
"Kami antar kalian ke Jakarta. Ga perlu naek bis. A Arif sudah ambil cuti hari ini. Jadi bisa bawa kita ke Jakarta!" kata abah membuat Akis memekik kegirangan. Zul hanya senyum kecil melihat pengorbanan mertua dan kakak iparnya. Mereka kini benar-benar mendukung Zul dan Akis.
Setelah menelfon ibu mengabarkan bahwa mereka akan tiba di Jakarta sore nanti dengan diantar abah dan umi Akis, Zul dan Akis membereskan barang-barang yang akan mereka bawa.
Akis lebih bercahaya karena bahagia. Zul juga merasa bahagia melihat istrinya begitu bahagia. Akis cantik sekali dengan gaun warna merah marun yang membuat kulitnya putih bersih berseri. Zul bangga bisa memiliki Akis yang kecantikannya diatas rata-rata. Ia bertekad untuk membuat Akis lebih bahagia. Ia ingin membuat berat badan Akis bertambah, pasti membuat Akis lebih berisi dan seksi. Zul tertawa dalam hati mendapatkan dirinya yang jadi mesum memikirkan tubuh Akis.
Mereka berangkat ke Jakarta setelah semua dirasa sudah beres. Zul berpamitan dulu dengan ibu Frida dan Vera. Titip salam tak lupa ia sampaikan untuk pak Mansyur dan Firman. Zul dan Akis juga pamit dengan tetangga sekitar, meminta doa restu untuk kebahagiaan rumah tangganya yang baru mereka mulai. Zul terlihat semakin dewasa. Membuat abah Akis tersenyum bangga dengan menantu bungsunya itu.
Jakarta sore itu begitu cerah seakan ikut senang menyambut pasangan suami istri itu. Ibu dan ayah menyambut mereka dengan suka cita. Banyak makanan dan juga minuman terhidang dimeja-meja.
Akis dan keluarganya nampak terkesima mendapatkan penerimaan yang baik. Mereka tak menyangka kalau keluarga Zul kini telah menjadi keluarga yang mapan terlihat dari rumah dan juga pernak-perniknya.
Mereka makan bersama sembari bercerita dan bercanda ringan. Akhirnya kedua keluarga yang dulu pernah bermusuhan kini bisa bersama-sama melupakan semua peristiwa buruk dimasa lalu.
Zul tak henti menebar senyum dan tawa. Membuat Akis selalu berdebar melihatnya. Zul memang memiliki senyum yang manis dan tawanya renyah memikat hatinya. Sesekali Akis ikut tertawa kecil seraya menunduk. Malu juga ia jikalau keluarganya dan keluarga Zul melihatnya yang tengah memperhatikan Zul.
"Sebenarnya kita pingin berlama-lama disini, mas! Tapi apadaya....kerjaan besok gak bisa ditunda. Mungkin lain kali kami sowan lagi kemari," kata abah Akis ketika ayah Zul mencoba menawarkan mereka untuk menginap semalam saja.
"Iya, pak.... Saya dan ibunya Zul pasti senang sekali kalau bapak dan ibu sering main ke sini. Walaupun nanti anak-anak kita sudah pindak ke Bandung."
"Iya ya... Yang pasti kita harus dukung anak-anak kita untuk masa depannya."
"Itu udah pasti, hehehe....!"
"Kami pamit ya mas, dek.... Mohon maaf sebelumnya kalo Akis akan merepotkan kalian. Saya percaya, Akis bisa banyak belajar dari keluarga ini. Mohon bimbingannya untuk anak bungsu saya!"
Mereka pamitan pulang. Umi memeluk Akis agak lama. Dibisikkannya kalimat nasehat untuk Akis.
"Jadilah istri yang menyenangkan suami dan mertua ya, neng! InsyaAllah, kebahagiaan akan selalu menaungi kalian."
"Aamiin......," Zul dan Akis mengamini berbarengan.
__ADS_1
"Umi titip Akis ya, nak Zul! Yang sabar ya, kalo Akis lambat belajar sebagai istri," umi juga menitipkan Akis pada Zul.
"Iya umi! Mohon doanya selalu buat kami ya!"
Abah merangkul Zul. Mengalunkan surat Al-Fatihah untuk mereka. Mendoakan kebahagiaan selalu untuk mereka. Perpisahan ini berurai airmata.
"Pandeglang-Jakarta ga terlalu jauh, kalau umi abah kangen, bisa sering-sering nengok kami sebelum kami pindah ke Bandung!" kata Zul membuat mereka tertawa.
Merekapun kembali ke Pandeglang diiringi sorot mata Akis yang terus memandang hingga kendaraan mereka melaju keluar gerbang.
