ISTRI MASA KECIL

ISTRI MASA KECIL
PERTEMUAN YANG CANGGUNG


__ADS_3

"It's okey Zul! Kamu ga harus depresi mikirin penyakit kamu. Secara medis, ini ga terlalu berbahaya juga. Justru kamu butuh rileks.... enjoy your life! Hang out, nikmati hidup!... Tapiiii, tetep harus konsekuen dengan pengobatanmu. Makan sehat, tidur teratur,... no soda apalagi alkohol. Minum obat teratur. Perlahan sakit kepalamu mereda, mungkin juga jarak waktunya semakin merenggang." Dokter Reyvan memberi sarannya ketika Zulyanda menanyakan resiko bila ia pergi berlibur beberapa hari keluar kota.


"Apa ga terlalu berisiko dok?"


"Asalkan selalu didampingi, yaa....! Jangan pergi sendirian. Obat-obatan standbye menjaga sesuatu hal yang tidak diinginkan. Juga jangan pergi ketempat yang mengandung resiko seperti aliran sungai, naik gunung atau perahu. Cari liburan yang aman-aman aja, seperti hiking yang treknya ga terjal, hamparan sawah atau kebun yang sejuk. Pemandangan kebun teh yang hijau bagus untuk kesehatan mata juga jantung."


Firman mengangkat jempolnya dengan senyum senang. Sepertinya ia harus siap untuk selalu menempel Zul nantinya. Walau merepotkan, tapi itu adalah tanggung jawab yang ia tunggu-tunggu. Mengobati rasa bersalahnya dengan menjaga Zul hanya untuk beberapa hari bukanlah beban berat baginya.


Dokter Reyvan seperti biasa memberinya resep beberapa obat termasuk injeksi untuk keadaan darurat.


"Tenang Zul!! Gue bakalan ngintilin lu deh tar di Pandeglang."


"Masalahnya sekarang ini izin ayah yang belom gue dapet, Bang!" Zul resah. Otaknya memutar memikirkan cara agar ayahnya melunak lalu mengizinkannya ikut Firman hanya beberapa hari saja.


Tiba-tiba Zul terdiam menatap seseorang yang kurang lebih 10 meter didepannya. Jantungnya berdebar. Ini pertemuan pertamanya setelah ia memutuskan hubungannya via hp.


Betul. Itu Putri. Duduk diseberangnya dengan mata menatap mata Zul yang hitam pekat. Mereka beradu pandangan. Putri lalu menundukkan kepalanya. Antara senang dan sedih bercampur aduk direlung hatinya. Ia pura-pura sibuk dengan handphonenya.


"Bentar ye bang! Ada urusan dulu," pamit Zul pada Firman.


"Mau kemana lu? Jangan lama, tar klo nama lu dipanggil gue repot jadinya!" ujar Firman dijawab anggukan kepala oleh Zul.


"Hai, Putri! Apa kabar?"


Putri mendongak menatap Zul yang telah berdiri tepat dihadapannya.


"Hai Zul! Alhamdulillah baik!"jawab Putri. Jemarinya yang lentik menyambut jabatan tangan Zul.


"Boleh Zul duduk disini?" izin Zul pada Putri.


"Silahkan!" Putri agak gugup tak menyangka Zul akan mendatanginya.


"Putri juga lagi nunggu obat? Buat siapa?" tanya Zul berusaha mengakrabkan diri. Sejujurnya ia pun nervous. Ini kali pertama mereka bertemu pasca putus. Putusnya pun terlalu menyakitkan mungkin.


"Papah sakit. Tekanan darah tingginya naik juga kolesterolnya."


"Papah sakit? Dirawatkah?"

__ADS_1


"Alhamdulillah bisa berobat jalan. Tadi udah pulang duluan sama mamah. Putri masih nunggu obatnya dulu," jawab Putri pelan. Kepalanya tertunduk sedih.


"Semoga papah lekas sembuh ya Put!" hibur Zul membuat Putri menoleh lalu tersenyum tipis.


"Makasih doanya, Zul!"


"Put!.... Maafin Zul yaa...udah sangat jahat sama Putri!"


"Udah ah Zul, jangan bahas itu. Lagian semuanya khan udah lewat. Zul masih nganggap Putri teman khan?"


"I iya lah.... Zul sebenernya ga maksud nyakitin perasaan Putri. Tapi apa daya,...!"


"Jujur awalnya Putri kesel banget pas Zul blokir Putri dari pertemanan di hp Zul. Tapi sedikit lega kalo ternyata, teman-teman Zul yang lain juga Zul blokir ternyata."


"Zul ga pegang hp sekarang Put! Zul berusaha fokus berobat. Kita akan kumpul lagi setelah Zul sembuh total. Zul ga mau ganggu semuanya aja." terang Zul lagi.


