ISTRI MASA KECIL

ISTRI MASA KECIL
PUZZLE YANG HILANG


__ADS_3

Zul duduk terdiam diteras rumah Firman. Ia sudah pulang sejak siang tadi. Ibunya tengah membereskan barang bawaannya dikamar tamu. Zul masih tak habis fikir, melihat Akis yang seperti itu. Akis masih harus dirawat beberapa hari lagi karena kondisinya yang belum stabil. Beban mentalnya benar-benar down hingga selalu berusaha mengakhiri hidupnya.


Zul menunduk sedih. Ia tidak ingat masa lalunya saat ini. Tapi dari cerita Firman, ia tidak berbuat salah ataupun melakukan kekerasan baik fisik maupun psikis pada Akis, justru Akis yang membuka celana dalamnya dan terdapat bercak darah disana yang akhirnya membuat Zul histeris berusaha meminta bantuan orang dewasa. Yang justru berakibat fatal karena salah faham saat itu.


Apakah Akis tertekan karena seolah Zul lah yang membuatnya berdarah? Zul menutup wajahnya bingung.


Vera duduk disamping Zul.


"Akis emang udah lama seperti itu, Zul! Ia selalu menyendiri dirumah maupun disekolah." tutur Vera membuat Zul menatapnya.


"Tapi ini pertama kali Akis berniat bunuh diri khan?"tanya Zul menyelidik Vera. Vera menciut. Bola matanya menghindari tatapan Zul.


"Sebenernya......mmmmm, waktu siang sebelum itu....mmmmmm, Vera bilang sama Akis kalo Zul sakit. Zul sakit sekarang, Zul kadang seperti orang gila. Zul bisa aja mati gara-gara penyakit itu. mmmmmm.....itu cuma spontan aja Vera cerita. Abis, udah lama Vera ga ketemu Akis. Cuma mau kasih tau aja, siapa tau Akis minta orangtuanya datangin Zul ke Jakarta......"


"Apa????" Zul melotot. Ia sangat marah. Mengapa kakak beradik itu seperti ada dilingkaran setan yang selalu nyaris membuat orang terluka.


Vera berlari masuk menghindari Zul. Tapi Zul tak mengejarnya. Hanya berusaha menahan emosi yang tadi hampir meledak. Nyaris tangannya menampar Vera. Untung Vera segera berlari pergi kalau tidak, entah bagaimana jadinya kejadian ini.


Zul pergi kekamar mandi. Mengguyur kepalanya yang hampir mengebul. Ia segera berwudhu, masuk kamar untuk sholat. Ashar masih lama, jadi ia hanya sholat sunnah saja. Setelah itu mengambil tasbihnya lalu zikir.


Setelah Zul terkena sakit kepala yang menyerangnya. Hanya sholat dan zikir penolongnya. Ia selalu pasrahkan pada Allah akan semua hidupnya. Baik kesedihannya maupun penderitaannya. Zul hanya minta kebahagiaan orangtuanya saja. Memohon agar tidak menyiksa ayah ibunya karena sedih mengurusnya.


Dengan sholat Zul lebih tenang. Ia lebih bisa berfikir jernih setelah itu. Ibu sudah tahu bila ia tengah mengadu pada Allah. Ibu mendekati Zul perlahan lalu bertanya, apakah Zul sakit kepalanya.


"Zul baik-baik aja, bu! Tadi siang udah minum obat juga. Ga terasa sakit koq!" jawab Zul membuat ibunya tenang.


Ibu Zul takut bila Zul sakit. Sedangkan mereka baru sehari di Pandeglang.


Zul memeluk ibu. Ia bahagia memiliki orangtua yang begitu menyayanginya. Mendukungnya dalam keadaan apapun. Bahkan ketika ia yang saat ini harusnya mandiri, justru masih menyusahkan ayah dan ibu. Zul sangat bersyukur pada Allah. Tapi Zul sedih melihat keadaan Akis yang tak jauh lebih baik darinya.

__ADS_1


Ternyata semua tidak baik-baik saja untuk Akis. Semua yang orang dewasa fikir akan membaik seiring waktu yang telah berlalu ternyata tidak bagi Akis. Tekanan batinnya makin menghujam. Membuatnya terus menerus merasakan ketakutan dan kekhawatiran yang tidak bisa Zul baca.


"Saat ini kita ga bisa berbuat banyak, Nak! Kita tunggu Akis pulang dari rumah sakit saja," kata ibu seolah mengerti kegundahan hati Zul. Zul makin erat memeluk ibu. Ibu paling tahu isi hatinya.


"Zul pingin kerumah sakit, bu! Siapa tau...Akis bisa lebih tenang setelah lihat Zul!" gumam Zul sedih.


"Gimana kalo justru Akis lebih terguncang? Kita belum bisa menebak-nebak isi hatinya."


"Tapi Zul yakin, bu.... Kemaren Akis cuma kaget aja...jadi histeris. Kayaknya sekarang pasti lebih tenang," ibu hanya senyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Kamu emang duplikatnya ayah! Sama keras kepalanya," kata ibu membuatnya tersenyum malu.


Akhirnya ibu menemani Zul ke RSUD Pandeglang menjenguk Akis.


