ISTRI MASA KECIL

ISTRI MASA KECIL
KEBAHAGIAAN 2


__ADS_3

Dokter Reyvan terdiam melihat dengan seksama hasil test keseluruhan general check up milik Zul tempo hari.


Sementara Zul dan Akis harap-harap cemas menanti berita dari dokter Reyvan. Jemari mereka saling genggam dibawah meja.


Dokter Reyvan langsung cemberut menatap Zul.


"Hei, hei....kalian ! Jaga ya akhlak kalian! Kalian mengusik jiwa jomblo saya nih!" Zul yang tadinya terkejut langsung tertawa melihat gaya dokter Reyvan.


"Juga untuk nona Akis,.... saya masih menunggu kabar dari kamu untuk mengenalkan saya gadis cantik yang setipe kamu." Kali ini dokter Reyvan menggoda Akis. Akis tersipu.


"Maaf dokter, kebetulan saya anak perempuan satu-satunya dikeluarga saya. Saya juga bukan orang yang supel dalam pergaulan, jadiiii... mohon maaf, saya ga punya banyak teman dok!" kata Akis membuat dokter Reyvan bereaksi seperti orang yang putus asa. Lalu tertawa pasrah.


"Mmmmh.... Oke! Zul, kita kembali ke hasil lab kamu semuanya. Hasilnya,.......mmmmmmmh..... mencengangkan!"


"Maksudnya apa dok? Apakah itu berita baik?" Zul terbata menyela perkataan dokter Reyvan.


"Berita sangat baik sekali."


"Alhamdulillaah......!" Zul dan Akis bersorak.


"Jujur saya agak bingung lho! Penyakit kamu diluar nalar saya. Dan lagi sekarang, kamu bisa liat sendiri....digrafik ini, bulu-bulu halus yang tempo hari dihasil citiscan yang lalu, semua hilang. Bersih." Dokter Reyvan menjelaskan dengan seksama.


"Jadi kamu mulai saat ini bebas konsumsi obat. Tapi saya tetap kasih vitamin untuk syaraf ya...untuk 2 minggu kedepan aja. Jadiii,... selamat ya untuk mas Zulyanda. Anda dinyatakan sembuh total."


"Terima kasih banyak dokter! Dokterlah yang hebat banget, sabar dalam mengurus dan mengobati saya. Terima kasih banyak, dokter Reyvan!"


Zul menjabat tangan Dokter Reyvan erat. Matanya berkaca-kaca. Setelah hampir 7 bulan ia wara-wiri kerumah sakit ini hanya untuk bertemu dokter Reyvan yang menjadi dokter spesialis syarafnya. Bahkan ayah Zul sampai berkorban memohon nomor kontak pribadi dokter Reyvan agar Zul bisa mendapat advis lebih baik untuk jadwal berobatnya.

__ADS_1


Dokter Reyvan tersenyum. Ia memeluk dan menepuk bahu Zul. Zul memang selalu membuatnya mengingat adik satu-satunya yang telah meninggal dunia 3 tahun yang lalu. Karena itu dokter Reyvan menaruh perhatiannya pada Zul sebagai pasien kesayangannya agar Zul terbebas dari penyakit yang dideritanya. Tapi ia bukanlah pribadi yang terbuka untuk menceritakan kekangenannya pada almarhum adiknya kepada Zul dan keluarganya. Dokter Reyvan hanya berusaha sepenuh hati berjuang mengobati Zul.


"Dokter... ini nomor Zul dan juga Akis. Mainlah kerumah, ayah ibu pasti seneng banget kalo Dokter berkenan menyambung tali silaturahim kami. Juga, kami mungkin akhir bulan ini akan tinggal di Bandung. Jadi kalo dokter lagi cuti, bingung mau kemana...bisa hubungi kami. Kami janji, akan jadi saudara guide buat dokter. Akis juga bisa bantu cari jodoh buat dokter, tapi ada catatan... dokter jangan modus sama Akis!"


"Hahahaha... .kamu Zul, ga enak ujungnya tuh! Tapi, makasih banyak untuk undangannya. Pasti, saya akan ganggu kalian terus! Jadi kalian harus siap dengan saya, juga jangan menyesal yaaa...karena telah baik sama saya!" goda dokter Reyvan membuat Zul akting menggigil.


"Atuuuuut!..."


