
Zul duduk dihadapan ayahnya yang bermuka datar. Sarapan pagi ini terasa tegang walaupun meja makan besar milik keluarga mereka penuh dengan tamu-tamu keluarga pak Mansyur yang juga ikut sarapan bersama.
"Ayah sudah bilang, Zul! Kamu ga boleh ke Pandeglang!!" tekan ayahnya tegas.
"Ayah...."
"Sekali ga, tetap engga'!!!"
Yang lain diam. Begitu juga ibu Zul. Ia sudah sangat faham watak keras suaminya itu. Sekali ia bilang tidak,.... tak kan boleh ada yang membantahnya.
"Zul kira ayah hanyalah orang yang berkepala batu. Tapi ternyata ayah juga berhati batu," cetus Zul membuat ayahnya terbelalak kaget dengan kata-kata anaknya.
"Apa kamu ga sadar,Zul????..... Ayah lakuin ini semua buat kamu! Ayah justru melindungi kamu dari orang-orang yang menjahati kamu! Terus kamu bilang ayah berhati batu???...." mata Ayah merah pertanda marah yang teramat sangat. Bibirnya bergetar menahan emosi.
"Ayah mikirin kamu sampe sedetil-detilnya! Juga masa depan kamu! Lalu dengan enteng kamu bilang begitu seolah meremehkan tindakan ayah sama kamu????"
"Maksud Zul bukan begitu, ayah... Maaf, bukan begitu," ralat Zul agak tergagap. Ia menyadari kalau harga diri ayahnya benar-benar terluka karena ucapannya.
Ibu langsung mendekati ayah. Tangan kecilnya merangkul bahu ayah perlahan untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Untuk apa kamu ke Pandeglang? ...Toh semua masalah sudah selesai. Apalagi yang mau kamu bereskan, hah?!? Menemui anak juga keluarganya yang jelas-jelas udah hampir bunuh kamu? Kamu ga mikir, Zul? Kamu ga bayangin perasaan ayah ibu yang hampir gila waktu kamu koma satu bulan lebih dirumah sakit? Ibu ga henti-henti berdoa memohon pada Allah, mohon kesembuhan kamu! Lalu ayah,.... bolak-balik cari-cari dokter juga pengobatan berharap Allah kasih keajaiban untuk kamu!"
Ibu mengusap-usap punggung ayah.
"Maaf mas! Aku emosi sama anakku! Aku berangkat dulu kerja! Jangan dipikirin ucapanku ya, nanti kita ketemu lagi sepulang aku kerja!" ucap ayah pada pak Mansyur yang mengangguk. Ia bersahabat cukup lama dengan ayah Zul. Walaupun sempat lost contac, tapi ia masih kenal dan paham betul akan wataknya.
Ayah Zul pamit bekerja diiringi ibu yang mengantarnya sampai teras depan.
Zul hanya menunduk. Ia menyesal telah melontarkan kata-kata jahat pada ayahnya. Padahal maksudnya bukan begitu. Ia hanya ingin mengucapkan kata maaf pada Akis dan keluarganya, sekalian tetirah ke Pandeglang yang suasananya lebih sejuk dibanding Jakarta. Ia pun berharap bila ia melakukan itu, Allah berkenan mengangkat penyakitnya lalu kembali menjalani kehidupan normal tanpa merasa sedih dan kesal karena selalu membebani orangtuanya.
Pak Mansyur tersenyum pada Zul.
Ibu sudah masuk kembali setelah tadi sempat mengantar ayah keluar.
"Zuuuul....!!! Haaduuuuuh,... kamu bikin ayah kesal," keluh Ibu serasa senyum kecut. Ia geleng-geleng kepala. Bu Frida ikutan tertawa kecil. Sementara Firman dan Vera mulai mengenal temperamen ayah Zul yang agak moodian. Mereka tak terlalu kaget seperti semalam.
"Janji jangan bahas itu lagi sama ayah, ya?? Nanti kalau pengobatan Zul selesai, Zul sembuh total.... baru kita bicarakan lagi ke ayah. Oke? ...Ayah capek mikirin kamu diam-diam, Nak!" Ibu berusaha memberi Zul pengertian.
