
"Udah siap, suamiku?"
"Iya istriku! Bentar yaaa.... lagi beresin berkas-berkasnya dulu.... Mmmmhhh, koq istriku makin hari makin cantik sih? Bahaya ini lama-lama! Harus makin disayang nih, biar ga diambil orang!" Akis tersipu dipuji Zul setinggi langit. Zul memeluk Akis mesra. Mereka memang tidak pernah pacaran sebelumnya. Baru jumpa lagi setelah sama-sama dewasa. Pasti Zul memiliki kekhawatiran kalau Akis akan canggung jika tiba-tiba Zul menerebos berbuat lebih walaupun kini sudah menjadi haknya sebagai seorang istri.
Akis menerima pelukan sayang Zul. Entah mengapa dengan Zul ia selalu melayang. Merasa kebahagiaan yang sempurna. Karena hatinya yang begitu terbuka menginginkan Zul sejak dulu. Padahal waktu sekolah dulu, sebenarnya banyak lelaki mencoba merayunya. Menawarkan cinta padanya. Tapi hati Akis benar-benar terkunci tidak bergeming apalagi tergoda. Bahkan Akis menutup dirinya, tidak pernah memperhatikan dirinya sendiri sekedar merawat diri ataupun wajahnya. Akis tidak pernah bersuara, merespon mereka hingga banyak yang mengira kalau Akis bisu. Akis tidak peduli.
Akis menatap lekat mata Zul. Bibir Zul ******* bibirnya lembut. Nafasnya berburu mengikuti tensi birahinya yang menaik. Akis merasakan sensasi hawa panas luar biasa. Zul memeluknya membawanya ke ranjang yang baru saja Akis bereskan.
Zul terus menyusuri wajah Akis dengan bibirnya. Ia lebih berani kini. Akis pasrah diperlakukan Zul seperti itu. Akis memejamkan matanya menikmati rangsangan Zul.
Zul terus mengujani Akis dengan ciuman. Ia mencoba menerobos batasan yang Akis buat sebelumnya. Memberinya ribuan ciuman tanpa henti menyatakan bahwa ia menyayangi Akis. Mencintai dan menginginkan istrinya itu dengan sepenuh hatinya.
Mata mereka saling berpandang dengan tangan saling berpegangan. Bulu mata Akis panjang dan lentik, membuat Zul kembali mencium mata indah Akis perlahan.
"Zul cinta Akis!" bisiknya pelan membuat Akis memejamkan matanya pasrah karena senang.
"Aduh, lonceng sakti Zul kejepit nih...! Hehehe, Akis mah jahat.... belum mau periksa sih!" Zul membetulkan 'sesuatu' dibalik celananya. Akis menutup wajahnya yang tertawa malu. Ia belum berani melihat sesuatu yang sebenarnya selalu menggodanya disetiap malam setelah ia resmi menjadi istri Zul. Akis cukup paham kalau memang sudah selayaknya sebagai istri harus siap menyerahkan jiwa dan raganya sepenuhnya setulus hati untuk suaminya. Bahkan Akis sempat berfikir Zul tak punya hasrat menyentuhnya untuk memulai melakukan hubungan suami istri.
"Maaf ya, istriku jadi berantakan gini. Abis istriku ini gemesin sekali. Bikin si imin kecil ini berontak pingin disayang,"bisik Zul lagi membuat Akis tersipu terus.
"Akis lagi menstruasi," balas Akis juga berbisik.
"Tapi kalo cuma cium aja, ga apa-apa khan? Pingin...mmmmmmh pingin main-main kegunung juga!" kata Zul langsung menutup bibirnya spontan. Ia tertawa malu juga mendapatkan dirinya yang jadi terlihat mesum dimata istrinya.
Akis mencubit pinggang Zul. Mengelitikinya hingga suami istri itu berguling-guling diatas kasur.
"Zuuuuul, Akiiiiiiis..... Kalian masih belum berangkat???.... Nanti kalian kesorean kerumah sakitnya!" Ibu teriak dibalik pintu kamar Zul membuat Zul terjungkal hingga jatuh kelantai. Akis memekik, melompat menghampiri suaminya yang meringis kesakitan.
"Ga apa-apa khan Zul?" tanya Akis cemas.
"Aduuuuh.... Sakit niiiih!"
"Mana yang sakit?"
"Ini, ini.... ini juga!" Zul menggoda Akis.
__ADS_1
Tok tok tok!!! Ibu mengetuk pintu kamar Zul. Mereka kompak menjawab," Iya buuuuu!" lalu tersenyum malu. Saling memegang tangan bangkit berdiri.
Mereka terlambat setengah jam tiba dirumah sakit. Zul memang pasien spesial dokter Reyvan. Ayahnya selalu memesan nomor paling pertama untuknya konsultasi ke dokter Reyvan.
Dokter tersenyum senang mendapati raut muka Zul yang lebih cerah.
