
"Assalamualaikum, Putri!"
"Alaikumsalam, Zul! Apa kabar? Kamu udah sehatan khan Zul?" suara Putri disana terdengar cemas. Zul tersenyum senang. Putri mengkhawatirkan dirinya.
"Iya, Put! Berkat doa Putri, juga teman-teman. Makasih ya atas doanya!"
"Syukur deh, kalo Zul udah baikan. Maaf, Putri baru tau dari Aloy kalo Zul baru pulang opname dirumah sakit. Putri ga sempet jenguk!"
"Ga apa, Put! Zul minta maaf ya, kejadian tempo hari itu. Maaf ya, kalo Zul jahat. Maaf juga kalo Zul bikin Putri kaget dan takut."
"Putri kuatir Zul kenapa-kenapa!" Putri terdiam sejenak. Demikian juga Zul. Keduanya saling berfikir kata-kata yang ingin diucapkan, tapi takut salah.
"mmmmmh, Put?"
"Iya?"
"Putri sekarang masih pacar Zul khan?" tanya Zul hati-hati. Diseberang sana Putri tertawa renyah. Jantung Zul berdebar kencang. Suara Putri begitu manis terdengar, tapi Zul takut jawaban akan Putri.
"Zul masih mau khan jadi pacar Putri?" Putri balik tanya. Bathin Zul bersorak kegirangan.
"Iyalah!!"
"Berarti status kita sekarang pacar dong!"
"Iya, iya. Berarti yang sekarang lagi ngomong sama Zul, pacarnya Zul dong!! Hehehee....," kata Zul dengan mesra.
Putri tertawa. Merdu sekali terdengar bagi Zul.
"Awas pacar Putri kebanyakan ngegombal sakit kepala lagi lho!" balas Putri tak kalah mesra.
"Hahahaha..... Putri bisa aja! Zul khan jadi malu, pacarnya Putri ternyata penyakitan ya!?"
__ADS_1
Mereka tertawa bersama.
Zul bahagia sekali. Ia akhirnya merasakan punya pacar. Disayang pacar. Ngegombalin pacar. Juga digombalin balik sama pacar. Sungguh angan-angan yang lama tersimpan.
Putri sangat manis, karena bisa membuatnya menjadi pasangan yang romantis. Karena Putri bisa menimpalinya.
Zul berguling-guling kegirangan usai menelpon Putri. Wajahnya merah merona, senyum pun tak pernah lepas dari wajahnya. Wajah Putri terkenang diingatannya slalu.
Aissssh!!!..... Untung Putri ga bahas masalah ciuman, gumam Zul dalam hati.
Hari berlalu tanpa terasa. Ada pengumuman harus datang kesekolah. Semua murid kelas 12 wajib masuk untuk membereskan semua hal yang belum terselesaikan. Pengembalian buku pinjaman di perpus, juga tunggakan-tunggakan SPP bagi siswa yang masih menunggak.
Sebenarnya Zul sudah tidak ada lagi urusan. Tapi ia kadung kangen ketemu teman-temannya. Padahal belum genap seminggu tak jumpa, tapi rasa kangen sekolahan begitu memenuhi kalbunya. Ternyata begini ya, perasaan galau tamat sekolah SMU. Zul merasa ada kekosongan diruang bathinnya. Padahal dulu selalu ia khayalkan cepat lulus. Tamat sekolah, menjadi orang dewasa seutuhnya. Tidak lagi dipanggil anak sekolahan. Ternyata dihari-hari akhir sekolah justru perasaannya kesepian. Ingin rasanya mengulang kelas sekolah lagi. Belajar bersama, baik dengan guru yang menyenangkan maupun guru killer. Ribut bersama dalam kelas ketika jam-jam kosong tak ada guru. Rusuh dikantin jam-jam istirahat. Ngumpet dibelakang sekolah ketika malas masuk kelas. Tidur dimushola atau perpus gara-gara semalaman tanding game online. Banyak cerita tak pernah bosan.
"Zuuuul.....!!!" ***** lu, bikin kenangan yang asik dikit napa!?" Aloy dan yang lain teriak melihat Zul sambil mengeroyoknya dengan pukulan-pukulan kecil yang tak sakit.
Zul meringis menyeringai.
"Setan lu pada! Gue baru sembuh niiih, bukannya dikasih buah kek, malah digebukin," Zul membalas menerjang mereka yang tertawa kompak.
Semua menggoda Zul.
"Husssh, jangan rame dong! Malu guee, tar si Putri denger, ga enak gueee!"
"Ahaaaay.... enak-enakin aje! Namanye juga rujak bibir, mantep lah....!!"
