ISTRI MASA KECIL

ISTRI MASA KECIL
NYARIS PECAH PERANG DUNIA KETIGA


__ADS_3

"Zul! Ayo kita pulang!"


Ayah Zul sudah berdiri di depan jalan ketika Zul dan yang lainnya baru saja turun dari mobil sehabis perjalanan ke bukit taman kota.


"Ayah? Kapan ayah datang?" tanya Zul seraya mencium punggung tangan ayahnya.


Ada ibu juga dengan wajah tegang. Tak jauh dari situ abahnya Akis dan juga uminya dengan wajah datar.


Zul mulai sadar. Masih ada aura negatif diantara mereka sepertinya. Zul mundur beberapa langkah.


"Ayah,.... Zul masih mau disini beberapa hari lagi."


"Pulang! Urusan kalian sudah beres disini. Toh anak gadis ini sudah tak apa-apa lagi," jawab ayah tegas.


Abah Akis agak tersinggung. Dirariknya Akis yang masih berdiri disamping Zul.


"Pulang!!" hardiknya pada Akis. Zul menarik tangan Akis lebih cepat seperdetik. Akis dan Zul melangkah menjauh.


"Bereskan dulu urusan kalian para orangtua egois! Zul dan Akis akan nunggu dibukit tempat kami dulu berpisah! Tolong, belajarlah jadi orangtua yang lebih bijak! Yang gak gampang ngeluarin kata-kata sumpah serapah yang justru membuat anak-anak kalian jadi korban ucapan itu sendiri."


Zul berjalan cepat menuntun Akis meninggalkan mereka yang termangu. Zul dan Akis berlari. Dada mereka sesak karena amarah dan kesedihan. Ini semua harus dibereskan. Zul tak ingin seumur hidup menanggung dosa dan karma ucapan masa lalu orangtuanya dan orangtua Akis.


Sesampainya dibukit kebun milik abah Akis tempat dahulu mereka terakhir bertemu, Zul dan Akis duduk disaungnya. Masih sama seperti 11 tahun yang lalu. Hanya saungnya yang agak lebih bagus karena sudah direnovasi abahnya Akis.


"Akis! Kamu percaya Zul khan? Kamu mau kita kembali lagi bersama khan? Atau Akis punya pendapat lain?" tanya Zul menggenggam kedua jemari Akis berusaha meyakinkan Akis.


Akis mengangguk cepat. Matanya berbinar menatap mata Zul.


"Mungkin jiwamu dan jiwaku sudah ditakdirkan bersatu. Akis setuju kalimat itu? Kita akan selalu bersama apapun yang terjadi. Akis setuju?"


"Iya! Akis mau terus sama Ucul!" jawab Akis mantap. Zul mengangguk cepat. Ia sudah siap dengan rencana kedepannya. Biar bagaimanapun, ia adalah seorang laki-laki. Calon pemimpin keluarga. Dan ia telah bertekad mengambil keputusan ini.


"Kita sudah sama-sama dewasa sekarang. Kita ambil keputusan ini. Akis setuju sama keputusan Zul?"


"Akis ikut kata Zul!"


"Oke, bismillah..... Kita akan selalu bersama dengan izin Allah!"

__ADS_1


Keduanya duduk berdampingan, dengan tangan saling berpegangan dan kepala menunduk. Mereka berusaha meyakinkan diri mereka masing-masing. Walau mereka sudah mengira pasti akan pecah perang dunia kedua. Zul sangat tahu sifat keras ayahnya dan abahnya Akis. Mereka dulu nyaris baku hantam jika tidak melihat kondisi Zul kecil yang terkapar dibawah jurang itu.


Hampir setengah jam lebih, akhirnya kedua orangtua mereka datang juga kebukit. Raut wajah mereka lebih terlihat tenang. Zul menelisik wajah ayah juga wajah abahnya Akis.


"Kami sudah menutup masalah yang lalu. Kami semua bersalah, Nak! Kami memang orangtua yang sangat egois. Tolong maafkan kami," kata abah Akis. Ayah Zul terlihat menundukkan kepalanya.


"Beneran kalian udah saling memaafkan?" tanya Zul lantang.


Bagaikan dua bocah cilik yang habis bertengkar hebat lalu dilerai orang dewasa, keduanya saling berangkulan. Ingin menunjukkan kepada anak-anak mereka kalau mereka kini baik-baik saja. Ibu dan umi Akis juga saling berpegangan tangan. Wajah mereka sembab berlinang air mata.


"Zul dan Akis punya permintaan. Tolong nikahkan kami berdua!"


