ISTRI MASA KECIL

ISTRI MASA KECIL
KEHENINGAN YANG MENCEKAM


__ADS_3

Entah apa yang harus Zul ucapkan atau lakukan. Seorang gadis bertubuh kurus terbaring lemah dengan wajah pucat seputih kapas. Tengah tertidur. Tapi dokter mengatakan kalau gadis itu dalam keadaan kritis karena kekurangan banyak darah.


Zul mencoba meminta dokter memeriksa darahnya. Mungkin saja golongan darah mereka sama. Zul berharap bisa membantu gadis itu dari masa kritisnya.


Seperti yang ia harapkan, golongan darah mereka sama. O. Zul langsung mendonorkan darahnya. Sebenarnya darah golongan O cukup tersedia dirumah sakit itu. Tapi Zul bersikeras mendonorkan darahnya jika tak bermasalah. Ibu Zul terlihat kuatir, tapi tak bisa menolak kekerasan hati anaknya. Akhirnya ibu hanya pasrah.


Suasana begitu hening. Tiada suara. Padahal diruang tunggu itu ada bapaknya Akis, ibunya Akis, Firman dan Ibu Zul. Tak ada seorangpun berinisiatif memulai pembicaraan. Semua tegang dengan kepala tertunduk. Waktu dijam dinding rumah sakit menunjukkan pukul 10 malam saat ini.


Zul dan Akis berada diruangan yang sama. Mereka saling mentransfer dan menerima darah secara langsung. Ada beberapa dokter dan beberapa suster juga diruangan itu menolong mereka.


Hape ibu Zul sesekali berbunyi. Ayah Zul menchatnya menanyakan apakah mereka sudah sampai Pandeglang. Ibu segera membalas chat ayah agar ayah tidak khawatir.


Suasana benar-benar tidak kondusif. Firman benar-benar benci suasana horor seperti itu.


"Pak,.... kenapa ga ada inisiatif memulai pembicaraan, sebagai orangtua yang dewasa dan punya sopan santun yang anaknya saat ini sedang ditolong ibu ini!" tegur Firman pada pak Abdul ayah Akis.


Seketika lelaki yang sudah berumur 55 tahun itu memerah wajahnya. Ia memang terlalu egois. Tapi sebenarnya hatinya ciut sejak tadi. Ingin melontarkan kata-kata maaf yang dahulu. Tapi keegoisannya terlalu tinggi.


Ibunya Akis meloncat memeluk ibu Zul. Tangisnya pecah seketika. Akhirnya ibu Zul pun terhanyut dan ikut menangis sedih.


Kedua wanita yang dahulu pernah begitu dekat itu saling berangkulan. Mencairkan segala kebekuan dan halangan diantara kehidupan mereka. Tangis keduanya memecah keheningan yang tadi begitu mencekam.


Keduanya saling mengucap kata maaf. Menghilangkan kegundahan hati mereka selama belasan tahun yang sebenarnya begitu menyiksa mereka.


"Maafkan kami, Heni! Saya sangat bersalah pada kalian, terutama anak kalian. Tolong sampaikan maaf kami pada Doni. Kami sangat menyesal, sungguh-sungguh menyesal!" Pak Abdul menggelosor dilantai. Tangisnya ikut pecah seperti bocah. Firman yang melihat itu berusaha menahan tawa. Andai tidak dalam suasana menunggu orang sakit, ia ingin mengeluarkan hapenya untuk merekam bocah tua nakal itu. Ternyata sebenarnya pak Abdul juga tersiksa selama belasan tahun kejadian tragis yang menimpa Akis dan Zul.

__ADS_1


"Sudahlah, pak! Saat ini, kita doakan Akis dan Zul kembali sehat. Semuanya sudah berlalu, Pak! Saya yakin, mas Doni juga sudah membukakan pintu maaf pada semuanya!" tutur ibu Zul membuat tangis pak Abdul makin kencang.


"Udaaah, jangan keras-keras nangisnya! Ini rumah sakit, ganggu pasien lain!" bisik Firman menepuk pundak pak Abdul pelan. Ia geli dalam hati, ingin tertawa juga. Entah mana yang tua mana yang muda. Ia merasa seperti kakek tua renta yang sedang memberi nasehat. Pak Abdul memeluk Firman. Menangis tersedu dipundak Firman membuat Firman menutup matanya ingin menepuk dahinya.


Sungguh orang dewasa ternyata kadang lebih kekanakan dibanding anak-anak, gumam Firman dalam hati. Bahkan masalah belasan tahun lalu yang menggantung itu hanya dalam beberapa menit lewat ucapan maaf yang tulus pun bisa diselesaikan dengan baik. Tak ada tarik urat apalagi adu jotos. Sungguh suatu hal yang mudah diatasi jika kita berhati bersih dan berfikir jernih.


