
"Bro! Lu udah merit,... berartiiii....udeeeeee.... mmmmmh!"
"Ape lu Pera'?! Mau gue gibas lu biar otak ngeres lu minggat?"
"Jiaaaaah......hahahaha, die malu Ham sama kita!"
"Eh btw udah mau jam 12 nih, gaes! Gue baru nyadar, ni anak masih penganten baru luu... Hayu kemon kita pulang, ganggu acara malemnye si Zul niiih!" akhirnya Ilham menyadari kalau kehadiran mereka sekarang jadi obat nyamuk buat Zul.
"Telat lu nyadarnye, Ham!" jawab Zul membuat teman-temannya tertawa.
"Sorry, sorry bro! Gue ga ngeh ke arah situ!" bisik Ilham dibalas tonjokan pelan Zul.
"Thanks ya gaes....! Lu semua emang bromance gue banget!"
"Cih najis bromance-an ma elu-elu semua,... dikira gue LGBT!" Ilham lagi-lagi menggoda Zul.
Mereka pulang dengan perasaan riang. Ringan dan kini tanpa beban. Persahabatan mereka memang telah banyak mengalami bermacam masalah. Jadi, walaupun baru 3 tahun keakraban itu terjalin, tidak akan dengan mudah terpecahkan begitu saja.
Zul kekamar pelan-pelan. Akis sudah terlelap dibalik selimutnya. Wajah manisnya begitu imut dipandang Zul. Sungguh suatu anugerah yang luar biasa dari Allah, karena ia bisa mendapatkan Akis yang memang cantik. Hari ini mulai dari dokter Reyvan bahkan teman-temannya terpesona melihat kecantikan Akis.
Zul merasa beruntung sekali.
Dikecupnya kening Akis yang tertutup anak rambutnya yang tertanam rapi. Allah Maha Hebat menciptakan berapa sempurnanya Akis. Ia bersyukur kalau Akis sempat tidak bisa move on darinya. Karena andai saja Akis tak menyimpan perasaan dan kesedihan mendalam sejak kepindahannya, mungkin telah beberapa pria hilir mudik mengantri cinta Akis.
Akis menggeliat tapi tidak terbangun. Zul berbaring disamping istrinya itu. Matanya masih lekat memandang wajah Akis. Rasa tak percaya masih menyelimuti perasaannya. Semua keajaiban ini, serasa mimpi indah. Dan ia tak ingin cepat terbangun andaikan ini mimpi.
Zul mengecup pipi Akis pelan sekali. Ia tak ingin membangunkan Akis dari mimpi manisnya. Lagi-lagi ia mengecup. Kali ini bibir indah Akis yang mungil tapi sensual. Merah alami tanpa pemoles bibir. Kali ini Akis mengerjap kaget. Ia bengong mendapati Zul tengah tersenyum mengamatinya.
"Belum tidur?" Zul hanya tersenyum ditanya Akis. Kali ini ia mengecup dahi Akis dengan penuh kasih sayang.
"Tidurlah! Maaf ya, ganggu tidur kamu!"
"Kamu juga tidur. Ini udah jam berapa?"
__ADS_1
"Jam 12 lewat, yang!"
"Sekarang jadi ga ngantuk lagi!... Kamu lapar ga?" tanya Akis agak berbisik.
"Kenapa? Lapar ya? Mau makan mi instant? Aku bikinin deh, spesial buat kamu. Tapi temenin bikinnya didapur. Mau?"
"Beneran? Asiiiiik.... Yuk yuk...sayang!"
Akis begitu gembira. Ia merangkul pinggang Zul mengajaknya segera turun ke dapur.
"Tadi temen-temen kamu marah ya, karena kamu nikah ga bilang?" tanya Akis penasaran sambil memperhatikan suaminya sibuk memasak mi.
"Tapi Alhamdulillah, sekarang semua masalah kelar. Mereka itu temen-temen akrabku waktu sekolah. Bukan temen sekelas, tapi kita sangat dekat satu sama lain. Tadi mereka titip salam sama kamu. Mereka juga minta maaf karena ga sempet bawa kado buat kita."
"Syukurlah, kalo semua temen kamu bisa ngerti kondisi kita!" Akis senyum mendapati semangkuk mi porsi besar dihadapannya buatan suami tercintanya.
"Selamat makan istrikuuu.... muacht, makan yang banyak biar cepet gendut!"
"Kata siapa gendut itu jelek? Gendut itu seksi, tauuu.... Bohay, bahenol, semok, denok!"
