ISTRI MASA KECIL

ISTRI MASA KECIL
SUASANA YANG DIRINDUKAN


__ADS_3

"Zuul, Firman!!! Ayo makan duluu..., semua udah nunggu dibawah, Nak!"


Suara ibu terdengar dibalik pintu dengan ketukan pintu beberapa kali.


Zul dan Firman menoleh berbarengan.


"Kelanjutannya nanti ya, gue lapar! Kita makan dulu!" kata Firman sembari senyum.


Zul menggaruk-garuk kepala padahal tidak gatal. Perlahan ia pun bangkit mengikuti langkah Firman untuk turun keruang makan dilantai bawah.


"Kamu udah kenal Firman khan Zul?" tanya ayah seraya menepuk bahu Firman. Zul mengangguk mengiyakan. Tapi Firman merasa tepukan ayah Zul adalah suatu ancaman. Bulu kuduknya bergidik mengingat 10 tahun yang lalu ia pernah dipelototi ayah Zul karena kesalahannya.


"Ayo makan dulu," kata ibu Zul. Mereka duduk bersama mengelilingi meja makan. Suasana terasa hangat diiringi obrolan ringan dan canda ria. Zul ikut juga sesekali tertawa dan melontarkan canda ke Vera. Sebenarnya Zul adalah anak periang. Supel dan humoris. Tapi sejak sakit kepala yang selalu tiba-tiba menyerangnya membuatnya menjadi pribadi yang dingin. Zul jadi jarang senyum apalagi guyon. Ia lebih sering merenung dan berwajah datar. Membuat suasana rumahnya menjadi terlihat gelap.


"Pah! Andai kalian adakan perjodohan, Vera mau banget dijodohin sama Zul!" kata Vera tiba-tiba membuat semua tertawa.


"Tuh, anak kesayangan Papah ga da malu-malunya," cibir Firman langsung ditatap papanya tajam.


"Kita ini udah seperti keluarga. Jadiii, masalah jodoh kuasa Illahi, Neng! Papa sama ayah Zul ga mau ngebebanin kalian. Yang penting sekolah yang bener, jadi orang sukses,..masalah jodoh terserah kalian saja." jawab papa Vera pun tersenyum senang.


"Bohong, om! Vera bilang gitu padahal disekolahnya Vera punya satu pacar. Terus dipasar juga punya satu pacar, belum lagi ditempat nongkrong," goda Zul membuat Vera memonyongkan bibirnya.


"Apa sih Zul,... ga ada pacar. Sok tauuu!!! Lagian kalaupun ada, pasti Vera putus-putusin Zul!"


"Jangan sembarang putusin. Tanya dulu, udah nunggak berapa bulan. Emang dasar PLN !!" goda Zul lagi. Suasana riuh tak terduga.


"Vera memang dari kecil suka banget sama Zul yaa... Inget dulu dia kalo punya apa-apa pasti bilangnya mau kasih Zul!" kenang mama Vera senyum.


"Tapi sekarang Zul kayak zombie. Belum tau kapan terbebas dari sakit dikepala. Zul ga tau harus gimana lagi. Mau keluar, takut penyakitnya kambuh. Dirumah aja bisa-bisa Zul gila!" tiba-tiba Zul mencurahkan isi hatinya. Yang lain diam sesaat.


"Kalau rutin berobat, turuti anjuran dokter Reyvan, Zul pasti normal lagi. Intinya belajar sabar! Lagipula waktu kuliah masih 3 bulan lagi juga Zul! Jadi bisa dipakai istirahat dirumah sampe sembuh total." ayah mencoba menenangkan Zul.


"Liburan aja ditempat kita! Selain suasana pedesaan yang bikin refresh, siapa tau penyakit Zul perlahan sembuh!" ujar Firman.


"Ide bagus tuh Pah!" Vera menimpali.

__ADS_1


Zul menatap ayahnya yang terlihat langsung murung.


"Ayah ga setuju. Zul masih dalam pengawasan dokter Reyvan. Juga ayah ga mau bikin om mansyur sekeluarga repot sama Zul."


"Kenapa repot? Kami senang koq menerima Zul!" pak Mansyur ikut bicara.


"Mas belum tau kalo Zul kambuh. Nanti malah bikin panik kalian semua. Maaf, mas! Aku ga izinin Zul ke Pandeglang!" kata ayah tegas.


"Kenapa??... Kuatir anakmu mengingat masa itu?" pak Mansyur lebih tegas.


"Aku udah tutup masa itu rapat-rapat. Toh semua kini baik-baik saja khan! Semua orang juga sudah tutup buku masalah itu. Justru kamu harus bisa berlapang dada, membuktikan kalo kamu juga Zul tidak bersalah. Bukan justru lari membiarkan kesalahpahaman ini menggantung!"


"Mas, maaf! Aku ga mau pembicaraan ini diteruskan!"


"Kamu masih kepala batu seperti dulu,... Aku cuma ingin hidup kalian kembali normal juga Zul tidak terseret konflik berkepanjangan!"


