ISTRI MASA KECIL

ISTRI MASA KECIL
KABAR GEMBIRA


__ADS_3

"InsyaAllah calon anak kalian ada dua," kata dokter kandungan yang meng-USG Akis ketika usia kandungannya memasuki 5 bulan.


"Dua dok??" Zul dan Akis berbarengan bertanya.


"Kalian bisa lihat sendiri dilayar komputer. Lihat! Mereka insyaAllah sehat. Aktif, juga detak jantungnya stabil. Jadi, maminya harus tenang,..ga boleh terlalu stres alias banyak fikiran." kata dokter lagi. Mereka mendapat rekomendasi dari dokter Arini untuk ke dokter kandungan di RSUD.


"Sungguh dok? Ga salah liat khan?" Zul bertanya lagi untuk memastikan. Sang dokter tertawa maklum.


"Nha....dengar khan? suara detak jantungnya ada dua. Liat layar deh, pah... itu adalah dua batok kepala janin kalian. Alhamdulillah terpisah. Normal. Tinggal maminya harus positif thinking, banyak makanan sehat seperti sayuran dan buah. Tetap olahraga walaupun jangan yang berat dan beresiko untuk calon dede bayi. Oke?"


Akis mengerjap. Antara senang, bingung dan terharu bercampur mengaduk perasaannya. Airmatanya menetes seiring senyum mengembang sembari menatap Zul.


"Yang, kita punya anak kembar!"


"Terus dok, masalah lahiran nanti kira-kira baiknya gimana ya?" tanya Zul mencoba mencari informasi.


"Mmmh.. .kalo saran saya, sebaiknya caesar. Karena mengingat usia maminya yang masih terlalu muda. Juga untuk keamanan melahirkan normal fifty-fifty. Yaa... kalo caesar, kalian bisa berdiskusi lagi nanti keinginan waktunya bisa disesuaikan."


"Prediksi istri saya melahirkan kira-kira kapan dok?"


"Kemungkinan sekitar minggu pertama bulan Agustus, baby-baby kalian launching!"


"Tapi kondisi istri dan calon bayi-bayi saya sehat khan dok? Masalahnya diawal kehamilan istri saya pola makannya buruk. Sering mual muntah juga. Boro-boro makanan sehat, kadang minum air aja langsung keluar lagi, dok!"

__ADS_1


"Itu hal lumrah dimasa awal kehamilan. Yang penting, tetap paksa makan walau akhirnya setelah makan jadi kepingin muntah. Atau coba cari cara seperti makan hanya satu atau dua suap tapi sering. Dan rajin periksa kehamilan seperti ke bidan, puskesmas atau posyandu terdekat."


"Terima kasih banyak dok, atas saran dan informasinya. Lalu kami konsultasi kesini lagi kapan ya dok?"


"Kalau kalian setuju untuk caesar. Setelah masuk usia kandungan 28 minggu atau tepatnya 7 bulan, silahkan periksa lagi kesini. Setelah itu kita mulai rutin mengobservasi setiap 2 minggu sekali hingga tiba waktu masuk ruang operasi."


"Kira-kira beresiko tinggi kah dok melahirkan caesar?"


"Sebenarnya baik normal maupun caesar, semua tetap mempertaruhkan nyawa antara hidup dan mati. Tapi sekarang ini teknologi sudah begitu canggih, mas! Jadi tak perlu terlalu khawatir. Istri mas pun tidak perlu harus menunggu mulas atau pecah ketuban dulu. Kalau janin sudah sekitar 39-40 minggu, kami tim medis telah siap untuk melakukan operasi."


"Baiklah dokter. Terima kasih ya dok, kami insyaAllah akan mempercayakannya kepada dokter. Mohon bantuannya nanti."


"Siap, mas! Jangan terlalu kuatir ya! Bantu doa dengan izin Allah, insyaAllah istri dan bayi-bayi anda sehat selamat!"


"Amiin ya Allah! Terima kasih dokter!"


"Apa kita sanggup mengurus dua anak, yang? Satu saja kita belum tau!"


"Jangan bilang begitu yang! Allah Maha Tau. Allah telah memperkirakan semuanya apapun dalam hidup kita. Alhamdulillah kita wajib bersyukur." Zul menjawab pertanyaan Akis. Walaupun hatinya juga memiliki pertanyaan itu, tapi sebagai kepala keluarga, ia harus bisa menenangkan istrinya.


Semakin mendekati waktu persalinan ibadah sholat Zul semakin rajin. Ia selalu meminta agar istri dan anak-anaknya selalu sehat. Dimudahkan ketika melahirkan segala urusannya.


