ISTRI MASA KECIL

ISTRI MASA KECIL
KERIBUTAN KECIL 3


__ADS_3

"Yang, bangun yaang....!"


"Mmmmmh...."


"Yang, aku mau jus alpukat ceu salma yaaang!"


Zul menggeliat. Masih setengah sadar karena istrinya terus membangunkannya dari tidur.


Matanya mencoba fokus menatap jam didinding.


"Ini jam berapa yang?"tanya Zul hampir tak percaya. Penglihatannya diperjelas. Sekitar pukul 2 kurang. Akis tak menjawab pertanyaannya.


"Ga bisa tiduur...., pengen jus alpukatnya ceu Salma yang diujung gang itu yang!" Akis mengulangi perkataannya. Zul terbelalak.


"Yang? Ini jam 2 malam yang! Teu eling kamu mah!" Zul agak sedikit kesal. Akis hanya menunduk, menunjukkan raut sedih. Tiba-tiba saja airmatanya mengalir deras diiringi isak tangis.


"Yang?.... Khan aku cuma ngingetin! Jangan nangis gitu dong! Yang, maaf kalo intonasinya agak keras. Tapi ini jam 2 malem yaaaang! Pasti ceu Salma lagi enak tidur. Kalo maksain keketok pasti disangka maling!" Zul berusaha memberi pengertian pada Akis.


Tapi Akis semakin keras menangis. Membuat Zul serba salah. Ia duduk disamping Akis. Berusaha menenangkan istrinya itu.


"Sabar yaaa.... beberapa jam lagi kita ke rumah ceu Salma. Oke, istriku yang cantik jelita?"


Akis membalikkan tubuhnya memunggungi Zul. Tangisnya pecah seperti bocah usia 5 tahun. Makin sesegukan. Membuat Zul khawatir tetangga bangun.


"Yaaang.... sabarlah sedikit, yang! Kasian anak kita kalo mamahnya nangis kejer begini!"


"Aku mau jus alpukat ceu Salma! Sekarang!... Kalo kamu ga mau beliin, aku beli sendiri!"


"Ini jam 2 malem yaaang!!"


"Ceu Salma pasti ngerti, yang! Pasti mau layani ibu hamil. Kamunya aja yang pengedulan pisan, ga mau ngertiin kepingin anaknya!" Akis bangkit dari tempat tidur. Mencari kardigannya lalu memakainya agar tidak kedinginan.


"Akis sayangku! Beneran ini teh, kamu mau ketok pintu ceu Salma jam segini cuma buat beli jus alpukat? Ya Allaah, yaaang!"


Akis tak menghiraukan perkataan Zul. Ia keluar kamar bergegas mengambil kunci pintu depan untuk pergi kewarung ceu Salma yang diujung gang perumahannya.


"Cuma lewat beberapa rumah aja koq, masa ga berani!" gumam Akis dengan wajah marah. Ia kesal karena Zul sama sekali tak punya keinginan menuruti kemauannya.


Zul yang tak tega melihat Akis bergegas sendiri akhirnya mengikuti istrinya dari belakang.


"Harusnya paham. Istri lagi hamil, lagi ngidam. Lumrah koq, suami nurutin maunya istri. Ga pernah denger apa, kalo ga diturutin nanti anaknya lahir jadi ileran! Lagian cuma minta beliin jus alpukat harga 10 ribu doang koq! Gimana kalo istrinya ngidam yang aneh-aneh yang harganya selangit!" gerutu Akis membuat Zul menepuk jidatnya.

__ADS_1


"Bukan ga mau nurutin, yaaaang! Tapi waktunya ini yang ga tepat. Kalo besok pagi, mau minta 10 gelas pun aku beliin yaaang! Apa sih yang engga' buat kamu. Selama aku masih mampu!"


"Tuh khan..... Malah nyepelein keinginan ngidam istri. Itu namanya nyungkun, kalo kata orang Sunda mah! Ga da niat sama sekali malah ngeledek!" Akis terus mendebat perkataan Zul sampai tak sadar mereka sudah didepan warung ceu Salma.


"Ceuuu.... ceceuuuu.... Assalamualaikuuum...!" Akis mengetuk pintu warung ceu Salma yang berdampingan dengan jendela kamar si empunya warung. Tapi ini jam 2 dini hari. Pasti ceu Salma tidur pulas. Akis mengulanginya lagi. Kali ini lebih keras dan lebih semangat.


Zul yang berdiri disamping Akis hanya menggaruk-garuk kepalanya padahal tidak gatal.


"Tuh khan yaang! Pasti ceu Salma lagi tidur pulas. Yuk pulang,... besok pagi kita kemari. Beli nasi uduknya juga yang komplit paket spesial. Ya?!?" ajak Zul pada istrinya itu.


"Ceu Salmaaaa.... Ceceuuuu ... , assalamualaikuum... Ceceuuuu....!" Akis tak menghiraukan ajakan Zul. Lagi-lagi ia mengetuk dengan sabar.


"Iyaaa.... saha eta?" akhirnya ada sahutan dari dalam. Ceu Salma sepertinya terbangun.


