
Ayah tetap tak memberi Zul izin ikut ke Pandeglang bersama keluarga Firman. Ibu mencoba menghibur Zul seraya meminta Zul tidak terlalu memaksa. Ayahnya adalah pribadi yang keras. Itulah sebabnya ia pun merasa punya watak yang sama seperti ayah.
"Ayah akan tambah keras kalo Zul makin memaksa. Ibu harap Zul ngerti. Ayah ga suka dibantah, Nak! Moga nti ayah sendiri yang akan mengajak kita liburan ke Pandeglang," ucap ibu. Zul hanya menunduk. Ternyata susah melunakkan hati ayah yang membatu.
Pak Mansyur beserta istri dan anaknya pamit pulang. Mereka mengucapkan banyak terima kasih pada ayah dan ibu karena walaupun telah sekian lama hilang kontak, mereka masih diterima bahkan dijamu dengan sangat baik.
"Maaf, mas! Kuharap sampeyan memaklumi perasaanku. Bukan maksud meragukan kalian untuk merawat Zul beberapa hari di Pandeglang. Tapi aku belum siap untuk itu!"kata ayah meminta maaf pada pak Mansyur.
"Aku ngerti, Don! Semoga perlahan fikiran negatifmu tentang Pandeglang kembali mencair. Kita bisa sering-sering saling berkunjung, menjaga tali silaturahim ini.'
"Iya, makasih mas! Sering-seringlah nengok kami disini. Kami senang sekali kalo mas dan keluarga datang berkunjung lagi!"
Pak Mansyur tersenyum. Ia tak ingin mengusik luka lama sahabat karibnya itu. Tapi ia yakin, suatu saat semua akan kembali seperti semula. Ia yakin, hanya waktu yang bisa menyembuhkan luka hati ayah Zul.
"Aku boleh ya, kapan-kapan mampir nginep disini kalo lagi ke Jakarta." Firman ikutan nimbrung.
"Pasti dong,... kamu juga Vera, kalo liburan sekolah bisa main kesini bareng Firman." jawab Ayah Zul menepuk pundak Firman lebih bersahabat. Padahal diawal kedatangan Firman, ayah sangat menjaga jarak mengingat andil Firman yang menyebabkan tragedi pada anaknya dimasa lalu.
Firman senang. Beban hatinya terangkat sedikit-sedikit. Dulu ia juga depresi dalam diam mengingat kejadian tempo dulu. Namun ia berusaha kuat menutupi kerapuhannya. Belum lagi tudingan papanya yang menunjuknya sebagai biang keladi semua ini menyebabkan ia kehilangan kasih sayang.
__ADS_1
Perlahan Avanza putih itu meluncur meninggalkan garasi rumah Zul. Kesepian kembali menyergap. Ayah tak lama kemudian kembali kekantornya. Tinggallah Zul sendiri termenung diteras rumah sementara ibu masuk kedalam untuk beberes.
Hhhhhh..... Kesendirian ini lama-lama bisa membunuhku, gumam hati kecil Zul. Padahal ia sudah terbiasa dengan suasana rumahnya yang sepi. Tapi karena beberapa hari ini suasananya terasa hangat karena keluarga Pak Mansyur, jadi ketika mereka pulang...., Zul merasa ada yang kosong. Kesepian.
Senar gitar yang ia petik terasa sumbang ditelinganya. Lagu-lagu berderet diaplikasi play music dihapenya terdengar membosankan. Begitu juga novel kesukaannya, terlihat deretan kata-kata yang melelahkan matanya. Zul banyak kehilangan.
"Buuu..... Zul pergi ke gelanggang renang yaa.... Mumet dirumah mulu, bete!!" teriak Zul membuat ibunya tergopoh-gopoh mengejar Zul.
"Masih pagi Zul! Lagipula kamu ga bawa handuk sama pakaian ganti koq??"
"Ada koq diloker. Pernah Zul tinggal beberapa hari lalu!"
Zul mengangguk lemas. Ibu memang selalu over protektif setelah Zul terserang penyakit sakit kepala itu. Ia pandangi punggung anaknya yang lebar tapi tanpa lemak dan sedikit daging. Ibu sebenarnya sedih melihat Zul yang seperti itu. Raut wajahnya suram pertanda Zul memiliki banyak beban fikiran.
