
"Putri, beneran mau ikutan kumpul bareng kita kerumah Zul?" tanya Pera' via telepon. Diseberang sana Putri mengiyakan. Ia berniat buat kejutan untuk Zul. Lagipula Putri ingin bisa mengakrabkan diri dengan Zul dan keluarganya.
Akhirnya mereka sepakat bertemu di halte depan sekolah sebelum berangkat kerumah Zul.
Tujuh sekawan ditambah Putri dan Sri pacar Ilham itupun berangkat naik bis jurusan yang melewati kompleks rumah Zul.
Sebelumnya memang Ilham, Aloy dan lainnya sudah mengabarkan Zul bahwa mereka akan meluncur hari itu. Jadi memang sudah ada rencana kumpul sebelum hari wisuda pelepasan murid kelas 12 SMU TARUNA di gedung Mina Bakti hari Sabtu depan.
Zul terkejut ketika teman-temannya kompak mengucapkan kata, "supriseeeeeee.....!!"
Putri muncul dibalik mereka semua. Zul hanya tersipu dengan wajah merona.
"Hadeeeeuh, tuan raja jangan baper deh dikunjungi sang ratu!" Aloy mulai melancarkan candaannya mencairkan suasana melihat Putri yang bingung takut Zul tidak menyukai kehadirannya diantara yang lain.
"Masuk, Put! Anggap aja rumah sendiri," kata Zul buru-buru melihat tingkah Putri yang agak kaku karena gugup.
"Jiaaaah, Putri doang nih yang disuruh masuk? Nah kita??? Helloooooo.....,"
Zul menarik tangan Putri sambil tertawa.
"Kalian khan cuma nganter? Ya udah, gih balik sana. Makasih yaaa udah jemput permaisuri gue!"
Putri tersipu malu tapi senang. Zul yang biasa ia kenal kembali lagi terlihat ceria.
"Jangan hiraukan mereka, sayang! Anggap aja mereka itu nyamuk-nyamuk nakal yaa!"
"Na kalo gue apa? Semut-semut kecil!?" celetuk Sri pacarnya Ilham yang memang lucu orangnya.
"Na gue abang tukang bakso dong? si Aloy silumba-lumba!!!" Ilham nimbrung.
"Ngapa jadi judul lagu anak-anak jaman gue kecil tuh?" ujar Zul. Semua tertawa terbahak-bahak.
"Put, lu jangan kaget yee kalo ibunya Zul Enno Lerian," Pera' berbisik langsung ditimpuk Zul dengan bantal kecil yang ada di sofa.
"Mau langsung makan apa langsung kekamar?" tanya Zul sontak dibalas sorakan.
"Haaaaaa.....modus lu Zul,... langsung ngamaaaaar.. Hahahaha!!"
__ADS_1
Muka Zul merah padam. Matanya langsung menatap Putri dengan mengangkat kedua tangannya.
"Bu bukan Put! Bukan gitu maksudnya, kalian semua. Biasa juga langsung masuk kamar gue khan lu pada!" Zul malu. Putri juga Sri tertawa. Putri merasakan kegundahannya mencair seketika. Suasana ini membuat hatinya hangat kembali dengan cinta Zul.
Ibu Zul datang menghampiri mereka. Teman-teman Zul satu persatu menyalami tangan ibu.
"Waaah, ada yang cantik-cantik juga nih, dua!" kata Ibu Zul.
"Tiga bu, sama Syahrul!" timpal Aloy membuat suasana riuh. Ibu senyum-senyum saja melihatnya.
"Selamat yaaa, kalian semua akhirnya lulus SMU. Moga semuanya jadi orang sukses!"doa Ibu.
"Aamiin......!" mereka kompak menjawab.
"Ayo, makan dulu semua! Ibu udah masakin ayam geprek sama balado udang lho! Suka ga?"
"Waaaah, suka pake banget buuu!! Hehehe, kita selalu ngerepotin ya, kalo main kemari!"
"Engga' koq.... Ibu malah senang bisa kenal kalian semua. Kalian anak baik-baik semuanya!"
Putri tersenyum. Ia memperhatikan Zul diam-diam. Zul sepertinya anak kesayangan. Rumahnya besar, anak tunggal pula. Ia bersyukur jadi pacar Zul.
Mereka lalu mengobrol dikamar Zul. Dibalkon sudah tersedia meja penuh camilan dan minuman. Ibu memang selalu sigap jika akan ada tamu, terutama teman-teman Zul.
"Nyokap lu is the best Zul!" ujar Sri dengan jempol diangkat.