Suasana menjadi tegang. Hawa dingin menyelimuti mereka.


"Sudah, sudaaah... Masa' sepuluh tahun tak bertemu malah bikin kalian ribut cuma karena masalah yang sudah lewat." lerai ibu Frida pelan. Ia tak ingin keributan ini didepan anak-anaknya. Walau ia tahu, suaminya dan ayahnya Zul sudah seperti kakak adik. Dulu waktu muda mereka malah nyaris pernah baku hantam. Tapi setelah itu hubungan mereka malah lebih akrab dari sebelumnya. Ibu Frida masih mengingat itu.


Berbeda dengan anak-anak mereka, yang terlihat canggung menyaksikan ketidakharmonisan orangtua mereka.


"Jujur aku jadi ingat masalalu mbak! Waktu mas sama suamiku ribut waktu Vera masih bayi. Aku jerit-jerit minta tolong, tapi dibentak kamu mba'!"


"Hahahaha....!" ibu dan mama Vera tertawa keras bersama. Ayah Zul dan papa Vera jadi ikut tertawa.


"Kamu histeris yaa...kaget liat mereka mau gulat!" kata ibu Fida mencairkan suasana.


"Gimana ga histeris, la wong mas mansyur bawa samurai panjang itu. Terus aku liat suamiku ambil linggis juga. Waktu itu aku lagi gendong Vera karena mbak mau masak dulu," cerita ibu Zul membuat anak-anaknya kembali seperti biasa.


"Iya,...terus aku bilang..., ayo kalian saling bunuh. Biar kita jadi janda, cari suami baru buat anak-anak! Akhirnya mereka malah berangkulan khan!"


Semua tertawa lepas.


"Makanya jangan salahin Firman kalo punya watak keras. Khan turunan papanya!" celetuk Firman mengena' sekali.

__ADS_1


"Setuju sama Firman!" aku ayah membuat pak mansyur berdiri.


"Jadi sekarang kamu jadi sekutu Firman ya?" ujarnya membuat semua tertawa. Ada gurat bahagia diwajah Firman. Ia merasa aura papanya kembali bersahabat padanya. Sudah lama papa tidak pernah menegurnya dengan lembut apalagi membecandainya. Mungkin setelah kepindahan keluarga Zul dari Pandeglang ke Jakarta.


Makan malam terasa panjang tapi menyenangkan. Seolah Zul merasakan kedamaian keluarganya yang selama ini ia rindukan. Ibu juga tak henti tertawa lepas bahkan terpingkal-pingkal. Zul baru menyadari kalau ternyata ibunya adalah orang yang mudah tertawa. Walau ia tahu ibunya seorang yang ramah dan mudah senyum, tapi ia baru lihat sisi lain ibunya.


Malam kian larut, mereka pun pamit masuk kamar masing-masing. Rumah Zul memang memiliki 2 kamar kosong dilantai atas. Meski dijadikan gudang, tapi lengkap ada sofa bed disetiap kamarnya. Jadi bila ada tamu atau teman Zul bermalam, bisa memakai kamar itu.


Zul menagih janji Firman untuk meneruskan ceritanya.


"Gue capek Zul! Besok aja yaa...lanjutannya!" Firman mencoba mengelak. Ia kembali teringat tepukan ayah Zul seolah peringatan untuknya tidak banyak cerita pada Zul.


"Please deh, bang! Ga enak banget digantung! Kalo lu cape', ceritanya sambil tiduran aja!" ujar Zul mendesak.


"Nyesel gue cerita sama lu Zul!"


"Tadi khan janji cerita semuanya. Lu bilang, ini juga karena kesalahan lu! Lu harus tanggungjawab, bang!"


"Apaan siih Zul?? Besok deh lanjutannya, gue ngantuk banget niiiih!!"


Zul menangkap tubuh Firman.


"Please baaaang!!"


"*****...! Asli gue merinding, iiiih.....sana-sana, jangan peluk-peluk gue!"


"Makanya cerita! Kalo ngga', gue ga mau lepasin!!" ancam Zul membuat Firman mendorong tubuh Zul hingga terlempar.


"Hahahaa sori sori Zul! Gue lupa, badan lu udah kayak permen kapas. Bisa terbang walaupun ga ada angin." Firman malah meledek Zul membuat Zul makin kesal menubruk Firman menekap badannya dengan sikunya.


"Hahahaha, gue kira udah dewasa...ga taunya masih bocah. Hihihihi...," Firman masih terus menggoda Zul.


"Oke, oke! Bentar gue minum dulu," pinta Firman bangkit mengambil teko keramik lalu menuangkan isinya kedalam gelas.


"Buruan ceritaaaa!!!"

__ADS_1


"Iya, iyaaaaaa!!"


Apakah cerita Firman selanjutnya? Lanjut yaaa diepisode berikutnya. Terimakasih gaeesss!!


__ADS_2