
Zul bangun dari tidurnya. Tubuhnya basah dengan keringat. Nafasnya agak tersendat. Mimpi yang menakutkan. Dipijitnya keningnya yang agak terasa sakit.
Perlahan ia beranjak turun dari ranjang. Mengambil gelas lalu menuangkan air dari teko disampingnya, kemudian meminumnya dengan menyebut nama Allah dalam hatinya. ia termenung sesaat.
Zul lalu mengangkat hapenya yang berdering sejak tadi.
"Hallo?!?"
"Zul?.... Akis dirumah sakit, dia hampir mati bunuh diri Zul!... Gue besok jemput lo ya?" tut tut tut tut..........
Zul terdiam. Belum ia bersuara, suara disebrang sana sudah hilang. Tapi Zul tahu, itu suara bang Firman. Suaranya terdengar sangat khawatir.
Akis. Hampir mati bunuh diri.
Zul merasakan nafasnya sesak. Dimimpi tadi, ia sangat jelas mendengar suara wanita yang lembut tapi bernada keras. 'Jiwamu dan jiwaku telah ditakdirkan menyatu..... Dimanapun kamu, jiwamu tetap bersama jiwaku'. Zul terhenyak. Tanpa sadar matanya mengalirkan aliran deras tanpa suara. Ia ketakutan.
Zul berteriak histeris. Teriakan yang sangat keras berharap semua orang mendengar dan menolongnya dari rasa takut yang mencekam.
"Ibuuuuuuuuuu!!!!!!!!!!"
Seluruh penghuni rumah itu terbangun berhamburan menghampiri Zul. Tepat pukul 11 malam saat ini.
Ayah dan ibunya berusaha menenangkan Zul. Memeluk dan berusaha membisikkan Zul kalimat tauhid agak Zul kembali dalam kesadarannya. Mbak Sur bergegas mengambil kotak obat milik Zul lalu memberikan pada Ibu.
Zul masih berteriak histeris. Tangisannya pecah dimalam yang mulai beranjak dari peraduannya. Ayah Ibu ikut menangis pilu menyaksikan penderitaan anak tersayangnya itu. Sedih begitu mendera bathin mereka. Mereka hanya bisa melihat kesakitan anaknya didepan mata tanpa bisa berbuat apa-apa.
Zul lemas setelah diinjeksi. Tubuhnya melunglai seiring hilangnya kesadaran lalu menggelosor dilantai sesaat setelah diraih ayah.
Ibu menangis tergugu dihadapan Zul. Tangisnya pecah seolah menggambarkan betapa ia tersiksa melihat Zul terus-terusan seperti ini.
Ayah merangkul ibu yang terlihat begitu rapuh. Ia hanya diam tak bisa bicara. Segala daya upaya ia usahakan untuk kesembuhan Zul. Bahkan jikapun Zul harus dioperasi, ia akan upayakan apapun itu.
__ADS_1
Zul masih diobservasi dokter Reyhan. Bahkan hingga detik ini belum ada vonis ataupun tindakan yang harus dilakukan guna penyembuhan sakit Zul. Semua jalan seperti disinar X, discan, endoscopy, bahkan tes darah menunjukan hasil yang bagus tanpa gejala yang mengkhawatirkan. Saat ini dokter Reyhan memberinya obat penahan rasa sakit saja.
Dokter Reyhan adalah dokter spesialis saraf nomor satu di Jakarta saat ini. Ia masih mengusahakan dokter Bernard dan dokter Sing, keduanya dokter hebat dari Singapura dan India. Tapi saat ini jadwal keduanya masih sangat padat dan baru bisa ke Indonesia kurang lebih 2-3 bulan lagi. Dokter Reyhan sendiri masih terus membawa Zul diforum kliniknya menjadi bahan observasi para senior spesialis saraf. Tapi masih belum ada indikasi lain.
Zul tersadar setelah setengah jam tertidur lemas. Ibu memeluknya erat.
"Yang sabar ya nak! Zul anak ibu yang hebat. Lawan terus penyakitmu ya! Kami akan selalu dukung Zul," bisik ibu lirih memberinya semangat.
Zul membenamkan kepalanya didada ibu. Tangisnya pecah seperti bocah berusia 5 tahun.
Ayah hanya bisa menusap-usap punggungnya pelan. Tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.
