
Clara merenung di dalam kamar nya, ia masih belum bisa melupakan semuanya. Hatinya hancur semua yang ia punya telah pergi.
Mengingat keterangan kepolisian Clara berasumsi jika orang tua nya meninggal karena kecelakaan yang di sengaja.
Menurut hasil pemeriksaan, mobil yang membawa Ramlan dan Maria rem nya blong.
Drrrt.. Drttttt..
"Halo" sapa Clara ketika telfon terhubung.
"Nona saya sudah mendapatkan berkas nya" balas pak burhan.
"Baiklah pak, temui saya di cafe Rendy" balas Clara kemudian memutuskan sambungan setelah pak burhan mengatakan ya.
Clara bergegas menuju cafe Rendy untuk menemui pak Burhan, pengacara terbaik keluarga nya.
"Ini Nona, berkas yang Nona minta"
Clara meraih berkas yang diberikan oleh pengacara nya.
Clara membaca satu persatu dari berkas itu.
"Sialan." Umpat Clara meremas kertas kertas itu kuat.
"Kecelakaan yang di alami oleh tuan Ramlan dan Nyonya Maria adalah sebuah perencanaan Nona. " Jelas Burhan.
Clara menatap pak Burhan dalam.
"Lalu apa bapak tahu siapa dalangnya? "
"Clara! "
Pak Burhan dan Clara menoleh, kini mereka duduk di salah satu ruangan private cafe Rendy.
Rendy berjalan cepat kemudian duduk di samping pak Burhan.
"Apa kakak mendapat kan sesuatu? "
"Yah, semua ini adalah disengaja. Seseorang telah merencanakan pembunuhan ini untuk paman Ramlan. " Jelas Rendy.
Clara mengepalkan kedua tangannya. Clara bersumpah akan menangkap siapa dalang yang menyebabkan ia kehilangan kedua orang tuanya.
"Pak Burhan, tolong bantu saya untuk menemukan dalangnya pak"
"Saya akan berusaha Nona, jangan khawatir kan itu"
Burhan Wijaya adalah pengacara terpecaya yang sudah bertahun-tahun berkerja untuk keluarga Yuda.
"Gue sudah tahu dalangnya" ujar seseorang dari depan pintu.
"Risma!" panggil Clara.
"Semua ini adalah rencana Sela"
Risma mengambil posisi disamping Clara, kemudian memperlihatkan semua bukti bukti yang didapat oleh kaki tangannya.
"Sudah ku duga" Sahut Rendy yang juga sedang menyelidiki Sela, karna belum mendapatkan bukti Rendy tidak mengatakannya.
"Sialan!!! "
Clara berdiri dari duduknya, ia tak terima dengan apa yang menimpa keluarganya.
"Lo mau kemana? " tanya Risma menahan lengan Clara.
"Gue harus membuat perhitungan dengan wanita Ular itu. " Jawab Clara, matanya mengkilap manahan amarah.
"Kita gak boleh gegabah Ra, lo tahu sendiri kan wanita itu gimana"
Pak Burhan mempelajari setiap bukti yang di berikan oleh Risma.
"Benar Nona, kita tidak boleh gegabah. Terlihat dari bukti ini, kita harus merencanakan sesuatu yang membuat pelaku tertangkap dengan tuduhan yang pasti. " Jelas pak Burhan panjang lebar.
"Lo tenang ajah dek, kita bakal bantuin lo kok. " Ujar Rendy.
__ADS_1
Clara kembali duduk, pikiran nya tak karuan.
"Baiklah Nona saya akan mempelajari nya, untuk saat ini saya undur diri dulu. " Pamit pak Burhan menunduk hormat.
"Baiklah pak, saya serahkan semuanya sama bapak"
Pak Burhan pun mengangguk dan berlalu keluar dari cafe Rendy. Kini tinggallah Rendy, Risma dan Clara didalam ruangan privat itu.
"Sekarang lo pulang ajah dulu, istirahat" ujar Rendy menatap Clara iba.
Tubuh Clara sudah semakin kurus, sejak kedua orang tuanya meninggal Clara tak lagi memperhatikan dirinya.
"Gue disini aja" balas Clara.
"Lo harus istirahat Ra" sahut Risma.
Clara menggeleng, ia tak tahu apa lagi yang harus ia lakukan. Bagaikan tanpa tujuan Clara tak tahu harus hidup bagaimana.
"Lalu bagaimana hubungan lo sama Jeri? "
Clara menghembuskan nafas gusar, membaringkan tubuhnya pada sofa.
"Gue sudah serahkan surat pengajuan Cerai pada Papa Adam. " Jawab Clara datar.
"Ra, lo fikir dulu matang matang." Nasehat Rendy, sejujurnya ia tak ingin melihat Clara dan Jeri berpisah.
"Mau mikir gimana lagi?, Gue harus mikirin apa lagi??. Hati gue tak ada lagi untuk nya. "
Rendy terdiam, ia juga sadar bagaimana sabarnya Clara menghadapi Jeri yang terus membencinya.
"Udahlah kak kita serahin semuanya sama Clara, semua itu keputusannya. " Sahut Risma.
"Tolong rahasia kan keberadaan gue dari siapapun" pinta Clara sebelum berlalu meninggalkan cafe Rendy.
"Terus pantau dia, jangan sampai gadis nakal itu melakukan sesuatu hal yang bodoh. " Titah Rendy pada Risma yang kemudian berlalu menyusul Clara.
...****...
