
"Gue bilang,.... kalo abis nikah harus ada malam pertama!"
Zul tersentak. Wajahnya pias.
"Lu gila ya bang,....lu ngajarin begituan sama anak kecil umur 8 taun!!! ******* lu!!!"
"Gue belom selesai ngomong kali' Zul!" Firman menolak tuduhan Zul yang tanpa tedeng aling-aling itu.
"Ya elu bikin gue senewen bang!"
".... Emang salah gue! Gue cuma becanda. Kita juga hias dipan bambu dikebun bapanya Akis seperti ranjang pengantin. Pake bunga-bunga."
"A a apa gue buat kesalahan fatal?" Zul tergagap. Seolah ia bisa merasakan kalau dirinya telah jahat pada Akis.
Firman diam tak berani meneruskan. Zul mengambil gelas yang masih berada ditangan Firman. Setengah airnya diteguknya habis guna menghilangkan kegugupannya.
"Waktu itu, Akis membuka celana dalamnya,"
"Udah, udah. Jangan diterusin!!! Intinya gue bersalah besar. Gue dosa!!"Zul menutup wajahnya kesal. Hatinya sakit mengetahui kebobrokannya.
"Lu dengerin dulu sampe gue selesai, Zul! Jangan denger cerita setengah-setengah!!"
Zul jongkok dipojokan dengan tangan menutup muka. Malu pada dirinya sendiri.
"Lu ga nyentuh Akis sama sekali!! Itu cuma kebetulan dicelana dalam Akis ada darah, Zul!"
__ADS_1
Zul mendongak kewajah Firman. Berusaha mencari kebenaran.
"Terus kenapa Akis berdarah??"
"Itu ternyata hari pertama Akis datang bulan."
"Masa' anak umur 8 tahun udah datang bulan??"Zul memastikan ucapan Firman.
"Mana gue tau? Siklus menstruasi awal seorang wanita beda-beda. Lu emang ga belajar Biologi waktu sekolah?" jawab Firman keras. Ia kesal sekaligus geli melihat Zul yang terlihat rapuh karena rasa bersalah.
"Tapi justru itu, lu, Akis, termasuk gue sama yang lain kaget. Lu teriak minta tolong! Pas kebetulan ada kakak-kakaknya Akis, Ali sama Arif. Mereka marah tau adiknya berdarah. Kita semua dipukul termasuk elu Zul yang lari ketakutan, tapi terus dikejar, dipukul sampe jatuh tergelincir ke jurang bukit." Zul terdiam. Bibirnya kelu. Seperti kaset yang diputar ulang. Terlintas semua diingatannya.
"Akis teriak-teriak. Kalau ia ga ada yang nyakitin. Tapi semua terlanjur. Elu meluncur bebas kebawah bukit. Kita semua sampe disidang dikantor kelurahan. Ayah gue sama bapaknya Akis baku hantam ribut saling debat. Sementara elu sama sekali ga sadarkan diri dengan kepala bocor parah sampe harus operasi. Lu koma sampe sebulan. Sampe pindah rumah sakit Jakarta. Sejak kejadian itu, keluarga lu pindah ke Jakarta. Ga pernah lagi menginjak Pandeglang."
Zul menarik nafas panjang. Sepanjang itu memorinya hilang. Ternyata itulah awal sebab musabab ia amnesia retrograde.
Zul menghela nafas sedikit lega. Ia tak sanggup membayangkan dirinya yang waktu itu masih 8 tahun, tapi sudah bisa berbuat tak senonoh pada anak perempuan seumurannya.
"Sekarang kabar Akis gimana, bang?" tanya Zul ingin tahu.
"Akis sekolah seangkatan lu, Zul! Lulus tahun ini, walaupun sepertinya beban psikis terus menghantuinya. Dia berubah 180 derajat. Akis ga pernah bicara. Bahkan disekolah. Ada yang bilang, Akis jadi bisu sejak teriak-teriak waktu kejadian itu. Ia cuma menjawab pake bahasa isyarat. Nilai sekolahnya juga pas-pasan. Mungkin kalau ia bukan anak orang berada, kemungkinan Akis bisa putus sekolah. Tapi bapaknya mengkatrolnya disekolahnya karena faktor jabatan."
"Lu suka ngobrol sama Akis?"
"Hahaha,.... boro-boro, Zul! Akis ga pernah ada dirumahnya. Ia pindah dirumah neneknya di Dukuh Atas. beda desa dengan tempat kita dulu. Makanya gue jarang banget ketemu Akis."
