
Zul begitu gugup ketika Akis mulai mencium jemari tangannya lalu memeluknya.
"Doain aku ya yang! Aku mau melahirkan anak-anak kita beberapa menit lagi. Ingat pesan aku, jangan kabari umi abah maupun ayah ibu sampe proses persalinan selesai. Sampe aku udah sadar. Setelah itu, baru kita vc mereka. Ya?!?"
Zul memeluk istrinya. Mengangguk pasti. Ia mengecup kening, pipi dan bibir Akis tanda selalu siap mendampinginya. Sayang, karena beberapa hal....Zul tak diperbolehkan ikut masuk ruang operasi.
Zul hanya meniupkan kalimat Al-Fatihah diubun-ubun Akis ketika mulai berbaring diranjang dorong rumah sakit untuk dibawa keruang operasi.
Dua orang suster hanya tersipu melihat calon ibu dan ayah muda itu terlihat mesra.
"Tenang aja, mas! Mba'nya kuat koq, pasti semua akan berjalan lancar. Hehehe....!"
"Terima kasih suster, atas bantuannya pada istri saya!" Zul agak malu setelah digoda seorang suster. Ini adalah pengalamannya yang luar biasa membuat jantungnya berdebar lebih keras bahkan ketika ia naik roller coster ditaman hiburan atau ketika dirinya ada dipuncak gunung dengan jurang kanan kiri.
Akis didorong masuk kedalam ruang operasi. Dan Zul semakin merasa tidak karuan. Andai ia tak ingat pesan Akis, pasti ia sudah menghubungi ibu atau umi guna mengurangi rasa gugupnya.
Zul tak bisa diam. Kadang berdiri didepan pintu ruang operasi, kadang duduk dikursi yang memang disediakan untuk keluarga pasien yang menunggu. Kadang berjalan hilir mudik. Ketika terdengar suara tangis bayi, Zul langsung berdiri. Mendongak dan mengucapkan doa keselamatan untuk istri dan dua anaknya itu.
Ketika seorang suster keluar dengan mendorong kereta bayi, Zul langsung bergegas menghampirinya.
"Ini bayi nyonya Akis ya sus?"
"Bukan, mas! Masih ada satu pasien lagi. Nyonya Akis dijadwalkan yang terakhir." Jawaban suster perawat membuat Zul kembali tegang.
Zul kembali duduk dikursi. Menengok jam di handphonenya. Ia terlihat semakin gugup. Keringat dingin mengucur didahi dan lehernya. Untuk menguatkan Akis, Zul berusaha melafadkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dalam hatinya.
Menunggu adalah hal yang paling menyebalkan. Tapi kali ini Zul menunggu dengan penuh kesabaran. Ia bersyukur, karena momen ini hanya akan berlangsung sesaat saja. Pikirnya Akis lebih susah karena harus menunggu kelahiran bayi-bayi mereka dengan waktu lebih dari 9 bulan. Dengan mengalami sakit ngidam, beban berat terus bertambah setiap bulannya.
Zul meneteskan airmatanya mengingat pengorbanan Akis. Ia akhirnya menyadari betapa ibunya dulu pun mengalami masa seperti Akis ketika mengandung hingga melahirkannya. Zul tersedu sendiri. Ia mengerti mengapa Nabi Besar Muhammad SAW begitu menyanjung ibu, bahkan tiga kali lebih tinggi dibanding ayah. Itu karena pengorbanannya yang luar biasa.
Hampir 5 jam Akis didalam ruang operasi. Ternyata jadwal operasi caesar dokter bedah Vivi hari ini ada 3 orang termasuk Akis. Dan Akis dijadwalkan sebagai pasien yang paling akhir dioperasi hari ini. Itu sebabnya waktu tunggunya lebih lama.
__ADS_1
Akis berusaha tenang. Karena didalam ruangan itu terdengar suara musik yang ringan dan menyenangkan. Akis memikirkan Zul yang pasti terlihat gugup diruang tunggu. Ia mengusap pelan perut besarnya. Tersenyum dan meyakinkan semua akan baik-baik saja.
Zul tersenyum lega ketika suster membawa kereta bayi berisi dua bayi mungil dan manis.
"Keluarga nyonya Akis Pratiwi!"
"Iya suster!"
"Bayinya sepasang. Sehat, lengkap, dan pas juga berat badannya. Bapak siap mengadzaninya? Setelah ini kami hangatkan dulu di inkubator ya, pak!" Zul mengambil putranya, menatapnya dengan lelehan airmata. Tampan sekali buah cintanya dengan Akis ini. Pipinya bersemu merah menunggu lantunan adzannya. Zul memulai adzan dengan suara bergetar ditelinga kanan. Lalu ikomat ditelinga sebelah kiri.
