ISTRI MASA KECIL

ISTRI MASA KECIL
KONTRAK PERJANJIAN


__ADS_3

"Oke. Kali ini kita bicara serius. Secara jantan, dewasa dan sesama laki-laki. Tapi, lebih baik kita ngobrolnya dirumah pak Abdul. Gimana?"ajak ayah Zul dibalas anggukan setuju dari Zul.


Dengan hati dad dig dug, Zul menuntun Akis mengikuti kedua orangtua mereka. Berharap mereka mau mengikuti keinginan Zul dan Akis.


Suasana kembali tegang setiba dirumah abahnya Akis. Kakak-kakak Akis pun ikut duduk mendampingi mereka. Tapi tidak ikut campur ataupun bicara.


"Zul, Akis..... Ayah ibu, ayah umi..juga kakak-kakak semua memberikan waktu sehari untuk kalian berfikir lebih dalam. Segala konsekuensinya, negatif positifnya, baiknya kalian fikirkan masak-masak. Juga resikonya menikah muda. Masalah-masalah yang akan kalian hadapi. Jiwa muda kalian, emosi kalian yang belum stabil.... tolong kalian pertimbangkan. Kami orangtua pasti akan selalu dukung anak-anaknya. Bahkan dalam keadaan terpuruk dan terburuk pun pasti kami selalu dukung. Tapi tolong kalian juga bisa berfikir dewasa,... usia yang memang belum waktunya. Justru akan membuat kalian matang sebelum waktunya." saran ayah pelan tapi tegas. Abah Akis pun mengangguk-angguk tanda setuju.


Zul menunduk. Ia setuju kata-kata ayah. Tapi ia sudah mengambil keputusan. Ini sudah ia pastikan. Demi keutuhan silaturahim keluarga ini. Juga demi semua menjadi stabil dan kembali ke jalur. Toh, Zul fikir...saat ini pun semua masa depannya masih abu-abu. Begitu pula masa depan Akis. Zul masih harus berobat. Ini mungkin hanya kebetulan, jika dalam beberapa hari di Pandeglang ini ia sama sekali tak merasakan sakit. Tapi bagaimana ia kembali ke Jakarta nanti. Apakah masih akan merasakan sakit.


"Baik. Zul akan memberi ayah dan abah waktu sehari. Tolong juga dipertimbangkan permintaan kami."


Semua yang ada diruangan itu hanya terdiam mendengar ucapan Zul. Ibunya hanya memijit dahinya pelan. Ia tahu pasti watak anaknya sekeras watak ayahnya.


Malam ini Zul tidur tidak tenang. Sepertinya ayah ibunya pun merasa galau seperti dirinya. Hanya Firman yang begitu heboh dengan tawa gilanya. Firman nyaris tak percaya jika Zul bisa punya fikiran gila ingin segera menikah.


"Hahahahahaaa.... gue kayak mimpi niih!! Anjrit kalo izin nikah lu di acc, Zul.... hahahaha.... jiwa jomblo gue berontak nih.."


Firman tak henti-hentinya tertawa meledek Zul.


"Gue tau Akis cantik. Lebih cantik dari mantan lu yang di Jakarta. Tapi kalo sampe bikin lu ngebet pengen kawin, Zul.... Ini beneran gila. Sama-sama gila lu sama Akis!" Zul melototi Firman. Baginya Akis tidak gila. Bukan gila. Dan Zul tidak suka jika Akis dijadikan bahan candaan.

__ADS_1


"Maaf, maaf.... Bukan gitu maksud gue! Maaf, Zul!"


Malam terasa lambat bagi Zul. Ia ingin segera pagi. Melewati semua rintangan untuk bersama Akis. Setidaknya, jika mereka bersama... Zul tidak lagi merasa khawatir karena Akis didekatnya. Demikian juga ia, kemungkinan tidak akan bermimpi aneh lagi karena Akis ada disampingnya. Ibu juga tidak akan terlalu capek mengurusnya. Ia bisa saling menitipkan diri dengan Akis.


Sebenarnya Zul pun memikirkan resikonya bila terjadi sesuatu dengannya dan Akis. Akankah Akis bisa mengurusnya jika ternyata penyakitnya lebih parah, atau akankah Akis bisa mengontrol emosinya yang memang belum stabil. Sedangkan ia sudah terpuruk lebih lama dari Zul. Bahkan sudah lebih dari 7 tahun dalam diam. Bagaimana kalau nanti ternyata ada masalah besar jika mereka menikah dan jauh dari orangtua? Zul juga memikirkan itu. Tapi setidaknya, ia ingin mengambil langkah dalam hidupnya ketimbang diam saja menerima nasib dan belum tahu juga arah kedepannya. Karena Zul yakin, ia bisa memperkuat imannya dengan selalu mendekatkan dirinya pada Allah.


