
Mata Zulyanda menatap papan pengumuman dimading sekolah. Ditatapnya nomor-nomor induk siswa yang tertera, berharap namanya tertera diantara deretan nama siswa yang berhasil lulus Ujian Nasional.
"Yeeeeaaaaa....... Akhirnya gaesss, wooy gue luluuuus!!!!" teriaknya diantara pekik girang anak-anak SMU TARUNA lainnya yang juga sibuk berebut mencari nomor induk dan namanya di lembar Kelulusan yang dipajang dimading sekolah.
Teriakan kegembiraan menggema diseluruh aula sekolah. Ada tawa, tangis bahagia, ada juga kesedihan karena perpisahan diambang mata. Tawa canda anak-anak Sekolah Menengah Umum TARUNA siang itu begitu berwarna. Tak terkecuali Zulyanda dan teman-teman gengsnya.
"Kita mesti ngerayain kelulusan kita nih! Gue mau bikin party kecil gaess!!! lu semua boleh bawa pasangan, harus! Tempatnya gue yang booking. Minulvista Karaoke. Makanan, minuman, gue juga yang traktir. Lu semua cukup bawa diri ama bawa urat malu. Gue yang traktir!!!" Zulyanda teriak disambut sorak teman segengsnya.
"Horeeeee... Anjay, ini beneran nih Zul?!?"
"Iyalah! Lu pada bawa pacar lu, resmiin sekalian kalo yang masih PDKT. Gue juga ada niatan nembak Putri ntar!"
"Wah, gila juga lu Zul! Baru kelulusan ude pasang badan. Gue yakin tuh si Putri mau langsung dilamar jadi bini ye?!" goda Aloy.
"*****!!! Gue ga segatel lo Loy!!" Zul melempar tawa ditimpali kawan-kawannya yang lain. Seketika suasana riuh diiringi gelak tawa menyelimuti.
Mereka akrab bertujuh sejak awal sekolah. Walau kemudian masing-masing kemudian berbeda kelas, tapi pertemanan mereka menjadi lebih mirip persaudaraan.
Hampir setiap jam istirahat maupun akhir sekolah, mereka selalu bersama. Bercanda, menekuni hobbi membongkar motor atau mobil bersama, atau hanya nyanyi-nyanyi diiringi petikan gitar Anwar. Semua berlalu tanpa terasa.
Zulyanda, Aloy, Anwar, Syahrul, Nurdin, Ilham dan Pera' yang punya nama asli 'Praja Muda Karana' karena ayahnya yang begitu memuja Pramuka. Bertujuh bercita-cita memiliki bengkel bersama setelah mereka lulus dan sukses nanti. Berharap menjadi pengusaha muda yang menguasai dunia. Walau kebanyakan hanya angan dan kehidupan alay umumnya remaja lainnya, tapi persahabatan mereka memiliki misi yang mulia.
__ADS_1
.....
Seperti yang telah mereka rencanakan. Malam minggu pukul 7 mereka berkumpul di Minulvista. Bernyanyi bersama lengkap dengan pasangan yang mereka bawa termasuk Zul yang berhasil membawa Putri. Gebetannya selama 2 tahun yang beda kelas itu.
Semua penuh niat dan rencana di otak masing-masing, untuk memuluskan langkah berikutnya karena mereka semua belum ada satu pun yang memiliki pacar. Entah diterima lalu berganti status, semua tergantung usaha mereka masing-masing. Termasuk Zul yang memang punya keinginan menembak Putri setelah kelulusan.
"Maaf ya, kalo kelakuan mereka semua terlihat receh ya Put! Maklum, mereka cuma gopean... hehehe" Zul mencoba membuat Putri senyaman mungkin. Walau dia telah mendekati kurang lebih dari 2 tahun yang lalu, tapi Zul tetap terlihat malu-malu.
"Hehehe, engga' koq Zul! Justru bikin suasana rame. Putri suka koq!"
"Syukur deh kalo Putri suka. Tapi kalo sayang Putri cukup buat Zul aja ya,..."
"Jiaaaaah.....jurus Kelinci menerjang badai nih! Hahahaha..." Aloy yang selalu menggoda membuat merah muka Zul. Sontak semua riuh. Suasana benar-benar ramai.
Zul sengaja mengajak Putri duduk dikursi yang lebih jauh dari mereka semua. Untuk lebih memantapkannya menembak Putri. Sementara yang lain asyik bernyanyi dan berjoget. Zul duduk berdua Putri dipojokan.
"Put! Kayanya salah tempat deh Zul mau ngomong sesuatu. Tapi ga apa ya, suasananya ga romantis gini."
"Kenapa Zul? Ngomong aja, ga pa pa koq. Putri suka suasananya, seru!"
"Boleh ga, Zul menemani hari dan malam Putri selanjutnya seterusnya selamanya jadi pacar terindah Zul?" tembak Zul tanpa basa-basi. Putri yang mendengar langsung tersipu. Tersenyum malu sambil menutup bibirnya yang terlihat sumringah. Sepertinya ia memang telah menunggu Zul mengungkapkan perasaannya, tapi cukup terkejut karena sekalinya Zul nembak akan langsung tanpa kata-kata pembukaan.
"Setau Zul, Putri belum punya pacar khan?" tegas Zul lagi mencoba menekankan pertanyaannya lagi.
__ADS_1
"Zul serius?"
"Iyalah! Makanya nunggu sampe kita lulus sekolah karena beneran serius. Berharap Putri mau jadi ibu untuk anak-anak kita!"
Putri terharu. Tak disangka Zul orang yang pandai berkata manis seperti itu. Jantung Putri berdetak lebih cepat karena bahagia. Ia sungguh berdebar-debar disamping Zul.
"Iya." jawab Putri tertunduk dengan senyum malu-malu.
"Serius??"
Putri mencubit kecil lengan Zul tanda malu. Zul meringis pura-pura kesakitan. Hatinya girang mendengar jawaban Putri. Seperti yang ia khayalkan, Putri bersedia jadi pacarnya. Status mereka akhirnya berubah walaupun hampir tiap malam chattingan. Zul bahagia sekali.
"Terimakasih ya, udah mau jadi pacar Zul. Mmmmh,... maaf, boleh Zul cium Putri?" bisik Zul mendekatkan bibirnya kewajah Putri.
Zul terkesima menatap Putri yang menutup matanya seperti mengiyakan. Darah muda Zul berdesir. Walau suasana disekitar hingar bingar alunan suara teman-temannya yang ga karuan, tapi Zul merasakan desiran kuat didadanya yang menyeruak membangkitkan hasrat birahi kelelakiannya.
Disosornya bibir mungil Putri yang padat dan merah menggoda itu. Zul memang belum pernah mencium bibir seseorang seumur hidupnya. Tapi belakangan ini dia sering menonton cara mencium dan berkencan di Yutup diam-diam. Bibir Putri begitu manis. Beginikah rasanya berciuman. Zul makin berdebar.
Putri meresponnya. Semakin membuat Zul berani dengan langkah selanjutnya. Tangannya meremas jari Putri yang dingin mungkin karena grogi. Zul makin berani.
Malam kian berlanjut, suasana kian menghangat. Terlebih beberapa pasangan mulai menarik diri dengan privasi mereka masing-masing. Hanya Aloy dan pasangannya yang masih bernyanyi ria.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya dengan Zul dan Putri? Akankah jiwa muda mereka bergelora diluar batas norma-norma? Semoga kalian masih bersedia menunggu cerita selanjutnya gaes... terima kasih, kalian luar biasa......
__ADS_1