutar kan sendok diatas piringnya.
"Hmm"
"Kok aku merasa gak asing yah sama dia" Sela mencoba memancing Jeri.
"Dia yang menabrak mu kemarin" Jelas Jeri singkat. Sela mengangguk,bukan itu yang sebenarnya Sela ingin Jeri katakan.
"Tapi kenapa aku merasa pernah bertemu dengan nya. tapi dimana yah... " Sela memegang dagunya seolah berfikir keras, mencoba untuk mengingat sesuatu. Ia ingin Jeri mengingat kejadian dimasa lalu, dimana Jeri sangat membenci Clara.
"Dia Clara teman masa kecil kita" Balas Jeri melirik Sela yang memasang ekspresi terkejut.
"Gadis yang mencoba membunuh mu, dan ingin mencelakakan ku itu kan?? " Pekik Sela seolah sangat terkejut.
Jeri mengeratkan genggamannya pada sendok, tangannya mengepal mendengar ucapan Sela. Entah bagaimana jauh dilubuk hatinya berteriak membantah jika semua itu tak benar, namun Kenyataan pahit yang diketahui Jeri bertolak belakang dengan hati nya.
"Habiskan makanannya" Ujar Jeri datar memutuskan pembicaraan mereka.
Tak puas hati Sela terus memikirkan sesuatu hal untuk memancing Jeri.
"Sayang, kamu harus hati-hati, dia sangat berbahaya" Lanjut Sela.
"Iya" Balasnya singkat.
Selesai dengan acara makannya Jeri memilih mengantar Sela pulang ke Rumahnya, ia sedang tidak ingin melakukan apapun.
Sela turun dari mobil Jeri, Kemudian menatap Jeri yang masih duduk didalam mobil dengan kaca terbuka.
Sela tersenyum manis pada Jeri yang di paksakan oleh Jeri untuk membalasnya.
__ADS_1
"Aku pergi dulu"
"Hati-hati sayang" ucap Sela melambaikan tangan pada Jeri yang mulai melaju. Menatap kepergian mobil Jeri yang semakin jauh membela jalan yang terlihat macet. Sela tersenyum miring, sedikit demi sedikit rencananya berjalan lancar.
Drrt drrt
Sela menatap ponselnya, semakin mengembang lah senyumnya. Cepat cepat Sela menggeser tombol hijau.
"Hallo sayang!! " Balas Sela semangat.
"20 menit lagi, aku akan sampai dirumah mu" Balas di sebrang sana.
"Baiklah" Sela kegirangan, kemudian memasukkan kembali ponselnya kedalam tas. Berlari girang memasuki rumahnya. Ia akan berdandan sangat cantik.
...***...
"Hey bro, tumben lu kesini" Rendi membentang kan kedua tangannya menyambut Jeri yang baru saja memasuki Cafe nya. Wajahnya mengerut, Jeri mengacuhkannya memilih duduk di meja yang biasa ia tempati.
Merasa tak di tanggepi Rendy mengikuti Jeri dan ikut duduk di samping Jeri.
"Lo kenapa?" Tanya Rendy penasaran Jeri datang dengan wajah masam.
"Gue gak papa"
"Ck, Sejak kapan lo kesini tanpa membawa masalah he? " Decak Rendy yang sudah hafal dengan sikap sahabat nya ini.
"Paling juga, bingung memilih antara istri dan pacar" Sahut seseorang. Sontak Rendi menoleh ke sumber suara, melihat Roni berjalan santai menghampiri mereka.
"Jadi lo belum mutusin si cewe ular itu? " Jeri menatap kesal pada Rendy, Walau bagaimana pun Sela adalah kekasihnya.
"Kalo gue jadi lo, gue lebih memilih Clara. " Ujar Roni duduk disamping Jeri, secangkir kopi diletakkannya diatas meja.
"Gue fikir, lo dah mutusin Sela. "
Jeri menekuk mukanya,berhadapan dengan 2 bedebah ini hanya akan memperburuk fikiran nya.
"Gue belum bisa melupakan kejadian masa lalu, meskipun dia sedang lupa ingatan" Lirih Jeri pelan. Roni menghembuskan nafas gusar.
"Jer, buka mata lo lebar-lebar. Sela itu... "
"Cukup!!!!" Bentak Jeri menghentikan ucap Rendi.
"Ini demi kebaikan lo!!! "
Jeri berdiri dari duduknya, menarik kerah baju Rendy.
"Jangan pernah lo katakan sesuatu yang buruk tentang Sela"
Rendi membalas tatapan tajam Jeri, ia kesal sahabatnya tak pernah mau mendengarkan apa yang selalu ia katakan.
"Sudah!!! kenapa kalian yang berantem" bentak Roni melerai keduanya, tatapan tajam Rendi terputus, mengalih menatap ke luar jendela.
"Terserah lo saja, Gue capek ingetin lo" Melepaskan genggaman tangan Jeri di kerah kemejanya. Kemudian memilih berlalu pergi meninggalkan keduanya.
"Eh itu punya gue! " Pekik Roni, ketika Jeri tiba-tiba meneguk habis kopi yang belum sempat di minumnya setetes pun.
"Lo bisa pesan lagi" Jeri beranjak meninggalkan Roni yang masi menatap gelas kopinya yang telah kosong.
...TBC...
__ADS_1