Malam itu ia sholat tahajud dan juga istikhoroh. Ibu dan ayah bergantian memberinya masukan. Berharap Zul mengubah keinginannya yang tadi siang. Memberinya nasehat juga pencerahan agar Zul lebih berfikir lagi.


Zul hanya pasrahkan semua pada Allah. Karena semuanya terjadi atas izin Allah. Karena itu, Zul pun tidak banyak berkata apalagi membantah ayah dan ibunya. Karena sebenarnya ia juga berfikir untuk kebaikan ayah ibunya.


Pagi akhirnya tiba. Seperti yang disepakati, mereka berkumpul lagi tepat jam 10 pagi menjelang siang. Ini hari minggu, hari libur. Jadi semua orang kumpul dirumah abahnya Akis termasuk pak Mansyur dan beberapa kerabat pak Abdul juga.


Zul meminta izin untuk berbicara empat mata dengan Akis dikamar. Mereka menyetujuinya. Zul pun menuntun Akis masuk kamar Akis. Mereka duduk dengan wajah berhadapan diranjang tidur Akis.


"Akis, ada pendapat lain?"tanya Zul setengah berbisik mendekatkan bibirnya ketelinga Akis.


"Akis akan dukung apapun keputusan Zul!"


"Apapun itu? Ga ada penyesalan, juga paksaan? Sungguh?"


"Asal kita bersama. Kita mulai dengan bismillah. Seperti kata Zul kemarin. Akis menerimanya." jawab Akis bagaikan air es yang menyirami kerongkongan Zul ditengah panasnya terik matahari.

__ADS_1


Zul mengangguk pasti. Ia sekarang telah mantap. Ia akan mempercayai Akis seperti halnya Akis mempercayainya. Ia seketika mengingat kalimat "jiwamu dan jiwaku sudah ditakdirkan bersatu". Mungkin ini cara mereka belajar dewasa.


Mereka keluar dari kamar diiringi sorotan banyak pasang mata. Berharap dua remaja itu membatalkan keinginan mereka.


"Ayah ibu....abah umi, juga yang lainnya. Zul pribadi mohon maaf yang sebesar-besarnya jika sudah sangat lancang melukai hati kalian. Pasti kalian semua kaget. Sedih, marah dan kecewa. Tapi ini keputusan Zul dan Akis. Sekali lagi.... kami mohon restui kami. Tolong nikahkan kami!" Zul mencium kaki ayahnya demikian juga Akis yang bersujud dikaki abahnya. Semua mata memandang iba mereka. Tak disangka sikap Zul akan sedewasa itu.


Ibu Zul menangis terisak. Demikian juga umi Akis.


"Kami mohon sekali lagi. Restui kami. Kami mohon doa kalian untuk kebahagiaan kami. Kami tidak ingin sumpah serapah kalian menghantarkan niat baik kami. Kami sudah ambil keputusan ini ayah. Kami mohon keredhoan kalian semua. Juga dukungan kalian selama setahun saja."


Sungguh luruh semua hati keras, keegoisan dan juga kesombongan para orangtua mereka berganti tangisan. Antara sedih, senang juga bangga.


"Baiklah! Asal kalian berjanji menjadi lebih dewasa lagi. Mau belajar apapun itu untuk membangun rumah tangga dan keluarga. Juga tidak egois satu sama lain... saling jaga saling mengasihi. Abah akan menikahkan kalian!"


"Alhamdulillaah.... terima kasih abah!" Zul sungkem dikaki abahnya Akis. Ayah Zul menangis terharu. Ia terbawa perasaan dan suasana yang mengharu biru. Bagaimana tidak, anak satu-satunya yang paling ia sayangi, yang ia jaga hampir 19 tahun, baru saja memohon minta dinikahkan. Dengan bahasanya yang begitu dewasa meminta izinnya. Padahal sepertinya baru kemarin ia masih menggendongnya, menimangnya dengan penuh cinta. Kini Zulyanda yang baru akan 19 tahun memohon minta dinikahkan. Membuatnya semakin terisak larut dalam kesedihan seorang bapak.


Abah Akis merangkul ayah Zul. Mereka menangis bersama.


"Relakan mereka bersama. Doakan kebahagiaan selalu untuk mereka. Kita para orangtua hanya bisa mendukung dan mendoakan mereka. Bukan begitu, Mas Doni?" tanya Abah Akis diiringi tangisan ayah yang makin mengeras. Tapi ayah mengangguk-angguk menyetujui ucapan Pak Abdul.


Semoga kalian makin gereget yaaa dengan cerita ini. Tolong dukung terus ya gaeess..., makasiiih...

__ADS_1


__ADS_2