
Akis pulang dari rumah sakit hari ini. Zul sudah sejak tadi menunggu kepulangan Akis diteras rumah pak Mansyur. Secara rumah Akis dan Firman bersebrangan saja.
Zul kemarin pulang dari rumah sakit dengan hati yang ringan. Akis sudah lebih baik walaupun tak mengucapkan sepatah katapun padanya. Hanya tatapan mata yang lebih cerah dan hidup dari waktu yang lalu.
"Janji ya Akis, jangan pernah berfikir buat ngelakuin hal bodoh lagi. Janji?"pinta Zul sebelum pamit pulang.
Akis mengangguk pelan. Kepalanya tertunduk masih dengan lelehan airmata dipipi. Zul mengusapnya lembut. Membelai pipinya berusaha menghibur Akis.
"Ga ada lagi tangis kesedihan ya... Ada Zul disini, kita saling berbagi kepahitan itu...biar hilang berganti kebahagiaan yang manis."
Zul memang lelaki yang romantis dengan begitu banyak kata manis dipikirannya. Tapi sungguh semua itu tulus terlontar dari bibirnya. Dan Zul bukan lelaki yang mudah mengeluarkan kata-kata gombalan pada banyak perempuan. Ia cukup tahu batasan itu. Tapi untuk Akis, ia seolah melihat bahwa antara dirinya dan Akis sudah tidak ada garis batasan. Padahal belasan tahun tak berjumpa, tapi Zul merasakan ikatan bathin yang begitu kuat pada Akis.
Zul sesekali melirik jam yang melingkar ditangan kirinya. Sesekali handphonenya diperiksa. Menunggu adalah hal yang paling menjengkelkan, Zul menyetujui kalimat itu.
Akhirnya setelah hampir satu jam ia menunggu, sebuah mobil sedan berwarna hitam metalik berhenti tepat didepan rumah Akis.
Umi dan abahnya Akis turun dari mobil, diikuti beberapa orang saudara sepupu perempuan Akis yang menggandeng Akis turun perlahan. Kakak laki-laki Akis juga ada. Ia melihat kearah Zul lalu menunduk.
Zul bergegas keluar menghampiri mereka. Mencium satu persatu punggung tangan abah dan umi Akis. Lalu tersenyum manis pada Akis.
"Akis.... !"
__ADS_1
Akis memandang Zul agak lama. Walau tanpa senyum, tapi wajahnya terlihat lebih segar karena semburat merah terlihat jelas disana. Rambut panjangnya diikat rapi kebelakang. Poni tipis berjajar rapi menutupi dahinya. Cantik.
Zul mengikuti mereka masuk kedalam rumah. Kakak Akis merangkul Zul dari belakang. Membisikkan kata maaf pada Zul. Zul tersenyum sambil membalas rangkulan bang Ali. Zul sudah melupakan kejadian yang sudah lama berlalu itu. Ia hanya fokus untuk kesembuhan Akis dan juga dirinya saat ini.
Umi menyediakan banyak makanan dimeja-meja. Ia begitu antusias dengan kepulangan Akis dan juga kehadiran Zul. Berkali-kali wanita paruh baya itu menawarkan satu persatu makanan buatan tangannya pada Akis dan Zul bergantian. Ibu Zul dan Bu Frida serta Vera juga datang menyambut kepulangan Akis. Suasana menjadi ramai dan penuh tawa keceriaan.
Hanya Akis masih duduk diam sesekali melirik Zul yang selalu senyum jika ada yang mengajaknya mengobrol. Akis benar-benar pendiam. Tak mudah membuatnya kembali seperti Akis kecil yang dulu. Yang justru selalu menggoda Zul lebih dulu. Zul bisa mengerti Akis.
"Akis mau manisan curuluk? Inget ga, dulu ini makanan favorit kita?" kata Zul pada Akis. Ibu Zul terpaku menatap Zul. Sepertinya ingatan Zul perlahan memenuhi ruangan memorinya.
Akis menerima semangkuk kecil buah kolang-kaling yang berwarna merah karena telah dijadikan manisan. Matanya kembali basah tergenang. Zul mengingatnya. Mereka pasti akan berebut saling makan cepat buah itu sambil tertawa-tawa.
Zul tersenyum mengusap airmata Akis. Ia menggelengkan kepala dengan mata menatap mata Akis. Ada isyarat lembut untuk jangan menangis buat Akis. Akis lalu tertawa lirih sambil mengangguk. Semua yang melihat itu ikut terharu. Hampir semua ikut menitikkan airmata karena terbawa perasaan.
