ISTRI MASA KECIL

ISTRI MASA KECIL
KEBAHAGIAAN


__ADS_3

"Hari ini Akis seneeeeng deh!" ujar Akis seraya naek keranjang. Bibirnya tak henti-henti tersenyum. Ibu benar-benar memanjakannya hari ini.


"Ibu hebat, ya?! Beneran lho, kaki Akis tadi sakit banget seharian keliling mall, tapi hati senang banget hehehe... trus, ibu bikinin kita air rendaman gitu, waaah....manjur, enaaaak banget! Sekarang kaki Akis ga sakit lagi. Nyaman banget lagi!" Akis terus berceloteh ditatap Zul penuh perhatian.


Zul ikutan rebahan menghadap Akis yang juga rebahan. Bibirnya terus berkata-kata membuat Zul gemas melihatnya.


"Besok Akis mau buat sarung bantal cantik buat ibu!" kata Akis berencana. Zul segera ******* bibir mungil nan seksi itu. Akis langsung diam dengan wajah bersemu merah.


"Masih mau cerita? Kamu ga cape, yang?" bisik Zul pada Akis. Mata mereka berpandangan. Ada binar-binar indah dimata keduanya. Cinta yang membara dengan getaran membuat jantung mereka berdetak tak karuan.


Zul perlahan sekali membuka jemari Akis yang terkepal. Mengecupnya lalu meremasnya perlahan. Dada Zul bergemuruh. Sebagai lelaki yang hampir dewasa, adalah normal ketika ia tak tahan melihat kecantikan Akis yang selalu menggodanya.


"Sayang,..... maaf ya, kalo Zul agak memaksa. Zul akan pelan-pelan. Boleh yaa?"


Akis hanya menatap mata Zul. Tapi dari tatapannya Zul bisa mendengar jawaban hati Akis, bahwa Akis menyetujuinya.


Akis memejamkan matanya. Ia pun terbuai akan rangsangan Zul yang pelan tapi mampu menggetarkan seluruh jiwa raganya. Ciuman Zul yang bertubi-tubi tapi lembut membuatnya pasrah bahkan menantikan kelanjutan perlakuan Zul.


Akis menggeliat ketika Zul mengecup seluruh wajahnya lalu turun keseluruh tubuhnya. Zul loncat mematikan lampu kamarnya, hanya lampu kecil dimeja belajarnya yang menyala. Ia ingin membuat Akis nyaman. Zul pun sebenarnya gugup dan cenderung malu. Makanya ia berinisiatif membuat situasi seredup mungkin untuk menyalurkan hasratnya yang nyaris tak terbendung.


Malam menjadi saksi bersatunya mereka disaksikan berjuta bintang harapan diangkasa. Masa muda memang begitu indah menyeret nafsu jiwa menggelora. Mereka terbuai dan lupa sesaat karena kenikmatan duniawi yang sudah halal bagi mereka. Keduanya saling memberi dan saling menerima, menikmati keindahan ciptaan Sang Pencipta dengan penuh rasa cinta.


Akis tertidur pulas setelah mereka bergumul bersama dibawah selimut. Bulir-bulir keringat masih terlihat dikeningnya. Zul mengusapnya perlahan, lalu menghadiahi Akis kecupan sayang dikeningnya. Zul tersenyum penuh kemenangan. Dirapatkannya selimut ketubuh Akis. Ia tak ingin membiarkan angin masuk ketubuh istrinya itu. Lalu Zul berbaring disamping Akis. Perlahan tertidur juga dengan hati bahagia.


Esoknya mereka kaget karena bangun kesiangan. Terlebih Akis yang mendapati tubuhnya belum memakai apapun. Ia menarik selimut membuat Zul juga ikutan menarik karena juga malu hanya memakai celana dalam. Akhirnya Zul mengalah dengan bergegas lebih dulu masuk kamar mandi secepat kilat.


Akis tertawa melihat tingkah suaminya itu. Ia menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Berjinjit turun dari ranjang mengambil seluruh pakaian yang berserakan dilantai kamar. Wajahnya memerah mengingat kejadian semalam. Ia segera menutup wajahnya dengan tangan karena malu.


Jam didinding sudah menunjukkan pukul 7.20 pagi. Bahkan alarm azan Subuh sama sekali tak Akis dan Zul dengar. Setelah sekian lama, Zul baru keluar dari kamar mandi. Berbalut handuk menutupi sebagian pinggang hingga pahanya. Sementara dadanya yang masih basah membuat Akis menelan ludah.


Lagi-lagi wajah Akis memerah. Akis cepat-cepat menundukkan kepala.


"Yang, cepat mandi! Jangan lupa doa mandi junubnya!" ujar Zul pelan dengan mata dikedip sebelah. Zul menggoda Akis.


Akis turun dengan tubuh berbalut selimut. Zul yang gemas menggendong Akis yang kesusahan berjalan. Akis memekik kaget.

__ADS_1


"Stttt.....! Jangan berisik, nanti ibu dengar!"


Akis menepuk pundak Zul gemas. Zul tertawa. Ia kecup pipi Akis membuat Akis tersipu malu.


"Masih bau iler niih!"


"Istriku menggemaskan siiiih!"


Setelah melepas selimut, Akis loncat dan masuk kekamar mandi secepat kilat. Zul tertawa lepas melihat istrinya yang malu-malu kucing dihadapannya. Padahal semalam mereka telah saling tahu tubuh mereka satu sama lain tanpa sehelai benang pun. Tapi tetap saja mereka merasa sangat malu.


Zul merapikan ranjang tidur mereka. Ia memang telah terbiasa melakukannya untuk meringankan pekerjaan mbak Sur.


