
"To..tolong! Tolooong!!!!"
Zul terbangun dari mimpi. Wajahnya bermandi peluh. Dadanya terasa sesak dan nafasnya tak beraturan. Dalam mimpi ia melihat seorang gadis cilik terbaring diatas dipan kayu dengan paha penuh berlumur darah. Gadis cilik itu menatap wajahnya dengan tatapan kosong tapi tajam menusuk hati. Zul tak tahu, apa arti dari mimpinya itu. Siapa gadis cilik yang terbaring disana dengan paha berlumur darah. Ia merasa seperti habis menjalani perjalanan jauh nan melelahkan.
Matanya mengedar sekeliling. gorden putih, tembok putih dan bau obat. Sepi dan asing membuat bulu kuduknya merinding.
Zul lega mendapati ayahnya tengah tertidur pulas dilantai bawah dengan beralaskan kain seadanya.
"Ini dirumah sakit!" gumamnya pelan. Dipejamkan matanya guna memulihkan jiwa dan tubuhnya untuk mencerna apa yang telah terjadi.
Zul teringat pada saat ia di Minulvista bersama teman-teman segengnya. Dirabanya dahinya sambil mengeryit, menyadari akan tingkahnya malam itu.
"Hhhhhh....... ! Mau ditaruh dimana mukaku ini!" desah Zul malu. Ingatannya langsung ke Putri, pacarnya. "Pasti malam itu Putri panik banget liat kondisiku yang aneh," pikir Zul lagi mengetuk-ngetuk dahinya yang dingin karena keringat.
Zul berfikir sejenak. Kenapa ia sampai merasakan sakit kepala yang luar biasa seumur hidupnya itu. Selama ini ia baik-baik saja. Sehat wal'afiat tak merasa gejala apapun. Tubuhnya kuat karena suka olahraga terutama sepakbola bersama gengsnya.
Terus mimpi tadi,.... mimpi yang baru pertama kali dalam hidupnya. Ada apa dengan dirinya? Pikiran Zul mengembara kemana-mana. Apakah ia mengidap suatu penyakit? Padahal cita-citanya selepas tamat SMU adalah kuliah di jurusan mesin otomotif. Karena ia berminat sekali untuk menjadi montir dibengkelnya sendiri nanti.
Jam dinding ditembok terlihat pukul 03.22 dini hari. Suara decak cicak menemani malamnya yang senyap diruang opname rumah sakit.
Kembali Zul ingat kelakuan bejatnya pada Putri malam itu. Mungkinkah Tuhan menghukum dirinya yang telah kelewat batas memperlakukan Putri? Karena selama ini Zul adalah pribadi yang baik. Tak pernah sekalipun melakukan tindakan asusila kepada teman-teman perempuannya. Berusaha menjaga akhlak walau kadang kebablasan bicara jika tengah ngumpul diantara teman segengnya. Tapi Zul jarang berkelakuan minus.
Zul menutup wajahnya penuh penyesalan. Tapi ia kembali teringat Putri yang terlihat mengikuti setiap gerakan permainannya. Apa memang Putri sudah terbiasa berciuman hingga responnya santai dan pasrah? Zul menggeleng kepala berkali-kali. Tidak. Putri adalah perempuan baik-baik. Bahkan 2 tahun pertemanannya dengan Putri tak pernah ia dengan cerita negatif tentang Putri. Apalagi kisah pacaran Putri. Sepertinya Putri juga baru pertama kali pacaran.
Zul bangkit dari tidurnya. Menggapai botol air mineral dimeja samping ranjangnya. Perlahan agar tak mengganggu tidur ayahnya yang terlihat kelelahan.
Setelah minum, Zul kembali tidur dan berusaha memejamkan matanya.
....
Pagi ini ibunya datang dengan wajah khawatir. Ayah bersiap pergi ke kantor tempat kerjanya. Ayah Zul memang tipikal suami pekerja keras. Ditambah perusahaan perkebunan tempatnya bekerja semakin maju pesat sehingga hari-harinya jadi begitu sibuk. Bahkan kadang dihari liburpun ayah Zul pergi ke kantor mengerjakan tugas yang belum selesai.
__ADS_1
"Zul, kamu udah enakan?" ibu Zul memegang kepala Zul pelan.
"Iya bu."
"Kamu gak apa-apa khan? Ga konsumsi sesuatu gitu?"selidik ibunya.
