ISTRI KU

ISTRI KU
Bagian 11 Season 2


__ADS_3

Sejak hari itu Jihan tak menampakkan diri lagi, gadis itu selalu menghindari Jeri.


"Ji tolong dong anterin ini ke pak bos" pinta Siti memelas, ia benar-benar tak berani memasuki ruangan Bos besar.


"Aa Aw" ringis Jihan memegangi kepalanya.


"Lo kenapa? " tanya Siti cemas.


"Kepala gue tiba-tiba sakit"


"Aduh Ji yuk puskesmas" teriak Situ benar-benar panik.


"Gak usah, gue bisa sendiri" balas Jihan menolak ajakan Siti.


"Lo yakin? " tanya Siti sedikit ragu.


"Tentu" balas Jihan cepat cepat berlalu dari hadapan Siti, akting nya sukses akhirnya ia terhindar juga dari Bos dingin yang buat hatinya sakit.


Jihan berjalan lesu menuju Indomaret yang tak jauh dari kantor. Melenggang seperti orang yang tak bernyawa, gadis itu berjalan dengan tatapan lurus ke depan.


Bruk!!


Brak!!


"Aw" ringis Jihan ketika bahunya di tubruk kemudian bokongnya terhempas ke lantai.


"Eh maaf aku gak sengaja" ucap seorang pria yang sedang memungut belanjaan bawaannya.


"Lo?" tanya Tedi ketika mengangkat wajahnya kaget melihat gadis yang ia lihat di pesta teman kantornya.


Jihan yang sibuk membersihkan diri tak memperhatikan siapa yang telah menubruk nya.


"Siapa yah? " tanya Jihan tak mengenali pria asing itu. Gadis itu mencoba untuk bangkit.


"Hmm lo lupa yah" lirih Tedi tersenyum kecut.


"Aww" ringis Jihan kesakitan merasakan perih dan ngilu di lutut dan pergelangan kakinya.


"Maaf yah, gue gak sengaja" sesal Tedi membantu Jihan. Ia benar-benar tak sengaja menubruk Jihan ketika ia berlari tadi.


"Gak papa kok" balas Jihan tersenyum.


Tuk!!!! Tuk!!!


Jeri melirik pintu ruangannya yang baru saja di ketuk, ujung bibirnya terangkat. Sudah Seminggu ini ia tidak melihat karyawan cantik polosnya.


"Masuk" sahut Jeri dingin.


"Ini pak" ucap Siti meletakkan laporan yang baru saja di buatnya. Jeri terdiam, tak sesuai harapan pria itu tak merespon.


"Pergilah" usir Jeri dingin berusaha menepis perasaan yang sebenarnya berharap yang datang itu adalah Jihan.

__ADS_1


"Permisi pak" pamit Siti menunduk, gadis itu sedari tadi menahan nafas takut laporan nya akan di lempar.


"Gimana? " tanya Laras penasaran.


"Pak Jeri seperti nya dalam mood baik, dia tidak melempar laporan ku" jawab Siti bernafas lega.


"Syukurlah" ujar Laras ikut lega.


Jihan duduk di bangku Indomaret dibantu Tedi.


"Minum lah dulu" ucap Tedi menyodorkan sebotol air mineral.


"Terimakasih" balas Jihan menerimanya.


"Aku Tedi" ucap pria itu mengulurkan tangannya yang di sambut cepat oleh Jihan.


"Jihan."


Tak ada bahan, keduanya sama sama terdiam. Jihan fokus menempelkan Flester ke lututnya.


"lo dari mana? " tanya Tedi mencairkan suasana.


"Dari kantor" balas Jihan sekenanya ia lebih fokus ke lututnya yang berdenyut nyeri.


"Kantor? lu kerja di sana? " tunjuk Tedi pada perusahaan elit milik Jeri.


"huh, iya gue kerja di situ" jawab Jihan lega.


"Semuanya sudah siap bos, waktunya berangkat " ucap Mia memberitahu Jeri untuk pergi meeting ke salah satu Hotel bintang 5. Gadis itu berdiri sembari menunduk hormat ketika Jeri berdiri dan berjalan terlebih dahulu keluar dari ruangan nya, di susul oleh Mia.


"Stop! " titah Jeri tiba-tiba membuat supir dan Sekertaris nya bingung. Dengan tatapan dingin Jeri keluar dari mobilnya, merasa begitu penasaran Mia turut turun melihat apa yang di lakukan Bos nya.


"Jihan! " panggil Jeri dingin.