"Jeri!! "
Langkah Jeri terhenti ketika mendengar namanya dipanggil.
Sela menghampiri Jeri dengan senyum manis nya.
"Sayang mau kemana? "
"Bukan urusan lo! "
Jeri menatap malas pada Sela, fikiran Jeri hanya tertuju pada Clara.
"Kok kamu gitu sih sama aku?. " dengan tidak tahu malunya Sela bergelayut manja di lengan Jeri.
Jeri menghempaskan dengan Kasar tak sudi di sentuh oleh gadis licik seperti Sela
"Jangan berpura pura lagi di hadapan gue!!. " Bentak Jeri.
"Maksud kamu apa? "
"Lo kan yang udah buat Om Ramlan dan Tante Maria kecelakaan?. "
Bukannya takut Sela malah tersenyum sinis, melipat kedua tangannya didepan dada.
"Bagus kalo lo dah tahu" balas Sela tersenyum miring.
"Gue gak nyangka yah lo permainkan gue selama ini"
Jeri menatap Sela penuh kebencian, betapa bodohnya Jeri selama ini percaya dengan wanita seperti Sela.
"Tunggu dan saksikan Kehancuran menjemput lo!." Ucap Jeri penuh penekanan.
"Kita lihat saja nanti. " Balas Sela kemudian berlalu dari hadapan Jeri.
Merasa sangat kesal, Jeri memutuskan untuk berkunjung ke cafe Rendy seperti tujuan awal nya. Ia berharap Rendy mengetahui dimana Clara saat ini, terlebih lagi Rendy sangat dekat dengan Clara.
__ADS_1
"Tumben lo kesini?. " Tanya Rendy ketus pada Jeri yang baru saja memasuki cafe nya.
Merasa tak terima dengan sikap Jeri yang mengacuhkannya, akhirnya Rendy mengikuti Jeri ke mejanya.
"Selalu jadi pelarian. " Dengus Rendy.
Jeri sibuk memainkan ponselnya, ia sengaja mengabaikan Rendy. Ia tahu jika temannya ini tak akan tahan di perlakukan seperti ini.
"Lo pasti tahu kan dimana Clara.? " Tanya Jeri menatap Rendy serius.
Rendy membuat jarak, menatap Jeri datar.
"Kenapa lo nanya ke gue, bini lo kenapa nanya sama gue"
"Gue yakin, lo pasti tahu" desak Jeri.
Rendy bungkam, tak ingin mengatakan apapun pada Jeri. Ia sudah berjanji pada Clara.
Selang beberapa waktu Roni pun datang dengan membawa beberapa berkas.
"Ini, semuanya udah ada disini" Roni menyerahkan berkas berkas itu pada Jeri.
"Apa ini? " tanya Rendy bingung.
"Bagus, besok kita seret dia" ujar Jeri datar.
"Oke, besok akan gue urus semunya"
Merasa terabaikan, Rendy merebut semua berkas itu. Jeri menatap kesal pada Rendy.
"Gue sedari tadi nanya, gak kalian jawab" dengus Rendy mengerucutkan bibirnya.
Jeri merebut kembali berkas itu kasar.
"Emang lu jawab apa saat gue nanya tadi? "
"Sudah sudah, kaya anak kecil tahu" lerai Roni yang sedari tadi menatap kedua nya jengah.
"Sekarang jawab dulu dimana Clara? " tanya Jeri lagi mengabaikan ucapan Roni.
"Bodo."
Bukan nya menjawab Rendy malah memilih pergi meninggalkan Jeri dan Roni duduk berdua.
Jeri mendengus kesal, ia selalu sulit untuk mengorek informasi dari sahabatnya satu itu.
"Sudahlah, sekarang kita fokuskan untuk menangkap Sela"
"Gue sangat mengandalkan lo Ron." Ucap Jeri memegang bahu Roni.
"Eheeiii man, kita itu teman masa gue gak bakal bantuin sahabat gue sendiri. " Balas Roni.
Jeri sedikit merasa lega, memiliki sahabat yang sangat peduli dengannya. Jeri juga menyesal sedari dulu sahabat dan juga kedua orang tuanya memberitahu soal Sela, namun selalu diabaikannya.
Kini Jeri baru sadar, hidupnya benar benar hancur untuk kedua kalinya. Di tinggal pergi oleh Clara untuk yang kedua kalinya dan kedua kalinya ia menyakiti Clara.
...****...
"Sial!!! " teriak Sela lantang, ia tak menyangka jika Jeri bergerak begitu cepat. Kini ka harus pergi dari kota ini, wajahnya terlah tercatat sebagai buronan polisi.
"Apa yang harus kami lakukan bos? " tanya salah satu anak buah Sela.
"Untuk sementara kita bersembunyi dulu, nanti akan aku fikirkan rencana selanjutnya" ucap Sela sembari mengemasi barang barangnya untuk bersembunyi.
"Nyonya besar akan berkunjung Nona" ucap anak buahnya lagi. Sela mengeram, jika momy nya ada di sini itu akan membuat semuanya semakin sulit. Fikiran Sela akan terbagi anatara rencana nya dan keselamatan mommynya.
"Di mana di sekarang? "
"Dia baru saja tiba di bandara Nona" balas anak buahnya.
"Bawa dia ke persembunyian kita, aku tidak mau jika momy menjadi target mereka untyk melumpuhkan ku" jelas Sela kemudian berlalu pergi, sementara anak buah nya mengangguk mengerti.
...TBC...
__ADS_1