ISTRI MASA KECIL

ISTRI MASA KECIL
LAGI-LAGI PENYELESAIAN


__ADS_3

"Oke, general cek up-nya sudah selesai, Zul! Tinggal tunggu pertemuan berikutnya. Jangan lupa diambil semua hasil testnya sesuai jadwal selesainya. Kita ketemu lagi minggu depan!" dokter Reyvan menjelaskan.


Zul mengangguk lalu berdiri menjabat tangan dokter muda itu.


"Makasih banyak dokter!" Akis ikut menyalami dokter Reyvan sembari melempar senyum.


"Oiya...kalo punya saudara perempuan secantik dan seanggun nona, bolehlah kenalin ke saya!" ucap dokter Reyvan pada Akis.


"Dokter? Dokter serius?? Upsss.... bukannya dokter pergaulannya luas? Pasti banyak temen cewe yang lebih elegan laah!" Zul terkejut kaget melihat respon dokter Reyvan yang terlihat serius. Dokter Reyvan tertawa terbahak-bahak. Reaksi Zul diluar espektasinya.


Akis hanya senyum mendengar percakapan dua lelaki itu.


Sementara Zul segera keluar dengan mengapit lengan Akis.


Mereka pulang hampir pukul 9 malam. Zul membuka wa-nya. Ada pesan dari ibu, ternyata teman-temannya datang kerumah sejak satu jam yang lalu. Mereka berinisiatif menunggu katanya.


"Ada temen-temen Zul maen kerumah, yang!"kata Zul sembari memegang jemari Akis. Menuntunnya keluar rumah sakit, bergegas mencari taxi kosong yang biasa mangkal diparkiran rumah sakit.


Ternyata Ilham, Syahrul, dan Pera' yang menunggunya diteras depan rumah. Mereka saling berangkulan menyapa satu sama lain.


"Broo..... Beneran lu ya, tega sama kita-kita!" Ilham menonjok bahu Zul pelan


"Oiya, kenalin dulu nih.... istri gue! Akis Pratiwi!" Zul menarik Akis yang langsung menyodorkan tangannya untuk bersalaman.


"Jangan lama-lama!" gurau Zul ketika Pera' menyalami Akis dengan mata menatap Akis tak berkedip.


Mereka semua tertawa bersama. Akis izin masuk kedalam. Zul mengiyakan tanda setuju.


"Lu beneran udah gila, Zul!.... Tadinya gue kira si Aloy ngarang cerita."kata Syahrul.


"Apa kabar tuh anak?" tanya Zul agak ketus.

__ADS_1


"Lu beneran berantem depan A&W Pasbar semalem?" tanya Ilham pada Zul. Zul mengangguk.


"Mana rasa persaudaraan kalian?" tanya Ilham agak marah.


"Mana rasa yang pernah ada diantara kita, Zul?... Lu blokir nomor what's up kita-kita, fine okey! Kemana Zul temen gue yang dulu paling gue kagumi karena kedewasaannya?" kata Ilham lagi.


"Gue ga bales tonjok Aloy. Dia tonjok duluan karena berempati sama Putri. Gue marah karena dia dorong istri gue, Ham! Tapi gue bisa nahan amarah gue," Zul mencoba memberi penjelasan.


"Bukan itu yang penting bagi gue, Syahrul, Pera'! Kita minta penjelasan lu ngebuang kita-kita. Sebegitu ga bergunanya kah kita semua dimata elu, Zul? Elu ngejauhin kita tanpa kata-kata. Lu keluar dari pertemanan. Sosmed, juga semuanya. Ga da kabar bahkan sampe kita tau...kalo lu udah merit. Ini gila, Zul! Seberapa jauh langkah lu berlari ngehindarin kita?"


Zul menarik nafas panjang. Agak bingung juga memulai pembicaraan dari mana. Ia lama merenung memikirkan kata-kata yang akan ia ucapkan agar para sahabatnya itu mengerti.


"Gue minder! Gue ketakutan sendirian sebenarnya!"


"Kalo takut sendirian, kenapa lu ambil tindakan yang justru bertolak belakang? Lu itu dulu ga gitu, Zul!"


"Gue berubah karena sekarang gue sakit, Ham! Kalian liat gue, 2 kali...nyaris ga sadar hilang kendali. Kalian liat khan? Gue takut jadi gila. Gue ga mau lu semua ngerasa kasian, nemenin gue terus akhirnya terbebani sama gue yang kondisinya miris kek gitu!"


"Justru itu yang gue ga mau! Gue malu sama kalian semua! Itu sifat jelek gue, gue ga mau keliatan kelemahan gue dihadapan lu semua. Juga ga mau ngebebanin lu semua."


"Bullshit!!!!"


"Selama ini persahabatan kita apa adanya, Zul! Elu pernah liat gue nangis, liat Pera' kejer.... liat kita semua ketika dalam keadaan menyedihkan. Lantas apa salah kalo kita juga liat lu nangis. Kita bentuk persahabatan kita ini dengan dasar saling sayang. Saling dukung. Elu yang bilang dulu khan?"