"Apa????" mereka kompak berteriak.


"Zul, kamu sadar permintaan kamu?" ayah langsung berontak tak setuju.


"Umur kalian masih teramat muda!" abah Akis ikut angkat suara.


"Kalian masih anak-anak!" gumam ibu Zul agak cemas.


Zul dan Akis saling berpandangan. Tangan mereka saling erat menggenggam.


"Jangan! Jangan, Nak!"


"Kalau ayah, ibu, abah, umi bisa diajak kompromi,.... kita duduk bersama disaung ini."


"Iya, iya! Kami akan kompromi, ya khan? Kita cari jalan tengahnya. Setuju mas Doni?" abah Akis berusaha meredam keseriusan Zul dan Akis.


"Ayo, ayo....duduk nak! Sini Zul juga Akis!" ajak ayah berusaha ramah.


Zul masih siaga dengan tangan menggenggam jemari Akis.


"Nikahkan kami!"


"Sebentar, sebentar....! Umur kalian baru akan 19 tahun. KUA pun pasti tidak akan menerima tindakan ini." kata abah Akis.


"Ga apa kami nikah siri. Yang penting kami sah sebagai suami istri. Juga punya selembar surat bukti tanda suami istri!" tekan Zul.

__ADS_1


"Tunggu!... Akis, pendapat kamu bagaimana nak?" tanya uminya cepat.


"Akis ikut kata Zul!" tangan Akis mengapit tangan Zul. Ia lebih merapatkan tubuhnya ketubuh Zul.


Kedua pasangan orangtua itu dibuat bingung sampai berkeringat. Tak tahu lagi harus berkata apa. Apakah pertemuan mereka sungguh menjadikan benih cinta yang diluar logika mereka. Mereka hanya menarik nafas panjang.


"Oke, oke! Kami setuju. Tapi, kita tunggu sampai umur kalian pas untuk menikah. Bagaimana?" tanya ayah berusaha mengajak kompromi.


"Iya. Abah juga setuju kaluan menikah. Tapi, tunggu 3-4 tahun lagi ya? Kita nikahkan secara meriah nanti. Abah akan nanggap layar tancep, marawis, juga pongdut. Bagaimana?" abah Akis ikut bicara.


"Kami mau minggu ini!"


"Zul!? Sadar, Nak!... Menikah tidak semudah itu. Belum ngurus surat-surat, ..."


"Ibu,.... kami cuma nikah siri, bu! Sehari-dua hari itu urusan beres khan. Apa ayah ibu, abah umi mau menanggung dosa kami jika kami berzinah?"


Semuanya terdiam.


"Zul dan Akis setelah nikah akan tinggal di Bandung. Sekali lagi Zul Akis mohon, ayah abah membiayai kami selama setahun. Zul akan kursus mekanik. Akis juga kursus jahit. Kami akan berusaha belajar selama setahun."


Mereka saling berpandangan.


"Tapi kalian tidak harus menikah buru-buru." kata ibu Zul.


"Justru dengan menikah, jalan kami lebih mudah. Kami bisa tinggal bersama. Saling menitipkan diri. Zul akan jaga Akis. Begitu juga Akis, akan mengurus Zul. Kami bisa saling mendukung satu sama lain. Jika Akis sakit, ada Zul. Gitu juga sebaliknya, Akis bisa rawat Zul. Tanpa harus jaga mahrom ataupun apalah...karena kami sah suami istri."


Lama kedua orangtua itu saling merenung. Berpandangan lalu merenung lagi.


"Zul dan Akis sudah dewasa ayah, abah! Izinkan kami melangkah kedunia nyata dengan kaki kami sendiri. Tanpa harus menyusahkan kalian. Kami hanya mohon setahun lagi kalian disusahkan kami dengan biaya pendidikan kami. Tolong ayah, ibu....abah, umi!"


"Kenapa harus di Bandung?" tanya umi Akis.


"Bandung ga jauh dari Jakarta juga dari Pandeglang. Kalian bisa nengok kami bila rindu. Kami juga bisa belajar mandiri bila jauh dari kalian."


"Abah, umi..... izinkan Akis sama Zul yaa..."


"Tapi Zul.... kamu masih harus rutin berobat, Nak!" ayah mengingatkan Zul.

__ADS_1


"Zul akan tetep berobat diBandung nanti ayah. Akis akan dampingi Zul!"


Bagaimana kelanjutannya gaes? Hayooo.... jangan bosan yaa menanti kisah Zul selanjutnya. Makasih...


__ADS_2