"Ayah,.... Zul mohon izin ayah! Besok kalo bang Firman kemari,...... Zul ingin ikut ke Pandeglang! Tolong izinin Zul, ayah!" Zul memeluk kedua tangan ayahnya. Menciumnya dengan penuh harap.
"Izinkan ya ayah! Tolong..... Zul takut besok atau lusa Zul meninggal, Zul merasa punya beban dosa yang mengganjal."
"Zul!!!!" bentak ayah. Matanya memerah mendengar perkataan anaknya. Ia sungguh tak sanggup membayangkan sesuatu hal yang buruk terjadi pada Zul.
Ayah menatap tajam mata Zul. Akhirnya ia luluh dengan tatapan Zul yang sangat mengiba.
"Hanya beberapa hari aja ya....! Pergilah diantar ibu! Ayah ga bisa ambil cuti kerja kalo dadakan." Suara ayah terdengar kecil. Zul tahu, ayah berusaha menguatkan hatinya mengizinkan Zul pergi walau berat hati.
"Sungguh ayah? Zul pergi sama ibu?"
"Iya. Ibu nemenin Zul! Kalo hanya Firman aja, ayah kuatir Zul terjadi sesuatu, malah akan nyusahin keluarga pak Mansyur."
"Makasih ayah, makasih banyak!" Zul menangis memeluk ayah. Ia merasa bebannya berkurang sedikit karena ayah mengizinkannya ke Pandeglang. Tekad Zul sudah bulat. Ia harus menemui Akis. Ia harus meluruskan semua kesalahpahaman belasan tahun yang lalu.
Malam itu ayah, ibu tidur bersama Zul. Zul tersenyum bahagia. Tidur diapit dua orangtua yang sangat ia sayangi. Entah memang cengeng atau hatinya yang begitu lembut. Airmata Zul merembes terus karena bahagia. Ia tak peduli anggapan orang tentangnya yang anak mami atau anak manja. Yang penting Zul bahagia.
Siang pukul 2 kurang, Firman benar-benar datang menjemput Zul. Zul dan ibu sudah siap dengan semua yang akan dibawanya. Tak lupa obat-obatan Zul yang paling dahulu ibu bawa.
__ADS_1
"Sebaiknya kita berangkat sekarang, anti! Takutnya sampe sana kemalaman. Susah angkutan umum." saran Firman setelah makan dan istirahat sebentar.
"Ayah sudah menyewa mobil rental,... sebentar lagi datang koq! Jadi ga usah takut ga da angkutan. Karena kita akan diantar sampe rumah di Pandeglang." kata ibu membuat Firman bengong dengan senyum agak bingung.
"Ayah udah ngizinin kita berangkat, bang!"
"Syukur deh kalo gitu,.. hehehe.... sempet takut juga nih Firman tadinya!" Firman menggaruk kepalanya yang tak gatal seraya menyeringai senang.
Mobil sewaan ayah sudah tiba digarasi. Mereka pun bergegas untuk pergi. Ibu menitipkan ayah pada mbak Sur. Semua keperluan ayah sudah ibu sediakan. Tinggal mbak Sur yang mengaturnya.
"Masih ada yang mau Zul bawa?" tanya ibu pada Zul.
"Kayaknya udah semua, bu!"
"Oke,....kita berangkat sekarang!"
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Mereka diam dengan fikiran masing-masing.
"Anti......, setelah masuk kota Pandeglang,..baiknya kita mampir dulu dirumah sakit unit daerah ya?"
"Siapa yang sakit, Man?" tanya Ibu.
"Akis semalam mengiris urat nadinya. Saat ini masih kritis di RSUD."
"Akis??..."
"Iya."
Ibu termenung lama. Sungguh ia begitu bingung akan takdir ini. Mengapa Akis seperti itu? Mengapa juga Zul jadi seperti ini? Ada karma apa? Ada dosa dan kesalahan apa yang pernah mereka perbuat hingga kehidupan kedua anak yang sebenarnya tidak ada itu hingga mendapat hukuman seperti ini?
Ibu menangis dalam diam. Sungguh tak habis fikir. Bahkan Zul yang sudah tidak ingat masa lalunya pun harus menderita seperti ini. Apakah ia terlalu lambat mengambil tindakan mempertemukan keduanya, meluruskan kesalahfahaman belasan tahun yang lalu.
__ADS_1
Akankah pertemuan Zul dan Akis berlangsung dramatis? Tetap setia yaaa menunggu cerita selanjutnya gaess....makasih.