ISTRI MASA KECIL

ISTRI MASA KECIL
KEPUTUSAN YANG BERAT


__ADS_3

...


"Ucuuuuul...... Ucul liaaaat, cacingnya besaaaar! Waaah!!"


...


""Ucuuul.... sendal Akis palit.... kumaha atuuuh?!?"


...


"Ucuuul.... Akis takuut!! Jangan tinggalin Akis yaaa?!?"


Seorang bocah perempuan berlarian dengan wajah penuh semangat. Senyum lebarnya membuat gigi susu yang tinggal beberapa didepan karena telah tanggal terlihat lucu. Gadis cilik itu! Yang berlarian kesana-kemari dengan ceria.


Zul kaget terbangun dari mimpi. Peluhnya membasahi tubuh. Masih terngiang diingatannya, suara cempreng gadis itu berteriak, tertawa, memanggil-manggil "ucul".


Ia seperti merasakan desiran lembut didadanya. Entah mengapa, tiba-tiba airmata keluar menetes dari sudut kedua matanya. Segera ia hapus dengan cepat airmata itu.


Mimpi yang berbeda. Hatinya lebih hangat ketimbang ketika mimpi gadis itu tengah menatap wajahnya lekat tanpa ekspresi dan paha penuh darah.


Zul bangun dari pembaringan. Tubuhnya berat dan lemas. Akhirnya ia hanya terduduk lagi dipinggir ranjang tempat tidurnya. Ia lalu mengedarkan pandangannya. Ia ingat, tadi ia dan teman-teman gengnya tengah asyik bermain. Ada Putri dan Sri juga. Zul termenung. Tangannya menepuk dahinya keras. Ia merusak suasana yang indah itu. Hilang sudah mukanya untuk bertemu mereka lagi. Terutama Putri.


Zul diam lama sekali. Hati dan jiwanya bergejolak. Ia sudah bulatkan tekad, tidak akan hadir diacara wisuda pelepasan nanti. Ia terlalu malu untuk bertemu mereka semua. Belum lagi kekhawatiran penyakitnya yang tiba-tiba kambuh seperti tadi. Zul mendekap wajahnya.


Zul mengambil handphonenya. Mencari nama Putri dikontaknya. Terlihat wajah manis Putri diprofil wa-nya. Zul lama memandang. Ia menghela nafas panjang. Bagaimana reaksi Putri melihatnya tadi. Mungkin Putri panik, ketakutan, cemas, kasihan...atau mungkin juga jijik bercampur ngeri. Pacarnya ternyata seperti monster. Seperti orang kesetanan. Zul membayangkan jauh akan reaksi Putri.


Kenapa bahagia ini hanya sementara? Padahal ia begitu mengharapkan kehidupan yang indah nanti bersama Putri. Melanjutkan kuliah beberapa tahun, lalu berjuang bekerja mencari nafkah sendiri, setelah itu melamar Putri dengan uang hasil tabungannya. Lalu menikah, membangun rumah kecil dipinggiran kota dengan suasana yang masih asri. Memiliki beberapa anak,.... membesarkan bersama Putri dengan penuh cinta kasih.....


Zul menangis. Terisak hingga tersedu-sedu. Ia laki-laki gagah dan kuat. Tapi ia sadar hatinya yang lembut terkesan rapuh, karena sangat mudah menangis. Ibu selalu menggodanya kalau Zul adalah pria cengeng.


Wajah Putri masih ia pandangi. Zul merasa tak enak hati membuat Putri sedih berkepanjangan. Ia pun tak berani berjanji akan sampai kapan ia begini. Ia sempat mendengar pembicaraan ayah dan ibu, kalau dokter Reyvan sendiri tidak bisa memastikan kesembuhan pasti untuknya. Bisa 3 bulan, atau mungkin 3 tahun...tidak ada yang tahu. Semua adalah Kuasa Illahi. Hanya Zul harus mengikuti pengobatan rutin untuk memperlama masa kambuhnya dan juga bantuan obat-obatan untuk mengurangi rasa nyeri dikepalanya.

__ADS_1


Lalu bagaimana dengan Putri. Lalu keluarganya?... Zul termenung berurai airmata. Jangankan memberikan kenyataan masa depan yang cerah, memimpikan kebahagiaan bersama saja Zul belum berani.


Zul menangis sedih. Apalagi yang bisa ia harapkan selain keajaiban Tuhan untuknya.


Jam didinding menunjukan pukul 3.45 sore. Zul bangkit perlahan. Ia ingin mandi, wudhu lalu sholat. Hanya itulah harapannya satu-satunya.


