ISTRI MASA KECIL

ISTRI MASA KECIL
KERIBUTAN KECIL


__ADS_3

"Apaaa?? Akis hamil?" reaksi ibu tidak terduga. Zul dan Akis awalnya mengira ibu akan senang dengan kabar berita ini. Ternyata ibu terdengar panik dari suaranya dihandphone.


"Kalian memang ga pake pengaman? koq bisa kebobolan? Gimana sih kamu Zul? Ibu khan udah wanti-wanti, harus hati-hati. Kalian ini masih muda, kamu baru mau 19 tahun beberapa hari lagi. Akis malah 3 bulan lagi baru 19 tahun. Terus itu juga berisiko buat Akis, nak! Terlalu muda untuk hamil dan melahirkan berbahaya banget buat calon ibu juga calon anak. Tulang-tulang Akis belum kuat untuk melahirkan, Zul! Bisa fatal akibatnya!" Zul hanya diam mendengar kata-kata ibu. Fikirannya menjadi kalut seketika.


"Tapi dokter bilang ga apa-apa, bu. Mungkin ini kado Allah diulangtahun Zul yang ke-19. Kado terindah dalam hidup Zul!"


"Kalian pergi kedokter umum?"


"Iya."


"Harusnya konsultasi dengan dokter kandungan, minimal bidan Zul! Pasti ada wejangan mengingat usia kalian yang masih sangat muda dan belum siap jadi orangtua."


"Zul siap, bu!"


"Bagaimana Akis? Kondisi Akis?... Ibu video call yaa...mau liat Akis." ujar ibu memaksa.


Setelah mengubah komunikasi mereka menjadi video call ibu terlihat begitu kuatir.


"Akis! Akis sayang, gimana keadaan kamu nak?"


"Akis baik, bu. Cuma ga enak badan aja. Agak pusing, lemes, juga ga enak perut." tutur Akis bercerita.


"Ya Allaah, nak! Wajah kamu pias amaaat! Banyak minum air hangat juga makanan sehat yaa.. Kamu pasti ngerasain sakit ya disekitar perut?"


"Iya bu!"


"Apa kata dokter? Berapa usia kehamilannya sekarang?"


"Dokter bilang baru 5 minggu, bu! Masih usia rawan."

__ADS_1


"Zul,.... Akis,.. mmmmh...itu masih dini banget. Masih ga apa-apa ya, mmmm...kalian coba konsul ke dokter kandungan, mungkin masih bisa dicegah. Atau itu hanya baru keterlambatan menstruasi aja."


"Ibu??? Ibu ngomong apa barusan? Ibu sadar ga sih, apa yang ibu omongin?" Zul spontan marah pada ibunya. Ia mengerti maksud ibu walau ibu tidak mengatakan secara gamblang. Intinya ibu tidak menginginkan bayi itu.


"Zuuul.... bukan ibu ga seneng dengar berita kehamilan Akis. Ibu cuma kuatir sama kalian, terutama Akis, Nak! Demi Allah!"...


"Please ibu, jangan bawa nama Allah sedang ibu justru menginginkan kita menghabisi ciptaan Allah. Maaf, Zul terpaksa tutup telfonnya. Zul ga mau ribut sama ibu, takutnya ketelepasan jadi ngomong kasar sama ibu. Salam sama ayah, assalamualaikum!"


Tut tut tut tut.... Zul menutup telepon ibu. Hatinya sedih mendapati ibunya yang kecewa dengan berita baik itu.


Akis menggenggam tangan Zul. Berusaha menguatkan suaminya itu. Handphone Akis kembali berdering. Sepertinya ibu berusaha menghubungi Akis untuk mengklarifikasi ucapannya tadi.


"Jangan diangkat!" kata Zul pada Akis.


Lalu handphone Zul lagi berdering. Zul benar-benar terpukul akan ucapan ibu. Sementara Akis yang semakin tahu sifat Zul hanya terdiam merenung. Zul terkadang keras kepala dan agak susah dinasehati ketika fikirannya sedang kalut seperti sekarang ini.


"Yang, kamu siap khan ngejalanin kehamilan ini? Kamu seneng khan mau jadi ibu?... Kamu ga ngerasa kebebani khan...kalo anak kita bakalan selama 9 bulan dirahim kamu?..."


"Walaupun pasti berat, tapi Akis seneng laaah! Akis ga bisa bayangin, kita jadi orangtua...punya anak yang lucu menggemaskan seperti ibunya, juga pintar seperti ayahnya. Akis juga ingin bayi ini yang!"


"Zul seneeeng banget! Ini adalah kado terindah dan terbaik dari Allah buat Zul. Semua khan sudah Kehendak Allah. Allah mempercayakan kita untuk jadi orangtua. Iya khan?? Apa mungkin...ibu berfikir tambah pusing, karena kita masih dibantu keuangannya,... gimana kalau tambah lagi anak kita nanti, beban mereka makin bertambah. Hhhh... !"