Untuk meminimalisir ketegangan, Zul dan Akis mennyembunyikan kabar akan bayi mereka yang kembar kepada kedua orangtua mereka masing-masing. Walaupun umi sempat curiga melihat perut Akis yang terlihat lebih besar dari ibu hamil kebanyakan diusia kehamilannya sekarang. Zul dan Akis berusaha menutupi rapat-rapat dengan tidak menjawab setiap pertanyaan umi daripada mereka harus berbohong.

__ADS_1


Waktu terasa cepat berlalu tapi terkesan lambat bagi Akis. Minggu ini usia kandungannya memasuki usia 8 bulan. Mereka hanya selametan kecil-kecilan saja ketika kandungan 4 dan 7 bulan. Itu pun mereka hanya memesan nasi box dan mengirimnya ke rumah panti asuhan yang letaknya tak jauh dari tempat kursus mereka.


Ibu dan umi sempat uring-uringan karena mereka tidak menggubris keinginan keduanya untuk syukuran besar-besaran dengan mengundang tetangga dan saudara-saudara.


Akis dan Zul bersikukuh, karena pasti akan menghabiskan banyak uang, sedang mereka sendiri masih disokong biaya hidup sehari-harinya oleh mereka.


Umi malah ingin membawa Akis pulang ke Pandeglang dan menyarankan untuk lahiran disana. Tapi Akis punya cara untuk membuat uminya tidak berkutik pada akhirnya. Ia berkata kalau Akis bisa sakit lagi jika jauh dari Zul begitu juga sebaliknya. Dokter tidak berani menanggung resiko jika itu terjadi. Akhirnya umi hanya bisa memberi banyak nasehat dan saran saja. Karena umi maupun ibu pun tidak bisa menemani Akis dan Zul untuk beberapa hari saja. Abah dan ayah juga merupakan suami yang memiliki ketergantungan tinggi satu sama lain.


Begitulah berumah tangga. Semua memiliki hak tugas dan kewajiban yang harus dijalani dari masing-masing pasangan. Semua itu dibutuhkan kerjasama untuk membangun rumah tangga yang sehat, seimbang dan harmonis.


Seperti keinginan Zul dan juga Akis. Mereka melihat kedua orangtua mereka sebagai panutan yang baik dan patut dicontoh karena baik ayah-ibu maupun abah-umi adalah pasangan yang selalu menjaga keseimbangan berumah tangga dengan saling dukung saling mengerti satu sama lain. Walaupun normal juga kadang mereka terlibat konflik dan cekcok sebagai pasangan suami istri. Tetapi mereka adalah pasangan yang kompak. Yang bisa saling menutupi dan melengkapi satu sama lain.


Zul dan Akis melakukan sholat Tahajud untuk beberapa kali. Mereka mendiskusikan berdua langkah selanjutnya. Terlebih Zul. Sebagai seorang suami, ia tak ingin lebih dominan. Tapi tak juga terlalu menyerahkan pendapat kepada Akis. Kali ini ia sudah punya rencana besar untuk keluarga kecilnya itu.


Sudah barang tentu Zul selalu melibatkan Allah, Sang Maha Pencipta, agar jalannya menjadi lebih ringan dan mudah. Juga tak lupa dukungan Akis sepenuhnya untuk kehidupan selanjutnya.


Alhamdulillah, walaupun Akis dalam kondisi hamil, kursus yang diambilnya akhirnya berhasil diselesaikan. Akis resmi lulus bersertifikat murid terbaik. Kini ia telah diakui memiliki kecakapan menjadi penjahit profesional.


Demikian juga Zul. Zul berhasil lulus dan memiliki bekal ilmu untuk melanjutkan kursusnya kejenjang yang lebih serius lagi. Zul ingin menguasai seluk beluk mesin kendaraan bermotor lebih fasih lagi hingga mampu membuka bengkel sendiri dengan kemampuan yang mumpuni.


Saat ini Zul sudah mendapatkan pekerjaan juga sebagai montir di wilayah tempat kursusnya juga. Itu ia lakukan setiap hari sepulang kursus hingga pukul 7-8 malam.


Karena tempatnya yang tak terlalu jauh dari rumah kontrakan mereka, kadang ketika sore Akis lebih sering mengunjungi Zul walau hanya sekedar mengantarkan minuman atau makanan ringan.

__ADS_1


Zul dan Akis telah menata keuangannya sebaik mungkin. Belajar menjadi pasangan bijak karena mereka telah berjanji hanya setahun minta sokongan dana dari keluarga mereka. Mereka ingin segera berdiri dikaki mereka sendiri. Bangga dengan hasil keringat jerih payah mereka sendiri. Hingga akhirnya kedua orangtua mereka pun bisa membanggakan diri memiliki anak seperti mereka. Itu keinginan Zul dan Akis.


Bersambung.


__ADS_2