
"Hari ini kalian ada rencana apa?" tanya ibu disela-sela obrolan ringan ketika sarapan pagi ini bersama Zul dan Akis.
"Mmmmmm....kayaknya ga ada deh, bu! Besok baru ada jadwal ambil hasil ronsenan Zul. Jadi hari ini kita mau santai-santai aja bu!" jawab Zul dibantu Akis yang menganggukkan kepala.
"Hari ini berarti Akis milik ibu sepenuhnya yaaa!"
"Ibu mau keluar ajak Akis?"
"Iyaaa..."
"Ibu cuma ajak Akis??"
"Iya."
"Ibuuu! Anak ibu itu Zul apa Akis?... Zul aja jarang lho diajak ibu kemana-mana," kata Zul berusaha protes.
"Jalan bareng Zul ga ada seru-serunya! Bete iya!"
"Ya ampun, ibuuu!"
Akis hanya tersenyum menanggapi suaminya yang terlihat manja dengan merajuk pada mertuanya itu. Akis hanya tertunduk. Dengan umi ia tak merasa terlalu dekat. Entah sejak kapan. Justru Akis lebih dekat dengan neneknya karena beberapa tahun terakhir ia lebih sering tinggal dirumah nenek dekat perbukitan. Jadi Akis merasa momen antara Zul dan ibu adalah momen manis. Jarang anak lelaki yang masih bermanja-manja pada ibunya diusia remaja menjelang dewasa. Kebanyakan mereka justru jaga jarak dengan orangtua terutama ibu.
"Ibu harus ajak Zul juga! Kalo engga', Zul ga izinin Akis pergi sama ibu!"
"Walah?! Istrinya diajarin ga bener ya?! Biasanya juga Zul ga pernah mau ikut ibu. Lagipula selama ini ibu ga dikasih kesempatan berduaan sama Akis. Cuma kamu aja yang selalu bersama Akis. Jadi, kali ini adalah 'me time'nya ibu dong!"
Zul tertawa malu. Ia memang terkesan memonopoli Akis. Bahkan cenderung menempel.
"Hari ini, Akis akan jadi anak kesayangan ibu!" Akis akhirnya buka suara, langsung menggoda Zul dengan menggelayut manja ditangan ibu. Senyumnya lebar karena senang melihat tingkah suaminya yang cemburu padanya.
"Akis! Ibu!....Aaaa..., kalian ini seneng yaaa ngegodain Zul!" Mereka tertawa bersama. Pagi itu terlihat lebih cerah karena akhirnya Akis merasa lebih santai dan rileks setelah beberapa minggu menjadi istri Zul dan ikut tinggal dirumah mereka.
__ADS_1
"Tapi janji ya Zul,... jangan bikin ibu jadi nyamuk diantara kalian. Kalian juga harus ada disisi kanan kiri ibu! Ibu ga mau dikacangin kalian!" ancam ibu sebelum mereka pergi bersama. Akis dan Zul tertawa berbarengan. Dengan sigap Akis langsung menggandeng tangan ibu. Terlihat manis, membuat ibu begitu bahagia karena akhirnya memiliki anak perempuan juga.
"Ayo, bu! Ini khan acara kita. Ibu mau ajak Akis kemana? Akis siap nemenin ibu. Hehehehe!"
"Berani yaaa....sabotase ibuuu!"
"Menantu itu harus bisa ambil hati mertua, weeew....iya khan bu?" goda Akis pada ibu membuat ibu mengangguk senang.
"Tapiiii,.... hari ini ibu ingin jadi ibu untuk putri ibu. Bukan sebagai mertua, tapi beneran ibu!"kata ibu dengan mengedipkan mata ke Akis.
"Waaaah,...asiiiiik dapat cinta ibu plus-plus dong!"
"Iya dong!"
Zul menepuk dahinya. Perjalanan hari ini pasti bakal melelahkan hati dan tenaganya juga. Akis dan ibu sibuk ngobrol berdua dengan suara yang tidak terdengar jelas oleh Zul. Akis ternyata cepat akrab juga dengan ibu. Padahal kemarin-kemarin ia terlihat kaku dihadapan ibu. Kali ini, semua batasan itu seolah memudar dan mendekatkan hati dan jiwa keduanya. Zul senang sekali sebenarnya. Tapi ia pura-pura kesal dan cemburu membuat ibu dan Akis semakin lengket untuk menggodanya.
