
Zul, Vera, Firman dan Akis akhirnya mendapat izin orangtua mereka melakukan perjalanan wisata kebukit taman kota Pandeglang. Sebenarnya tempatnya tidak begitu jauh, hanya butuh waktu setengah jam saja untuk pergi kesana. Tapi mengingat Akis yang masih masa pemulihan dan Zul yang juga dikuatirkan sakit kepalanya kambuh, hampir mereka tak diizinkan untuk pergi. Tapi Zul berhasil membujuk karena ia tak bisa terlalu lama di Pandeglang. Ia ingin menyenangkan hati Akis hingga mentalnya kembali kuat secara perlahan.
"Akis,... ini kotak obat Zul. Akis yang bertanggung jawab kalo Zul tiba-tiba kumat, ya! Jangan kuatir, Bang Firman bisa bantu Akis kalo Zul berontak susah dikendalikan!" tutur Zul menyerahkan kotak obatnya pada Akis ketika mereka masih diperjalanan. Vera dan Firman ternyata juga mengajak teman dekat mereka dengan janjian ketemuan dilokasi nanti. Pantas saja mereka semangat dan tidak komplain ketika Zul nekat ingin mengajak Akis.
Akis cukup tenang. Ia juga membawa beberapa butir obat penenang untuk jaga-jaga saja.
"Kalian adalah pasangan yang aneh!" gerutu Vera melihat keduanya saling titip obat juga saling titip diri. Zul hanya senyum menanggapi celotehan Vera. Sedangkan Akis hanya diam. Sesekali Akis curi pandang wajah Zul. Ia terlihat semakin berbeda dari hari kemarin. Perubahan positif yang luar biasa. Karena itulah abah dan uminya mengizinkan Akis ikut perjalanan mereka. Berharap tidak terjadi apa-apa karena sekarang mereka sudah beranjak dewasa. Bukan lagi kanak-kanak. Pasti tahu perbuatan yang baik dan pantas yang selayaknya mereka lakukan.
Sesampai disana, Firman dan Vera memisahkan diri. Tapi mereka berjanji tidak akan jauh dan akan terus saling menghubungi via hp. Kini Akis dan Zul hanya berdua. Duduk disaung bambu dengan pemandangan alam yang begitu indah dihadapannya.
Zul agak gugup. Ia dan Akis belum pernah hanya berdua seperti ini. Apalagi Akis belum pernah sekalipun mengeluarkan suara, mengobrol dengannya.
Akis menggeser duduknya. Ia tetap diam tak berinisiatif membuka suaranya yang telah lama hilang.
Akhirnya Zul berusaha memberanikan diri memulai percakapan.
"Akis haus?" Akis hanya menggelengkan kepalanya.
"Akis mau permen?" Akis hanya mengambil permen itu dari tangan Zul tanpa menjawab pertanyaan Zul.
Zul menarik nafas grogi. Ia bingung memilih kata-kata apa lagi yang akan dia ucapkan agar Akis meresponnya.
__ADS_1
"Akis..... Zul saat ini sedang sakit. Zul kepingin sembuh makanya masih dalam pengobatan. Nanti kalo Zul tiba-tiba sakit kepala hilang kesadaran, tolong Akis suntik yaa... ini ada suntikan dalam kotak obat." Akis menatap Zul lama. Terlihat kecemasan dari bola mata Akis yang indah.
"Zul baik-baik aja sekarang. Cuma untuk jaga-jaga aja," kata Zul lagi berusaha menenangkan Akis. Ia agak kuatir Akis terguncang lagi mentalnya karena ucapannya yang sebenarnya hanya untuk memancing respon Akis.
Akis mendekatkan posisi duduknya kearah Zul. Tangannya menggapai tangan Zul. Ternyata Akis ingin berbagi semangat dengan Zul walaupun jemarinya dingin. Mungkin Akis juga gugup segugup Zul. Mereka sudah belasan tahun tidak bersama. Kini semua telah berubah dewasa. Sudah pasti ada dinding penyekat diantara mereka.
Zul menikmati genggaman tangan Akis. Ada kenyamanan yang ia rasakan. Entah sulit untuk diucapkan dengan kata-kata.
"Akis.... boleh Ucul minta sesuatu?..."
Wajah Akis langsung memerah mendengar perkataan Zul. Zul pun memerah karena sebenarnya bukan itu maksudnya.