"Maklum, mantan EO. hehehehe!"
Meja billiard, kartu UNO, sampai monopoli tersedia dikamar Zul. Kartu UNO jadi pilihan mereka bermain.
Zul terhuyung merasakan kepalanya seperti dipukul palu. Berat dan sakit. Pera' yang melihat Zul terlebih dahulu spontan menangkap Zul yang nyaris terjelembab jatuh.
"Aargh!!!" Zul merintih menahan sakit. Ia berusaha keras untuk tidak teriak. Aloy langsung sigap turun memanggil ibu.
Putri membatu melihat Zul yang meringkuk kesakitan. Ia melihat lagi Zul yang lemah. Ia memegang tangan Sri erat-erat.
"Ga pa pa, Zul!.... Tarik nafas, jangan panik. Istighfar sayang, yaa... Ini minum dulu obatnya,"ibu membantu Zul penuh perhatian. Airmata Zul meleleh menahan sakit dan malu.
__ADS_1
Ada Putri disini. Ia kembali memperlihatkan kelemahannya.
Zul teriak. Ia sangat menyesali kenapa penyakit ini menyerangnya terus menerus. Putri dan yang lain terkejut melihat Zul. Zul seperti hilang akal. Tubuhnya kejang-kejang hingga mengacaukan kartu-kartu dan gelas yang berserakan dilantai kamar.
Ibu meraihnya. Membisikkannya sholawat nabi.
"Mba Suuuuur...! Tolong mba'," teriak ibu keras. Tak lama datang mba' Sur dengan tangan membawa kotak obat. Ibu segera membukanya lalu mengambil satu suntikan. Dengan cekatan Ibu memegang tangan Zul.
"Aloy, Ilham....tolong bantu ibu pegang Zul yang kuat supaya ga berontak!"
Mereka melihat Zul terkapar lemas setelah disuntik ibu. Hening tak ada suara. Putri yang gemetaran masih tak percaya melihat kondisi Zul saat ini. Pikirannya langsung menyangka, apakah Zul pengguna narkoba?
"Zul bukan pemakai! Zul terkena penyakit amnesia retrograde ketika berumur 8 tahun. Dokter bilang, ini adalah rangkaian efek dari penyakit itu. Zul seperti ini baru 2 bulan saja. Memang seperti orang sakau. Tapi Zul bukan pemakai narkoba!" ibu berkata seperti bisa membaca jalan fikiran Putri juga yang lainnya.
"Ibu mohon, tolong dukung Zul! Zul saat ini sedang tahap pengobatan. Ibu mohon, kalian tidak jijik melihat Zul saat ini ya! Tolong tetap berteman dengan Zul. Zul bahagia sekali terlihat jika bersama kalian!" ibu Zul terisak membuat Putri berinisiatif mengusap tangan jemari ibu.
"Kami selalu dukung Zul, bu! Moga Zul cepat sembuh," tutur Putri.
"Makasih semuanya!" ibu mengusap airmatanya. Mengangkat tubuh Zul yang terkulai lemas tak sadarkan diri. Hatinya gamang, sampai kapan putra semata wayangnya ini merasakan kesakitan seperti ini. Andai ia bisa meminta, biar ia saja yang menggantikan putra kesayangannya itu dari sakitnya.
Teman-teman Zul membantu ibu membawa Zul keatas tempat tidurnya.
"Biasanya Zul akan tertidur lama sampai 3-4 jam setelah ini. Mungkin karena pengaruh obat. Kalian masih mau menunggu?" tanya ibu.
"Kayaknya kita pamit aja, bu! Maaf, jadi bikin repot ibu."
"Engga'... ibu yang minta maaf, Zul juga pasti ga kepingin kalian tau penyakitnya kalau lagi kambuh. Tapi kalian malah jadi susah dan sedih," tutur ibu Zul.
"Kami izin pulang. Terimakasih jamuannya, bu!"
"Sama-sama."
Satu persatu mereka keluar kamar Zul. Tanpa canda dan gelak tawa seperti biasa. Mereka sibuk dengan fikiran masing-masing.
Putri dan Sri masih berpegangan tangan. Diam tak berani berkomentar. Terlebih Putri. Ia semula ragu akan kelanjutan cintanya, tapi berbalik kasihan setelah mendengar permintaan ibu Zul. Pasti mereka sedih juga bingung menghadapi penyakit Zul yang namanya saja aneh dan baru ia dengar.
Hhhh..... !!Gaess..., bagaimana dengan Zul? Cerita selanjutnya ditunggu aja yaaa.... makasiiiih!
__ADS_1