
Zul dan Akis akhirnya duduk dihadapan penghulu desa. Disaksikan kedua orangtua mereka, sanak saudara dan famili. Juga beberapa kerabat dan tetangga.
Ternyata pernikahan mereka yang walaupun hanya nikah siri cukup membuat desa tempat kelahiran Zul dan Akis heboh. Banyak cerita dan gosip yang justru jauh dari kabar aslinya. Zul tak ambil pusing.
Zul hanya ingin kebahagiaan mereka mendapat izin dan ridho orangtuanya. Karena dengan kerelaan mereka, sudah pasti akan jadi keberkahan dari Allah SWT untuk kehidupan mereka nantinya.
Dengan sekali nafas, Akis Pratiwi resmi menjadi istri sah Zulyanda. Walaupun belum sah menurut negara, tapi sah dimata Allah dan juga para tetangga. Selembar surat keterangan dari penghulu desa menunjukkan bahwa mereka kini resmi sebagai pasangan suami istri.
Akis mencium tangan Zul. Sebuah cincin pemberian ibu, ia sematkan dijari manis Akis. Kini Zul telah menyandang predikat kepala rumah tangga. Ia sudah punya tanggung jawab terhadap Akis.
Ibu memeluknya dengan tangis. Ada haru dan bahagia, tapi juga kesedihan dalam tangis diamnya. Demikian juga ayah. Tapi Zul tahu, ayah tersenyum memperhatikannya. Restunya untuk Zul telah diberikan guna kebahagiaan anak satu-satunya itu.
Mereka berkeliling salaman mengucapkan terima kasih atas ucapan selamat menempuh hidup baru dari para tamu yang hadir.
Umur Zul dan Akis yang terpaut 3 bulan belum genap menginjak 19 tahun. Tapi mereka sudah berani mengambil langkah untuk hidup bersama.
Ayah dan ibu Zul pulang kembali ke Jakarta sore harinya. Ayah tidak bisa berlama-lama karena harus bekerja.
"Zul, 2 hari lagi kamu harus ke Jakarta. Obat kamu sudah habis, ayah kuatir terjadi sesuatu jika tak konsumsi obat." Ayah mengingatkan Zul sebelum pamit.
"Iya ayah! Zul lusa ke Jakarta dengan Akis. Ayah ibu hati-hati dijalan ya..... Terima kasih banyak atas kebesaran hati ayah ibu buat Zul." Lagi-lagi Zul tersungkur dikaki kedua orangtuanya. Ia bisa merasakan kalau sebenarnya ayah dan ibu kecewa. Tapi mereka begitu menyayangi Zul sehingga akhirnya bersedia menerima dan merestui pernikahannya.
Ayah mengangkat Zul memeluknya bersama ibu. Ia bangga dengan keberanian anaknya dalam mengambil sikap dan tindakan.
Sebenarnya ayah bangga ketika Zul mengutarakan niat dan keinginannya menikah dan melanjutkan studinya walau hanya kursus dulu.
Semalam Zul sudah membicarakan semua akan rencananya pada ayah. Ayah sangat mendukung Zul dan berjanji menyokong biaya pendidikan kursus Zul.
"Jaga istrimu ya, Nak! Jadilah pria yang bisa dibanggakan orangtua dan keluarga. Kami selalu mendoakan kalian," ucap ayah pada Zul dan Akis. Mereka pamit kepada keluarga pak Mansyur, pak Abdul dan tetangga yang ada disitu.
Zul hanya bisa melihat mobil ayah perlahan menjauh dari pandangannya. Ia telah siap menghadapi kehidupannya.
Akis dan Zul duduk dikamar Akis yang terlihat indah karena dihias sebelumnya. Ini adalah hari dan malam pertama mereka.
Zul gugup memandang wajah Akis yang makin cantik karena polesan make-upnya. Ia sesekali menundukkan kepala seraya mempermainkan jari jemarinya. Akis kurang lebih sama. Akis bahkan tak berani menatap wajah Zul karena malu dan gugup.
"Istriku...... Koq suamimu ini jadi bingung yaa....mau ngapain!" kata Zul agak berbisik. Akis tertawa langsung menutup bibir indahnya. Akis tak mengira Zul akan memanggilnya dengan panggilan 'istriku'.
__ADS_1
"Su, su..suamiku mau makan?" tanya Akis grogi juga agak berbisik malu.
"Oooh...pantesan suamimu ini agak lemas. Kayaknya kelaparan ya?!?... Boleh ambilin makan, istriku?" Lagi-lagi Akis tertawa. Kali ini ia mencubit pinggang Zul gemas.