"Maksudnya, mmmm....Ucul mau dengar suara Akis panggil nama Zul lagi kayak dulu. Mmm... Ucul, gitu!" ralat Zul membuat Akis menyunggingkan senyuman indahnya dibibir mungilnya. Zul terpesona. Matanya menatap lekat wajah itu. Membuatnya hilang kendali lalu mencuri kecup bibir Akis.
"Maaf....! Maaf Akis, Ucul hilang akal liat senyum Akis," Zul menundukkan kepala.
"Akis..... Mungkin kita sudah lama ga ketemu. Tapi Zul ngerasa kita seperti punya tali ikatan yang sangat kuat. Zul ngerasa, Akis itu milik Zul. Maaf ya kalo Zul bikin Akis tersinggung dan marah," Zul berusaha meredam suasana hening itu.
"Akis ingat? Bang Firman pernah nikahkan kita dibukit kebun abah waktu kita kecil?"
Akis menutup bibir mungilnya. Ia menyembunyikan senyum ataupun marahnya, Zul tak bisa menebak. Zul semakin menunduk. Tapi Zul ingin meluruskan selurus-lurusnya masalah dahulu itu. Hingga tidak ada lagi tabir dendam ataupun benci dihati Akis.
__ADS_1
"Bicaralah Akis! Maki Zul, pukul Zul! Zul bakalan terima.... apapun yang Akis ingin keluarkan uneg-uneg Akis, Zul ga akan ngebantah apalagi ngelawan."
Akis masih diam. Hanya terdengar tangisnya sesegukan. Zul hanya ingin mengeluarkan amarah Akis. Hingga Akis kembali seperti dulu. Tidak lagi menanggung beban derita yang membuatnya jadi gadis pendiam seperti ini.
"Zul ga ngerti harus bagaimana kalo Akis hanya diam. Zul sebentar lagi harus pamit ke Jakarta. Setelah ini, apakah kita beneran kembali lagi seperti dulu? Lost contac, sibuk dengan prasangka difikiran kita masing-masing?"
Tangis Akis membesar. Zul agak menyesal membuat Akis menangis. Ia takut orang-orang salah faham melihatnya. Terlebih Vera dan bang Firman tidak terlihat batang hidungnya.
Zul memeluk Akis menenangkannya. Ia mengambil saputangan kecilnya dari dalam ranselnya.
Akis balas memeluknya erat. Membenamkan kepalanya didada Zul. Menangis pelan cukup lama. Zul membiarkan Akis mengeluarkan semua kegundahannya lewat tangisannya. Berharap setelah ini Akis akan kembali tenang dan merasa lebih baik.
"Ucul...... Apa....kita ini suami istri?" Zul terbelalak mendengar suara Akis. Walaupun pelan dan kecil, tapi Zul jelas mendengar ucapan Akis disela tangisnya.
Zul memegang wajah Akis dengan kedua tangannya. Matanya menembus mata Akis yang sembab karena menangis. Gadis ini begitu rapuh terlihat. Zul kembali memeluk Akis. Menepuk-nepuk pundak Akis perlahan menenangkannya walaupun senyumnya tak bisa lepas dari bibirnya.
"Firman bukan penghulu, Akis! Itu cuma permainan anak-anak, sayang! Kamu ternyata mikirin sampe sedalam itu selama ini?" tangis Akis kembali membesar. Tangan mungilnya memukul-mukul bahu Zul. Ia seperti diantara marah dan malu.
"Akis mau kita beneran nikah?" bisik Zul menggoda Akis. Akis melepas pelukannya. Menghapus airmatanya sambil menghindar memunggungi Zul. Zul tertawa senang berhasil menggoda Akis.
"Akis sungguh mau kita nikah beneran? Jawab dengan jujur Akis!" tanya Zul lagi, kali ini ia terlihat lebih serius. Akis menutup wajahnya lalu kembali memukul-mukul kecil dada Zul. Wajahnya benar-benar merah karena malu.
__ADS_1
"Ayo, kita nikah beneran! Mau?... Jawab Akis! Kamu mau khan??" Zul menyerang Akis dengan pertanyaan itu lagi. Kali ini Akis menantang Zul dengan tatapan matanya. Berusaha mencari kebenaran kata-kata Zul lewat sorot matanya.
Apa jawaban Akis? Apa pertanyaan itu hanya gurauan Zul saja? Nantikan srlanjutnya yaa di "ISTRI MASA KECIL" episode selanjutnya.... Makasiiih...