"Segitu sajakah nilai pertemanan dimata Zul?" tanya Putri agak kecewa.


"Maafin Zul!" cuma kata-kata itu yang bisa Zul lontarkan. Ia tahu ia salah. Tapi apa mau dikata. Perasaannya mudah terluka dan sensitif sekarang ini. Ia merasa berbeda jauh dengan teman-temannya. Sebenarnya direlung hati Zul yang teramat dalam, ada rindu yang membuncah. Rindu candaan gila mereka.


"Siapa Zul?" tanya Putri.


"Sepupu yang antar Zul!"


"Ooh!"


Firman tertawa meledek Zul dari sebrang. Untungnya Firman tidak bergegas menghampirinya. Sepertinya ia cukup faham situasi Zul. Walau kelakuannya sedikit minus, tapi sebenarnya Firman banyak membantunya akhir-akhir ini. Justru karena Firmanlah, ibunya menjadi terbuka menceritakan semua masa kecil Zul yang tak ia ingat.


"Putri! Maaf, telat.... Jalanan macet parah tadi!" Zul terkejut mendengar suara itu. Ia menoleh melihat cowok dibelakang Putri dan dirinya. Aloy.


"Zul???"


"Hei bro,... pa kabar?" Zul berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba kikuk.


"Zul! Apa artinya gue sama yang lain dimata lu, Zul! Elu beneran tega ngedepak kita secara kejam." semprot Aloy tiba-tiba.


"Bukan gitu Loy! Gue ga da maksud kek gitu. Gue cuma lagi rehat dari yang namanya handphone. Gue harus berobat total!"

__ADS_1


Hhhhhhh...... Aloy menghela nafas. Agak panjang. Ia berusaha memahami perasaan Zul. Secara, Aloy adalah sahabat yang lebih dekat dengannya dibandingkan yang lain.


"Gue sama Putri satu tempat kerja, Zul!" kata Aloy agak canggung seperti ingin mencoba menjelaskan kehadirannya diantara mereka.


"O yaa...?! Waah, hebat juga lu... udah kerja sekarang. Padahal baru 4 bulan yang lalu kita lulus."


"Jadi SPB bray! Batu loncatan ajaa.. daripada nganggur nunggu kerjaan yang lebih menjanjikan. Ternyata Putri udah kerja 2 bulan lebih lama dibanding gue." tutur Aloy.


"Zulyanda!"


"Iya!..... Gue ambil obat dulu gaes," Zul bergegas keloket pengambilan obat.


Setelah urusannya selesai, Zul kembali ketempat Putri dan Aloy.


"Sori bro, gue mesti pamit nih! Seneng ketemu kalian. Salam buat yang laen ya, Loy!"


"Zul! Kita semua selalu ada nunggu lu. Jangan kuatir, kita doain lu segera comeback ke kita-kita!" kata Aloy membuat Zul tertawa lebar.


"Sip! Tunggu gue ya beberapa bulan lagi. Kita pasti bisa ngumpul kayak dulu!" Zul mengacungkan jempolnya dibalas acungan dua jempol Aloy.


Zul dan Firman keluar ruangan rumah sakit menuju parkiran.


"Siapa tuh cewek cakep tadi? Baru gue mau samperin ngajak kenalan, eeeh pacarnya dateng. Ga jadi deh gue, hehehehe...! Tapi gue rasa tuh cewek naksir lu Zul. Tatapannya beda banget ke elu. Beda cara natapnya juga ke pacarnya." Zul tersenyum. Firman udah kayak paranormal yang lagi meramal.


"Itu mantan gue, bang!"


"Anjiiirrrr!!! Cewek cakep gitu cuma lu jadiin mantan?" teriak Firman langsung didekap Zul. Lagi-lagi banyak mata memandang kearah mereka.


"Mulut lu bau naga!!" bisik Zul kesal yang hanya dibalas seringai nakal Firman.


"Tenang! Tar gue cariin cewe laen yang lebih cakep dari itu!" bisik Firman.


"Hahahaa... cariin buat lu aja dulu, bang! Gue sih gampang!"


"Sialan... Tampang ganteng lu ternyata ngeselin!!" Firman bisa membuat perasaan Zul merasa lebih baik sekarang. Padahal tadi ia risau juga melihat Putri dekat dengan Aloy. Padahal Aloy dulu yang selalu meledeknya ketika hendak menembak Putri. Pertemuan tadi itu benar-benar canggung terasa baginya. Untung ada Firman yang ikut bersama Zul. Firman yang slenge'an bisa menghiburnya.


Bagaimana kelanjutan cerita Zul? Jangan bosan menunggu cerita berikutnya ya gaess... Makasih.

__ADS_1


__ADS_2