"Huussss, ga boleh su'udzon sama orangtua. Dosa besar, yang! Mungkin pemikiran ibu memang ada benernya. Kita belum siap menurut ibu. Aku juga sempet mikir,... ternyata hamil ga mudah ya?... ini padahal baru awal, tapi ga enak banget. Beneran ngerasa kek gimanaaa gitu. Pusing ga jelas, sakit badan sampe area perut. Kalo cium aroma pasti langsung mual mau muntah. Males makan, bete juga... pengen uring-uringan padahal ga da masalah atau alasan. Gimana kalo sampe 9 bulan kayak gini ya? Kamu juga pasti lama-lama illfeel sama aku yang! Aku males masak karena ga suka bau masakan. Aku males mandi juga males dandan. Bawaannya rebahan mulu dikasur. Kepengen ini, nyuruh itu... kamu kuat yang, hadepin aku sampe lahiran nanti?"


Zul mengelus-elus perut Akis lembut. Bibirnya tersungging senyuman manis untuk Akis.


"Aku pasti bertahan sabar untuk kebahagiaanku. Untuk buah hati kita dan juga cinta sejati aku, aku ikhlas walau kadang kepala agak puyeng!"


"Kita belajar jadi calon orangtua yang baik ya? Seperti kata kamu dulu, kita bersama untuk saling mengisi, saling menjaga dan saling menyayangi. Kalo aku kelewat batas, mohon kamu memaklumi. Bimbing aku dengan kata-kata yang dapat kumengerti. Apalagi 8 bulan kedepan akan ada baby yang menemani hari-hari kita selanjutnya. Jadi, papanya harus kuat dan semangat... oke?"

__ADS_1


"Muaacht...., makasih sayangku! Aku bangga dan bahagia memiliki kamu. Maaf juga kalo selama ini aku belum bisa jadi suami yang baik buat kamu. Terima kasih udah begitu sabar menemani dan mengerti aku."


"Deeeuh,.... tumben nih si papah ngomongnya manis banget ... sampe mamah jadi kesemutan niiih!" goda Akis yang memang benar-benar merasa kesemutan dikaki kirinya.


"Yang mana mah, yang kesemutan? Sini, sini...papa pegang!"


"Papaaaah, aduuuh jangan dipegaaaang!"


Mereka kembali ceria. Bercanda bersama saling menguatkan cinta kasih diantara keduanya.


"Papa mau ke tempat kursus mamah besok. Minta izin cuti hamil 3 bulan. Kata bu RT, biasanya masa ngidam akan berakhir setelah usia kandungan 4 bulan. Jadi, kalo hamil mamah udah 4 bulan keatas... kemungkinan baru bisa aktivitas jahit lagi. Sekarang, waktunya mamah santai yaaaa sama dedek kecilnya papah dirumah."


"Kapan papah ketemu bu RT, bisa ngobrol pula. Jangan-jangan papah juga mulai ngerespon anaknya bu RT yang fans berat papah itu ya? Hayo, mamah lagi hamil dan jelek gini papah malah ngelaba ke rumah tetangga!" selidik Akis membuat Zul menepuk dahinya. Tawanya terdengar membuat Akis cemberut.


"Mamah sayaaang, ....papah ketemu bu RT waktu beli sarapan nasi uduk kemaren itu lho... karena nunggu lama banyak yang beli, jadi ngobrol banyak. Itu juga tanpa anaknya bu RT, yaaang! Ada juga ceu Ipah, Pak Mustopa, pak Gogoh, Ibu Ila, si Cucut, sama ada 2 lagi, temennya si cucut...papah ga tau namanya."


"Alaaaah papah padahal seneng tuh, punya fans. Malahan anaknya bu RT pernah bilang langsung sama mamah, andai Zul belum nikah... mau lho saya nawarin diri jadi pacar atau istrinya. Abis mukanya kiyut banget siiih... imuut, gemesin. Udah gitu baik hati pula. Kayak anak boyband yang wara-wiri di channelnya tv korea gituuuu....!"


"Hahahaha...simamah cemburu dex! Harusnya mamah bangga lho, punya suami dipuji orang sampe selangit gitu!"


"Mamah bangga siih, tapi agak gimanaaa gitu. Tuh cewe koq ngomongnya santui banget yaa...padahal ini istrinya lhooo... apa ga punya malu atau gimana gitu ngomongnyaa....,"


"Huss huss.... stop yang! Anak kita ga boleh punya fikiran negatif apalagi jelek sama orang!"


"Astaghfirullahal'adziiim.... Aduuuh, maaf ya yang. Maafin mamah yaaa, kalo ngomong kebablasan."


"Itu karena mamah cemburu, karena mamah cinta papah. Iya khan maaah?" Akis mencubit pinggang Zul malu. Ia memang selalu over protektif pada suaminya itu. Dan memang benar, itu karena rasa cintanya pada Zul yang kadung melebihi batas.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2