ISTRI MASA KECIL

ISTRI MASA KECIL
KEPUTUSAN ZUL D AN AKIS


__ADS_3

"Assalamualaikuum umiiiii!" Zul dan Akis tersenyum melihat wajah umi dilayar hpnya. Umi terlihat kaget melihat Akis berbaring diatas ranjang.


"Neeeeng, kalian sehat-sehat aja khaaan?" tanya umi dari seberang sana.


"Umiii.... Akis udah lahiran mii, kemaren sore jam 4. Umi abah kemari yaaaa... Besok Akis keluar dari rumah sakit!" Akis melambaikan tangannya ceria ketika Zul menyampaikan berita bahagia itu pada umi.


"Nu bener? Ya Allaah....! Abaaaah, cucu kita udah lahir, baaaah! Zul, cewe apa cowo jenis kelaminnya??" terdengar suara umi yang heboh membuat Akis dan Zul tertawa.


"Abah umi kesini aja, liat sendiri cucunya! Pokonya mah surprise!"


"Abaaaah...kamana iyeu si abah teh? Oiya, mana coba umi liat cucu umi ?"


"Ada diruang bayi, umi!"


"Tapi sehat pan semuanya? Akis? Sehat, lancar semua khan?"


"Akis sehat umi! Cucu umi juga sehat! Kemari yaaa.... kita tungguin! Umiii...., Zul mau video call ibu dulu ya?"


"Ibu juga belum tau?"


"Belum. Kita mau telepon umi lebih dulu!" kata Zul membuat umi terharu.


"Mantu umi jempol pisan!"


"Udah dulu ya miii, Zul Akis tutup dulu telephonenya. Jangan lupa kesini! Assalamualaikuum...."


"Pasti atuuh! Alaikumsalam!"


Zul menelpon ibu. Juga via video.


"Assalamualaikum, ibuuu!"


"Alaikumsalam... Apa kabarnya anak-anak kesayangan ibu?"


"Baik buuu!... Ibuuuu, Akis udah lahiraaan. Kemaren sore jam 4 kurang." Kali ini Akis yang berkata. Ibu menutup mulutnya kaget. Matanya berbinar bahagia.


"Alhamdulillaah.... Mana dedenya neng? Zul? Kalian cuma berdua aja? Ya Allaah....ibu jahat sekali yaaa, ga dampingi proses lahirannya."


"Hehehehe ga apa-apa, ibu! Yang penting kami semua sehat. Si dede diruang bayi. Besok Akis pulang, ibu sama ayah datang yaaa...tengokin kami yaaa..!"

__ADS_1


"Iya. Cewe atau cowo dedenya?"


"Pokonya liat sendiri deh, hehehe!" jawab Zul sengaja membuat ibunya penasaran.


"Udah dulu ya, bu! Ada dokter mau periksa Akis. Assalamualaikuum..."


"Alaikumsalam!"


Zul dan Akis tersenyum saling berpandangan.


"Rencana kita seperti yang kita diskusikan khan waktu itu? Akis beneran ga apa-apa nantinya?" tanya Zul pada Akis.


"InsyaAllah Akis setuju. Akis udah sholat istikhoroh sebelum lahiran. Akis makin yakin koq, yang!"


Jam 8 malam, abah umi tiba dirumah sakit tempat Akis dirawat. Tak berselang lama, ayah ibu juga datang. Suasana kamar Akis yang biasanya sepi menjadi ramai senda gurau mereka.


Zul senang melihat umi dan ibu kembali akur. Mereka terlihat akrab satu sama lain. Sebenarnya mereka begitu menyayangi anak-anak mereka.


Suster perawat membawa kereta bayi membuat mereka begitu penasaran pada cucu mereka.


"Hayooo....mirip siapa niiih?!" tebak ibu membuat umi semakin ingin cepat-cepat melihat.


Zul dan Akis tertawa senang melihat kedua orangtuanya yang begitu antusias melihat cucu-cucu mereka.


"Sepasang!" kata Zul dan Akis tak kalah kompak.


"Ya Allaah, Subhanallah!!" umi dan ibu terharu bahagia. Masing-masing menggendong cucu seorang satu.


"Allah itu Maha Hebat yaa....!" Zul terpukau melihat ibu dan umi begitu gembira menimang cucu mereka. Mereka tidak saling berebut apalagi bertengkar seperti diawal kehamilan Akis.


Ayah dan Abah tak kalah bahagia melihat kedua cucu mereka.


"Sungguh mereka itu duplikat ayah ibunya!" gumam ayah tersenyum menatap wajah-wajah mungil nan imut didekapan ibu dan umi.


Umi dan ibu saling menukar. Bergantian menimang cucu-cucunya dengan hati-hati dan penuh kasih sayang. Sesekali terdengar tawa diantara mereka karena takjub dan bahagia.


Zul dan Akis hanya tersenyum dengan jemari saling menggenggam.