"Sabar istriku! Jangan dulu gelitik-gelitik yaa... Nanti kalo suamimu ini balas gelitik, kamu jangan marah yaaa....!" Zul mulai berani menggoda Akis yang langsung keluar kamar.
"Lho!? Koq malah ditinggal?"
"Katanya mau makan. Istrimu ini mau ambilkan didapur!"
"Hehehehe.... Jangan lama ya istriku! Eit jangan lupa izin umi. Kita belum punya makanan sendiri, jadi masih numpang makan sama orangtua." goda Zul membuat Akis tersipu sambil mengangguk.
Akis menurut kata Zul. Diluar dilihatnya umi beserta abah dan kakak-kakaknya masih berkumpul sambil nonton tv.
"Umi, kata Zul.... kami minta makan yaa," ucap Akis membuat semua saudaranya tertawa terbahak-bahak.
"Umiii.... Anak bungsu kesayangan Abah ternyata penurut kata suami yaa," kata bang Ali yang sangat senang menggoda Akis.
"Gimana kalo umi engga' bolehin ikut makan," Arif kakak Akis satu lagi ikutan menggoda.
"Kata Zul harus minta izin umi!" Akis mencoba menjelaskan walau malu-malu karena pasti respon keluarganya yang menggodanya.
"Bilang Zul, jangan malu-malu. Kalo mau makan, sok aja ambil. Mangga' neng!"
"Iya umi. Haturnuhun," jawab Akis langsung mengambil piring dan mengisinya dengan nasi serta lauk pauk dimeja makan.
Mereka senyum-senyum melihat Akis yang terlihat malu. Bahkan Akis hanya mengambil satu piring saja.
Akis kembali masuk ke kamarnya. Zul yang sedari tadi menguping dipintu kamar segera duduk kembali dipinggir ranjang.
"Malu yaa...!"
"Ho'oh!... Digodain terus sama yang laen!"
Zul tertawa kecil. Tangannya mengambil piring yang ada ditangan Akis.
"Makannya berdua yaaa...!" Zul menyuap sesendok setelah mengucap bismillah dalam hati. Setelah itu disuapinya Akis yang nampak malu tapi mau. Mereka saling pandang dan melempar senyum.
__ADS_1
"Sebelumnya maaf yaaa... kalo Zul belum bisa bikin Akis bahagia. Kita belajar sama-sama, moga Akis juga nerima segala kekurangan Zul!"
"Iiiih....harusnya Akis yang ngomong gitu!"
Mereka makan sambil saling tatap dan saling tersipu. Suasana canggung tapi romantis itu membuat hati mereka berbinar. Jantung mereka yang berdetak kencang bila jemari tangan mereka bersentuhan walau tak disengaja.
"Akis..... pernah denger malam pertama?"bisik Zul sebelum mereka berbaringan diranjang tidur yang sama.
"Iiih.... Akis ga tauuu!" jawab Akis malu sekali.
"Zul sering denger.... tapi belom pernah tanya sama penganten baru lain kalo malam pertama tuh ngapain."
"Emang apa urusannya malam pertama malam kedua terus selanjutnya gitu? Itu artinya malam pertama kita suami istri khan?"
"Hihihihi....istriku pintar juga yaaa....!"
"Ucuuuuul.... Lagi godain Akis yaa?"
"Hihihihi.... Istriku polos banget sih. Siniii... kita tidur, udah malem. Suamimu boleh meluk khan...karena sekarang udah halal. Hehehe," Zul senang menggoda Akis. Karena seingat Zul, Akis kecil dulu justru lebih agresif menggoda Zul. Tapi setelah dewasa lebih pemalu dan pasif. Untungnya Zul kini telah menjadi orang yang supel yang memang suka bercanda. Jadi dia lebih enjoy menggoda Akis lebih dulu.
Mereka tidur berdampingan. Tangan Zul memeluk tubuh ramping Akis. Matanya menatap wajah Akis lekat.
"Kayak mimpi yaa, kita nikah. Sekarang Akis ada dipelukan Zul. Jadi istri Zul..!"
"Zul nyesel ya, nikahin Akis?"
"Iya."
Akis terdiam mendengar jawaban Zul. Dadanya agak sesak seketika.
"Nyesal kenapa baru sekarang Zul ke Pandeglang. Nyesel kenapa ga dari dulu kembali ke Pandeglang. Pasti tiap hari kita jalan bareng, sekolah bareng. Iya khan?"
"Ucuuuuuul!!!!"
"Huuss, jangan berisik! Tar abah umi denger, disangkanya kita lagi ngapain!"
Bagaimana kisah Zul dan Akis setelah menikah? Masih tetap setia ya gaeess... Terimakasih.
__ADS_1