ISTRI MASA KECIL

ISTRI MASA KECIL
KABAR BERITA TERKINI


__ADS_3

Akis masih berbaring dikasur padahal jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi ini.


Zul yang sudah mandi sejak tadi berusaha membangunkan Akis dengan kecupan kecil dibibirnya.


"Banguun yaaang.... katanya hari ini ada workshop ditempat kursus. Udah dirapiin blum, apa yang mau dibawa?" suara Zul berbisik ditelinga Akis.


"Yaaang.... kepala aku pusing banget niiih!" ucap Akis agak parau. Sontak Zul kaget. Dirabanya dahi istrinya dengan cemas. Memang agak hangat. Tapi tidak tinggi.


"Ke dokter yuk?" ajak Zul seraya mengusap-usap rambut Akis.


"Sebenernya udah beberapa hari ini aku ngerasa ga enak badan, yang! Tapi koq makin sini makin ga enak. Perut aku juga ga enak rarasaan. Kayak begah atau kram gitu."


"Koq baru bilang sekarang? Ya udah, hayu ke dokter. Cuci muka dulu, gosok gigi. Mau aku gendong ke kamar mandi?"


"Jalan aja deh yaang.... tapi dipeluk!"


"Ya Allaah, istriku sakit koq jadi manja banget yaaa..... Sini, sini! Duuuuh cayang aku,...jangan lama-lama sakitnya. Ntar aku ga da yang masakin dong!" goda Zul membuat Akis mencubit pinggangnya.


"Aku tetep masak koq, emang badan lemes ga enak dari kemarin. Tapi Akis masih bisa laksanakan kewajiban Akis khan?"


"Itulah hebatnya istri tersayangnya Zulyanda. Udah cantik, pinter masak, pinter jahit.. Waaah, beruntung banget deh akuuu!"


Tiba-tiba Akis mengeluarkan suara seperti akan muntah. Sontak Zul merangkul Akis karena khawatir.


"Salah makan ga kemarin? Jajan apa gitu disekitar tempat kursus?" tanya Zul menyelidik. Ia kuatir Akis keracunan makanan. Karena sekarang ini marak jajanan yang memakai zat kimia tambahan berlebihan.


"Akis ga suka jajan sendirian kecuali bareng Zul!" jawab Akis terlihat lemas. Wajahnya begitu pucat setelah memuntahkan yang padahal hanya sedikit itu.


"Ya udah, ayo kita kerumah sakit sekarang."


Zul menuntun Akis perlahan. Hati-hati sekali ia membawa Akis keluar rumah.


"Bentar ya, Zul kunci pintu dulu! Akis kuat ga, kalo kita naik motor?"


"Naik becak aja deh, yaang! Aku ga kuat sama bau gas knalpotnya."


"Ya udaaah..... Tapi mungkin agak lama nunggunya yang!"


"Ga pa-pa, tapi tolong beliin dulu permen pedes sama minyak kayu putih diwarung bi Otih disebrang ya yaaang!"


"Hehehehe.... Oke! Ga apa ya, aku tinggal..."

__ADS_1


"Jangan lama ya yaaang!"


"Iya."


Zul baru tahu ternyata Akis tergolong manja ketika sakit. Tapi tak apa, walau Zul agak kewalahan...tapi Akis adalah tanggung jawabnya. Apalagi disaat istrinya membutuhkannya seperti saat ini.


Becak yang membawa Zul dan Akis telah tiba didepan klinik dokter umum. Dokter Arini namanya, tertera dipapan reklame didepan halaman rumahnya. Setelah meminta abang becak untuk menunggu mereka, Zul memapah Akis duduk didepan teras klinik.


Seorang wanita paruh baya keluar setelah Zul menekan bel yang tersedia dipintu masuk.


"Oh iya, silahkan!"


Zul mengantar Akis masuk. Ternyata ibu yang tadi keluar itu ibu dokter Arini.


"Kenapa, deeek? Apa yang dirasa?" tanyanya ramah.


"Istri saya kurang enak badan bu dokter. Katanya sudah beberapa hari ini, tapi hari ini lebih terlihat buruk dok!" Zul mengambil alih menjelaskan melihat Akis yang terlihat tidak nyaman dengan menutup hidung dan mulutnya.


"Istri? Aa ini suaminya?" tanya dokter Arini setelah memakaikan Akis alat penensi tekanan darah.


"Iya dok!"


