
"Zuuul..... !"
Seorang perempuan sepertinya lebih muda dari Zul memekik kegirangan. Ia menghambur memeluk Zul yang bengong sendirian.
"Zul beneran lupa sama Vera?" tanyanya agak kesal.
Tamu ayah sudah datang? Zul tersenyum kecil sambil menyalami gadis yang bernama Vera.
"Zul, sini! Pak Mansyur dan bu Frida sudah datang. Beri salam dulu," kata Ibu lembut memanggilnya.
Ayah senyum ketika seorang wanita paruh baya mengulang pertanyaan, " Ini Zul?? Ya Allaah....udah besar, ganteng pula!"
"Liat dong bibitnya, Mah!" timpal seorang bapak disampingnya. Mereka tertawa. Hanya Zul yang tersenyum tipis.
"Zul anak baik ya, ga kayak Firman anak kita yang paling besar. Kerjanya ga jelas. Padahal udah sarjana. Jarang dirumah kecuali cuma ganti baju terus pergi lagi." celoteh bu Frida menceritakan tentang anak pertamanya. Zul hanya duduk menjadi pendengar setia setelah menyalami teman sekantor ayahnya.
"Tapi Zul dulu mengidolakan Firman, bu Fri! Inget khan, kalo Zul tuh selalu nempel buntutin Firman. Hehehe," kata ibu Zul membuat Zul tertegun. Zul ingat, ia mengidap amnesia retrograde. Itu sebabnya ia lupa masa lalu.
"Gimana keadaan situasi di Pandeglang, Pak?" tanya ayah.
"Semua masih sama seperti dulu, cuma lebih maju aja dalam segala hal." Jawaban pak Mansyur membuat ayah manggut-manggut.
"Kamu ga da niatan main ke Pandeglang, Don?" tanya pak Mansyur pada ayah.
"Kepingin sih,.... tapi... sudahlah. Tutup buku untuk kesana."
"Itukan cuma masa lalu. Lagipula cuma kesalahpahaman anak-anak saja, Don! Pak Abdul juga sering nanyain kamu sekeluarga kalo pas ketemu aku atau Frida."
"Yah! Tapiii.... kuatir Zul,..... Tapi keadaan disini juga baik. Kami bisa fight sampe sekarang. Bahkan makin baik, mas!"
Pak Mansyur dan bu Frida tinggal di Pandeglang Banten. Mereka sengaja sowan ke Jakarta silaturahmi setelah bertahun-tahun tak berjumpa. Itu cerita ibu ketika memberitahukan kepada Zul kalau minggu ini mereka akan kedatangan tamu spesial ayah.
Keluarga Zul memang jarang kedatangan tamu. Mereka memang tidak punya saudara dekat. Ayah Zul anak tunggal. Kakek neneknya sudah tiada dari ayah masih muda. Ibu juga hanya punya 1 orang kakak laki-laki yang tinggal di Australia karena pekerjaannya disana. Om Haris malah punya istri orang sana. Otomatis mereka jarang kedatangan kerabat. Karena itu ayah ibu terlihat senang ketika mendapat kabar kalau teman dekat ayah berencana kerumah mereka dan menginap di rumah untuk beberapa hari.
Vera mengajak Zul keteras. Ia masih antusias dengan pertemuan ini. Tangannya memegang tangan Zul.
"Kamu tau ga Zul?? Si Akis khan jadi bisu, sejak kamu pindah. Dia beneran gak pernah ngomong. Selalu sendirian, gak mau berteman. Malah teman-teman sekolah menganggap Akis punya penyakit gila," bisik Vera pada Zul.
__ADS_1
Zul menatap Vera dalam. Akis? Nama gadis kecil yang selalu menguntilnya dalam mimpinya.
"Akis??"
"Iya. Kamu juga lupa Akis?.... Ya ampuuuun, padahal dulu kalian kayak permen karet, nempeeeeel mulu. Beneran Zul lupa Akis?? Temen kecilmu yang nyebelin itu?"
Zul masih menatap Vera. Vera mencibir.
"Dulu Vera selalu pingin ikut main bareng Zul. Tapi Akis langsung marahin aku. Katanya, Ucul cuma punya Akis. Ga boleh main selain sama Akis!.... Vera masih inget banget tuh kata-katanya yang nyebelin," tutur Vera.
"Nama Zul dia ganti jadi Ucul. Apaan tuh, nyebelin banget khan? Udah gitu kamu juga sama nyebelinnya, kamu nuruuuuut banget sama si Akis."
Zul makin tertarik pada omongan Vera. Vera seperti pembuka tabir mimpinya secara perlahan. Semua ucapannya seperti tirai yang perlahan menyingkap.