Akis mandi lama sekali. Zul akhirnya memutuskan turun lebih dulu karena pasti ibu menunggu mereka untuk sarapan.


Ternyata ibu sudah diteras rumah. Sibuk dengan bunga-bunga tanaman koleksinya. Zul merangkul ibu dari belakang. Zul merasa belakangan ini Allah tengah memanjakannya. Melimpahinya dengan berbagai kenikmatan yang tak ia duga. Sungguh ia bahagia.


"Hari ini ada janji sama dokter Reyvan, Nak?"


"Rabu besok bu! Sekalian ambil hasil test general check up Zul juga."


"Masih bu, tp dosisnya udah dokter Reyvan kurangi. Mohon doa ya bu, moga hasilnya bagus. Zul sama Akis udah siap buat tinggal di Bandung."


Ibu memeluk Zul erat. Antara sedih, gundah gulana tetapi juga bangga bersemayam didadanya. Tapi ibu diam saja tak mengungkapkan isi hatinya. Yang pasti, ia selalu mendoakan yang terbaik untuk anak dan mantunya kini. Kesehatan, juga kesuksesan. Itulah harapannya kini.


"Akis mana?"


"Masih bebenah bu!"


"Bantu Akis dong!"


"Hehehe....! Akis suka ga mau Zul bantu. Katanya justru kalo dibantuin Zul bukannya cepet beres, malah tambah lama beresnya!" Zul mengusap-usap kepalanya sambil tersenyum malu.


"Kamu pasti gangguin Akis terus ya?!"


"Hehehe.... Seneng aja kalo bikin Akis marah-marah gemes."

__ADS_1


"Jaga terus Akis ya Nak! Dia sekarang istrimu. Kalian harus bisa menjaga satu sama lain. Baik jiwa raganya, maupun perasaannya. Perempuan itu lebih berfikir dengan perasaan. Beda sama lelaki yang terlalu cuek dan lebih rasional. Belum lagi kalo perempuan lagi datang bulan, lebih cepat emosi jadi gampang marah. Kamu laki-laki, kepala keluarga, harus bisa lebih sabar menghadapi istri. Belajar mendidik istri dengan perilakumu yang baik juga. Pasti istri bisa mendampingi kamu dengan senang hati. Paham khan kata-kata ibu?" nasehat ibu membuat Zul menunduk.


"Iya, Bu! Makasih banyak ya atas nasehat ibu. Sangat berguna buat Zul!"


Akis yang baru turun memeluk ibu dengan manja. Ia lebih akrab karena ibu sudah memanjakannya kemarin.


"Duduk, Nak! Sini... sarapan dulu!" Akis menurut. Sepiring nasi goreng spesial sudah tersaji dihadapannya. Demikian juga Zul, yang sedari tadi sudah menikmati nasi goreng buatan ibunya. Zul tersenyum manis.


"Orangtua itu, melihat anak mantunya hidup rukun dan damai sudah sangat bahagia. Makanya, kalian berusaha menjalani kehidupan rumah tangga dengan penuh tanggung jawab dan saling mengerti. Saling mengisi kekurangan masing-masing. Bisa menerima kekurangan itu suatu yang luar biasa. Kalau menerima kelebihan, sudah pastilah.. tapi menerima kekurangan...hebat namanya."


"Mungkin semua butuh proses ya, bu!" kata Zul.


"Iyalah.... Karena itu komunikasi penting dalam hubungan. Sering diskusi, tanya maunya suami, juga ungkapkan maunya istri. Jangan egois, baik suami maupun istri. Kalo istri lagi capek, suami bantu....minimal menghibur istri dengan perbuatan baik, kata-kata sanjungan. Gitu juga sebaliknya, sama-sama belajar intinya. Untuk Zul, jika suatu saat ada sedikit keluhan tentang Akis,...mengadulah ke umi,"


"Koq Zul ngadu ke umi?" sela Zul bingung.


"Iya lah. Kalo Akis ngadunya ke umi. Kenapa? Karena, kalo kalian justru mengadu pada orangtua sendiri...akan mengakibatkan kesalahfahaman. Namanya orangtua, pasti sedih mendengar anaknya dikecewakan. Lantas marah, kesal, terus jadi dendam sama pasangan anaknya. Padahal itu cuma perselisihan biasa dalam rumah tangga. Anaknya sudah akur lagi, sudah mesra-mesraan lagi sama pasangannya...tapi ibunya masih selalu mengingat kekesalannya pada pasangan anaknya."


"Ibu benar!"


"Makanya, lebih bijak meminta nasehat dari mertua masing-masing. Justru lebih bisa mendapatkan jalan keluar. Tapi bukan berarti harus dikit-dikit curhat, dikit-dikit sebel. Nanti justru mertuanya jadi pusing dengernya. Hehehehe!"


Hari ini ibu banyak memberi masukan pelajaran berumah tangga. Akis dan Zul saling menggenggam jemari mereka membuat ibu langsung cemberut.


"Tuh khaaaan..... Kalian ini bikin ibu kayak nyamuk! Ibu mending keteras ah... ngurus tanaman!"


"Hahaha Ibu ngambek!"


"Maafkan kami ibu, maaf! Jangan marah yaaa....," rayu Akis memeluk ibu yang bergegas hendak keluar.


Ibu tersenyum sambil mencium pipi Akis.


"Engga' koq cantiik! Ibu cuma becanda, hehehe...."


Zul dan Akis tertawa melihat akting ibu. Mereka selalu berdoa, semoga ia bisa terus bersama. Bisa membuat ibu bahagia. Juga ayah dan keluarga Akis.

__ADS_1


Ditunggu yaa kelanjutannya gaesss....


__ADS_2