"Kamu suka yang seksi ya? Aku ga seksi ya ? Aku kurang menarik ya karena ga bohay seperti kata kamu?"
"Hadeeeeh, koq komennya gitu sih? Bukan gitu, yaaang!"
"Tadi kamu bilang gitu khan? Suka yang seksi, makan yang banyak biar seksi. Iya khan?"
"Penyakit cemburu butanya kumat nih! Bukannya bilang terima kasih udah dimasakin mi spesial, malah dituduh macem-macem. Cape deeeh!" Zul merengut kesal dengan sikap Akis yang seperti itu.
"Iiih yayang! Harusnya kamu kasih penjelasan dong, pake cium, pake peluk... peka' dikit atuh. Bukan marah-marah juga! Khan aku cuma ngeluarin pendapat aja!"
"Akis sayaaaang..... makan minya dulu yaaa, nanti kalo ribut, bikin selera makan ilang. Nanti masakan suaminya malah ga dihargai. Oke?"
"Oke, maaf yang! Makasih mi nya, juga maaf istrinya cerewet yaa.... Maklum...., kalo lagi PMS bawaannya uring-uringan!" Akis tersadar membuatnya malu karena membombardir Zul dengan komen tak jelasnya.
__ADS_1
Zul tersenyum sambil menggelengkan kepala. Kadang Akis bikin ia sakit kepala tapi bukan sakit kepala sebenarnya.
Akis menyuapi Zul. Ia mengelap bibir Zul dengan tissue. Membuat Zul berdebar menatap mata Akis. Ia menyerang Akis dengan ciuman. Akis tertawa kecil melihat suaminya yang terlihat nakal sekarang.
"Jangan didapur, malu!"
"Ayah, ibu pasti udah tidur!" bisik Zul menggelitik telinga Akis.
"Zuuuul......"
"Mmmmmmh?.... Ya, sayang??"
"Please tahan yaaaa.... Baru 2 hari menstruasinya. Masih sekitar 5 hari lagi yang!"
"Hhhh.... Iman aku kuat, tapi sodaranya, si imin ga kuat yang! Belum belah duren nih!"
"Hihihihi... Apaan sih yang? Kamu mah kalo ngelawak lucu banget!"
"Hayu tidur! Udah malem!"
"Ga bisa tidur yang, bangun mulu niiih! Gimana dong!?"
"Suruh bobo, yang.... Tar besok sekolah, bisa kesiangan hihihihi....!"
Akis terus tertawa melihat tingkah Zul. Mereka masuk kembali ke kamar. Meneruskan canda mereka diatas ranjang. Kadang masuk selimut, kadang saling lempar selimut. Begitulah candaan pasangan pengantin baru. Sampai tak sadar kalau malam telah menjadi dini. Jam didinding telah menunjukkan pukul 2. Andai saat itu Akis tidak sedang datang bulan, mungkin Zul akan terlihat canggung dan riskan. Tapi Zul bersyukur, ada jeda untuk mereka saling mendekat. Merapat dan benar-benar melakukan hubungan suami istri.
Pernikahan mereka bukanlah pernikahan yang direncanakan. Juga bukan dari hasil hubungan pacaran dengan pengenalan berbulan-bulan. Mereka memang teman kecil, tapi itu sebelum sebelas tahun yang lalu. Wajar jika Zul merasa takut memulai semuanya dengan terburu-buru. Jangankan hati Akis, hatinya sendiri kadang masih takut salah dan membuat Akis salah faham.
Pernikahan untuk orang dewasa lainnya yang telah lama direncanakan saja, kadang masih mengalami kendala, masalah dan salah faham. Apalagi pernikahan mereka yang benar-benar bagai mimpi itu. Dengan usia muda keduanya pula. Zul akan memulainya perlahan dengan Akis. Dengan gadis cantik yang ada disampingnya ini. Yang mendukungnya, yang mencemburuinya dan yang memutuskan mengikuti semua keputusannya.
Zul berjanji dalam hati. Ia akan berjuang demi hidupnya berdua Akis. Demi cita-cita dan masa depannya kelak bersama Akis. Ia ingin bahagia dan membahagiakan Akis. Walaupun ia tahu, itu semua pasti berat. Butuh perjuangan dan kerja keras. Juga pasti akan ada airmata dan kesedihan. Asal ada Akis disampingnya, tetap mendukungnya. Zul akan selalu berusaha, memberikan yang terbaik. Sekarang dan nanti.
Sampai ketemu diepisode berikutnya. Makasih ya atas kesetiaannya gaes...
__ADS_1