Selepas sholat Zul kembali meraih hpnya. Ia telah siap dengan keputusannya.


"Assalamualaikum! Putri?? Lagi apa? Zul ngganggu ga'?" Zul memulai pembicaraan ketika Putri mengangkat handphonenya.


"Zuuul...!!! Kamu baik-baik saja? mmmh maksud Putri udah ga sakit lagi kepalanya khan?" tanya Putri terdengar cemas.


"Alhamdulillah, Put..... mmmmmh Put? mmmh.... sebenernya Zul harusnya datang nemuin Putri. Tapi,..... hhhhhh.... "


"Zul? ....Kenapa Zul? Putri tadi bareng Sri sama Ilham koq! Udah sampe rumah juga dari jam 2 siang."


"Mmmmm....maksud Zul... mmmmh, ada yang mau Zul sampein ke Putri."


"Putri....... hhhhh!!!! Sebenernya Zul udah siap kalo Putri bakalan marah, benci....juga ga mau kenal Zul lagi. Tapi, Zul fikir....ini keputusan yang baik. Buat Putri juga Zul!..."


"Apa sih..... jangan ngomong gitu dong Zul! Semangat!! Zul pasti akan cepat sehat," kata Putri menyela.


"Put! Zul mohon maaf,.... bukan maksud Zul untuk maenin perasaan Putri. Tapiiii......., sebaiknya...... hubungan kita, kita akhiri sampe sini. Bukan Zul ga sayang Putri. Bukan Zul ga cinta. Tapi Put...,"


"Zul!!!! Jangan bilang gitu! Please!!!"


"Putri!.... Zul sayaaaaang banget sama Putri. Makanya Zul ga mau nahan Putri. Zul masih harus berobat, belum tau kemana juga kapan bisa sembuh," ucap Zul lirih.


"Zul!..... Putri sayang Zul! Putri bisa koq dampingi Zul berobat. Kita bisa fight! Zul! Putri janji, .....kita bisa kuat bila selalu bersama. Zul jangan malu cerita sama Putri. Apa aja, Putri pasti dengerin!"


"Putri..... Lebih baik sekarang kita putuskan. Biar ga semakin sakit. Biar kita cepat move on juga."......

__ADS_1


......


"Putri??.... Halo Putri?"


"Zul!... Jangan ambil keputusan ketika masih banyak fikiran. Zul beneran udah pikir mateng-mateng?"


"Iya Put! Kayaknya ayah ibu mau bawa berobat Zul jauh dari sini." Zul bohong.


"Kemana?"


"Belum tau kemananya. Tapi ini mungkin yang terbaik buat kita. Maafin Zul ya Put! Belum bisa bahagiain Putri. Zul cuma bisa kasih Putri kesedihan. Zul juga sedih ga bisa berbuat banyak. Zul doain Putri dapet yang terbaik. Dalam hal apapun."


Terdengar suara isak tangis Putri diseberang sana. Zul sebenarnya ingin menarik kata-katanya. Tapi semua ini ia lakukan justru untuk Putri. Untuk masa depan dan kebahagiaan Putri.


"Putri!.... Maafin Zul yaa...? Makasih buat semua kebaikan Putri. Zul bahagiaaa banget bisa jadi pacar Putri. Zul pasti akan selalu mengingat Putri sepanjang hidup Zul!"


"Putri selalu doain Zul lekas sembuh. Kalo memang itu keinginan Zul..... Putri ga bisa berbuat apa-apa lagi! Putri juga minta maaf, belum bisa jadi pacar yang baik buat Zul."


"Makasih banyak ya Put! Kalo gitu, Zul pamit. Assalamualaikum...."


"Alaikumsalam!".... Tut tut tut tut.....


Zul terpekur. Ini sudah jadi keputusannya. Setidaknya, Zul tidak menanggung beban karena rasa bersalah pada Putri.


Ibu masuk kamar Zul dengan membawa nampan berisi nasi dan lauk pauk juga air putih.


"Maaf, ibu tadi ketuk-ketuk pintu tapi Zul ga jawab. Zul makan dulu ya," kata ibu lembut.


"Ibu....., siapa itu Akis? Gadis kecil yang ada dimimpi Zul namanya Akis."


Ibu menatap Zul terkesima. Ibu sepertinya sangat kaget ketika Zul menyebut nama Akis. Pikirannya kembali melanglang mengingat nama itu.

__ADS_1


Siapakah Akis? Akankah terbuka misteri tentang mimpi Zul? Jangan bosan menunggu lanjutan cerita ini yaaaa.... Terima kasiiiih....


__ADS_2