
"Istriku?"
"Mmmmmh.....,"
"Ga boleh minta peluk?"
"Gak!"...
Malam itu Zul tidur tidak tenang. Akis masih menyimpan amarah. Tubuhnya memunggungi tubuh Zul. Zul akhirnya mengalah dengan balik memunggungi. Padahal Akis yang pura-pura tertidur itu menunggu tindakan Zul yang seharusnya lebih agresif. Tapi tidak Zul lakukan. Airmata Akis kembali menetes.
Alarm berbunyi tepat jam 5 subuh. Mereka kembali sholat masing-masing. Kali ini Akis yang lebih dulu melakukan tanpa mengajak Zul. Zul hanya menggeleng melihat tingkah istrinya yang sepertinya sengaja membalas kelakuannya semalam.
Zul dibuat pusing. Hanya desahan kecewa melihat Akis yang masih marah padanya. Ternyata begini rumah tangga jika melakukannya dengan usia yang belum waktunya. Terlalu sering salah faham. Pantas ayah ibu Zul dulu agak keras dan memintanya memikirkan lagi keinginannya menikah muda.
"Yang! Sore nanti mau antar ke rumah sakit ga?... Zul ada janji cek up sama dokter Reyvan." Zul mencoba mengingatkan Akis untuk menemaninya nanti.
"Liat nanti!"
"Masih marah ya?"
Akis diam saja. Pura-pura khusu' dengan majalah yang tengah dibacanya.
"Yang.... Mendiamkan suami itu dosa lho hukumnya!" Akis masih diam.
"Istri mendiamkan suami pasti ada sebabnya. Terus, dosa juga khan suami yang menyebabkan istri jadi berbuat begitu." Akis menjawab ketus.
__ADS_1
"Akis!... Perempuan itu ga ada dihati dan fikiranku sekarang. Juga nanti!... Sekarang itu yang ada difikiranku hanya istriku seorang. Kamu khan pernah bilang,... akan ikut apapun pendapatku, waktu ditanya punya pendapat lain. Waktu ditanya apa mau nikah beneran, kamu jawab iya. Akan selalu dukung apapun keputusan Zul. Lalu sekarang, padahal baru 2 minggu lebih kita nikah.... kamu udah terlihat kecewa banget sama keputusanku. Gimana kita mau melangkah menjalani kehidupan rumah tangga yang awet dan langgeng? Gimana nanti kalau ada masalah yang lebih gede lagi dari ini? Kamu bakalan terus kecewa sama suamimu ini? Kamu nyesel nikah sama aku? Ngerasa tertipu sama aku?"
Akis diam. Tapi kali ini menunduk. Airmatanya bergulir mendengar perkataan Zul yang tegas. Bukan ini maunya sebenarnya. Ia hanya ingin dirayu Zul. Ingin disayang, ingin dilimpahi kata-kata gombalan...bahwa hanya ia wanita seorang pujaan hati Zul.
Zul menatap wajah Akis yang menunduk. Ia tak ingin istrinya berlarut-larut dengan fikiran negatifnya. Bukan bermaksud kejam. Tapi itu adalah kenyataan. Bahwa hidup itu tentang realita, bukan hanya impian, hayalan dan bualan saja. Bahwa pemikiran tentang angan-angan yang terlalu membumbung tinggi juga fikiran yang buruk bisa membuat seseorang justru terpuruk dengan sakit hatinya.
Akis kembali terisak. Matanya bengkak sejak semalam hanya menangis dan menangis. Bahkan pagi ini pun ia tak berani turun dari kamar karena khawatir dilihat ibu.
"Yang! Kamu mau tau!? Aku sudah dihukum Allah karena melupakan kamu hingga mengucapkan cinta pada perempuan itu. Ketika aku cium dia, sejak itu aku sakit kepala hebat. Selalu mimpi didatangi gadis cilik yang berlarian memanggil nama Ucul. Andai aku ga kehilangan ingatan.... mungkin sejak dulu aku sudah memiliki kamu. Aku ga akan pernah berpaling ke perempuan lain karena kamu terlalu menjagaku untuk tidak berpaling. Aku ga mungkin sampai menyakiti hari-hari kamu hingga bertahun-tahun dengan fikiran sedih karena kehilanganku." Akis memandang Zul dengan penyesalan.