Mereka keluar dari ruangan dokter Reyvan dengan wajah sumringah. Tangan mereka saling berpegangan dengan senyum saling lempar. Beberapa pasang mata terlihat menyelidik pasangan muda itu. Entah apa yang ada difikiran mereka, Zul dan Akis tak ambil pusing. Mungkin kalau dirumah, sudah Zul cium dan peluk Akis karena saking bahagianya.


"Besok kita ke Bandung, yuk?" ajak Zul membuat Akis termenung.


"Kita cuma main dulu. Cari tempat kursus yang dekat antara kursus jait sama kursus mekanik. Kita juga cari rumah kontrakan. Gimana?"


"Oke, Akis setuju. Akis ikut kata Zul. Tapi kalo ibu ayah belum izinin, jangan ngeyel ya.. Akis takut kita kenapa-kenapa kalo pergi tanpa izin orangtua."


"Iiih, apa sih Zul...!?! Jangan manggil gitu ah, kesannya gimana gituuu..!" Zul tertawa melihat Akis yang agak merengut. Tangannya dengan gemas mencubit hidung bangir Akis.


"Besok kalo jadi kita naek bus aja ya.... biar lebih berasa bagpacker-annya." kata Zul lagi yang semangat sekali kalau sudah memikirkan akan ke Bandung.


"Iya suamiku sayaaaang!"


"Aduuuuh, meleleh hatiku!" Zul tertawa senang. Taxi yang mereka tumpangi meluncur masuk kompleks perumahan pertanda sebentar lagi mereka sampai dirumah.


Seperti yang mereka duga, ibu senang sekali dengan kabar baik yang Zul bawa. Saking terharunya, ibu sampai meneteskan airmata memeluk erat Zul kemudian Akis. Kesedihan dan kegundahan hatinya setengah tahun ini terbayar dengan kabar kesembuhan Zul.


Ibu langsung menelfon ayah untyk memberitahukan kabar baik ini. Ayah juga bertasbih gembira. Ia bisa tersenyum lega sekarang. Zul terbebas dari sakit dan tak perlu menjalani pengobatan lagi.

__ADS_1


Hari ini mereka merayakan kebahagiaan bersama. Ayah mengajak ibu, Zul dan Akis untuk makan diluar. Ibu dan Zul bebas memilih restaurant mana yang ingin mereka kunjungi.


Akhirnya mereka sepakat untuk makan steik diLounc' Resto.


"Ayah, ibu.... besok Zul sama Akis mau main ke Bandung. Boleh ya?" tanya Zul disela-sela waktu makannya.


"Besok? Apa ngga' terlalu cepet, Zul?" ayah balik tanya. Sementara ibu hanya diam.


"Kita cuma main aja koq yah, mungkin kita nginap dipenginapan semalam doang! Kita mau cari-cari tempat kontrakan juga tempat kursus, yah! Mumpung masih hari kerja juga, jadi bisa pilih-pilih juga!"


"Kalo ayah sih terserah kalian. Ayah dukung kalian, selama itu baik untuk kalian!"


"Ibu gimana?"


"Kalo cuma semalam aja, bolehlah. Tapi kalo kalian udah dapat tempat, jangan cepat-cepat pindah yaaa...?!? Soalnya ibu belum puas tinggal sama kalian berdua."jawab ibu membuat Akis memegang tangan ibu lembut.


"Kalo ibu sama ayah kangen kami, tengok kami di Bandung yaa...?!?"


"Tapi biar gimana pun..., ibu tetap harus support kalian berdua. Ibu pasti selalu pantau kalian berdua." kata ibu lagi mengingatkan.


"Jaga diri kalian ya, selama di Bandung. Sebelumnya cari kontrakan yang ga terlalu pojok atau rawan dari hal-hal yang dikhawatirkan."


"Iya ayah!"


Zul tersenyum pada Akis. Besok ia akan membawa Akis ke kota favoritnya itu, dimana banyak tempat kesukaan Zul. Sebenarnya Zul sudah punya gambaran akan tinggal dimana nanti di Bandung karena Bandung bukanlah tempat asing baginya. Entah sudah berapa kali Zul ke Bandung karena seringnya sampai Zul lupa. Zul sering bolak-balik ke Bandung. Urusan beli kaos kelas, jaket, sepatu, dll, hampir ia lebih nyaman ke Bandung. Bahkan Zul punya beberapa teman juga disana. Yang memang asli orang sana. Jadi Zul cukup percaya diri untuk mengajak Akis hidup bersama di Bandung. Selain cuacanya yang sejuk juga orang-orangnya yang lebih ramah dibanding Jakarta. Itulah mengapa Zul tertarik tinggal di Bandung.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2