Akis tengah tertidur ketika Zul datang. Wajahnya yang pias terlihat polos bagaikan bayi. Zul memohon ibu dan ibunya Akis untuk meninggalkannya berdua dengan Akis hingga Akis bangun nanti.


Zul hanya memandangi wajah gadis dihadapannya. Bibirnya mungil tapi pucat. Hidung bangirnya begitu nyata karena pipi tirusnya nyaris tak berdaging. Bulu matanya panjang dan lentik. Akis begitu cantik. Tiba-tiba memori ingatan Zul terlintas dikepalanya. Gadis kecil bertubuh mungil berlarian mengitarinya sambil tertawa-tawa. Bibir gadis itu merah dengan berlepotan lipstik.


"Iiiiih,.... Akis kayak drakula penghisap darah!" goda Zul kecil waktu itu***.


Akis tertawa-tawa digoda Zul. Mereka begitu akrab, nyaris tak pernah bertengkar. Karena Zul menggodanya tidak dengan suara yang keras ataupun kasar layaknya anak laki-laki yang lain. Begitu juga Akis, yang tidak pernah marah digoda Zul seperti kebanyakan anak perempuan lainnya. Keduanya begitu akrab, saling melengkapi.


Zul memegang jemari Akis yang lentik tapi terlihat begitu kurus. Kukunya tidak terawat dengan baik.


"***Akiiis.... Jangan suka gigitin kuku. Ntar kuku Akis jelek kayak kuku mak Ocah!"


"Hahahaha....biarin... Khan mak Ocah suka bikinin Ucul dodongkal kesukaan Ucul!"


"Ngaco,.... apa hubungannya kuku mak Ocah sama dodongkal? Hahahaha... Akis lucu!"

__ADS_1


"Lucuan juga Ucul, weeeee!!! Dokoh dodongkal mak Ocah tapi ga suka kukunya. Hahahaha... khan mak Ocah bikin dodongkal pake tangannya yang ada kukunya. Weeee!"


"Hahahaha.... pacarnya Ucul, pinter yaaaaa***.....!"


Zul seolah memutar cd diotaknya. Semua terlintas begitu jelas. Masa-masa kecil itu, begitu hangat dan menyenangkan. Membuatnya meneteskan airmata. Terharu.


Zul masih menggenggam jemari Akis yang dingin.


"***Ucuuuuuul...., Ucul banguuun...! Ucul jangan matiiiiii...., jangan tinggalin Akiiiiis!! A'aaaaa, jangan pukul Ucul. Ucul ga nakal,"


"Saya tidak pernah terima perlakuan kalian pada anak saya. Saya bisa tuntut kalian semua, yang udah bikin anak saya seperti ini!! Kamu lihat, anak kamu seumur hidup tidak akan bahagia karena mencelakakan anak saya***!!!"


Zul terhenyak. Ayahnya yang marah membawanya pergi dari perbukitan itu. Sejak itu mereka pindah dari kota Pandeglang ini ke Jakarta. Zul dirawat hampir satu bulan di RS Jakarta. Hingga ia tidak lagi memiliki memori tentang Akis dan Pandeglang.


Akis terbangun dari tidurnya. Matanya menatap Zul lekat. Bola matanya berwarna coklat memikat.


"Akis! Aku Ucul.... Zulyanda. Akis ingat Ucul khan?" Akis hanya diam. Matanya seolah berbicara banyak, tapi tak Zul mengerti.


Zul mengusap punggung tangan Akis pelan. Ia tak ingin membuat Akis terguncang.


"Zul baik-baik aja selama ini. Zul udah sembuh, cuma Zul kehilangan ingatan tentang Akis selama ini. Makanya baru sekarang Zul datang, maaf ya Akis!" Akis masih menatap mata Zul. Ada kecemasan terlihat disana. Zul tersenyum, berusaha mengerti bahasa mata Akis.


Zul mengecup tangan Akis. Menempelkannya dipipi Zul. Tanpa sadar ia tersenyum sambil menangis. Akis ikut menangis pelan.


"Zul kangen Akis yang dulu. Akis yang lucu dan ceria. Akis yang belepotan lipstik. Akis yang selalu panggil nama Zul dengan sebutan 'Ucul'... Akis yang selalu nemenin Zul main robot-robotan. Akis ingat? Akis pernah bilang,.... biar pun kita besar nanti.. kita harus sama-sama ya Ucul! Ga boleh saling menjauh yaa... karena Akis sayang Ucul, Ucul juga sayang Akis!" tutur Zul dengan berurai airmata. Akis menutup wajahnya yang juga berurai airmata.


"Zul salah, ninggalin Akis. Tapi sungguh, itu karena Zul lupa ingatan. Bukan karena mau ngelupain Akis. Demi Allah, Akis!.... Maafin Zul yaaa...yang baru datang sekarang. Pasti Akis sangat menderita ya selama ini, gara-gara Ucul. Maaf yaaa!"


Akis memeluk Zul sambil menangis keras. Ibu Zul dan Ibu Akis menerobos masuk. Keduanya ikut menangis terharu melihat anak-anak mereka yang telah menghilangkan kegundahan dihati masing-masing.

__ADS_1


Bagaimana kisah selanjutnya? Tunggu terus yaaa gaes... Makasih udah setia menunggu cerita novel pertamaku di Mangatoon ini.


__ADS_2