
"Kami dapat tawaran kontrak 5 tahun diBali!"
"Di Bali??? Kalian terus, pindah ke Bali gitu?" Ibu dan umi lagi-lagi berbarengan bertanya. Kali ini dengan wajah serius.
"Kami ingin mandiri,... Kami,"
"Tunggu, tunggu! Jadi kalian mau pindah ke Bali? Bali lho? Bukan Jakarta atau Pandeglang...yang kalo ibu atau umi kangen bisa grab car atau rental mobil cus bisa ketemu kalian. Apalagi saat ini kita punya dua cucu kembar yang pasti bakal bikin kita selalu kangen. Iya khan, mi?" sela ibu mencari sekutu. Umi mengangguk cepat.
Akis dan Zul saling berpandangan. Lalu tersenyum membuat kedua pasang orangtua mereka semakin tegang.
"Maka dari itu, Zul dan Akis sudah sepakat. Maulana Zulvandy, kami titipkan di ibu dan ayah. Lalu, Maulani Akisty kami titip di umi abah. Zul sama Akis akan pindah ke Bali. Kami akan belajar mandiri berusaha mengejar mimpi dan harapan seperti juga keinginan ayah ibu dan abah umi. Bagaimana?"
Semua diam kebingungan. Berusaha mencerna perkataan Zul.
"Maksudnya??..."
"Kami titip putra-putri kami selama 5 tahun pada kalian. Kami percayakan Maulana Zulvandy dan Maulani Akisty pada kalian. Dengan catatan, kalian harus saling sering bertemu agar putra-putri kami tidak merasa dipisahkan satu sama lain. Karena Zulvan di Jakarta dan Akisty di Pandeglang."
__ADS_1
Mereka masih bingung, tapi dengan sedikit senyum dibibir masing-masing.
"Lantas kamu dan Akis?" ibu bertanya lagi.
"Seperti yang Zul bilang tadi,... Akis dan Zul akan ke Bali. Membuka bengkel dan toko cinderamata di satu tempat di Buleleng. Ada investor besar yang berani menyokong kami. Makanya, ini kesempatan bagus buat kami memulai. Kami mohon dukungan kalian semua. Setelah 5 tahun, kami baru ada rencana lagi."
"Investor beneran apa abal-abal?" ayah ikut merespon Zul. Kali ini ia ingin memastikan kebenaran usaha Zul.
"Ayah pasti kenal investor itu. Dan lagi, investor itu ga sendiri. Mereka membuat perusahaan bertiga. Salah satunya bang Firman, yah! InsyaAllah setelah Akis sehat dan kuat sekitar 2 bulanan, kami bisa pindah ke Bali."
"Tapi Zul sama Akis mohon maaf, mau minta tolong ayah abah lagi untuk biaya susu dan hari-hari Zulvan-Kisty. Kami akan kirim uang setelah kehidupan ekonomi kami stabil nanti. Hehehehe....!Anggap aja anak kami sebagai pengganti kami. Makanya namanya kami pakai nama kami lagi. Ayah ibu, abah umi setuju?"
"Kami setuju!" mereka menjawab serempak dengan tawa ceria.
"Kami akan bulan madu." Ledek Zul sambil memeluk Akis membuat umi dan ibu ganti meledek mereka.
Semua bagaikan mimpi bagi Zul dan Akis. Sebenarnya bang Firman sudah 4 bulan ini bolak-balik Pandeglang Bandung untuk mencoba negosiasi dengan Zul agar bersedia bekerjasama dengan mereka. Karena salah satu temannya yang asli orang Bali memiliki bangunan yang tak dipakai.Dan sempat diancam orangtuanya untuk dicabut lagi hak miliknya jika tak digunakan sendiri. Makanya bang Firman berinisiatif mengajak join buka bengkel dan toko cinderamata karena posisinya yang stategis dekat tempat wisata. Zul dan Akis diberi kekuasaan penuh mengelolanya. Tiap bulan mereka baru akan mengurus keuangan dan unak-aniknya. Tentu saja ini adalah kesempatan emas Zul dan Akis. Sayang kalau mereka tak menerima tawaran sebagus itu.
__ADS_1
Syukurlah kedua orangtua mereka akhirnya menerima keputusan Zul dan Akis. Untuk itu Zul akan menunggu Akis pulih dulu pasca melahirkan.
Untuk kedua anaknya, Zul dan Akis tahu...orang akan berfikir mereka adalah orangtua yang egois. Dengan mudahnya menitipkan buah hatinya pada orangtuanya. Tanpa memikirkan efek sampingnya.
Justru Zul dan Akis telah mempertimbangkannya dan meminta jalan keluarnya pada Sang Kholiq. Mereka mendapat pencerahan dengan tidak mengesampingkan perasaan para orangtua mereka. Selain itu, menitipkan anak-anak pada kakek neneknya adalah keputusan yang tepat. Mereka pasti akan diurus dan dirawat dengan penuh kasih sayang, seperti dulu merawat Zul dan Akis hingga dewasa.
Sementara para orangtua tidak akan terlalu sedih dan kesepian bila Zul dan Akis meninggalkan mereka untuk jangka waktu yany lama. Selain itu mereka bisa belajar memanage hati, fikiran dan perasaan mereka sebagai pribadi yang dewasa yang berfikir kedepan untuk masa depan mereka dan juga anak-anak.
Semua masih proses. Fikir Zul, bila ia dan Akis berhasil dengan waktu 5 tahun, antara membuka bengkel di Jakarta dan bisa berkumpul bersama anak-anak atau meneruskan usaha di Bali dengan membawa putra-putri mereka untuk tinggal bersama. Semua tergantung rezeki dan usaha kerja keras mereka bersama.
Zul merangkul bahu Akis. Mencoba menguatkan hati dan tekadnya untuk masa depan lebih cerah bersama Akis.
Walau mereka berawal dari istri masa kecil yang menikah hanya sebagai mainan masa kanak-kanak. Zul bertekad akan menjadikan Akis istri sepanjang masa. Menjadi pendamping hidupnya untuk selamanya. Menjadikan Akis satu-satunya wanita yang sempurna untuk hidupnya.
Akis pun demikian. Ia telah menentukan pilihannya sejak usia dini. Sejak kanak hingga dewasa dan Allah mengijabah niatnya. Mereka telah Allah takdirkan lewat semua cerita kehidupannya sejak lahir hingga kini. Bahwa Zul adalah pasangan yang telah Allah jodohkan untuknya. Hingga maut memisahkan mereka. Itu selalu doa Akis. Bersama Zul seumur hidupnya. Membuatnya menjadi seorang wanita yang sempurna. Menjadi istri dan ibu dari buah cinta kasih mereka. Dan berharap cinta mereka tak lekang oleh waktu.
TAMAT
__ADS_1