ISTRI MASA KECIL

ISTRI MASA KECIL
KENCAN PERTAMA YANG GAGAL


__ADS_3

"Syukurlah Zul!... Zul, dokter Reyvan tadi bilang, besok Zul sama ibu kerumah sakit Cipto ya? Jangan lupa jam 8 pagi. Ayah udah bikin janji tadi. Ikuti prosedurnya, ya? Zul harus sembuh, makanya harus semangat berobat. Ya?" suara ayah diseberang sana lagi setelah menenangkan Zul yang menangis tadi.


"Iya ayah, maaf....Zul bikin ayah ibu susah!"


"Hush!!! Itu tugas orangtua jaga anaknya baik-baik. Jangan bilang gitu, Zul! Ayah masih banyak kerjaan nih, ketemu nanti dirumah, ya??"


"Ayah? Ntar maghriban dimesjid ya yah?"


"InsyaAllah. Assalamualaikum!"


"Alaikumsalam...."


Ibu tersenyum dibalas Zul.


"Zul mau makan?"


"Tadi udah makan bakso dirumah temen bu," jawab Zulyanda. Ia belum berani jujur pada ibu tentang Putri.


"Ya udah, sekarang istirahat." Perintah ibu seraya merapatkan pintu kamarnya. Zul menghela nafas panjang.


Diraihnya handphone disaku celana. Ada beberapa pesan dari Putri. Segera Zul balas kalau ia sudah sampai rumah sekarang mau istirahat dulu. Putri langsung merespon dengan emoji hati yang berdetak. Zul tersenyum senang balas memberi emoji hati berdetak juga, tiga kali berturut-turut.


Zul menutup wajahnya. Padahal baru saja ia seperti orang kesurupan, seperti akan mati tadi. Sekarang wajah pucatnya bersemu merah jambu. Cinta memang membuat orang berubah-ubah.


Sebelum tidur Zul berdoa, berharap gadis kecil itu tidak datang lagi kemimpinya. Rasa penasaran kembali menyeruak. Semua penuh misteri dan tanda tanya. Selama ini Zul yakin tidak pernah bermimpi seperti itu. Apalagi sakit kepala yang teramat sakit. Anehnya semua itu terjadi selalu hampir berbarengan. Antara sakit kepala dan juga mimpi gadis cilik itu.


.....


Hari Sabtu pagi Zul sudah siap pergi bersama Ibu. Mereka akan ke RS Cipto karena sudah buat janji dengan dokter spesialis saraf Reyvan.


Zul masuk ruang lab untuk ambil darah. Setelah selesai masih harus menunggu jadwal scanning. Lalu harus kembali konsultasi ke dokter Reyvan. Zul merungut kesal.


Makan siang pun mereka lakukan dikantin RS Cipto. Ibu mengajaknya ke mushola rumah sakit. Zul dan ibu bergegas sholat Zuhur disitu.


Semua masih harus ditunggu lama lagi sampai adzan Ashar. Zul ingat janjinya nonton bersama Putri.


"Bu,..."


"hmmmm??"


"Masih lama, ya?" Zul gelisah dibangku bangsal pasien rawat jalan.


"Sabar, Zul! Kita tunggu lagi ya? Ibu juga ga tau, sampai jam berapa kita disini. Kenapa? batere handphone habis? Tuh ada stopkontak buat chargeran."

__ADS_1


Zul merungut kesal. Ibu hanya tersenyum melihat bujang kesayangannya yang masih kekanak-kanakan.


Zul menge-chat Putri.


Putri....


Kayaknya kita ga bisa nonton deh sore ini


Kenapa Zul?


Zul masih di RS nih.... cek kesehatan blom kelar


Cekrek. Zul memfoto situasi disana, lalu mengirimnya ke Putri sebagai bukti kalau ia memang dirumah sakit. Zul ingin ia dan Putri menjalin hubungan penuh keterbukaan. Berharap Putri mengerti keadaannya.


Iya. Ga pa pa Zul! Jangan cemberut gitu dong. hehehehe, semangaaat


Putri ga marah khan?


