
Zul merasa urat kepalanya seperti ditarik. Nyeri. Ia khawatir sakitnya semakin parah. Zul pun segera pamit pada mamanya Putri.
"Maaf mama Putri, Zul pamit. Makasih, mohon maaf udah bikin berantakan! Assalamualaikum!"
"Zul? Koq buru-buru?" tanya Putri terkejut.
"Aduh Put, maaf.... Zul lupa Ibu minta Zul ambil pakaian bapak dilaundry!" Zul bohong. Hidung dan matanya mengernyit menahan sakit.
"Ya udah, hati-hati ya! Salam sama ibunya Zul!" kata mama Putri ramah.
"Iya, insyaAllah Zul sampaikan! Yuk Putri, Vera, Verina.... Zul pamit. Bye...."
Zul bergegas pergi tergesa-gesa.
Ia tak ingin malu dua kali dihadapan Putri. Bahkan kali ini dirumah Putri.
Zul meringis menahan sakit. Untung saat itu melintas taxi yang langsung ia berhentikan.
"Pak, Perumahan Antar Graha blok A ya! Langsung masuk portal aja!"
Zul telungkup menahan giginya yang mulai gemerutuk. Panas dingin keringatnya bercucuran. Bahkan airmata menetes darimatanya menahan keinginannya untk teriak. Sepertinya nyaris pingsan.
Sakit dikepalanya makin hebat.
"Aaaaaarrrrghhhh.... Bisa lebih cepat Pak?" teriak Zul membuat pak sopir taxi tersontak kaget.
"Iy iya." Matanya memandang Zul dari balik kaca spion depan. Kepalanya menggeleng seraya menghela nafas pelan.
Zul masih telungkup. Dunia kini seperti berputar-putar. Lalu suara-suara ramai orang mengelilingi memorinya. Zul masih memejamkan matanya seraya terisak. Berusaha sekuat tenaga menjaga kesadarannya untuk menahan suara agar tak teriak.
Taxi melesat cepat. Untung jalanan tidak macet, hingga dalam waktu kurang dari setengah jam Zul sampai diperumahannya.
"Lurus terus nomor 15 pak!"
Taxi berhenti tepat digerbang rumahnya. Zul keluar sambil teriak," Ibuuuuuuuuuuu!!!"
Mbak Sur asisten rumah tangganya yang kebetulan tengah membuang sampah tergopoh-gopoh membuka pagar.
"Mas Zul?? Kenapa???"
"Ibuuuuuuuuuuu!!!! Aaaaaaaaaaaarghhh!" Zul berguling-guling kesakitan. Pengemudi taxi itu kaget bukan kepalang. Zul belum membayarnya hingga ia belum beranjak dari tempatnya.
Ibu keluar histeris.
__ADS_1
"Kenapa, Zul??"
Mbak Sur membayar biaya taxi setelah pengemudinya menegur bahwa Zul belum bayar ongkosnya.
Ibu memboyong Zul kedalam rumah. Sementar Zul teriak semakin keras. Meraung-raung melampiaskan rasa sakitnya yang menjadi.
"Zuuuul!" ibu bingung sambil menangis.
Zul terus berteriak sambil mengguncang-guncangkan tubuh dan kepalanya. Nyaris saja ia banting kepalanya ketembok jika Ibu tak segera menangkapnya.
"Istighfar sayang! Zuuuul, istighfar nak! Ingat Allah, Nak!" bisik Ibu berderai airmata.
"Ya Allaah, ada apalagi dengan anakku ya Allah!" gumam Ibu sedih sekali.
Ibu masih berusaha memeluk Zul yang berontak karena sakit.
"Mbak Sur, tolong telepon bapak.... bilang minta saran dokter Reyvan bagaimana cara menangani Zul. Bilang Zul kambuh!"
"Baik, bu!"
Ibu solawatan pelan seraya mengusap kepala Zul. Airmata ibu berjatuhan bercampur keringat Zul yang basah. Tubuh Zul lengket dengan wajah dan rambut tak karuan. Nyaris seperti orang yang tak sadar alias hilang akal.
"Zuuuuul....Zulyanda sayaaaang!! Ingat Allah, nak! Istighfar, sayang!"
Perlahan uratnya mengendur. Nafasnya mulai terkontrol walau masih tak beraturan. Hampir dua jam Zul merasa hilang kontrol karena sakit dikepalanya.
Mata Zul terpejam kelelahan. Perlahan ia teridur. Tapi tak lama ia teriak lagi.
"Toloooooooong!!!!"
"Zul??? Zul? Kenapa Zul?" ibu membangunkan Zul segera. Mbak Sur memberikan segelas air putih hangat ke ibu yang langsung disodorkan ibu ke bibir Zul.
"Minum, nak! Baca bismillah!"
Zul minum perlahan. Ia masih tersontak antara sadar dan tidak.
"Buuu....siapa anak perempuan yang selalu ada dimimpi Zul bu?" kata Zul dengan suara tercekat. Suaranya terdengar serak. Mungkin karena habis teriak-teriak tadi.
"Anak perempuan???"
"Iya."
Ibu diam berfikir kebingungan.
__ADS_1
"Zul udah dua kali mimpi kayak gitu. Setiap kali sakit kepala pasti anak itu datang kemimpi Zul bu!!"
Ibu terdiam. Entah bingung entah mengetahui jawabannya. Tapi bibir ibu terkatup rapat dengan mata menatap anak kesayangannya dengan iba.