Semua luka dimasa lalu seperti lebur dan hilang perlahan tersapu angin. Satu persatu orang mulai pergi dengan berbagai alasan. Zul, ibu dan keluarga Pak Mansyur pun izin pulang karena sudah azan Ashar.
Akis masuk kamarnya untuk istirahat.
Zul sudah 4 hari di Pandeglang. Tapi belum sekalipun ia merasakan sakit kepalanya kambuh. Ibu juga merasakan eforia kesenangan yang dirasakan Zul. Tapi walau begitu Zul tetap harus mengkonsumsi obat tepat waktu. Ibu berharap, Zul segera sembuh dan terbebas dari obat-obatan kimia.
"Akiis....Akiiis!" panggil Zul melihat Akis dibalik jendela kamarnya. Akis membuka jendela memandang Zul.
__ADS_1
"Besok bang Firman dan Vera ngajak Zul ke bukit taman kota. Kamu ikut yaaaa....? Please, temenin Zul juga. Sekarang Akis tidur cepat, biar besok bangun pagi segeer. Oke?" kata Zul setengah teriak.
Akis tersenyum. Zul terkesima. Sungguh senyum Akis begitu manis. Bahkan Firman yang melihat senyum Akis pun terlihat kaget dan terpesona senyum itu.
"Gila!!! Gue jadi tetangganya dari dulu, baru kali ini liat tuh cewe senyum!!" celoteh Firman. Zul hanya tersenyum menanggapi Firman.
"Dari dulu senyum Akis manis, bang!"jawab Zul membuat Firman cemberut kesal. Ternyata memang pesona Akis hanya diperlihatkan untuk Zul saja.
Malam terasa lama berlalu bagi Zul malam ini. Setelah video call-an dengan ayah, suasana sepi. Firman keluar karena ada janji ketemuan dengan teman koleganya. Ia adalah bos percetakan dikota Pandeglang. Akhirnya Firman bisa sedikit menyombongkan usahanya pada Zul.
Vera juga sejak sehabis makan malam hanya mengurung dikamar. Ia tengah asyik chattingan dengan teman barunya via medsos. Dan lagi Vera sudah menyerah mendekati Zul seketika ketika melihat kemistri antara Zul dan Akis.
Ibu juga sudah rebahan disampingnya. Cuaca Pandeglang yang lebih dingin dari Jakarta juga membuat orang lebih cepat terlelap dalam mimpinya. Tinggal Zul yang ingin segera siap-siap pergi bersama Akis.
Memori Zul semakin terkumpul laksana puzzle yang mulai tersusun rapi membentuk gambaran indah. Zul ingat semua kenangan manisnya semasa kecil bersama Akis. Celotehan lucu Akis, godaan dan candaannya... seperti baru kemarin terdengar jelas ditelinganya.
Zul merasakan semangatnya yang tinggi menjalani hari-hari kedepannya. Ia ingin mengembalikan Akis seperti dahulu. Akis yang ceria, banyak bicara dan selalu lincah penuh tawa. Akis terlihat begitu suram saat ini. Itu membuat hati Zul sakit dan terluka. Ia merasa bersalah telah membuat Akis menjadi srperti sekarang ini. Ia ingin Akis dan dirinya membuka episode baru. Menutup masa lalu yang pahit, mengubahnya menjadi masa depan yang indah.
Zul masih ingat mimpi terakhirnya, "jiwamu dan jiwaku sudah ditakdirkan bersatu." Kalimat itu masih terngiang difikiran Zul. Mungkinkah takdirnya bersama Akis memang telah tertulis dibuku kehidupannya? Apakah memang ia harus juga mengubah sumpah ayahnya yang pernah berkata "Kamu lihat! Anak kamu seumur hidup tidak akan pernah bahagia, karena telah mencelakakan anak saya!"
Zul ingin Akis bahagia. Akis tidak punya niatan mencelakakan Zul. Ayah memang tidak punya niatan juga menyumpahi Akis. Itu adalah ucapan spontanitas seorang ayah yang terluka karena melihat anaknya yang cidera parah dicelakai orang. Semua hanya kesalahfahaman dan kini benar kusut itu perlahan bisa dia urai. Tinggal kesehatan untuknya dan Akis yang ia pohonkan pada Allah. Ia sangat bersalah membuat kedua orangtuanya lelah mengurusnya.
__ADS_1
Bagaimana besok rencana mereka pergi ke bukit taman kota? Apakah sesuai rencana? Tunggu terus yaa kelanjutannya. Terima kasih gaes...