"Halo Zulyanda, sepertinya kabar baik nih setelah liburan ya..!?" kata dokter Reyvan agak menggoda Zul.
"Betul dok! Saya ga kambuh sama sekali di Pandeglang. Jugaa...ingatan saya perlahan pulih dok! Saya kembali mengingat masa kecil saya," kata Zul membuat dokter Reyvan terbelalak. Ia nyaris tak percaya.
"Waaaah, hebat! Selamat ya! Ini benar-benar kasus yang aneh! Tapi sungguh saya senang mendengarnya," gumam dokter Reyvan menelisik.
"Saya juga ga mimpi aneh lagi dok!"
"Tapi obat tetep teratur dikonsumsi khan?"
"Iya. Cuma injeksi sama sekali ga saya pakai."
"Bagus! Sekarang sepertinya dosisnya bisa saya kurangi, Zul!"
"Oke! Kita bisa lakukan sekarang juga karena kondisi kamu stabil. Ada rencana kuliah di Bandung?"
"Bukan kuliah sih dok, hanya kursus mekanik aja. Hehehe....punya cita-cita buka bengkel sendiri nanti."
"Bagus itu! Selalu optimis, itu namanya anak muda yang hebat! Good job, Zul!"
"Makasih banyak dokter!"
"Tapi sepertinya ada gadis cantik yang dampingi hari ini, siapa niiih?" goda dokter melirik Akis yang sejak tadi duduk tenang mendengarkan obrolan Zul dan dokter Reyvan.
"Hehehehe... Zul belum ngenalin ya!? Ini Akis Pratiwi, istri saya dok!" Zul tersipu.
"Apa? Kapan nikahnya? Yang bener kamu Zul?"
"Hahahaha dokter, jadi malu nih!"
__ADS_1
"Beneran terapi shock kamu berhasil lho!? Ini beneran? Bukan april mop khan? Hahaha... haduuuh, saya aja masih jomblo diusia udah mau 30 tahun ini." Dokter Reyvan tak henti-henti tertawa antara lucu dan bingung.
"Beneran lah dok! Nikah di Pandeglang 2 minggu lalu."
"Jadi kamu izin ke Pandeglang waktu itu punya niatan nikah?"
"Waktu itu sama sekali ga da niatan dok! Cuma, pas disana....liat cewe cantik disamping saya ini, langsung punya niat. Cewe ini harus jadi milik saya. Harus bisa saya bawa ke Jakarta. Gitu dok!"
"Hahahaha, bisa ya gitu ya? Hahaha, Zul zul! Kalo bisa gitu, tolong kenalin satu dong untuk saya nih, hahahaha," tawa dokter Reyvan pecah. Kepalanya terus digeleng-geleng. Akis hanya senyum-senyum dengan wajah agak memerah.
"Oke, cek up udah bisa kita mulai. Sekarang kamu ke lab, tes darah. Lalu setelah itu langsung keruang rontgen, setelah itu langsung scanning, kembali lagi kesaya, baru setelah itu endoscopi. Tapi akan memerlukan waktu yang cukup lama nona manis! Harap sabar menunggu suaminya cek up yaa... Kalo jenuh, boleh koq ajak saya ngopi santai dikafe rumah sakit."
"Dokter Reyvan jangan modus sama istri saya ya?!" ucap Zul bercanda tapi serius.
"Hahahaha....suaminya langsung pasang mode siaga!" canda dokter Reyvan lagi. Ia memang sudah seperti kakak bagi Zul. Ayahnya Zul adalah seniornya dikampus biru tempat ia menempuh pendidikan dokter spesialisnya.
Akis tersipu. Dokter Reyvan cukup terpesona melihat kecantikan Akis. Andai Zul berbohong, ia ingin mengenal Akis lebih dekat karena perempuan seperti Akis adalah tipe idamannya.
Zul menjalani serangkaian test dengan ditemani Akis. Ia sudah membayangkan hidup berdua Akis dikota Bandung. Kota bunga kota Paris van Java yang ia favoritkan setelah Jakarta. Ia ingin sembuh. Ingin menjalani kehidupan normal layaknya pasangan lainnya. Bekerja, mencari nafkah untuk istri dan anaknya kelak.
"Maaf ya istriku, membuat kamu lelah mendampingi aku yang pesakitan ini!" Zul memeluk bahu Akis disela menunggu gilirannya masuk ruang rontgen. Suasana cukup sepi hingga ia berani bermanja-manja pada Akis.
"Yang sabar yaa..., biar cepet sembuh. Semangaaaat!" kata Akis membuat Zul tenang. Bibirnya segera mengecup pipi istrinya itu bahagia.
"Husss..., malu kalau diliat orang!" ujar Akis berbisik.
"Kita udah suami istri ini koq!" bela Zul.
"Nanti aja dirumah!"
"Beneran? Dirumah boleh ya?"
Akis mencubit pinggang Zul. Malu tapi mau.
Tunggu terus ya cerita selanjutnya....🤗
__ADS_1