Tak lama kemudian pintu gaplok warung ceu Salma terbuka sedikit. Setengah mengintip ceu Salma melihat keluar. Agak takut kalau-kalau itu hanya orang jahat yang ingin menjarah warungnya.


"Akis ceu! Maaf ganggu!"


"Akis???"


"Iya. Maaf, ceu.... tulungan atuuh... Akis kepengen jus alpukat ceceu. Teuing hargana jadi 20 rebu oge!" kata Akis membuat Ceu Salma mengucek-ucek matanya lalu tertawa kecil.


"Ari sugan teh saha...priyogi naon kitu. Hehehehe... Akis, Akis!"


"Da ari nu ngidam mah benteun, aa! Hehehe... keudap nyaa'...diantosan!"


"Muhun ceu,haturnuhun!" jawab Akis senang sekali.


Agak lama mereka menunggu. Suasana sepi tak menyurutkan Akis untuk menunggu jus alpukat buatan ceu Salma.


Akhirnya ceu Salma keluar dengan 2 gelas besar jus alpukat lengkap potongan es batu ditambah susu kental manis rasa coklat.


Air liur Akis terdengar jelas membuat ceu Salma dan Zul tertawa berbarengan.


"Ceceu, maaf nya'? Akis teh meuni kekeuh. Hehehe....!"


"Sawiyos, a.... Atos sakitu cekap neng? Kedap deui eceu oge gugah, tabuh opat... ngaronan uduk."


"Cekap ceceu! Hatur nuhun pisan ceceu tos gugah....ngadamel jus pikeun Akis!" kata Akis. Secara Akis lebih fasih berbicara bahasa Sunda ketimbang Zul yang masih suka mikir lebih lama untuk mengucapkan kalimat dalam bahasa Sunda.


"Teu nanaon neng! Da ari ibu hamil mah biasa kitu, hehehe...upami hoyong nanaon keudah tok torolong!"

__ADS_1


Zul memberi uang 50 ribuan selembar pada ceu Salma.


"Keudap a, wangsulan nana!"


"Ga apa-apa ceu, kami pulang. Haturnuhun pisan ceu. Ngaganggu ceceu sare!"


"Hehehehe...wiyos a. Enjing we...nyandak uduk nyaa'?"


"Ceceu....gelas na dicandak uwih keula' nya'?" kata Akis meminta izin membawa gelas ceu Salma.


"Sok mangga', neng! Iya, teu nanaon!"


Mereka pulang dengan 2 gelas jus alpukat ditangan.


"Awas yaaa....kalo minta!" ancam Akis pada Zul masih menyimpan kesal. Zul hanya tersenyum melihat Akis yang kadang membuatnya senewen.


"Dasar deh kamu! Hehehe....!"


Padahal Akis hanya mampu meminum jus itu satu gelas saja. Gayanya tadi seperti ia sanggup meminum 2 gelas sekaligus.


"Itu satu gelas lagi, yang?"


"Buat kamu deh! Mubazir kalo ga diminum. Kalo buat besok, pasti rasanya udah ga enak. Minum aja yang! Aku bobo' lagi ya!"


"Lah!? Udah? Gitu doang?.. Aku ga dikasih hadiah gitu?"


"Apaan sih? Kamu mah gitu aja pake pamrih, yang! Minta balasan. Dosa tau, kalo berfikir gitu !"


"Yaaa minimal hadiah 'itu' keq,... sun pipi kanan pipi kiri. Diajak nengok sawah keq!"


"Yayang! Kamu mah meuni ku beuki' 'begituan' ih! Maunya 'begituan' melulu! Gimana sih,... khan aku lagi hamil gini yang!" Akis meradang membuat Zul tersenyum meringis. Susah sekali nyambung dengan Akis akhir-akhir ini, bathinnya. Bahkan bercanda pun selalu ditanggapi serius oleh Akis.


"Deuuuuh....kamu yang! Kalo aku ga colak-colek barang sehari kamu ngambek! Kesel, uring-uringan...., su'udzon! Nyangka suaminya punya gebetan lain. Ada wanita lain!... Udah ga sayang lagi. Udah cuek, masa bodoh. Gitu. Iya khan?? Hayo ngaku!" Zul berusaha sabar menggoda Akis.


Dan ternyata berhasil. Akis tertawa malu. Wajahnya memerah.


"Idih? Kapan Akis begitu? Kaga pernah tuh, wew... ngarang bebas ih kamu mah!"


"Hayoooo.....ga ngaku! Tuuuh, si dede diperut juga tau kalo mamahnya cemburuan pisan orangnya. Bentar-bentar ngambek, bentar-bentar marah.... Iya khan?!?!"


"Idih.... sekarang malah jadi provokator ih, ngajak anaknya sekongkol! Daripada mamahnya dirempug, mending bobo' ah!"

__ADS_1


"Tuh khan deee.... Si mamah malu, ya dee!" Zul tertawa. Kembali fokus ke jus alpukat yang memang mantap itu. Tapi meminumnya di jam setengah tiga dini hari, membuat Zul mengerutukkan giginya karena dingin. Kalau tak ia minum sekarang, pasti besok akan dibuang karena rasanya yang jadi tidak enak


Bersambung


__ADS_2