"Kamu sekelas sama Akis?" tanya Zul menyelidik Vera.
"Gak... Dia lulus taun ini, Aku baru naik kelas 2. Dia khan angkatan kamu ya?"
Zul termenung mencoba mencerna. Mengingat. Tapi tak bisa. Justru tiba-tiba sakit kepalanya.
"Maaf Ver, Zul ke kamar dulu," Zul cari alasan untuk minum obat.
Zul pamit kekamar. Ibu seperti tahu kondisinya. Ibu mengikuti Zul dari belakang.
"Zul kenapa?"
"Sakit kepala Zul, bu!"
"Ya udah, minum obat langsung tidurin ya! Ibu kebawah lagi. Ga enak tamu ditinggal!" kata Ibu setelah menyodorkan obat dan segelas air putih.
Zul hanya mengangguk lesu. Sampai kapan ia harus seperti ini. Ia mulai merasa depresi dengan keadaannya.
Sudah seminggu Zul mengurung diri. Mematikan semua akunnya, seperti wa, insta, fb, bahkan email juga. Ia sudah memutuskan menjauh dari teman-temannya. Bahkan acara wisuda kelulusan sabtu kemarin Zul tidak menghadirinya. Ia ingin sembuh. Ia ingin berobat serius. Untuk urusan sekolah, ayah sudah mengaturnya. Zul sudah mendapatkan surat-surat dari sekolahnya lengkap berkat ayah. Nanti pun untuk kelanjutannya ngampus, Zul pasrahkan pada ayah.
...
Zul terbangun mendengar suara musik mengalun. Seorang lelaki tengah terbaring tidur dibawah ranjangnya. Sontak Zul kaget. Siapa orang ini?!?
__ADS_1
Perlahan Zul keluar kamar. Berusaha menyelinap mencari ibunya.
"Bu, ituuuu.... ada orang tidur dikamar Zul,"
"Oh itu mas Firman, anak pak Mansyur paling gede, Zul! Ia memang datengnya ga barengan. Tadi ayah ibu suruh istirahat dikamar kamu. Ga pa khan berbagi kamar untuk 2-3 hari ini? Tadi Zul tidurnya nyenyak banget... jadi Firman ga mau ganggu istirahat Zul!" Ibu menjelaskan. Zul mengangguk perlahan. Ia kembali ke kamarnya. Membuka pintu kamarnya pelan-pelan agar tak membuat Firman terbangun.
Ternyata Firman sudah bangun dan tengah duduk di balkon teras kamar Zul.
Merasa tak enak hati, Zul menghampirinya. Berusaha berbasa-basi memulai pertemanan.
"Maaf, bang! Jadi ganggu tidurnya!" sapa Zul seraya tersenyum.
"Hai, broh.... Udah jadi pejantan tangguh lu sekarang. Hehehehe," balas Firman mengajak tos Zul yang terlihat canggung.
"Ternyata bener ya.... lu udah lupa semuanya! Hehehe, it's okey.... kita mulai perkenalan aja lagi. Gue Firman!"
"Zul!"
"Iyaaa...gue tau! Si Ucul Zulyanda!" kata Firman lagi membuat Zul tertawa kecil.
"Maaf, bang.... Jujur gue ga bisa ngingat semua masa kecil gue. Asli gue sebenernya tersiksa. Apalagi selalu mimpi aneh belakangan ini." cerita Zul berusaha jujur.
"Badan lu kurus, muka lu juga layu. Ga bagus tuh buat tampang ganteng lu! Sakit lu, Zul?"
"Iya. Udah 3 bulan sakit kepala. Dokter masih observasi penyakit gue. Cuma indikasi efek samping dari amnesia gue bang!.... Hhhhhh, lelah gue bang!" Zul bercerita mengalir seperti dua orang yang sangat dekat.
"Emang dulu lu ga sakit kepala seperti ini?"
"Engga',...baru-baru ini aja. Sakitnya gila parah, bang! Gue ampe takut keluar rumah. Gue takut ketemu temen-temen gue. Gue takut kambuh bikin mereka ilfeel sama gue."
"Lu depresi kali', kebanyakan fikiran!"
"Ga bang... Justru gara-gara penyakit ini gue jadi depresi!" Zul mendekat wajahnya sedih.
"Jangan-jangan lu kena kutukan istri masa kecil lu Zul, hahahaha.....!"
Zul terkesiap. Darahnya langsung berdesir. Jantungnya berdebar cepat.
__ADS_1
"Istri masa kecil????"
Apakah cerita Firman selanjutnya pada Zul?? Tunggu diepisode selanjutnya yaaa... Terima kasih gaeeess!!