
"Neeeng..... umi lupa, ada titipan dari ibu Zul!" umi Akis langsung berteriak begitu melihat Akis keluar dari kamarnya pagi ini.
"Iya, Mi?"
Uminya memberikan Akis kotak kecil. Wajahnya agak gusar dengan mata menelisik keseluruh wajah dan tubuh Akis.
"Semoga saja semalam ga....," gumamnya kecil tapi terdengar oleh Akis.
"Apa umiii??" Akis segera berbalik lagi masuk kamar. Melihat suaminya masih terlelap dibalik selimut. Tapi pukul lima seperempat Zul baru terlihat tidur lagi setelah melaksanakan sholat Subuh. Sungguh Akis bangga sekali dengan Zul yang begitu agamis. Membangunkannya pelan ketika azan Subuh berkumandang. Mengajaknya menjadi makmum sholat Subuh pertama mereka diawal status pasangan suami istri.
Akis tersenyum. Ia menaruh kotak pemberian ibu Zul. Ia sebenarnya penasaran apa isinya. Tapi tak berani membuka lebih dulu karena Zul belum bangun. Tiba-tiba Akis memekik pelan ketika sepasang tangan memeluk pinggang rampingnya. Zul sudah bangun rupanya.
"Selamat pagi istriku...!"
"Selamat pagi suamiku!" Akis menjawab dengan tersenyum malu. Wajahnya memerah setiap mendengar suara manja Zul memanggilnya 'istriku'. Zul memang paling bisa membuatnya menjadi perempuan paling sempurna saat ini menurutnya. Akis sangat bahagia.
"Ada titipan ibu, mau dibuka sekarang?"
"Apa itu? Ya udah, buka aja yang!"
Akis tertegun melihat yang ada dikotak itu. Zul bangun dari tempat tidur. Duduk disamping Akis dengan tawa kecil yang nakal.
"Apa nih? Hahahaha....ibu bener-bener deh!"
Ada satu set pil KB, juga beberapa ******. Zul menutup wajahnya yang sebenarnya malu.
"Ini apa, suamiku?" tanya Akis terlihat bingung. Membuat Zul gemas pingin menggodanya. Akis memang polos sekali.
"Ini pil KB, yang ini.....untuk dipakai diburung milik suamimu kalo mau bekerja," bisik Zul. Akis masih belum juga mengerti perkataan Zul.
__ADS_1
"Pil KB? mmmmmmh... obat Zul kah?"
"Hahahaha....Akiiis, muacht...! Kamu tuh yaaa, polos banget sih!"Zul gemas mengecup pipi Akis dengan cepat.
"Obat Akis laah... Ini, obat Zul!"kata Zul lagi.
Akis masih memperhatikan kedua benda pemberian mertuanya itu.
"Kamu belum ngerti ya? Maksud ibuu, kita harus segera bekerja keras buat cucu untuk mereka!" bisik Zul kali ini membuat Akis menutup bibirnya terkaget-kaget. Wajahnya langsung memerah membuat Zul makin gemes melihat Akis.
"Hihihihi.... Udah ah, mau mandi terus keluar yuk! Malu kelamaan dikamar disangkanya kita mesum!" Zul mengambil handuk sambil merangkul Akis yang masih malu mendengar perkataan Zul.
Mereka pasangan suami istri kini. Tapi mereka juga masih belum melakukan hal-hal itu. Zul masih terlalu sungkan, mengingat mereka baru saja seminggu lebih bertemu lagi setelah belasan tahun. Khawatir Akis menjadi tidak nyaman nantinya. Zul sebenarnya tahu dan lebih paham urusan jurus menjurus secara ia lelaki normal. Tinggal diperkotaan dimana internet dan gadget begitu terbuka dihp pintar miliknya.
Untuk memulai mencium bibir Akis yang begitu menggoda saja Zul belum berani. Apalagi untuk mengajak Akis melakukah itu. Zul masih ingat beberapa minggu lalu Akis yang terpuruk dan mentalnya down ingin sekali bunuh diri. Makanya Zul pun berusaha menahan dirinya. Walau sekarang perbuatan itu telah dihalalkan karena Akis telah menjadi istrinya kini.
Umi Akis tersenyum melihat anak mantu mereka sudah duduk manis diteras rumah.
"Udah umi. Ini lagi sarapan," jawab Akis.
Mereka memang sedang minum teh dan makan roti isi telor ceplok. Akis masih ingat, Zul makan itu dirumah sakit untuk sarapan waktu ia mendonorkan darahnya untuk Akis.
"Pengantin baru! Enak beneer....!!" Firman yang baru keluar menggoda Zul yang tengah asyik bercanda ringan dengan Akis.
"Hehehehe..... Mau kemana bang?" tanya Zul merespon Firman.
"Ada job nih! Biasaaa..... cari duit buat beli bini!" ledek Firman membuat Zul menepuk dahinya sambil tertawa.