Merasa namanya di panggil Jihan pun menoleh, kaget melihat siapa yang memanggilnya. Spontan gadis itu pun berdiri dan memberikan hormat nya.


"Pak Jeri" sapa Jihan.


"Masuk ke mobil" titah Jeri tak terbantahkan, Pria itu menatap tajam ke arah Tedi yang juga menatap nya.


"Hu? tapi.. "


"Masuk! " ulang Jeri lagi, mau tak mau Jihan mengikuti perintah Jeri. Alis Jeri terangkat ketika melihat Jihan jalan sedikit terseok-seok, namun tak ia perdulikan yang terpenting baginya Jihan mengikuti perintahnya.


Jihan memaksakan tersenyum kepada Mia yang menatapnya prihatin.


"Jalan" titah Jeri lagi ketika mereka telah berada di dalam mobil. Jihan memilih menatap ke luar jendela mobil, begitu juga dengan Jeri. Pria itu masih bingung dengan hati nya yang entah mengapa ia begitu marah ketika melihat Jihan dekat dengan pria lain.


Tiba di tempat meeting, Jeri menoleh pada bangku di sebelahnya. Terlihat Jihan sedang tertidur menyender ke jok.


"Dia pasti lelah" ujar Mia, sementara Jeri hanya diam saja.

__ADS_1


"Pergi lah meeting, semuanya ku percayakan kepadamu" ucap Jeri. Mia pun mengangguk dan mengulum senyum, baru kali ini ia melihat bos nya peduli dengan wanita lain selain Clara. Gadis itu merasa senat akan hal itu, sudah sejak lama ia mengabdi pada perusahaan Jeri, ia merasa sangat sedih melihat kerapuhan Bos nya setelah kehilangan Istrinya.


"Baiklah Pak" balas Mia kemudian keluar dari mobil.


"Antarkan aku ke apartemen ku" titah Jeri yang langsung di angguki oleh supir nya.


Jeri terus menatap wajah tenang Jihan, mengingat tingkah Jihan, pria itu kembali mengingat istrinya.


Mereka memiliki beberapa kesamaan, Karena itulah Jeri merasa tertarik dengan wanita ini.


"Ra, aku sangat merindukan mu" lirih Jeri di dalam hati.


Deg~ Kepala Jihan jatuh tepat di bahu Jeri.


Jantung Jeri berdetak sangat kencang, seolah berpacu dan seolah ingin meledak. Tegang, Jeri menoleh perlahan menatap wajah damai Jihan yang kini menggelitik mencari kenyamanannya.


"Eh eh eh, pengantin baru udah pulang liburan kah? " tanya Rani ketika membuka pintu dan mendapati Risma dan Pram.


"Halo tantee" sapa Risma manyalim Rani, bergantian dengan suaminya.


"Ayuk masuk" ajak Rani.


"Wah, kedatangan tamu istimewa nih" ucap Adam menuruni tangga.


"Halo om" sapa Risma dan menyalim Adam.


"Gimana Honymoon nya? " goda Rani membuat Risma tersipu malu.


"Lancar dong tanteee, dah ngisi mungkin" sahut Pram bercanda, membuat Risma sama memerah.


"Wahh top cer banget"


"Pasti dong" balas Pram bangga.


"Hehh, si duda itu entah kapan akan memiliki anak" ucap Rani menghela nafas berat, teringat bagaimana putranya Rani ragu jika ia akan menimang cucu.


"Tenang ajah tante, sebentar lagi paling tu bocah nikah" ucap Risma tersenyum misterius membuat Rani dan Adam saling melirik.


"Serius kamu? " tanya Rani memastikan.


"Iya tanteee, Sekarang ajah si duda itu lagi sama Jihan" jelas Risma.


"Kok bisa, sekarang kan lagi jam kerja. "


"Nah itu dia tante, tadi kata Mia sewaktu mereka di perjalanan meeting, Si duda itu liat Jihan sama cowo. Eh malah di cegat di bawa pergi Jihan nya. " Jelas Risma panjang lebar penuh semangat.


"Papa!! " pekik Rani bahagia.


"Meeting nya pun di percaya kan pada Mia" lanjut Risma.


"Sangat Jarang itu" Sahut Adam. Mereka merasa Lega saat ini setidaknya putranya mampu bangkit dari keterpurukan nya.

__ADS_1


"Bersabarlah Tante, om" ujar Pram yang sedari tadi membiarkan istrinya berbicara yang ia pun tidak tahu kapan istrinya mendapat informasi itu.


...🍀🍀🍀TBC🍀🍀🍀...


__ADS_2