Dokter memberitahukan kalau Akis sudah melewati masa kritisnya. Zul juga dalam keadaan baik-baik saja setelah sekantung darahnya mengalir ditubuh Akis. Keduanya kini tengah tertidur lelap.


Malam ini mereka tidur dibangsal rumah sakit. Semua tertidur dengan jiwa yang lebih ringan karena beban belasan tahun telah terangkat.


Zul telah bangun lebih dahulu dari Akis. Ibu sudah menyiapkan sarapan pagi segelas susu putih dan setangkup roti isi ceplok telur dan sosis goreng. Sambil menatap Akis yang masih tertidur diranjang sebelahnya, Zulyanda mengunyah sarapannya.


"Enak banget lo Zul! Bangun tidur langsung makan," gerutu Firman membuat ibu Zul tertawa kecil seraya mencubit tangan Firman pelan.


"Tenaaang, tuh sarapan Firman juga udah ada dimeja." kata ibu membuat Firman tertawa girang.


Pak Abdul dan Bu Sani masuk setelah membeli sarapan diluar rumah sakit.


"Maaf Heni, kami tadi lama karena harus keruangan dokter dulu."ucap pak Abdul sambil memberikan plastik makanan pada ibu Zul.


"Ga apa, Pak! Kami udah beli makanan koq!"


"Zulyanda....., maafkan bapak yaaa... juga, terima kasih banyak, udah mau mendonorkan darahnya untuk Akis. Udah mau nolong Akis," ujar Pak Abdul sambil mencium tangan Zul terisak lagi. Zul merasa tak enak hati. Ia balik mencium tangan pak Abdul, berusaha menenangkannya.


"Zul yang minta maaf, pak! Baru sekarang bisa datang ke Pandeglang. Itupun setelah tau ada kejadian tentang Akis." Pak Abdul menangis malu.

__ADS_1


Akis ternyata sudah bangun. Matanya memandang mereka semua yang ada diruangan itu. Tatapannya kosong dan sayu. Lalu, lama menatap mata Zul hingga terlihat riak-riak disana. Mata Akis berkaca-kaca. Akis memalingkan wajahnya kesamping. Berusaha menyembunyikan airmatanya yang bergulir dipipi tirusnya.


Ibunya menghambur memeluknya.


"Neeeng....!"


"Liat neng, siapa yang sudah nolongin eneng! Ucul neng, Ucul..!" ibu Akis mengucapkan kalimat yang membuat Zul berdesir.


Akis diam saja tak bersuara.


"Makan, ya neng? Ini umi beliin bubur ayam kesukaan eneng!"


Akis mendorong tangan ibunya. menutup wajahnya lalu tidur terlungkup.


Zul terdiam. Ia ingat, Akis hampir kehilangan nyawanya yang memang sengaja ia lakukan. Itu sebabnya Akis sedih, karena ternyata masih merasakan sedih didunia yang sepi ini menurutnya.


Akis menangis. Meraung-raung keras. Melempas semua bantal dan selimut diranjangnya. Membuat bapak dan ibunya kewalahan. Ibu Zul ikut membantu menenangkan Akis. Tapi nihil. Bahkan Zul yang duduk diranjang sebelahnya nyaris kena lemparan botol plastik berisi air mineral.


"Eneng, udah neng! Istighfar neeeng,... liat neng, semua sayang eneng Akis. Jangan berfikir ga da yang sayang eneng. Itu Zul, Uculnya eneng, ada neng. Datang dari Jakarta cuma buat nolong eneng! Liat neng, darah Zul ada ditubuh eneng Akis!"


Akis makin menjadi mendengar cerita ibunya. Tangan kirinya yang diperban dibongkar paksa Akis hingga darah segar langsung muncrat dari luka yang masih baru itu. Semua histeris.


Pak Abdul berlari memanggil dokter. Akis akhirnya tenang setelah disuntik. Dokter dan suster mengikat kaki dan tangannya diranjang untuk keselamatannya.


Zul gemetar menyaksikan Akis seperti itu. Sebegitu dalamkah luka batinnya karena kisah tragis dahulu?

__ADS_1


Zul memang sempat mendengar Firman cerita kalau Akis menjadi bisu. Entah karena suatu hal penyakit entah apa. Tapi Akis berhasil menyelesaikan studinya hingga tamat SMA seperti dirinya.


Apakah yang akan terjadi nanti antara Akis dan Zulyanda? Akankah Akis dan Zul sembuh dari sakit karena trauma masa kecil itu? Tunggu yaa cerita selanjutnya gaess....


__ADS_2