Ibu memeluk Akis, mengajaknya masuk dengan senyuman. Akis senang, mendapatkan mertua yang perhatian padanya. Ayah dan Zul mengikuti mereka dari belakang.
"Besok kamu ada janji temu dengan dokter Reyvan ya!" ayah mengingatkan.
"Iya ayah."
"Akis jangan lupa, sebelum tidur minum pil yang ibu titip tempo hari ke umi. Jangan sampe kelewat yaa...," bisik ibu membuat Akis mengingat kotak kecil lusa pagi yang umi berikan.
Zul memeluk ibu seraya berkata," Ibuuu..... Akis jangan digodain mulu napa! Itu tugas Zul, bu!"
"Apa sih? Koq masih kayak bocah didepan istrimu!? Hihihi...."
"Bu, jangan ngomong gitu ke Akis. Akis belum cukup umur, belum ngerti!" bisik Zul dibalas tepukan ayah dipunggungnya. Mereka tertawa sedang Akis hanya tersipu malu.
"Bu.... Zul ajak Akis jalan dulu ya?" Zul minta izin.
"Mau kemana? Kalian emang ga capek?" tanya ayah.
"Ayaah, justru kalo kita cuma duduk-duduk dikamar bahaya! Ibu bisa-bisa pusing tujuh keliling," bisik Zul lagi, kali ini ibu yang menepuk punggung Zul pelan.
"Yok istriku!... Kita liat kota Jakarta dimalam hari!"
__ADS_1
Ayah dan ibu hanya tersenyum melihat anak kesayangannya itu pergi menggandeng istrinya keluar. Sudah lama sekali mereka tak melihat Zul bersinar seperti itu.
Zul menuntun Akis keluar kompleks. Menunggu taxi yang biasa lewat didepan. Tak lama mereka akhirnya mendapatkan taxi kosong dan meluncur kesebuah mall ditengah kota.
Akis begitu terpukau melihat pemandangan Jakarta. Walaupun malam telah beranjak, Jakarta justru semakin memperlihatkan pesonanya. Lampu warna-warni terang benderang dengan berbagai macam toko berhias menarik minat penikmat Jakarta untuk masuk membeli barang dagangan mereka.
"Ini Pasar Baru. Kalo malem minggu, suasananya lebih rame lagi. Inget, istriku! Jangan lepas genggaman tangan suamimu yaa..., kecuali kamu mau jadi anak ilang!"
Akis mempererat pegangan tangan Zul. Tak terbayangkan jika ia kehilangan Zul ditempat ini. Akis menggeleng-gelengkan kepalanya membuat Zul tertawa. Istrinya itu beneran polos banget, gumam hati Zul gemas.
Mereka berjalan berpegangan melihat-lihat kiri kanan. Toko-toko terang benderang dan berwarna-warni. Akis sangat menikmati pemandangan itu.
Tiba-tiba seseorang berdiri mematung dihadapan mereka. Matanya terbelalak dengan kerongkongan tercekat.
"Zul?"
Zul menatap wajah itu.
"Putri?"
Putri melihat tangan Zul menggenggam tangan seorang gadis cantik. Benar-benar gadis yang cantik. Bertubuh ramping dengan wajah kearab-araban. Kulitnya juga putih bersih membuat Putri menarik nafas. Pantas saja Zul memutuskan hubungannya tanpa sebab dengan Putri. Pasti karena perempuan ini. Putri yakin, hubungan keduanya pasti lebih intim, karena terlihat wajah sumringqh keduanya yang selalu tersenyum dengan tangan saling berpegangan mesra. Bahkan Putri saja belum pernah merasakan kedekatan seperti itu ketika bersama Zul walaupun mereka pernah berciuman bibir sangat mesra.
"Mmmh...Putri kerja disini?"
"Siapa perempuan ini, Zul?" Putri tak menjawab pertanyaan Zul tetapi balik bertanya.
"Oya, ini Akis...Kenalin, ini Putri!" Mereka berjabat tangan. Senyum Akis sama sekali tak dibalas Putri.
"Apa hubungannya dengan Zul?"
"Akis ini istrinya Zul, Put!" terang Zul dengan suara jelas. Zul sudah menduga sejak tadi kalau Putri terbakar api cemburu. Tapi toh hubungan mereka memang sudah lama usai. Jadi Zul tidak menyakiti hati Putri sebenarnya.
__ADS_1
Putri terbelalak lagi. Ia tertawa tak percaya. Ia tahu Zul suka bercanda. Tapi kali ini ia sama sekali tidak suka candaan Zul.
Akankah boom ini meledakkan Putri, Zul dan Akis? Tunggu terus kelanjutannya ya...