Ga laaah. Masa' cuma gitu Putri marah. Khan masih ada lain waktu


Makasih pacarnya Zul yang pengertian


Haiiish....gombal deh (emoji senyum)


*Idiiiiiih....., geni****t**


Hahahaha.....Nyolong cium dikit ah*


Mamaaaaa, Zul nakal niiiih


Idiiiiih, ngadu ke mama


Orang mama ada disamping Putri koq, weeeew


Hihihihi..... kabur aaaah! Met sore Putri pacarnya Zul yang cantik jelita kayak putri-putri di negeri dongeng


Hadeeeeuh, jitak dulu ah. Gombal mulu deh


Ibuuuuu, Putri nakal niiiih


Yaaaaaah, bawa-bawa ibu


Ibu ada koq lagi duduk disamping Zul, weeeww... Hehehehe sun lagi ah muacht, muacht, muacht

__ADS_1


Hahahaha Zul rese'. Udah ah, Putri disuruh mama dulu beli kecap


Hahahaha, anak rajin. Ya udah sana cepetan beli kecapnya. Tapi sini kecup dulu, muaaaaaacht (kabuuuuuuur)


Zul senyam-senyum sendiri. Ibu yang melihatnya geleng-geleng kepala. Baru tadi ia lihat Zul cemberut muka ditekut sekarang wajahnya berubah cerah sumringah. Dasar anak sekarang, batin Ibu.


"Zulyanda!" panggil suster jaga. Ibu dan Zul langsung bergegas keruangan dokter Reyvan.


"Zulyanda. Gimana sekarang, kepalanya ga sakit khan?"


"Alhamdulillah hari ini saya ga ngerasa sakit, dok!"


"Sakitnya ga tiap hari khan ya?"


"Iya."


"Mungkin ini adalah rangkaian dari imbas amnesia retrograde-nya Zul 10 tahun yang lalu, bu. Itu semacam potongan-potongan puzzle yang perlahan menyusun dimemori Zul. Tapi ada dampak buruknya jika Zulyanda terlalu memaksakan diri berfikir keras mengingat memori lama. Kemungkinan Zul akan hilang ingatan sepenuhnya."


Ibu dan Zul terdiam. Antara kaget dan bingung. Terlebih Zul. Amnesia retrograde? 10 tahun lalu? Zul amnesia retrograde? Penyakit apa itu? Kenapa ia tidak pernah tahu? Atau memang karena itulah ia tidak ingat kenangan masa kecilnya?


Zul melamun sendiri. Sementara ibu masih terus berkonsultasi tanya jawab dengan dokter Reyvan.


Zul tak berani berfikir keras. Khawatir ingatannya justru musnah semua seperti kata dokter tadi.


"Coba lebih rileks, Zul! Olahraga yoga dan berenang lebih bagus daripada olahraga berat macam sepakbola atau fitnes. Oke Zul? Kalau sakit kepalanya kambuh, segera minum obat ya. Harus rutin juga walau ga terasa sakit. Untuk meminimalisir seringnya kambuh. Untuk jaga-jaga, saya kasih resep injection ya bu. Tapi ini obat keras, jadi ga bisa sembarangan. Bila jangka waktu lebih dari 2 jam masih sakit kepala hebat, baru dikasih injeksi."


Zul mengangguk saja tanpa banyak bicara lagi.


"Jangan melamun terlalu sering ya Zul! Cari kegiatan yang membuat kamu nyaman dan tenang. Coba melukis, mungkin Zul minat. Atau boleh otak-atik motor ayah, hehehe!"


Zut terkejut. Sepertinya dokter Reyvan mengetahui banyak tentang dirinya. Tentang hobinya yang mengobrak-abrik mesin. Zul pun merasa familiar dengan dokter Reyvan. Tapi lupa kapan dan dimana mereka pernah bertemu.


"Semangat ya Zul! Jangan dimasukkan hati perkataan dokter tadi. Intinya setiap penyakit pasti ada obatnya dan setiap orang pasti bakal sakit, termasuk dokter juga. Yang penting jaga asupan makanan sehat, berfikir jernih, tidur tepat waktu. Kalo bisa handphone kurangi karena radiasinya yang jahat!"


Zul menekuk wajah langsung ditimpali tawa dokter.


"Anak sekarang mana bisa jauh dari handphone ya!? Apalagi smartphone, hehehehe."


Setelah sesi pemeriksaan yang panjang dan lama, akhirnya mereka bisa pulang jam 05.23.


Zul kembali kesal mengingat seharusnya ia tengah duduk dikursi bioskop bersama Putri. Memegang jemari Putri. Merasakan sensasi kencan nonton bareng pacar. Hhhhhh.... Zul menghela nafas.


Ibu tersenyum mengapit tangannya. Ibu memang super segalanya. Zul bisa tersenyum melihat ibu yang hebat. Mendampinginya tanpa terlihat lelah.

__ADS_1


Apakah yang terjadi dengan Zul selanjutnya? Bagaimana hubungannya dengan Putri? Tunggu penulis cari ide-ide lagi yaa.... Jangan bosan ya, terima kasih gaess


__ADS_2