"Dulu kita semua masih muda, Ham. Kita pelajar. Otomatis kita bakal terus sama-sama ketemu disekolah. Sekarang... "


"Apa bedanya dulu sama sekarang?" bentak Ilham membuat Syahrul mengingatkannya karena khawatir ayah ibu Zul mendengarnya.


"Sekarang kita semua udah lulus. Masing-masing punya kesibukan dan prioritas sendiri-sendiri. Kita ga bisa nongkrong-nongkrong santai lagi, Ham! Lu semua mulai sibuk cari aktivitas selanjutnya. Yang harus jadi tulang punggung keluarga, yang harus nurutin keinginan orangtua. Juga yang harus mengejar cita-cita..... Please ngertiin gue! Gue ga da maksud ninggalin kalian. Setelah pengobatan gue selesai dan gue sembuh, gue janji sama diri gue sendiri....akan datangin kalian lagi. Kita punya cita-cita buat bengkel bersama. Ingat?"


"Tapi lu bikin kita semua salah faham, Zul!"

__ADS_1


"Asal kalian tau, gue pernah ngejelasin ini juga sama Aloy. Waktu ketemu dirumah sakit pas dia janjian sama Putri."


"Anak itu memang lagi masa puber! Dia jarang kumpul bareng kita sekarang. Gue ngerti, dia lagi berusaha mengejar cintanya."


"Gue juga ga marah sama Aloy, Ham! Gue hanya ingin menjauh dari dunia ini sementara waktu. Dokter spesialis syaraf gue bilang, gue harus jauh dari radiasi alat-alat listrik dan kimia. Makanya gue ga pegang hape waktu itu." kata Zul panjang. Kali ini Ilham, Syahrul dan Pera' lebih santai mendengarkan.


Syahrul malah berdiri menghampiri Zul. Menepuk-nepuk pundak Zul seakan memberinya semangat ketenangan.


"Masalah nikah gue sama Akis, itu pun diluar rencana. Ternyata rencana Allah itu ajaib. Gue sendiri masih kayak mimpi sampe sekarang. Gue juga mutusin Putri bukan karena udah kenal Akis. Walau Akis temen deket gue waktu kecil,... tapi gue justru ga inget Akis sama sekali karena suatu kejadian dimasa lalu gue." Ilham duduk mendekat ke Zul.


"Akis itu gue nikahin setelah seminggu kita ketemu. Nikah siri, gaes! Hebat khan gue? Setelah keluarga kita hampir ribut, akhirnya mereka setuju buat nikahin kita." cerita Zul lebih tenang dan santai. Bibirnya menyunggingkan senyuman. Membuat sahabat-sahabatnya itu penasaran.


"Sableng lu, Zul!" lontar Pera' tepuk tangan sambil tertawa-tawa. Ilham dan Syahrul ikut tertawa juga.


"Beneran Zul, kisah hidup lu udah kayak cerita novel picisan. Gila paraaaaah!!" kata Pera' lagi.


"Gimana keadaan lu sekarang Zul?" tanya Ilham sambil merangkul Zul dari belakang.


"Alhamdulillah! Sejak gue mau nikah sampe sekarang, gue belum pernah kumat lagi. Barusan gue general cek up, kondisi stabil. Alhamdulillah banget! Akis adalah obat terbaik gue, Ham!"


"***** lu Zul....Hahahaha, bikin gue ngiri nih!" kata Syahrul membuat Pera' menjitak pitak Syahrul bercanda.


"Oiya...mumpung kalian disini, gue juga mau bilang sama kalian! Setelah hasil test gue keluar, terus hasilnya bagus,... Gue sama Akis bakalan pindah ke Bandung. Kita mau ambil kursus disana. Gue kursus mekanik, Akis kursus jahit. Kita mau memulai hidup baru di Bandung. Jauh dari orangtua. Itu rencana gue selanjutnya. Kalo lu semua, sekarang gimana? Udah kerja juga kayak Aloy? Atau udah masuk kuliah semester 2 ya sekarang?"


"Gila ya, ni anak! Otak lu udah kayak otak aki-aki 50 taun, Zul! Penuh dengan perencanaan yang matang. Ga sangka gue!" jawab Ilham menonjok bahu Zul pelan.


"Itu rencana spontanitas bro! Boro-boro mateng! Ga gue masak malah, hahahaha! Modal nekat nyakinin bonyok gue ma bonyok Akis, tau!"


Mereka tertawa bersama. Semua kesalahfahaman beberapa bulan lalu mulai terpecahkan. Kini persahabatan mereka kembali merekat. Zul meminta maaf kepada para sahabatnya karena kelakuannya yang tidak mengenakkan mereka. Dan mereka pun mengerti dan menerima maaf karena penjelasan Zul tadi.


Tunggu terus ya episode berikutnya gaes, makasiiiih...

__ADS_1


__ADS_2