Kolam renang sepi sekali hari ini. Padahal sudah jam 10 pagi. Biasanya ada siswa-siswa SD yang ada jadwal berenang. Tapi kali ini hanya nampak satu dua orang saja. Itupun hanyalah para pengurus kolam saja.
Zul diam dipinggiran kolam. Sejak ada Firman ia belum lagi terserang sakit dan mimpi aneh tentang Akis. Fikirannya kembali menerawang. Apakah karena tirai mulai terkuak dan perlahan Zul seperti mengingat masa-masa itu walau hanya sedikit sekali.
Zul menepuk air kolam karena kecewa. Andai ayah mengizinkannya, ia ingin segera bertemu Akis. Mengucapkan maaf, berharap memulai kehidupan baru tanpa beban rasa penyesalan. Mungkin Allah belum mengizinkan itu terjadi.
__ADS_1
Setelah seperempat menit Zul berenang sendirian, ia segera beranjak keluar dari kolam. Menuju kamar mandi, membilas lalu bergegas ganti pakaian. Sejak dokter Reyvan menganjurkan Zul sering-sering berenang, tempat ini sudah jadi tempat nongkrongnya setiap 3 kali seminggu. Sehingga beberapa pengurus kolam renang kompleks perumahannya itu sudah familiar dengannya dan memberinya kunci loker.
Ia segera pulang kerumah. Kuatir sakit kepalanya kambuh dan menyusahkan banyak orang termasuk ibunya.
Adzan Zuhur belumlah berkumandang. Tapi Zul sudah terlihat tampan dengan koko putih dan sarung motif kotak-kotak serta kopeah hitam dikepalanya. Ia izin ke masjid depan rumahnya pada ibu. Ibu tersenyum bangga menatap anak semata wayangnya yang sangat tampan itu.
Entah mengapa, sepanjang hari ini semua terlihat sepi disekitar Zul. Di kolam renang, sekitaran rumahnya, bahkan di masjid sekalipun, hanya ada beberapa orang tua saja.
Sungguh kesepian yang luar biasa.
Sambil menunggu marbot masjid mengumandangkan adzan, Zul mengambil beberapa buku bacaan di pojok belakang mimbar. Bolak-balik ia buka berusaha mengurangi rasa sepi. Tapi tetap sepi menyergap kesendiriannya.
Zul memejamkan mata. Berdoa semoga Allah memberinya jalan terbaik. Berharap sepi ini segera menguap seiring penyakit yang menyiksanya. Air mata Zul menetes tanpa sadar. Zul segera menghapusnya sambil menghela nafas. Zul akhirnya pasrah, bila Allah tengah mengujinya bahkan menghukumnya karena kesalahan dimasa lalu. Walau ia tak mengingatnya, tapi ia tak membenarkan perilakunya yang mungkin kelewat batas waktu dulu. Entah walau hati kecilnya menolak mengingat usianya yang masih 8 tahun kala itu. Mungkinkah itu suatu kesalahan atau kesalahfahaman seperti yang Firman bilang tempo hari.
Dalam sholat Zul lebih lama berdoa. Meminta Allah memudahkan segala urusannya. Memberinya kesempatan menikmati masa mudanya yang penuh angan-angan masa depan. Karena ia akan sangat sedih jika ayah dan ibunya masih terus sibuk mengurusinya diusia sekarang ini yang harusnya justru mandiri membentuk usahanya untuk masa depan.
Zul tidak ingin terpuruk terus dalam kesendirian. Zul sangat mengharap kesembuhan. Masih banyak yang ingin ia gapai. Mungkin kalaupun boleh memilih, ia lebih memilih dokter memvonisnya hidup beberapa bulan atau beberapa tahun lagi daripada hidup tergantung dengan penyakit seperti ini. Dokter Reyvan mengatakan penyakitnya bukan penyakit berbahaya. Tapi justru ketidakpastian akan batas waktu yang membuat Zul begitu stres.
Bagaimana kelanjutan cerita Zul? Semoga cerita ini berkenan. Tunggu terus ya gaes ceritanya....
__ADS_1