"Terus aja kalian berdua begitu! Anggap aja Zul ini ga ada. Atau tukang tenteng belanjaan!" gerutu Zul membuat kedua wanita yang paling disayanginya itu tertawa, lalu kompak menggandengnya.
Hari ini ibu beneran menjadikan Akis putri kesayangannya. Ibu membelikan Akis smartphone. Ibu juga membelikan Akis baju, sepatu bahkan sandal dan juga pakaian dalam.
Mereka makan siang dikedai siap saji. Akis nampak tak enak hati melihat ibu begitu banyak mengeluarkan uang hari ini hanya untuk Akis.
"Akis jadi malu nih sama ibu. Ibu baik banget, bikin Akis tak enak hati jadinya!" gumam Akis seraya menunduk mengaduk-aduk minumannya dimeja.
Ibu tersenyum. Tangannya menggenggam jemari Akis.
"Khan tadi ibu bilang, hari ini ibu bukan sebagai menantu...tapi sebagai ibu. Paham khan? Jadi Akis jangan ngerasa ga enak sama ibu. Ini udah kewajiban ibu nyenengin anak ibu. Lagipula, kalian hanya akan bersama ibu ayah sebentar saja. Mungkin bulan depan kalian udah tinggal di Bandung. Nanti kalau ibu udah tua, ...tolong rawat ibu. Karena ibu ini ibu kalian!"
Akis dan Zul bersamaan memeluk ibu. Mereka bahagia sekali. Akis sampai mengeluarkan airmata karena terharu.
"Oiya! Selesai makan, masih ada yang mau ibu beli untuk Akis."
__ADS_1
"Ada lagi bu? Apa lagi?... Sudah bu, ini sudah banyak sekali!" pinta Akis halus menolak.
"Ini justru penting! Nanti kita liat-liat dulu!" Akis memandang wajah Zul merasa tak enak. Zul hanya senyum menimpalinya.
Ternyata ibu membelikan Akis mesin jahit portable. Ibu sungguh memperhatikan kesukaan Akis. Dan Akis memekik kegirangan memeluk ibu.
Mereka juga membeli beberapa meter kain katun, pita-pita, jarum jahit, benang dan berbagai aksesoris alat jahit.
Akis begitu antusias. Sebenarnya Akis punya mesin jahit manual dari neneknya. Tapi barang itu masih di Pandeglang, tepatnya masih dirumah nenek. Kali ini ia senang karena mesin jahitnya lebih modern. Ia ingin memamerkan kemampuannya menjahit pada ibu. Walau Akis belajar jahit otodidak, tapi ia cukup mahir membuat sarung bantal, gorden, dan pernak-pernik lainnya. Makanya waktu Zul bertanya apa hobi dan kebisaannya, ia langsung menjawab menjahit dan membuat sarung bantal. Makanya Zul mengusulkan Akis untuk kursus menjahit di Bandung bareng Zul yang akan kursus mekanik.
Setelah seharian mereka hangout bareng ibu, mereka kembali kerumah dengan hati riang.
"Akis, Zul..... Hari ini kita udah ngubek-ngubek mall dan pasar. Waktunya manjain diri."
"Apa lagi bu?" tanya Zul bingung melihat ibunya menyiapkan empat ember besar diruang makan.
"Akis, masak air panas! Zul, isi ember-ember itu seperempatnya saja dengan air bersih dikamar mandi! Ini tugas kalian!"
Zul dan Akis hanya menuruti perintah ibu. Ayah yang baru pulang kerja berbinar kegirangan.
"Waaaah, ibu sungguh istri yang hebat! Tau aja kalo ayah butuh relaksasi!" Ayah sudah tahu maksud ibu.
Mereka menyiapkan semuanya. Berendam kaki dengan rempah-rempah dan wewangian bunga. Mereka berempat duduk bersama menikmati segelas wedang jahe masing-masing.
"Ibu beneran is the best!"
"Ibu siapa dulu dong!"
"Ibunya Akis dong!"
"Ibuuuu....."
__ADS_1
Mereka tertawa bersama. Memulai kehidupan dengan optimis dan semangat. Tentu juga dengan ridho Illahi dan restu orangtua.
Tunggu terusnya kisah Zul dan Akis diepisode selanjutnya. Terima kasih....