"Itu mungkin hanyalah mimpi biasa Zul! Yuk, ganti bajumu. Basah semua nii..., bisa masuk angin nanti Zul!" ibu menuntun Zul ketempat tidurnya. Membuka pakaian Zul lalu menggantinya. Zul yang masih kelelahan menurut saja. Ibu membaringkan Zul. Menutupnya dengan selimut tipis sambil mengusap-usap rambut kepala Zul.
"Akhir-akhir ini kamu terlalu sibuk ya, sampe lupa ibadah. Sholatlah, Nak! Kalau kamu capek, istirahat. Jangan terlalu banyak fikiran Zul!" nasehat Ibu.
"Zul ga sibuk justru akhir-akhir ini, bu! Disekolah udah bebas, ga belajar. Udah kelulusan juga. Malah minggu depan pelepasan siswa. Ibu tau khan?! Tapi emang Zul sekarang jarang sholat!"
"Itulah. Kamu jauhin Allah, padahal Allah selalu dekat denganmu. Bahkan lebih dekat dari urat nadi kita," kata ibu membuat Zul diam. Iya. Iya sadari itu. Ia terlalu asyik dengan kehidupannya. Bahkan suara adzan selalu ia abaikan. Ia lupakan sholat. Malas ke masjid. Ditambah lagi ayah yang makin sibuk sering pulang malam tak lagi mengajaknya sholat Maghrib dan Isya di masjid depan kompleks rumahnya.
Dulu seingat Zul, ketika ia masih SMP, ayahnya rajin mengajaknya sholat berjamaah dimesjid. Kini hampir setahun ayah selalu melewatkan itu. Kalaupun ayah pulang cepat, ia lebih memilih sholat dirumah ketimbang ke mesjid.
Ibu seperti bisa melihat jalan fikiran Zul.
"Zul sekarang udah dewasa. Ga harus selalu ikuti langkah ayah. Zul bisa sendiri, pergi ke mesjid. Ikut kajian pemuda-pemudi masjid.... Selama ini Zul lebih banyak disekolah, kadang main sampai maghrib baru pulang. Masuk kamar tenggelam sama hape, game online. Iya khan???!"
"Iya. Ibu bener!"
"Sebentar lagi Zul jadi mahasiswa. Ayah udah daftarin Zul secara online dikampus yang Zul pingin. Maka dari itu, Zul juga harus bisa menjadi pribadi yang kuat. Berpendirian. Zul khan pingin punya usaha bengkel sendiri!... Zul tau ga? Ayah sekarang kerja keras untuk Zul. Ayah ingin mewujudkan cita-cita Zul. Ayah sekarang sedang menabung, Zul!" Zul terkesima mendengar penuturan ibu.
Zul memang akhir-akhir ini sedikit kecewa dengan ayah. Dengan kesibukan ayah. Mereka nyaris jarang berkumpul sekalipun dihari libur. Ayah jarang bercanda dengannya sekarang. Padahal ayah tengah menyiapkan masa depannya dengan tujuan mengabulkan cita-citanya.
Zul menunduk. Airmatanya jatuh tak tertahan. Dipeluknya ibu yang akhir-akhir ini terlihat lebih ramping karena mengkhawatirkan Zul. Selama ini fikirannya hanyalah kesedihan hatinya melihat orangtuanya yang selalu sibuk dan sibuk. Tanpa ia sadari, bahwa ayah dan ibu berusaha keras membahagiakannya. Selama ini Zul hanya berfikir sudah selayaknyalah ayah ibu menyayanginya. Memberinya kehidupan yang layak karena itulah kewajiban orangtua. Padahal dibalik semua itu, ayah melewatkan banyak hal. Mengorbankan banyak hal. Mungkin juga kesehatan dan kehidupannya sendiri.
Ibu mengusap punggung Zul. Ia mengerti bahwa anak semata wayangnya adalah anak baik. Karena Zul selalu menurut padanya sedari kecil.
Zul sesegukan mengusap airmatanya. Ia merasakan betapa kasih sayang ayah dan ibu teramat besar padanya. Ia kembali ingat kalau Aloy selalu meledeknya "anak mami". Memang! Zul menyadari kedekatannya dengan Ibu. Bahkan segala sesuatunya selalu
ibu yang menyiapkan. Untuk sekolah, bahkan ketika hendak kemping pun Ibu yang mengurus keperluannya.
Andai sakit kepala ini terus berlanjut, Zul merasa akan semakin membebankan ayah dan ibu. Zul kembali menangis.
Disaat seperti ini, ayah menelpon hape ibu. Ayah begitu khawatir keadaan Zul sampai disela kesibukannya sampai menelpon ibu menanyakan keadaan Zul.
"Ibu, boleh Zul ngomong sama ayah?"
Ibunya menyodorkan handphonenya pada Zul.
"Ayah... . Zul sekarang ga apa-apa. Zul udah baikan. Maafin Zul, ayah! Zul selalu nyusahin ayah juga ibu. Zul janji ayah, Zul akan selalu nurut ayah ibu," kata Zul sembali menangis sesegukan. Ibu ikut menangis terharu. Ternyata Zul semakin dewasa dan mengerti situasi orangtuanya.
Tunggu cerita selanjutnya ya gaess.. Terimakasih, kalian luar biasa!!
__ADS_1