"Sekarang kita sudah nikah beneran. Bukan nikah mainan seperti waktu kita kecil dulu. Nikah kita sakral, yang! Disahkan penghulu, dihadapan kedua orangtua kita. Apa kita akan melukai perasaan mereka sekarang? Padahal kita ngelakuin ini untuk membuat mereka bahagia. Kamu sungguh sedih dan kecewa sama aku? Terus akan bertingkah begini sama aku? Terus hubungan kita merenggang, terus..."
"Bukan begitu!... Harusnya suami itu bisa menenangkan hati istrinya. Merayunya, membujuknya pas istri lagi ngambek. Membuat istrinya tersenyum lagi. Bukan hanya mendiamkannya, lalu ga berbuat apa-apa!" jawab Akis dengan terisak.
"Aku khan udah pelan-pelan membujuk kamu. Mengajak kamu bercanda. Terus, waktu ditanya masih marah jawabnya iya. Ditanya boleh minta peluk jawabnya engga'. Nanti kalo aku bandel ga dengerin kata-kata kamu, disangka ga menghargai pendapat istri. Terus mesti gimana coba?!"
"Menangislah, sayang! Habiskan semua amarah kamu. Setelah itu, maafkan suamimu yang engga' peka ini ya.... Cup cup cup!" bisik Zul membuat Akis makin membesar tangisnya.
"Kamu jahat! Jahat, jahat, jahat!.... Kamu ga peduli perasaan istrimu yang sedih ini. Boro-boro mencoba ngasih pengertian, malah bikin istrinya senewen mikir yang aneh-aneh. Harusnya khan dikasih sayang, minta maaf, dirayu digombalin. Bukannya malah dicuekin sendirian. Tanya boleh minta peluk dijawab engga', malah biasa aja. Ga di respon istrinya!"
"Lhaaa.. .khan kamu yang bilang engga'! Coba kalau jawabnya boleh, pasti suamimu ini langsung peluk."
"Terus, ga da niatan gitu cium kening seperti biasa!"
"Hahahaha.... Kamu lagi marah, lagi cemburu sama bibir orang. Kalo aku nekat cium kamu, nanti salah faham lagi. Disangka masih terkenang bibir orang. Gimana siiih,... gak konsisten deh!?"
__ADS_1
"Tuh khan?!? Pasti masih mikirin bibir orang itu!!!"
"Ya Allah ya Tuhankuuuu.... Gustiiiiiii, tolong hambamu ini! Hahahaha...istriku cemburunya ga abis-abis niiiih!"
"Iiiih malah diketawain!" Zul memeluk erat Akis. Mengusap airmatanya. Mencium kedua pipi Akis, keningnya, lalu bibirnya. Akis terlalu menggoda. Zul sebenarnya sudah tak tahan ingin berbuat lebih. Tapi ia ingin semuanya berjalan natural. Tanpa membuat Akis terbebani. Zul cinta Akis. Mungkin sesungguhnya cinta itu telah mendarah daging sejak ia masih kecil.
"Kamu marah karena ada perempuan lain yang lebih dulu merasakan bibir indah suamimu ini? Padahal harusnya kamu sadar, bahwa kamulah perempuan pertama dan satu-satunya yang pernah memegang lonceng saktiku ini."
"Hah?!? Zuuul, apa sih?!" pekik Akis malu.
"Lupa ya, kalau kita waktu kecil sering mandi bareng. Pagi, sore ..mandi sama-sama dibak kamar mandi rumah kita. Ingat ga? Zul aja masih ingat suara cempreng kamu bilang,' umiii... koq ada baso dibawah perut ucul?' ....terus kata umi, 'jangan tarik loncengnya Ucul yaaa.... itu sakti'."
Akis tertawa malu walaupun airmata masih menggenang dipipinya.
"Sekarang mau diperiksa ga, lonceng sakti punya Zul?"
"Haisss...!" Akis menutup wajahnya yang merah merona. Hawa panas menyelimuti wajahnya. Sungguh Zul pintar mengatakan momentum itu.
"Akis baru aja datang bulan," bisik Akis membuat Zul menepuk dahinya kecewa.
"Waaah, rencana bikin cucu buat ibu...terpaksa dipending deh!"
"Zuuuuul!"
"Hahahaha....muacht, muacht! Dasar kamu yaaaa, istri yang nakal! Menggoda saja tapi tak memberi kesempatan!"
__ADS_1
Boom itu meledak tak bersisa. Kini binar-binar kebahagiaan kembali terpancar diwajah Akis dan Zul.
Bagaimana gaes ceritanya? Semoga suka, mohon saran dan kritik juga dukungannya gaes... Juga like-annya atuuuh!.. .Hehehehe