Zul kabur disorak teman-teman gengnya. Ia malu juga menyesal melakukan hal itu dihadapan mereka.
"Sial! Mulut ember lu pada. Rugi gue abisin duit 2 juta nraktir lu semua, tapi pada bocor!" gerutu Zul ditimpali yang lain.
"Sorry Zuuul! Jangan ngambek nape, boss! Kita khan cuma becanda. Hadeeeuh, yang cintanya bersatu sekarang jadi sensi banget kaya emak-emak kurang belanja!" ledek Aloy membuat Zul tersenyum kecut.
__ADS_1
"Stop, stop..... gue takut Putri denger!!! Mau gue lakban mulut lu Loy?"
Semua tertawa. Keceriaan yang lepas dimasa muda. Akankah semua ini terus berlanjut sedangkan masa sekolah hampir usai. Beberapa hari lagi acara perpisahan sekolah akan digelar. Usai sudah masa belajar di sekolah ini. Zul merasa sedih sendiri dalam hati. Sebenarnya begitupun perasaan yang lainnya. Tetapi hanya tersimpan rapi dalam hati masing-masing.
"Gue cari Putri dulu ya, gaess! Sori..... sekarang pacaran lebih penting daripada persahabatan sob!"
"***** lu Zul!!! Nyosor mulu kayak bebek!!!"
"Secara bentar lagi kita ga kan ketemuan disekolah bro! Paling jatah apel malem mingguan kalo diizinin ngapel. Mentok-mentok chattingan ampe ludes kuota. Bener khan???" timpal Zul diiringi teman-teman gengnya. Syahrul mengacungkan jempol setuju. Yang lain tertawa mengiyakan.
Akhirnya Zul pun melesat menuju kelas Putri. Ia memang berbeda kelas dengan Putri. Putri anak IPA sedang ia anak IPS.
Putri tersenyum malu melihat Zul dibalik jendela kelasnya. Wajahnya merona. Mungkin ia ingat kejadian malam terakhir mereka bersama.
"Pagi pacar Zul!"
"Pagi juga pacar Putri!"
"Pacar Zul hari ini cantik banget!" gombal Zul dibalas cubitan Putri.
"Waduh, ngeri juga nih punya pacar tukang nyubit. Bisa abis nih ketampanan Zul dicubitin mulu!"
Putri memeletkan lidahnya. Ia tersenyum.
"Mentang-mentang udah sehat, kamu berani yaaa godain Putri!" tutur Putri diiringi tawa lepas Zul.
"Maaf deeeeh, soalnya pacar Putri ini orangnya berangasan. Kalo becanda suka kelewatan. Mau puter balik kejauhan. Hehehehe...maaf ya pacar Zul!"
"Hadeeeeuh!!! Gue ga nyangka si Zul gombal abis Put! Mau-maunya lu punya pacar tukang gombal. Daripada gue muntah denger gombalan si Zul mending gue makan empe-empe bi juju dikantin!" Tuti teman sebangku Putri kabur keluar kelas. Tuti memang tidak setuju hubungan Putri dengan Zul berlanjut. Ga cocok sama sekali katanya. Tapi Zul tak ambil pusing. Ia hanya tersenyum kecut tak peduli.
"Makasih Tutiiiiii....atas pengertiannya!!" goda Zul menambah kekesalan Tuti. Kabarnya Tuti punya kakak cowok yang masih jomblo. Makanya ia tak setuju Putri menerima cinta Zul karena berniat mengenalkan Putri dengan kakak kesayangannya. Bagi Tuti, Putri pribadi yang baik. Ya iyalah, Zul juga lihat kepribadian Putri yang baik. Makanya selepas kelulusan langsung ambil tindakan. Secara Zul pernah dengar Putri bilang tak akan pacaran sebelum pengumuman kelulusan. Dua tahun Zul menunggu momen itu. Dan sekarang ialah juaranya.
__ADS_1
Zul tersenyum bahagia melihat wajah Putri dihadapannya. Ia bangga. Dulu ia hanya mengagumi Putri dari kejauhan. Menggoda Putri hanya lewat chattan. Kini Putri dihadapannya. Walau semua tak lagi sama. Karena tak akan ada lagi hari-hari mengejar bayangan Putri disekolah. Zul pun belum tahu rencana Putri kedepannya. Yang penting sekarang status barunya sebagai pacar Putri.
Gaess.... apa rencana masa depan Putri? Akankah Zul bahagia bersama Putri? Thanks ya masih mau berkenan membaca tulisan saya ini. Tolong dukung dengan like dan komen kalian gaess!! Kita lanjut ceritanya...