__ADS_1
"Tapi keluarganya masih dikampung kita khan?" tanya Zul lagi.
"Iya. Bapaknya sekarang kadus ditempat kita. Bukan Lurah lagi..... Tapiiii, ngomong-ngomong lu udah inget semua Zul???" Firman balik tanya. Ia kaget melihat Zul bisa menanyakan semua seolah mengingat masa-masa dulu.
"Ada sebagian yang ingat. Tapi lupa wajah orang-orang itu termasuk Akis."
"Jangan terlalu keras mengingat, Zul!!!"
Zul dan Firman sontak kaget. Ibu Zul ternyata sudah ada dikamarnya Zul.
"Maaf, anti!!! Firman udah cerita semua ke Zul," tutur Firman pelan. Kepalanya menunduk.
"Serapat apapun kami menutup, suatu saat Zul pasti akan tahu. Anti ga marah koq, cuma anti dan om pingin ngelindungi Zul aja. Bukan bermaksud membohongi Zul. Karena kata dokter, segala hal traumatik masa lalunya bisa membahayakan nyawa Zul. Makanya kami hanya diam. Zul juga dulu sama sekali ga pernah menanyakan apalagi membahas masa lalunya itu." terang ibu lembut. Tangannya mengelus-elus bahu Zul. Seperti berusaha menenangkan Zul dengan caranya. Zul hanya terdiam tak menjawab. Ia tak marah pada ayah ibunya. Ia hanya bingung saja.
"Tapi sejak memori puzzle ingatannya mulai tersusun perlahan seiring sakit kepalanya, Zul sering menanyakan itu pada ibu. Ibu bingung mulai darimana ceritanya. Untuk itu, anti berterima kasih Firman sudah menceritakan semuanya dengan sangat baik. Anti sendiri ga akan bisa menceritakan kisah sedih itu pada Zul dengan benar." Ibu Zul tersenyum membuat Firman merasa lebih baik.
"Zul beda umur 3 bulan saja dengan Akis. Sebenarnya, ibu sama ibunya Akis berteman sangat baik. Ayah dipindahtugaskan di Pandeglang jauh sebelum papa Firman juga pindah disana. Makanya, awal-awal ibu jadi warga sana, ibu akrab dengan ibunya Akis. Selain tetangga dekat, kami hamil hampir bersamaan. Jadilah ibu dan ibunya Akis semakin dekat. Ngobrol, curhat, bahkan periksa kandungan kebidan selalu sama-sama. Kamu lahir 3 bulan lebih dulu dari Akis. Kalian lahir dirumah bersalin yang sama, diurus bidan yang sama. Jadi kalian tumbuh besar bersama, Zul! Itulah, kenapa selalu ada Zul didekat Akis. Karena memang kalian dekat satu sama lain. Hingga kami lupa,...hingga kami abaikan kalau kalian tumbuh dewasa bermain lebih dari yang kami bayangkan."
"Ibu salahkan bang Firman!!! Dia biang keroknya!!" tunjuk Zul kesalnya datang lagi pada Firman.
"Firman sudah dapat hukumannya,Zul! Ibu rasa, Firman lebih menyesal daripada ibu." Firman menundukkan kepalanya lebih dalam. Sungguh benar ucapan ibunya Zul. Ia merasa tersiksa karena papanya tidak lagi mempedulikannya.
"Sudahlah!! Masa itu sudah berlalu. Tidurlah! Ini sudah jam 11 malam,Nak! Ibu kemari cuma pastikan Zul untuk minum obat. Sudah?"
"Belum," Zul tersenyum. Ia bergegas mengambil obatnya lalu minum dengan segera.
__ADS_1
"Ibu ingin Zul sehat lagi. Bisa main lagi seperti dulu. Ikut banyak kegiatan yang positif. Beberapa bulan ini ibu sedih, Zul cuma berkeliaran dirumah. Ga bisa kemana-mana karena takut kambuh. Makanya Zul harus nurut kata dokter Reyvan. Minum obat tepat waktu!" ibu ceramahi Zul. Zul memeluk ibunya erat. Ia memang sudah biasa melakukan itu walaupun sudah dewasa. Firman meledeknya dengan menyebutnya, "bayi ibu". Tapi Zul tak peduli. Ia justru makin manja pada ibunya membuat Firman iri hingga masuk kedalam selimutnya pura-pura tidur.
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Jangan bosan yaaaa dengan novelQ ini.... Terima kasih gaeees...