"Allah begitu menyayangi kita ya, yang!" bisik Akis terharu.

__ADS_1


"Semoga kebahagiaan ini tidak membuat kita lupa bersyukur pada-Nya yang! Dan semoga Allah selalu memberi kita kebahagiaan untuk membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi." timpal Zul bijak.


"Aamiin....!!"


Setelah mereka puas menimang kedua cucu yang tampan dan cantik itu, akhirnya mereka mau juga diminta pulang ke kontrakan Zul dan Akis.


Tadinya umi bersikukuh untuk menemani Akis dirumah sakit. Tapi peraturan rumah sakit hanya mengizinkan satu orang saja yang bisa menunggu dan menemani pasien. Akhirnya umi menurut juga. Mereka menginap dirumah kontrakan Zul dan Akis.


Esok pagi kedua pasang orangtua itu kembali lagi kerumah sakit. Menjemput Akis yang memang sudah dijadwalkan pulang pukul 10 pagi.


Umi dan Ibu kompak menggendong cucu-cucu mereka dalam satu mobil bersama ayah. Sementara Akis dan Zul menaiki mobil yang dikendarai Abah.


"Dasar ya, anak-anak ini! Kenapa engga' bilang kalo cucu kita ada dua. Pasti dikehamilan usia 6-7 bulan khan sudah ketauan!" kata umi gemas. Ibu tertawa menanggapi.


"Mungkin mereka bete ya, ngeliat kita waktu itu sempat salah faham. Padahal waktu itu saya cuma spontan aja, karena kuatir sama Akis. Itu karena rasa sayang saya berlebihan kuatir sama kondisi Akis. Juga saya takut Zul yang baru aja stabil jadi terguncang lagi. Otomatis yang paling sedih pasti Akis." tutur ibu membuat umi mendekat dan respek padanya.


"Iya ya. Saya juga, salah tangkap maksud teh Frida! Sudahlah, yang penting anak cucu kita sehat selamat."


"Iya. Cucu-cucu kita ini gemesin bangeeeet! Ini mirip banget Zul, itu mirip Akis. Hehehehe...., beneran Zul dan Akis junior!" Ibu dan umi juga ayah tertawa bahagia.


Mereka tiba dirumah disambut gembira para tetangga. Ada yang membawa buah-buahan, ada yang membuatkan liwetan lengkap dengan bekakak ayam. Ada juga yang membawa bungkusan kado.


Umi dan ibu semakin terharu melihat kebaikan para tetangga putra-putrinya itu.


Mereka antusias melihat si kembar. Saling memuji dan mendoakan agar kedua anak Zul dan Akis selalu sehat, panjang umur dan menjadi kebanggaan mereka.


Umi dan ibu sibuk membuat kopi dan teh untuk para tamu yang datang hilir mudik bergantian. Sambil berbincang santai dan minum kopi serta kue-kue ringan semakin mengakrabkan warga dikompleks perkampungan tempat Zul dan Akis tinggal.


Zul dan Akis adalah contoh pasangan muda yang baik dan mau banyak belajar. Padahal usia mereka masih sangat muda dan sebenarnya belum layak berumah tangga. Tetapi ternyata keduanya memiliki sifat dan watak yang baik. Sopan pada orang yang lebih tua. Ramah dan cepat beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggal mereka. Membuat mereka menjadi pasangan idola warga.


"Ayah-ibu,... Abah-umi!... Akis dan Zul ingin mendiskusikan sesuatu. Mohon beri Zul kesempatan bicara dulu, ya... maaf kalo keputusan kami ini membuat kalian kaget sebelumnya." Zul memulai pembicaraan setelah sholat Isya dan duduk berkumpul bersama di kamar.


Suasana hening. Ayah-ibu juga abah-umi menunggu Zul bicara dengan perasaan dagdigdug. Mereka jadi teringat kembali ketika Zul meminta untuk dinikahkan dengan Akis tempo hari.


"Zul dan Akis sudah lulus dan mendapat sertifikat dari tempat kursus kami masing-masing.... Alhamdulillah juga, Zul langsung bekerja dibengkel yayasan tempat Zul kursus. Kalo Akis, tidak Zul izinkan bekerja selama hamil. Jadi Akis hanya akan tetap pada kodratnya sebagai ibu rumah tangga mengurus keluarga."


Ayah dan abah mengangguk setuju.


"Zul dan Akis sudah berdiskusi sebelumnya. Juga sebelum Akis lahiran, kami sudah sholat istikhoroh juga untuk minta petunjuk dari Allah! Jadi kami sudah menyepakati suatu hal, mohon ayah-ibu juga abah-umi mengerti dan menghormati keputusan kami ini. Kami sangat butuh dukungan kalian semua!"

__ADS_1


Apa yang akan Zul katakan selanjutnya? Nantikan diepisode berikutnya yaaa.... Terima kasih gaeeesss...


__ADS_2