"Konsumsi apa bu? Narkoba maksud ibu? Engga'lah....aku bersih dari narkoba. Masa' ibu ga percaya aku," jawab Zul sedikit kecewa dengan pertanyaan ibunya.
"Ibu percaya koq sama kamu, cuma kuatir teman-teman kamu ada yang iseng gitu?"
"Ga lah bu! Ibu khan kenal mereka hampir 2 tahun. Mereka memang urakan, brutal. Tapi Zul jamin, mereka aman dari narkoba bu."
"Iya sih,.... tapi ibu kaget aja. Kamu koq bisa sakit kepala kayak semalam itu. Sampe nginep dirumah sakit segala kayak gini. Ayah ibu kuatir, tau!"
"Maaf deh bu,....! Zul juga ga tau tiba-tiba diluar kendali sakit banget kepala sampe teriak histeris."
"Sekarang gimana? Masih sakit ga kepalanya?" tanya ibu lagi penuh perhatian.
"Ya udah, sekarang kamu makan. Terus minum obat. Jangan dulu mandi ya, cukup lap aja badannya." Zul mengangguk.
Ia memang anak tunggal dikeluarganya. Sudah pasti ayah dan ibunya memanjakannya dengan menumpahkan seluruh kasih sayang mereka pada Zul. Dengan kasih sayang yang positif tentunya. Bahkan bisa dibilang ayah ibunya adalah orangtua yang over protektif menurutnya. Makanya setiap gerak langkah Zul, area pertemanan dan kawan-kawan akrab Zul, kedua orangtuanya mengetahuinya dengan jelas.
Zul mengurungkan niatnya menceritakan mimpinya semalam. Ia khawatir ibunya cemas padahal kejadian semalam pun sudah cukup membuat keluarganya heboh bahkan sampai ia dilarikan ke UGD hanya untuk disuntik agar Zul terbebas dari sakit kepala yang menderanya.
"Bu, handphone Zul mana?"
"Ini!Tapi ibu lupa cas, Zul! Jadi kayaknya mati deh," jawab ibu sambil menyerahkan hp Zul.
"Ibu ga bawa cas-an hp Zul?"
__ADS_1
"Mana ibu ingat? Ibu cuma bawa keperluan yang penting aja."
Zul menggaruk kepalanya padahal tak gatal. Ia ingin menghubungi teman-temannya terutama Putri. Tapi apa daya, hari ini tak bisa. Zul hanya pasrah pada keadaan. Kesehatannya lebih utama kali ini.
"Dokter bilang apa bu? Zul kapan bisa pulang?"
"Dokter bilang, tunggu hasil labnya. Kemungkinan besar kamu juga harus scan kepala jalanin pengobatan rutin."
"Emang kepala Zul bermasalah bu?"
"Bukaaan.... Cuma untuk pemeriksaan lanjutan aja. Udaaah, ikuti prosedur dokter aja Zul. Kamu dulu juga khan pernah periksa kepala waktu kecil." Zul tersentak. Waktu kecil? Koq ia lupa ya? Waktu kapan itu?
Ibu Zul terburu-buru melihat reaksi Zul.
"Ibu harus keruang dokter saraf dulu ya Zul! Maaf ibu tinggal," ucap ibu seperti tahu kalau Zul akan mengajukan pertanyaan.
....
Setelah dua hari lamanya Zul opname, akhirnya ia bisa pulang kerumah. Kembali menempati kamar pribadinya yang nyaman adalah kenikmatan yang Zul rindukan.
Masa sekolah kini sudah bebas karena sudah kelulusan. Tinggal menunggu pengumuman cap tiga jari untuk berkas surat tanda tamat sekolah. Otomatis keseharian Zul dirumah dimasa pemulihan.
Lega rasanya Zul tidak merasa sakit kepala lagi. Ia berharap penyakit itu tidak kambuh lagi menyerang mengganggu hari-harinya menunggu masa menjadi mahasiswa baru.
HP Zul kini mulai berfungsi kembali. Banyak pesan masuk di aplikasi WA nya. Zul tersenyum bahagia. Ternyata ia begitu disayangi teman-temannya. Semua support dan mendoakan kesehatan Zul.
Mata Zul terpana pada satu pesan cinta. Dari Putri. Zul membaca dengan jantung berdebar. Antara malu dan rindu menyergap hatinya mengingap Putri.
__ADS_1
Akankah Putri masih menganggapnya pacar seperti malam itu? Zul tersipu. Semoga kalian masih berkenan menunggu kelanjutannya gaess. Terimakasih, love you alls, gaess. Kalian luar biasa!!