"Zul faham bu!" Zul pamit masuk kamar. Ia ingin ayah mengerti perasaannya. Ia pun sadar, ayah juga benar. Tapi Zul merasa ada masalah yang menggantung. Ini bukan masalah kecil yang bisa dilupakan begitu saja. Ini menyangkut harga dirinya sebagai lelaki yang beranjak dewasa. Ia merasa perlu sekali menemui Akis dan keluarganya untuk meminta maaf secara dewasa. Dulu ia hanyalah anak kecil umur 8 tahun, yang belum mengerti apa-apa. Kini ia menyadari satu hal. Sebagai lelaki sejati, ia harus berdiri tegak meluruskan setiap hal yang memang harus diluruskan. Toh ayah lah yang selalu mengajarinya untuk jadi lelaki sejati yang berani dan bertanggung jawab. Disaat ia punya keputusan itu, justru ayahlah yang paling menentangnya.
__ADS_1
Alhamdulillah sakit kepalanya sudah beberapa hari ini tidak kambuh. Tepatnya ketika keluarga sahabat ayahnya bermalam dirumahnya 2 hari ini. Besok mereka sudah akan kembali ke Pandeglang seiring habisnya izin cuti pak Mansyur.
Hari ini Zul ada cek up dengan dokter Reyvan. Ia meminta ibu untuk tidak mengantarnya kerumah sakit. Ia ingin pergi dengan Firman. Firman sudah seperti kakak bagi Zul. Walau terkesan cuek dan sembrono, tapi Firman cukup perhatian pada Zul. Mungkin karena usianya yang 5 tahun lebih tua, jadi lebih mengayomi walaupun tidak kentara. Masalah dulu Firman yang memprovokasinya dengan Akis, sudah ia maafkan. Waktu itu mereka semua masih sangat muda untuk berfikir panjang. Sekarang mereka sudah dewasa. Apalagi keterbukaan Firman yang terusterang mengakui semua kesalahannya. Sepertinya membantu Zul melewati masa-masa sulit Zul saat ini.
"Sungguh ga pa-pa, Firman? Zul maunya diantar kamu. Takutnya Firman jenuh nunggu Zul konsultasi."
"Tenang, anti! Firman oke-oke aja koq. Justru siapa tau Firman ketemu jodoh gadis cantik dirumah sakit nanti," kata Firman menyeringai. Anak itu sudah cukup usia tapi kelakuannya tak lebih seperti ABG labil yang sedang mencari jati diri.
"Aiiiissshh!!!" Zul tertawa. Yang lain ikut tertawa.
"Jodoh ndasmu!! Kerjaan ga punya, tampang pas-pasan,... gayamu sebakul cari jodoh!" sindir papanya.
"Eit, jangan gitu Pah! Sekarang mungkin Firman zero, tapi siapa tau...besok lusa. Ga da yang bisa memprediksi kesuksesan seseorang boss!" jawab Firman membuat papanya tertawa sambil memukul kecil bahunya. Firman senang sekali. Papanya meresponnya. Ia seperti anak kecil yang baru mendapat mainan, matanya berbinar. Setelah sekian lama papanya tak peduli padanya. bahkan respon kecil pun ia selalu usahakan dengan kelakuan nyelenehnya hanya untuk perhatian papah. Ia senang, tak sia-sia ia bergolak batin ketika mamahnya mengajaknya ke Jakarta. Ia awalnya menolak, tapi akhirnya menuruti walau perginya menyusul karena ada urusan dengan rekan usaha kecilnya yang papanya tidak tahu.
Zul dan Firman pergi kerumah sakit. Zul sudah buat janji via telepon dengan dokter Reyvan. Selain itu Zul juga ingin konsultasi jika ia pergi ke Pandeglang untuk beberapa hari. Ia kuatir, penyakitnya akan membuatnya lebih menyusahkan keluarga pak Mansyur nanti bila tanpa izin ayah dan juga saran dokter Reyvan.
"Tenang, Zul! Gue pasti bantu elu koq!" Firman menepuk pundak Zul. Hatinya sedikit tenteram. Ia kini merasakan rasanya punya kakak laki-laki walaupun Firman sama sekali tak bisa diandalkan juga. Selama ini ia hanyalah anak tunggal. Makanya Zul dekat dengan teman-temannya karena ingin berbagi rasa dan kehangatan perhatian dari teman-temannya. Setelah penyakitnya itu, Zul memutuskan kontak pada teman-temannya. Membuatnya sempat depresi kesepian.
Bagaimana kisah Zul selanjutnya? Dapatkah ia pergi ikut Firman dan keluarganya? Ikuti terus yaaa episode berikutnya. Terima kasih gaesss....
__ADS_1