Putrinya menunggu giliran dengan menatapnya imut. Ah, mata cantiknya kepunyaan Akis. Zul tertawa masih dengan lelehan airmata dipipi. Berganti mengangkat putrinya lalu mengadzaninya dan komad juga. Zul merasa ada kupu-kupu dan bunga bermekaran dihatinya. Ia begitu bahagia.
"Alhamdulillaah..... Istri saya bagaimana suster?"
"Ibunya juga sehat. Cuma saat ini sedang menjalani masa observasi pasca operasi."
"Oh, begitu ya sus! Terima kasih!"
"Maaf ya pak! Bapak tidak diperkenankan masuk ruang bayi. Bapak bisa lihat diluar saja." Zul menuruti kata-kata Suster itu. Memandang bayi-bayi mereka dengan penuh takjub dan perasaan bahagia.
Zul kembali keruang operasi. Menunggu Akis hingga keluar dari ruangan itu.
Akis menatapnya dengan senyum kebahagiaan. Kelelahan yang tergambar jelas diwajahnya terhalang senyum cantik Akis membuat Zul tak tahan untuk menciumnya.
"Kamu hebat, yang! Kamu wanita super, kamu istriku yang paling perkasa. Anak kita dua-duanya sehat, yang. Mirip kita berdua!" kata Zul menciumi jemari Akis dengan mata berlinang.
Akis sudah dipindahkan keruang inap bersama 2 orang pasien lain. Akis tertawa pelan sambil menempelkan jari telunjuknya kebibirnya mengingatkan Zul yang terlihat begitu bahagia hingga nyaris lepas kontrol tak mampu menahan tangisnya.
"Anak kita sepasang, yang!" bisik Akis ditelinga Zul.
"Iya. Ganteng kayak aku, juga cantik kayak kamu!" Zul mencium pipi Akis lagi.
__ADS_1
"Istirahat yang! Aku nungguin kamu disini sampe suster bawa bayi-bayi kita kesini."
"Aku ngantuk, mau tidur dulu ya. Ini perut rasanya kram. Susah gerak!"
"Ya udah, istirahat aja. Dokter belum izinin kamu minum sampe kamu buang angin yang!"
"Iya."
Akis tertidur cepat sekali. Pengaruh analtesi membuatnya beristirahat dengan mudah. Zul ikutan merebahkan kepalanya disamping ranjang Akis. Sementara tubuhnya tertumpu dikursi disamping ranjang. Matanya ikut terpejam. Lega perasaannya sekarang.
Zul terbangun ketika mendengar suara rintihan. Ternyata bukan Akis yang menangis. Akis masih terlelap dalam mimpi.
Zul menyingkap sedikit gorden pembatas pasien sebelahnya. Seorang wanita lebih tua beberapa tahun dari Akis juga terbaring diranjang. Pasti habis operasi caesar juga. Seorang ibu setengah baya seusia ibunya mengusap-usap tangan pasien itu untuk meringankan sakitnya.
"Kenapa, bu? Mau saya panggilkan suster?" kata Zul menawarkan bantuan.
"Ga usah, mas! Memang begini kalo habis operasi. Habis mungkin obat penghilang rasa nyerinya. Jadi yaa....beginilah jadi perempuan. Harus sabar nahan sakit. Hehehehe....! InsyaAllah satu- dua hari rasa sakitnya berkurang."
Zul hanya termangu mendengarkan penjelasan ibu itu. Ia jadi khawatir Akis akan merasakan sakit juga setelah beberapa jam pengaruh analtesinya hilang.
Zul menatap Akis yang terlihat nyenyak. Wajahnya yang manis terlihat polos mirip bayi-bayi mereka. Zul menarik selimut Akis menutupnya pelan. Ia harus siap menemani dan mendampingi ketika rasa sakit pasca melahirkan caesar itu juga menyerang Akis.
Untuk menjaga staminanya lebih fit, Zul bergegas pergi ke minimarket disekitar rumah sakit. Membeli beberapa obat herbal, minyak kayu putih, vitamin juga minuman jus serta beberapa camilan, roti dan buah.
Setelah itu ia cepat kembali kekamar rawat inap Akis. Ternyata Akis masih tidur.
Suster memanggilnya dan memintanya untuk membeli susu formula dan botol dotnya untuk membantu bayi-bayi mereka yang mulai kehausan.
Dengan sigap Zul kembali ke minimarket membeli satu kotak susu formula dan dua botol dot. Ia membeli sesuai petunjuk perawat. Lalu segera memberikannya kepada perawat diruangan bayi.
BERSAMBUNG
__ADS_1