"Okeeey, rileks aja yaaa.... kita cek dulu tekanan darahnya. Mmmmm, oke, tekanan darah bagus 110 per 80. Silahkan neng naik ke ranjang periksa ya!" kata dokter Arini.


"Waaah, kalo boleh tahu kalian menikah sudah berapa lama?"


"Hampir 5 bulan, Dok!"


"Mmmmmh, untuk memastikan....kita test pack yaaa.. !?!" Zul terdiam kurang mengerti maksud pembicaraan dokter Arini.


"Selama ini pakai pengaman kah?"


"Maksudnya, bu dokter?" Zul balik tanya membuat ibu dokter tersenyum mengerti.


"Sepertinya kalian masih sangat muda yaaa..., tapi it's okey...selama kalian mau belajar, pasti bisa yaaa...!"


"Belajar apa dok? Kami udah tamat SMA, sekarang memang ambil kursus." Zul menjawab pertanyaan dokter Arini dengan serius membuat dokter Arini tertawa.


Dokter Arini menunggu Akis yang masuk kamar mandi untuk diambil urinenya. Tak lama Akis keluar dengan urine telah masuk diwadah yang diberikan bu dokter.


"Sebentar yaaa.... Tapi sepertinya siiih, dari tanda-tandanya sudah bisa saya ambil kesimpulan. Tapiiiii.... tunggu hasil test pack yaa..."

__ADS_1


"Istri saya bukan penyakit berat khan dok? Apa harus dirujuk kerumah sakit dok?"


"Sepertinya ga perlu. Cukup istirahat dan makan makanan sehat aja yaaa....! Okeeee, ternyata benar....istri aa' positif hamil. Usia kehamilan 5 minggu. Selamat yaaaa...., kalian akan menjadi orangtua sekitar 8 bulan lagi!"


Zul dan Akis bengong sesaat. Tetapi langsung tertawa senang.


"Kami hamil bu dokter?"


"Bukan aa', tapi istri aa' yang hamil!" jawab bu dokter Arini menggoda Zul.


Zul memeluk Akis hati-hati sekali. Ia seperti mimpi mendengar kabar berita terkini dokter Arini.


"Adek ga harus minum obat. Pusing, mual, lemas itu hanya bagian dari proses kehamilan. Perut seperti kram, begah dan kembung juga salah satunya. Itu normal, ya...! Jangan minum obat. Karena justru obat itu berbahaya untuk pertumbuhan janin. Saya kasih vitamin aja ya! Oiya, masa kehamilan sebelum lewat dari 16 minggu atau 4 bulan, masih fase rawan. Jadi, jangan terlalu capek. Juga tidak boleh banyak fikiran. Tolong untuk calon ayah, mohon diperhatikan yaaa!"


"Siap, bu dokter!"


Zul dan Akis pulang dengan hati senang. Ada calon anak yang kini tumbuh dirahim Akis. Calon anak mereka. Membuat Zul selalu tersenyum memikirkannya.


Akis senang juga. Tapi ia terlihat lemas dan pucat karena rasa yang tidak enak dibadannya.


Zul membimbing Akis kekamar lalu membaringkannya dikasur.


"Sayang mau makan apa? Biar Zul buatin."


"Ga mau makan! Ga enak mulut, takutnya muntah lagi."


"Harus makan, yang! Untuk anak kita ini," bujuk Zul dengan mengusap perut Akis perlahan. Zul mengecup perut Akis. Ia menantikan masa-masa anaknya lahir dan besar nanti.


"Kamu sih enak, aku niih yang harus ngalamin sakit gini!" gerutu Akis langsung disergap jari telunjuk Zul dibibir Akis.


"Ga boleh ngomong gitu, sayaang! Ini masa kamu panen pahala lho! Juga kalo kamu ngejalaninnya ga ikhlas, kasian anak kita. Nanti dia sedih, karena mamanya ternyata ga seneng sama kehadirannya."


"Gitu, ya? Tapi beneran ga enak, yang!"


"Cup cup cup,... sini, papa elus-elus mama yaa! Mana yang ga enaknya yaang?"


"Iniii.... perut juga ga enak banget. Pengen makan sesuatu yang bikin badan seger. Apa gituuuu...!!!"


Zul langsung menepuk dahinya.


"Ngidam yaaa?"

__ADS_1


Akis hanya senyum melihat tingkah suaminya yang menggemaskan itu. Padahal usia kehamilannya masih sangat muda, tapi Zul memperlakukan Akis seperti wanita yang akan melahirkan saja.


Bersambung


__ADS_2