"Semangat ye bang! Gue bantu doa!" Zul balik menggoda.
__ADS_1
"Suwe! Mentang-mentang udah laku luh!"
Akis senyum melihat keakraban suaminya dan Firman. Padahal dulu Akis selalu menghindar bertemu muka dengan Firman. Mengingat peristiwa waktu kecil dulu. Makanya ia tidak begitu mengenal apalagi bertegur sapa seperti sekarang. Ternyata sekarang semua telah berubah. Hatinya pun telah berbeda. Kuncup-kuncup kebahagiaan perlahan tumbuh merekah dikehidupannya. Akis sangat bahagia sekarang. Ia berharap kebahagiaan ini akan terus mengiringinya. Bersama Zul, lelaki yang selalu ia damba. Dari sejak kecil. Dan kini hingga akhirnya menjadi suaminya.
"Main yuk..!" ajak Zul menjentik hidung bangir Akis.
Akis yang sedang melamun langsung tersentak. Zul tersenyum manis menatapnya. Pria tampan ini adalah suaminya. Akis merasa seperti mimpi saja.
"Hayooo....bengong! Masa' suaminya dianggurin gini. Diapelin dong, lebih enak!"
Akis tertawa senang. Ia lupa cara berinteraksi yang baik. Beberapa tahun ia hanya menyembunyikan suaranya dalam diam. Dalam kesedihan dan penyesalannya yang mendalam karena Zul kecil yang terluka karenanya. Kini Zul yang telah menjelma bagai pangeran dimatanya ada dihadapannya. Telah menjadi suaminya. Sungguh bagai mimpi rasanya.
"Eh, bengong lagi!"
"Suamiku ganteng banget!" bisik Akis membuat Zul tersipu malu. Akis sudah berani menggodanya kini. Zul senang.
"Besok kita ke Jakarta. Akis setuju khan? Soalnya obat Zul sudah habis. Harus berobat lagi," kata Zul.
"Zul sakit apa? Apa karena dipukul bang Ali sama bang Arif dulu, jadi otak syarafnya bermasalah?"
"Engga' kooq...! Moga Zul cepet sembuh. Doain, yaaa.... Moga kita juga segera bisa bikin anak!" jawab Zul membuat Akis mencubit pinggangnya. Membuatnya meringis tapi senang.
Ternyata ada seseorang disampingnya yang menemaninya, mendukungnya, membuat Zul terlupa akan sakitnya. Tapi memang akhir-akhir ini Zul nyaris tak pernah kambuh. Bahkan mimpi-mimpi buruk yang biasanya menghantui tidurnya kini hampir tak ada lagi.
Zul bersyukur sekali. Ia berharap penyakitnya benar-benar musnah. Ia ingin segera melaksanakan niatnya ke Bandung bersama Akis. Memulai hidup baru dikota kembang yang ia impikan. Zul memang telah lama memimpikan tinggal menetap di Bandung. Zul telah lama mengobservasi kota itu tepatnya ketika ia masih kelas 2 SMA dan melakukan study tour. Setelah itu ia selalu hangout walau sekedar hunting kaos-kaos distro di kota Bandung bersama teman segengnya.
Zul tersenyum mengingat teman-teman gengnya. Pasti mereka semua akan kaget mendengar ia telah menikah. Pasti akan banyak kata canda dan ledekan mereka nanti. Zul harus bersiap dari sekarang. Mungkin kata-kata diluar dugaan pun akan menghantamnya dari teman-temannya nanti. Secara mereka memang berteman tanpa ada batasan ataupun sungkan. Hanya saat ini Zul lah yang tengah menjauh dari mereka. Zul takut penyakitnya menyusahkan teman-teman walaupun sebenarnya ia tahu, mereka tidak akan pernah meninggalkannya walau dalam keadaan terburuk srkalipun. Karena persahabatan mereka telah terjalin erat selama 3 tahun. Semua telah melewati fase-fase tersulit. Ketika Aloy yang harus menerima kenyataan ketika bapaknya kawin lagi dengan janda tetangganya. Lalu Pera' yang sempat terpuruk waktu ibunya meninggal dunia. Nurdin, Syahrul, Ilham, Anwar..... Mereka pernah menangis bersama meratapi nasib sedih mereka. Tapi semua bisa terlewati berkat kekompakan mereka. Dan karena Zul yang merupakan leader hebat. Tapi ketika Zul yang tertimpa cobaan, juga karena mereka telah tidak lagi berstatus pelajar, Zul justru memutuskan persahabatan itu walau niatnya hanya sementara.
"Koq sekarang malah suamiku yang melamun?"
__ADS_1
Zul kaget ketika Akis balik menggodanya. Ia senyum lalu meraih jemari Akis. Memegangnya erat seraya menghempaskan nafas lega. Ia ingin menjaga wanita yang ada dihadapannya ini.
Masih penasaran dengan cerita Zul dan Akis? Tunggu terus kelanjutannya ya gaeess...